Teh Pahit dan Kenangan Itu

Teh Pahit dan Kenangan Itu

Udara dingin yang berasal dari air conditioner di restoran ini menyergapku. Suasana dingin yang sama kurasakan pula di hatiku. Padahal saat ini seharusnya aku bahagia. Sahabat yang telah lama berpisah denganku kini bertemu kembali. Namun, entah sejak kapan, aku telah lupa rasa bahagia itu seperti apa. Sepanjang perjalanan Reva, sahabat lamaku, tak berhenti bercerita tentang kehidupannya setelah dia pindah ke luar kota dan berpisah denganku. Aku menanggapi dengan sesekali tersenyum. Itu pun agak dipaksakan. Semoga dia tidak menyadari hal itu.

“Wa, mau makan apa?” tanya Reva membuyarkan anganku.

“Makanan kesukaan kita aja. Masih ingat?” jawabku sambil tersenyum lemah.

“Oke, kita pesen fuyunghai ya,” ucapnya sambil tersenyum menang. Ternyata dia masih ingat. “Minumnya milkshake cokelat. Iya kan?”

“Nggak usah. Aku mau teh pahit panas aja. Yang kental ya,” jawabku datar.

“Teh pahit? Sejak kapan kamu suka teh pahit?” Reva bertanya heran.

“Sejak… Ya, sejak aku tahu kalau teh pahit itu nikmat,” senyum lemahku kembali terlihat.

“Oh, gitu. Ya udah. Wa, kamu baik-baik aja kan? Kayaknya nggak semangat gitu. Nggak seneng ya, makan bareng aku?” tanya Reva sedikit merajuk. Aku buru-buru menggeleng. “Nggak kok, Va,” ucapku sambil tersenyum. Kali ini kuberi dia senyum manisku.

“Nah, gitu dong. Oh ya, dari tadi kan aku yang cerita, sekarang kamu ya. Apa aja nih yang terjadi saat 4 tahun berpisah?”

Nothing special. Biasa aja kok. Aku lulus SMA, terus kuliah deh, sampai sekarang. Kayaknya kehidupan kamu lebih menarik.”

“Ah, nggak juga kali. Eh, makanannya udah dateng. Yuk, makan,” Reva langsung menyantap makanannya dengan lahap. Sejujurnya, aku tak berselera untuk makan. Jadi, aku minum tehku dulu. Kulihat asap mengepul dari tehku. Benar-benar masih panas. Kunikmati aromanya yang khas. Ah, sensasinya tidak pernah berubah. Masih sama seperti tiga tahun lalu, saat pertama kali kucoba menikmati teh pahit. Kutatap lekat-lekat teh itu. Ada sekelebat bayangan di sana. Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes. Aku langsung berlari menuju toilet, meninggalkan Reva yang berteriak heran memanggilku.

***

Tahun kedua SMA, menjelang perpisahan dengan Reva.

Hari Minggu selalu indah. Mengapa? Karena hari ini hari libur. Aku sedang membuat kue bersama Ibu ketika Ayah memanggilku.

“Alwa, tolong buatkan Ayah teh pahit ya.”

Aku melongokkan kepala ke ruang tengah, tempat Ayah membaca buku dan mengacungkan ibu jariku sambil berteriak, “Oke, Bos!”. Beberapa saat kemudian aku pergi ke ruang tengah membawa secangkir tek pahit, segelas besar milkshake cokelat kesukaanku, dan kue yang sudah matang.

“Nih, Yah,” ucapku seraya memberikan cangkir teh. Lalu aku duduk di samping Ayah. “Lagi baca apa, Yah? Serius banget kayaknya. Kerutannya nambah banyak tuh. Hehehe,” tanyaku sambil mencandai Ayah. Aku memang dekat dengan Ayahku. Dari ketiga anak yang Ayah miliki, aku yang paling bungsu dan paling cantik. Kakak-kakakku keduanya ganteng. Hehehe, tahu maksudku kan?

“Huh, kamu tuh,” ucap Ayah sambil mengacak rambutku. “Nih, buku otomotif. Makasih ya, tehnya,” ucap Ayah sambil tersenyum. Ayah memang tak pernah lupa mengucapkan terima kasih kalau sudah ditolong. Itu hal yang aku suka dari beliau. Kalau menyuruh anak-anaknya pun Ayah tak pernah lupa menyelipkan kata tolong. Pokoknya beliau itu idolaku deh. Kuamati Ayah yang sedang meminum tehnya. Kelihatannya nikmat sekali.

“Yah, emang enak teh pahit?” tanyaku penasaran.

“Mau tahu? Coba aja. Nanti ketagihan deh,” ucapnya menantangku.

“Coba ya,” ucapku sambil meminta tehnya. Namun, begitu cairan itu masuk ke mulutku, lidahku dengan spontan menolak. Weks, pahit banget. Ayah tertawa melihat reaksiku. “Ih, nggak enak gitu juga. Mendingan minum ini,” ucapku sambil mengacungkan milkshake-ku. Ayah hanya tersenyum kemudian melanjutkan membaca bukunya.

“Yah, Alwa boleh pinjem mobil Ayah nggak? Mau jalan-jalan sama temen,” pintaku sambil memijit-mijit lengan Ayah. Tak lupa kuberikan senyumanku yang paling manis. Ini salah satu senjataku untuk meluluhkan hati Ayah.

“Mau ke mana? Sama siapa aja?” tanya Ayah menyelidik.

“Sama Reva, Okta, and Novi. Buat acara perpisahan, Yah. Besok kan Reva mau pindah. Boleh ya? Ayah baik deh,” rayuan maut mulai kukeluarkan.

“Duh, anak Ayah yang satu ini emang pinter ngerayu. Apa sih yang nggak buat kamu? Ya udah, gih sana. Tapi hati-hati ya,” Ayah berpesan sambil tersenyum. “Yes!!!” ucapku seraya berlari ke kamar. Bersiap-siap, mengenakan kardigan baruku dan cela
na panjang model pensil. Yup, semua siap. Aku pamit pada Ibu dan Ayah. Tak lupa kucium tangan keduanya.

“Eh, Alwa, kerudungnya mana? Kok nggak dipakai?” tanya Ayah saat aku berpamitan.

“Oh iya, lupa. Buru-buru sih,” ucapku sambil nyengir. Ayah dan Ibu hanya geleng-geleng kepala. Ayah memang menyuhku berjilbab saat aku masuk SMA. Tapi aku baru mau memakainya saat kelas dua ini. Itu pun masih sering dilepas kalau keluar rumah selain sekolah.

***

Tahun ketiga SMA, menjelang kelulusan.

“Permisi!” terdengar suara laki-laki di depan pintu rumah. Mbak Ayu, pembantu di rumahku membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Putra, teman laki-laki yang kini menjadi pacarku. Kami memang sudah janjian mau jalan-jalan malam ini. Kebetulan Ayah dan Ibu sedang pergi dan sepertinya baru akan pulang setelah agak larut, jadi aku berani menyuruhnya menjemputku di rumah. Kalau Ayah sampai tahu anaknya yang masih kelas tiga SMA ini sudah pacaran, pasti beliau marah besar. Beliau tidak suka kalau anak-anaknya pacaran. Pikiran yang sangat kolot menurutku.

“Berangkat yuk! Nanti jangan malam-malam ya, pulangnya. Nanti ketahuan Ayah,” ucapku sambil tersenyum.

Putra mengangguk sambil tersenyum, lalu menggenggam tanganku. Perasaan aneh menjalari diriku. Tapi aku tak enak untuk menarik tanganku. Kutepis perasaan aneh itu. Kami langsung berangkat, jalan-jalan di malam minggu yang cerah.

Ternyata Putra mengajakku ke pantai. Kami mengobrol banyak di sana. Aku sangat menikmati saat itu. Karena terbawa suasana, aku jadi lupa waktu. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku sangat terkejut begitu melihat nama Ayah tertera di sana. Ragu-ragu kuangkat telepon itu. Ayah marah besar! Beliau membentakku, menyuruhku pulang saat itu juga. Seumur-umur baru kali ini Ayah membantakku. Putra segera mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan, aku hanya menangis. Aku benar-benar takut dengan kemarahan Ayah.

Aku sudah sampai di depan pintu rumah. Putra menawarkan diri untuk menemaniku masuk rumah, namun kutepis baik-baik. Aku tak ingin dia kena marah Ayah juga. Kulangkahkan kaki perlahan memasuki rumah. Rumah sepi. Kulanjutkan langkahku hingga ke ruang keluarga. Namun tak juga kutemui Ayah di sana. Aku langsung menuju dapur, mencari Mbak Ayu.

“Mbak Ayu, Ayah mana?” tanyaku sambil berbisik.

“Ayah tadi langsung masuk kamar, abis nelepon Neng Alwa. Ibu juga masuk kamar,” Mbak Ayu menjawab dengan berbisik juga.

Aku menarik napas lega. Sepertinya aku tidak akan ‘diadili’ hari ini. Aku segera menuju kamarku untuk tidur. Menyiapkan diri untuk besok, pasti aku akan dimarahi habis-habisan.

***

Hari Minggu, hari yang biasanya seru, kini kelabu. Aku bangun tanpa semangat. Tapi aku bertekad ingin minta maaf pada Ayah. Aku benar-benar merasa tidak enak pada Ayah. Ini pertama kalinya Ayah sangat marah padaku. Dan ini gara-gara aku pacaran. Ya, pokoknya aku harus minta maaf dan Ayah harus memaafkan aku. Bikin apa ya, biar Ayah senang? Aha, bikin teh pahit kesukaan Ayah saja.

Aku beranjak ke dapur. Kulihat Ibu sedang memasak dengan Mbak Ayu.

“Bu, Ayah mana?” tanyaku setelah mencium pipi beliau. Satu ritual yang kulakukan tiap pagi.

“Tadi pagi Ayah lari pagi. Ibu mau temenin, Ayah bilang nggak usah. Mungkin mau menenangkan pikiran. Kamu ini, udah gede jangan bikin Ayah marah. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu punya pacar?” tanya Ibu sambil mengelus rambutku. Aku menarik napas, berat. Akhirnya aku ceritakan semua pada Ibu. Aku sebenarnya pacaran hanya iseng. Di antara teman-teman perempuanku, hanya aku yang belum punya pacar. Aku jadi malu. Makanya waktu Putra nembak, tanpa pikir panjang langsung aku terima. Tapi sekarang aku menyesal. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat Ayah memaafkanku.

“Ya ampun, Alwa, kenapa kamu nggak cerita? Kamu tahu nggak, tadi malam Ayah marah besar. Ibu sampai takut. Ibu belum pernah lihat Ayah semarah itu sebelumnya. Kamu harus minta maaf ya,” Ibu panjang lebar menasihatiku.

“Iya, Bu. Rencananya Alwa juga mau minta maaf. Alwa bikinin teh pahit aja ya, buat Ayah. Sebentar lagi Ayah pulang, kan?” ucapku bersemangat.

“Ya, mungkin sebentar lagi. Ayah lari paginya udah lumayan lama.”

Aku langsung membuat teh panas spesial untuk Ayah, spesial penuh cinta dan maaf. Aku tersenyum membayangkan reaksi ayah nanti. Pasti beliau kaget dan senang. Ayah kalau marah biasanya nggak lama.

Setengah jam telah berlalu. Teh panas yang kubuat telah menjadi dingin. Tapi ayah belum pulang. Aku dan ibu jadi bingung. Tidak biasanya ayah lari pagi sampai sesiang ini.

Kring!!! Telepon di ruang tengah mengagetkanku. Ibu segera mengangkatnya.

“Wa’alaikum salam. Ya, benar. Ada apa ya, Pak?” jawab ibu di telepon.

“Apa?! Sekarang di mana, Pak?” nada bicara ibu berubah khawatir. Perasaan aneh menjalari hatiku. Jangan-jangan ayah…

“Iya, Pak. Kami segera ke sana. Terima kasih,” ucap ibu seraya menutup telepon itu. Ibu berbalik ke arahku. Terlihat air mata telah menganak sungai di sana. Segera kupeluk ibu. “Ayah kecelakaan. Sekarang kita ke rumah sakit,” ucapnya setengah berbisik. Aku mengangguk bagai terhipnotis. Pikiranku kosong. Aku tak bisa berpikir apa-apa saat itu.

***

Kuperhatikan wajah teduh itu. Tak tercermin rasa sakit di sana. Yang kulihat hanya damai. Kuraih tangan ayah, kupegang erat-erat, lalu kucium. Ayah, bangun. Aku janji, aku nggak akan bikin ayah marah lagi, ucapku dalam hati. Aku pun mengutuk orang yang menabrak ayah tadi pagi. Ayah tertabrak motor. Dan pengemudi motor itu melarikan diri setelah tahu kalau dia menabrak seseorang. Benar-benar tidak bertanggung jawab! Kini ayah harus dirawat di rumah sakit karena mengalami gegar otak yang lumayan parah.

Aku merasakan gerakan perlahan dari tangan ayah yang masih kugenggam. Mata ayah pun perlahan membuka. Aku tersenyum, ayah pun membalas senyumku. Ayah memberi isyarat padaku untuk mendekat padanya. Aku menurutinya. Ternyata ayah ingin memeluk dan mengusap kepalaku. Aku marasa sangat damai saat itu.

Terlintas sesuatu di dalam benakku. Aku harus minta maaf pada ayah sekarang. Segera kutarik kepalaku dari pelukannya. Mata ayah yang masih lemah menyiratkan perasaan heran. Aku menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri untuk mengucapkan kata-kata itu. Namun, sebelum kata maaf itu keluar dari bibirku, ayah berubah kejang. Aku panik. Aku berteriak minta tolong. Kutekan tombol pemanggil suster. Ibu pun datang bersamaan dengan datangnya dokter dan perawat.

“Ada apa, Alwa?” tanya ibu cemas.

Nggak tahu, Bu. Tadi, tadi ayah udah sadar. Tapi tiba-tiba langsung kejang. Alwa takut, Bu. Takut ayah dipanggil Allah,” ucapku sambil menangis di pelukan ibu.

“Hus, jangan ngomong begitu. Sekarang kita doakan ayah ya,” ucapnya menenangkanku. Tapi air mata pun telah mengalir di pipinya.

Ibu dan aku melihat usaha dokter dan perawat untuk menjaga agar ayah tetap hidup tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun, harap dan do’a selalu mengalir untuk ayah.

“Maaf Bu, Dik, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi nyawa Pak Hadi tak bisa diselamatkan. Maaf,” ucap dokter Kardi setelah hampir satu jam berusaha menyelamarkan ayah.

“Nggak!!!!! Ayah!!!!” teriakku saraya berlari menuju tubuh ayah yang sudah kaku. Air mata begitu deras mengalir di pipiku. Ibu mendekat dan mencoba menenangkanku.

“Bu, Alwa belum sempat minta maaf sama ayah. Alwa anak durhaka, Bu. Alwa masih punya dosa sama ayah,” ucapku sambil menangis di pelukan ibu.

“Alwa, ibu yakin ayah sudah memaafkanmu. Sekarang, kamu harus mengikhlaskan ayah. Biar ayah bisa tenang. Ya?” jawab beliau sambil mengusap punggungku. Ya, aku tahu, ayah bukan orang pendendam. Ayah pasti sudah memaafkan kesalahanku. Tapi rasa kehilangan ini begitu menyiksaku. Satu perasaan yang tak akan pernah hilang dari hatiku.

***

Aku dan Reva berpelukan. Telah kuceritakan semua padanya. Sekarang dia mengerti apa yang telah terjadi padaku. Itu pula sebabnya mengapa aku selalu menangis setiap meminum teh pahit. Kenanganku bersama ayah akan datang bersamaan dengan mengalirnya teh itu di tenggorokanku. Yah, maafkan Alwa.

***

Depok, 22 Mei 2008

Wrote by: Jauza Al Khansa

I dedicate this story to my beloved father

I’ll make you proud of me

I love you…

judulnya belom ada…

Sepi…

Di sebuah keramaian

Ironi kurasakan

Kupikir mereka menawarkan canda,

hingga hati tertarik tuk menyapa

Namun itu hanyalah fatamorgana

Kini kumerasa hampa..

Merasa berbeda dengan semua

Asing!

Hanya pikirku,,

ataukah mereka juga???

Ya, aku memang berbeda!

Hanya rumput liar di tengah taman bunga

Tapi apa berbeda itu salah???

Bukankah begitu Allah menciptakan???

Mungkin aku memang egois..

Tak mau memikirkan yang lain

Tapi apa mereka juga memikirkanku???

Aku muak dengan semua ini!

Aku bosan…

Mungkin memang tak seharusnya aku di sini

Tak pantas bersanding,,

dengan bunga-bunga rupawan

Tapi, Ya Allah..

Tak pantaskah aku diterima???

Karena yang kuinginkan hanyalah kasih sayang

Biarlah kumenepi sejenak…

Mencoba belajar mengasihi dan menyayangi..

Mungkin dengan begitu,,

aku menjadi pantas untuk diterima..

Walau mungkin tak kan seelok,,

dahlia, melati, bahkan mawar..

Semoga bisa menjadi hiasan yang indah

Dalam sebuah taman bernama Ukhuwah…

Selamat Tinggal Cinta

Selamat Tinggal, Cinta…

Lingkungan kampus sudah sepi. Kulihat jam tanganku, sudah pukul 17.30. Bergegas kubereskan bukuku yang berserakan di meja taman. Akhirnya selesai juga tugas biostatistik dari Bu Luknis. Setelah semua beres, aku melangkahkan kaki untuk pulang. Aku berjalan pelan, tubuh ini sudah letih beraktifitas dari pagi. Belum lagi ditambah sisa capek karena aktifitas kemarin yang sangat menguras tenaga. Sudah terbayang apa yang akan kulakukan di tempat kos nanti. Aku akan mandi, lalu membuat teh hangat. Hmm, nikmatnya.

Kulewati musholla fakultas yang sudah sepi. Hanya ada satu dua orang yang masih beraktifitas. Dan saat itu mataku melihat sosok seseorang. Seketika jantungku berhenti berdetak. Kurasakan sensasi aneh dalam diriku. Getar yang aneh, namun sangat kunikmati. Astagfirullahal’adzim, segera kutundukkan pandanganku. Aku kembali melangkah cepat, meninggalkan sosok barusan. Terukir seulas senyum di bibirku. Entah senyum untuk apa.

***

Kugerakkan badanku yang kaku. Sakit. Ngilu. Yah, beginilah nasib orang yang tidak pernah olah raga. Sekalinya olah raga badan langsung pegal-pegal. Semester ini aku dapat mata kuliah olah raga. Kemarin, hari pertama masuk, dosennya langsung mengajar dan menyuruh berlari untuk pemanasan. Akibatnya baru aku rasakan hari ini. Badanku sakit semua. Tapi aku harus bangun untuk belajar. Besok ada kuis. Bisa kacau kalau nggak belajar.

“Na, mau belajar bareng nggak?” kudengar suara teriakan dari kamar sebelah. Tiya.

“Iya. Duluan aja. Nanti nyusul,” sahutku sambil mencoba bangun dari tempat tidur. Kupijit lengan dan betisku. Lumayan untuk mengurangi sedikit rasa pegal. Tak lama kemudian aku pergi ke kamar sebelah. Membawa setumpuk buku sambil berjalan terseok-seok.

“Napa lo, Na? Madesu amat,” ucap Tiya sambil tertawa.

Aku hanya nyengir. Tak lama kemudian datang Hani, Febri, Alwa, dan Muti. Mereka semua sekosan denganku. Belajar pun dimulai. Kami saling tanya jawab. Kalau Febri, dia lebih memilih mojok sendirian sambil membaca diktatnya. Dia memang lebih konsen kalau belajar sendiri.

Keadaan aman dan terkendali pada awalnya. Namun entah siapa yang memulai, tercetuslah topik obrolan itu. Calon suami. Kami tidak lagi mendiskusikan pelajaran. Semua sibuk membicarakan seseorang yang diidamkan akan menjadi suami mereka kelak.

“Eh, kalo Kak Taufan gimana? Do’i kan keren. Soleh lagi,” celetuk salah satu dari mereka. Diikuti oleh koor “cie” dari teman-teman yang lain.

“Lo suka ya? Emang sih lumayan. Tapi gue mah tetep Bang Salim ah. Ketua BEM gitu loh. Hahaha,” Tiya menanggapi.

“Kalo Ina gimana? Dari tadi diem aja,” tanya Hani. Mendengar namaku disebut, aku jadi gelagapan. Aku kaget ditembak pertanyaan seperti itu. Seketika bayangan sosok di mushola tadi sore hadir di hadapanku. Aku diam.

“Lo suka sama siapa? Kak Farhan?” tembak Alwa.

“Nggak. Nggak ada kok,” aku mencoba menghindar.

“Ah, dia mah sukanya sama Kak Fahri. Iya kan? Ngaku aja deh. Hehehe,” Muti membuatku terpojok. Seketika raut wajahku jadi merah.

“Na, lo beneran suka sama Kak Fahri? Gila, selera lo tinggi banget,” Tiya ikut berkomentar. Aku tetap diam.

“Na, jawab donk. Kalo bener juga nggak apa-apa kok. Malah kita dukung. Iya nggak?” Hani menyemangati. Yang lain mengangguk. Aku jadi bingung. Tebakan Muti benar-benar jitu. Mau tak mau akhirnya aku terpaksa mengaku.

“Cie, Ina! Mudah-mudahan berhasil ya… Nanti kalo beneran jadi, jangan lupa ngundang-ngundang ya,” celetuk Alwa yang disusul tawa
teman-teman yang lain yang memenuhi ruangan itu. Tak henti-hentinya aku mengaminkan dalam hati.

***

Memori dua tahun silam itu memenuhi pikiranku. Aku akan tersenyum dengan sendirinya bila mengingat kejadian itu. Dasar mahasiswi baru. Saat itu aku dan sahabat-sahabatku baru semester dua. Tapi kami sudah berpikir jauh sekali.

Aku juga jadi malu kalau mengingat masa itu. Aku pernah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan seorang akhwat. Aku pernah mencopot poster di mading hanya untuk mendapat foto Kak Fahri. Mencuri-curi kesempatan untuk memotonya, walau dari jarak yang sangat jauh. Wajah Kak Fahri saja tidak jelas mata, hidung, dan mulutnya. Tapi aku sangat senang waktu itu. Kini foto-foto hasil “usaha”ku aman tersimpan di dalam diariku.

Perasaanku pada Kak Fahri masih sama. Namun seiring usia bertambah, kedewasaan pun mulai menghampiri. Aku tidak lagi melakukan hal yang kekanak-kanakkan seperti dulu. Biar saja rasa ini kutitipkan pada-Nya. Teman-temanku pun begitu. Mereka yang dulunya selebor, kekanak-kanakkan, dan heboh kalau melihat ada ikhwan ganteng, kini menjadi lebih dewasa dan sangat lemah lembut. Walau sifat-sifat buruk itu kadang masih suka muncul, apalagi kalau sudah berkumpul bersama.

Kak Fahri sudah lulus setahun yang lalu. Saat itu aku sangat merasa kehilangan. Tidak akan ada lagi sosoknya yang bisa kulihat di sekitar kampus. Tapi ada hal yang sedikit menghiburku waktu itu. Aku sudah berkenalan dengannya. Tepatnya bukan hanya aku, tapi aku dan teman-teman satu kosku. Kami berkenalan dengannya di salah satu organisasi keislaman kampus yang kami ikuti. Kebetulan ketua organisasi itu adalah Kak Fahri. Aku senang sekali bisa berkenalan dengannya. Meskipun aku ragu, apakah dia masih mengingatku saat ini.

Hari ini aku akan ta’lim dengan sahabat-sahabatku itu ba’da ashar. Kami memang satu kelompok ta’lim. Kulihat jam tanganku, masih ada setengah jam sebelum ta’lim dimulai. Aku memutuskan untuk menunggu di musholla saja.

Di musholla, aku melihat Hani sedang membaca Al Qur’an. Kutunggu dia selesai, lalu kusapa dia.

“Assalamu’alaikum, Hani,” ucapku sambil merangkulnya. Dia menjawab salamku sambil membalas rangkulanku.

“Udah selesai kuliah, Na?”

“Udah Alhamdulillah. Udah dari tadi ya, Han?”

“Nggak kok, baru aja.”

“Assalamu’alaikum, Hani, Ina,” Kakak mentorku, Kak Yanti datang. Beliau mahasiswi S2 di sini. Kami menjawab salam dengan kompak.

“Alhamdulillah, pas banget nih. Aku mau nunjukkin sesuatu,” ucap Kak Yanti. Aku dan Hani saling tatap.

“Nih, ada proposal dari seorang ikhwan,” Kak Yanti berkata sambil tersenyum. “Buat Hani,” lanjutnya.

Kami berdua kaget. “Buat aku, Kak? Beneran? Bukan buat Ina?” Hani mencoba memperjelas.

“Iya, buat Hani. Permintaan dari sananya begitu,” jawab Kak Yanti sambil tersenyum.

Aku langsung tersenyum dan mengucap hamdalah. Tak lupa aku memberi Hani selamat. Namun sepertinya dia masih sedikit syok.

“Siapa, Kak?” tanya Hani. Gemetar dia menerima map yang disodorkan Kak Yanti. “Boleh dibaca di sini?” tanya Hani lagi.

“Boleh, baca aja. Aku ke dalem sebentar ya. Mau naro tas.”

Penasaran, Hani membuka dan membaca isi map itu. Aku juga diperbolehkannya untuk ikut melihat. Ya Allah, nama itu… Aku langsung lemas. Mataku berkaca-kaca. Nama itu, Achmad Fahri Azzam. Itu nama Kak Fahri. Dan proposal itu bukan untukku, tapi untuk Hani, sahabat baikku. Kulihat Hani menunjukkan ekspresi kaget tak beda jauh dengan kekagetanku. Dia menoleh ke arahku. Sorot matanya sulit kuartikan. Aku tak kuat. Aku segera berlari keluar musholla. Aku menangis sambil berlari tak tentu arah. Kubiarkan langkahku membawaku kemana saja dia mau.

Langkah ini terhenti agak
jauh dari musholla. Aku bersandar pada sebatang pohon. Kutumpahkan tangisanku di sana. Ya Allah, sakit sekali hati ini. Mengapa, Ya Allah? Mengapa proposal itu bukan untukku? Mengapa Engkau begitu padaku, Ya Allah? Air mataku semakin deras. Kurasakan rintik air di sekelilingku. Hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Aku basah kuyup. Kubiarkan tubuhku menggigil diguyur hujan. Kuharap derasnya hujan bisa mengikis rasa kecewaku.

Hari sudah gelap. Sebentar lagi magrib. Hujan sudah reda dari tadi. Begitu pun air mataku. Mungkin persediaanya sudah habis. Mataku pasti sangat bengkak. Aku bangkit perlahan. Aku harus pulang. Kulangkahkan kaki perlahan. Aku tak tahu seperti apa penampilanku saat ini. Aku tak peduli. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai di tempat kos.

Kulihat Hani ada di depan kamarku, mondar-mandir. Dia kaget melihatku datang dengan baju basah kuyup. Dia mencoba merangkulku namun kutepis dengan kasar. Segera kubuka pintu kamarku dan kututup dengan sekali bantingan. Pasti Hani sangat kaget. Namun aku tak peduli. Segera kukeringkan badanku dan ganti baju. Lalu aku langsung berbaring di kasur setelah solat Magrib. Lelahku sangat luar biasa hari ini. Lelah lahir dan batin.

***

Sosok itu mendekat. Wajahnya putih bersih. Tanda hitam bersemayam di keningnya, saksi bisu ketaatan dalam beribadah. Wajah itu tersenyum. Tangannya terulur ke arahku. Aku mencoba menggapainya, namun tidak bisa. Kini sosok itu menjauh. Semakin dan semakin menjauh. Jangan, jangan pergi! Aku mencoba memanggil sosok itu kembali, namun terlambat, dia sudah menghilang.

Mataku terbuka. Badanku basah oleh keringat. Astagfurullahal’adzim, itu mimpi. Dadaku naik turun dengan cepat. Kulihat jam meja Winnie the Pooh-ku, jam dua pagi. Ya Allah, aku belum solat Isya’. Segera aku menuju kamar mandi. Setelah wudlu, kutatap wajahku di cermin. Masih terlihat bekas tangisan tadi sore di wajahku. Mataku pun masih bengkak.

Aku pun solat sambil menangis. Aku masih berat menerima kenyataan ini. Setelah selesai solat Isya’, aku langsung qiyamul lail. Aku mengadukan semua keluh kesahku pada-Nya. Aku benar-benar masih sulit menerima kalau ini kenyataan yang harus kuhadapi. Setelah puas mengadu pada-Nya, aku sempatkan membaca beberapa halaman Al Qur’an.

Kuraih ponselku. Ternyata masih di-silent. Kulihat ada dua pesan dan lima panggilan tak terjawab. Semuanya dari Hani. Kuhapus semua pesannya tanpa kubaca lebih dulu. Aku masih perlu waktu untuk mengobati rasa kecewa ini.

***

Hari-hari berikutnya kujalani tanpa semangat. Hani masih sabar mencoba mengajakku bicara. Begitu juga dengan Kak Yanti dan sahabatku yang lain. Namun aku tak pernah meladeni mereka. Akan kukubur semua kenanganku dengan Kak Fahri dan dengan Hani. Kuanggap tidak pernah mengenal mereka.

Kulihat banyanganku di cermin. Wajah ini semakin tirus. Kantung mata semakin menghitam. Kurasa itu bukan diriku. Aku tidak mengenal pantulan di cermin itu. Yang kulihat di sana adalah sosok gadis patah hati yang merana. Ya, mungkin itu memang aku. Karena aku semakin tidak mempedulikan diriku sendiri. Hanya Allah yang membuatku bisa bertahan hingga saat ini.

Kukenakan kerudung kaos dengan pelan. Aku akan belanja kebutuhan bulanan. Biasanya aku belanja dengan sahabatku, paling sering dengan Hani. Tapi mulai saat ini aku akan pergi belanja sendiri.

Jalan raya di depan pusat perbelanjaan ini selalu ramai. Aku menunggu jalanan agak sepi dengan pikiran kosong. Akhir-akhir ini aku sulit untuk memfokuskan pikiranku. Setelah jalanan cukup kosong, aku memutuskan untuk menyebrang. Tiba-tiba kepalaku sangat pusing. Langkah kakiku pun terhenti. Sayup-sayup terdengar suara teriakan di sekelilingku. Setelah itu aku merasakan tubuhku melayang dan terjatuh, sakit sekali. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi.

***

Kubuka mataku perlahan, terlihat sebuah ruangan yang asing. Tapi aku yakin ini adalah rumah sakit. Kucoba menolehkan kepalaku, namun hanya sakit yang kurasa. Kuraba kepalaku, tak ada jilbab di sana. Yang ada hanya perban. Kepalaku sedikit pusing. Kulihat kakiku pun diperban. Kuingat lagi peristiwa yang bisa kuingat. Ya, aku pasti kecelakaan.

Perlahan pintu ruangan ini terbuka, lalu muncul sesosok wanita manis berjilbab. Hani. Dia tersenyum kepadaku. Wajahku datar-datar saja. Aku tidak membalas senyumnya. Duhai hati, alangkah sulitnya menghilanghan rasa kecewa ini.

“Assalamu’alaikum, Ina,” sapanya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, kamu udah sadar. Gimana, udah enakan apa masih pusing? Aku panggil suster dulu ya.”

Aku hanya diam. Bibir ini mengikuti perintah hati untuk tetap diam. Tak lama
kemudian seorang dokter berjilbab didampingi seorang suster datang untuk memeriksaku. Setelah memeriksaku, dokter itu menyuruhku untuk banyak istirahat dan tidak berfikir yang berat-berat dulu. Aku mengalami gegar otak, dan lumayan parah katanya. Seperti biasa, aku hanya diam, tanpa ekspresi. Aku jadi berfikir, apa aku sudah lupa cara tersenyum ya?

Sahabat-sahabatku datang menjenguk. Orang tuaku juga datang. Namun mereka tidak bisa berlama-lama menemaniku karena mereka tidak bisa meninggalkan adik-adikku terlalu lama. Ayahku pun harus kembali bekerja. Jarak kampus dan rumahku memang sangat jauh. Jadi, mereka hanya menemaniku tiga hari. Setelah mereka pulang, sahabat-sahabatkulah yang bergantian menemaniku. Membacakan majalah, bercerita, kadang juga mengajakku mengobrol. Di antara semua sahabatku, yang paling sering menjenguk dan menemaniku adalah Hani. Dia tulus sekali menjagaku. Hatiku mulai luluh. Aku mulai tersenyum padanya. Alangkah ringannya hati ini saat dia membalas senyumku.

Aku merasa sudah lebih sehat. Namun aku belum boleh pulang. Proses pemulihan gegar otak memang agak lama. Saat ini aku sendirian. Hani sedang kuliah. Sahabatku yang lain juga punya kegiatan masing-masing. Tiba-tiba sebuah sosok terlintas di pikiranku. Kak Fahri. Bagaimana ya, kelanjutan prosesnya dengan Hani? Kuraih buku dan pulpen di atas meja di samping tempat tidurku. Tiba-tiba saja aku ingin menulis sesuatu.

Doa untuk Kekasih… *)

untuk seseorang yang telah mengisi ruang hati yg dulu hampa…

Allah yang Maha Pemurah…

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan aku dengannya.
Terima kasih untuk saat – saat indah
yang dapat aku nikmati walau hanya dengan memandang wajahnya.
Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang telah kulalui bersamanya.
Aku datang bersujud di hadapan-Mu…
Sucikan hatiku ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidupku.
Ya Allah, jika diri ini bukanlah pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan diri ini merindukan kehadirannya…
janganlah biarkan diri ini melabuhkan hati di hatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mataku dan jauhkan dia dari relung hatiku…
Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni…
dan tolonglah hamba-Mu ini agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Ya Allah, Ya Rabb

Jika dia bukanlah jodohku

Bawalah ia jauh dari pandanganku

Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan


Ya Allah, ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…

Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…

Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hamba-Mu ini

Ya Allah…

Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hamba-Mu yang daif ini

Amin…

Aku tersenyum. Aku merasa ikhlas, sangat ikhlas menyerahkan Kak Fahri pada Hani. Aku yakin dia bisa menjaganya. Aaarrrggghhh, sakit! Kepalaku sakit sekali. Kuraih tombol untuk memanggil suster. Namun terlambat, aku tak sempat menekan tombol itu karena tak sadarkan diri.

***

Sosok itu mendekatiku. Mendekat dan semakin mendekat. Namun sosok itu bukan dia. Sosok itu jauh lebih tampan. Wajahnya lebih bercahaya. Aku tak kenal siapa dia. Dia tersenyum ke arahku. Dia mengajakku ikut bersamanya. Aku teringat sesuatu, masih ada hal yang harus kuselesaikan. Kutepis ajakan itu dan kujelaskan alasanku. Sosok itu pun menjauh, lalu menghilang.

Mataku terbuka perlahan. Kulihat banyak orang di sekitarku.

“Na, kamu sudah sadar? Alhamdulillah. Kita takut banget waktu dokter bilang harapan kamu tipis,” Hani berkata sambil menggenggam tanganku erat. Ada bekas tangisan di wajahnya. Aku tersenyum menenangkan. Seketika semua perhatian tertuju padaku. Aku mencoba untuk bicara.

“Han, mengenai Kak Fahri,”

“Kalo kamu nggak setuju aku nggak akan nikah sama dia. Bener, Na, aku janji,” Hani memotong perkataanku.

“Ssst, dengerin dulu. Jangan dipotong ya,” jawabku. “Aku ikhlas kamu nikah sama dia. Aku yakin kamu bisa membahagiakannya.”

“Tapi, kamu kan…”

“Dia ingin kamu yang menjadi pendampingnya, bukan aku. Aku nggak boleh memaksakan kehendak. Nggak boleh egois. Kamu mau kan, menjaga dia buat aku? Biar aku bisa tenang.”

“Na, kamu serius?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kurasakan genggamannya semakin erat. Bulir bening jatuh membasahi pipinya. Kulihat sosok itu kembali muncul. Dia melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum mengangguk.

“Alhamdulillah, aku sudah tak punya beban lagi. Terima kasih ya, semuanya,” aku tersenyum dan memandang sekeliling. Bisa kulihat raut bingung di wajah Hani dan sahabatku yang lain. Sosok itu semakin dekat. Dia kembali mengulurkan tangannya. Kali ini kusambut uluran tangan itu dengan senyuman. Ringan, hanya ringan yang kurasa. Dia membawaku ke suatu tempat yang penuh cahaya. Tempat yang tak ada rasa sedih dan kecewa di sana.

***

*) artikel dari dudung.net (dengan sedikit perubahan).

Bekasi, 2 Maret 2008

Jauza Al Khansa’

Kala hati rindu dengan-Nya dan dengannya

My Mom is Amazing

My Mom is Amazing

Hari masih gelap, namun sudah terdengar suara kicau burung bersahutan, seperti hendak memberi tanda kalau hari ini akan menjadi hari yang indah. Meskipun hari masih gelap, sudah banyak orang berlalu-lalang, memulai kegiatan di hari yang cerah ini.

“Ozi, bangun, Sayang. Ayo bangun, kita solat berjama’ah.”

Terdengar suara samar, suara yang sangat lembut. Seorang anak yang dipanggil Ozi itu mulai mengerjapkan matanya. Terasa sentuhan lembut di kepalanya. Perlahan, Ozi membuka matanya, dan terlihat sesosok wanita cantik sedang tersenyum di hadapannya. Ibunya. Ozi pun bangun dengan semangat.

“Ayo, jangan lupa do’a bangun tidurnya,” wanita itu mengingatkan Ozi yang hampir saja lupa membaca do’a. Bergandengan ibu dan anak itu menuju ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Setelah solat subuh berjama’ah, Ozi mandi pagi. Murid kelas dua SD itu sudah terbiasa mandi sendiri sejak umur lima tahun.

Setelah selesai mandi, Ozi memakai baju seragamnya sendiri. Semua dia lakukan dengan tersenyum, karena dia tahu, sebentar lagi ibunya akan masuk ke kamarnya sambil membawa susu hangat kesukaannya.

“Sayang, waktunya minum susu,” ucap ibunya seraya membuka pintu kamarnya.

“Asik! Makasih ya, Ma,” Ucap Ozi sambil memeluk ibunya. Ozi pun meminum susu itu sampai habis tak tersisa sambil duduk di tempat tidurnya. Setelah itu dipandanginya wanita yang sedang duduk di sampingnya.

“Ma, Ozi sayang banget sama Mama. Ozi seneng bisa punya Mama,” ucap anak berusia tujuh tahun itu dengan polos. Mata ibunya pun berkaca-kaca mendengar perkataan buah hatinya.

“Iya, Sayang. Mama juga senang bisa punya anak baik seperti Ozi. Mama juga sayang Ozi. Sayang banget,” ucap sang ibu sambil memeluk anaknya. “Sekarang Ozi berangkat sekolah ya. Yuk, mama antar.”

Perjalanan ke sekolah tak pernah membosankan untuk Ozi, karena selalu ada mama di sampingnya. Mama yang akan mengantarnya ke sekolah sambil bercerita di sepanjang perjalanan. Dan cerita mama biasanya bersambung, yang akan dilanjutkannya saat berangkat sekolah esok hari. Hal itu yang membuat Ozi semangat untuk berangkat ke sekolah, ingin mendengar lanjutan cerita dari sang mama.

“Ozi sekolah dulu ya, Ma,” ucap Ozi di gerbang sekolah. Tak lupa ia mencium tangan ibunya dan mengucap salam. Setelah melambaikan tangan beberapa saat kepada bunda tersayang, Ozi pun sudah siap untuk belajar hari ini.

***

Bel tanda sekolah berakhir telah berbunyi. Waktu yang selalu ditunggu-tunggu Ozi telah tiba. Segera dia bereskan buku-buku pelajarannya, dan bersiap untuk pulang. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya. Ajakan teman-temannya untuk bermain sepulang sekolah dia abaikan. Yang ada di pikirannya saat ini hanya senyuman dan pelukan hangat sang bunda. Terbayang juga masakan ibunya yang sangat enak.

“Assalamu’alaikum. Mama, Ozi pulang!” ucap Ozi seraya membuka pintu rumah. Segera dia berlari menuju satu tujuan, dapur. Tebakannya tepat, ibunya sedang memasak makan siang kesukaannya. Sang ibu pun menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menyambut Ozi. Dipeluk dan diciuminya buah hatinya itu. Seakan telah mengalami perpisahan yang amat lama.

Setelah solat dan ganti baju, Ozi makan siang dengan mamanya. Dengan sangat semangat, Ozi menceritakan segala pengalamannya di sekolah. Sang ibu terlihat sangat antusias mendengar cerita itu. Senyum pun tak pernah hilang dari bibirnya. Sesekali tawa memenuhi ruangan itu. Pemandangan yang amat membuat iri orang yang melihat.

Tak terasa hari mulai sore. Ibu dan anak itu terlihat sedang menyiram tanaman bersama. Ibunya Ozi sangat menyukai tanaman. Ozi pun mengikuti jejak ibunya, menyukai tanaman. Sesekali mereka bercanda sambil bermain air. Kadang Ozi suka menyembunyikan pupuk yang akan digunakan ibunya. Setelah ibunya pusing mencari pupuk itu, baru Ozi memberikan pupuk itu dengan wajah innocent. Sang ibu pun akan pura-pura marah dan mengejar Ozi yang sudah berlari terlebih dulu.

***

Ketika hari mulai beranjak malam, sang ibu akan menemani Ozi tidur sambil membacakannya cerita. Banyak sekali cerita yang telah dibacakan ibu untuk Ozi. Kadang ibu membuat cerita karangannya sendiri. Semua cerita sa
ng ibu selalu menunjukkan bahwa anak baik akan senantiasa disayang oleh Allah dan kedua orang tuanya. Ozi sangat menyukai cerita-cerita ibunya. Hampir seluruh cerita yang pernah diceritakan ibunya dia ingat.

Seperti kali ini, sang ibu sedang bercerita sebuang dongeng. Beliau sedang bercerita tentang seorang gadis yang baik hati, yang kemudian menjadi seorang putri yang baik hati. Ozi mendengarkan cerita itu dengan seksama di balik selimutnya. Dalam imajinasi kanak-kanaknya, terbayang seorang gadis kecil cantik memakai mahkota. Tapi wajah gadis itu mirip sekali dengan wajah ibunya. Semua tokoh wanita baik hati dalam cerita ibunya memang selalu memiliki wajah mirip ibunya di dalam bayangan Ozi. Semua itu cerminan perasaan Ozi yang sangat menyayangi ibunya.

Setelah cerita selesai, Ozi berdo’a bersama ibunya. Sang ibu pun mencium kening Ozi dan beranjak keluar kamar. Namun Ozi menarik tangan ibunya, “Mama di sini aja ya? Ozi mau tidur sama mama. Boleh kan?” pinta Ozi.

“Ya, Sayang, boleh,” ucap sang ibu sambil mengelus rambut Ozi. Akhirnya sang ibu pun tidur di samping Ozi.

Saat semua sudah terlelap, ada sepasang mata yang masih terbuka. Ozi masih belum tidur. Perlahan dia bangun dan mengecup pipi ibunya yang sudah terlelap. Setelah itu Ozi mengangkat kedua tangannya, hendak berdo’a.

“Ya Allah, terima kasih ya, Engkau sudah memberi Ozi mama yang baik. Jaga mama selalu ya, Ya Allah. Amin.”

***

Pagi ini terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih suram. Ozi perlahan membuka matanya. Langsung dicarinya sosok ibu yang begitu dicintainya. Namun sosok itu sudah tak ada di sampingnya. Dipanggil-panggilnya sosok itu, namun tak ada jawaban. Diperhatikannya keadaan sekeliling. Semua terasa berbeda. Di kamar ini terdapat banyak tempat tidur dan di setiap tempat tidur ada anak kecil seusia dirinya.

Akhirnya Ozi sadar, itu semua hanya mimpi. Dia hanya seorang anak yatim piatu yang sakarang berada di panti asuhan. Anak-anak di kamar ini adalah teman-temannya, yang bernasib tak jauh beda dengan dirinya. Mata Ozi pun mulai berkaca-kaca. Mimpinya semalam sangat indah, sampai dia mengira itu nyata. Ozi, yang masih berusia tujuh tahun itu, tak pernah melihat kedua orang tuanya. Bahkah ia tak yakin apakah dia memiliki orang tua. Pikiran kanak-kanaknya yang masih polos sering bertanya-tanya, apa aku punya orang tua? Seperti apa rasa punya orang tua itu? Pasti sangat menyenangkan. Ya, seperti yang diimpikannya semalam.

Dihapusnya air mata yang mulai menetes. Dia teringat perkataan Bunda Herni, ibu pemilik panti ini, kalau do’a anak baik akan dikabulkan Allah. Maka, segera dia angkat kedua tangannya dan berdo’a dengan khusuk.

“Ya Allah, Ozi pengen punya ibu. Bisakah Engkau memberi satu buat Ozi? Ozi janji, Ozi akan selalu bikin ibu tersenyum. Ozi nggak akan nakal, Ya Allah. Kabulkan do’a Ozi ya. Amin.”

***

Depok, 26 Juli 2008

Inspired by Zain Bhikha’s song: “My Mom is Amazing”

Wrote by: Jauza Al Khansa

For my lovely Mom,,,

Thank you for being my amazing Mother

I love you…