Teh Pahit dan Kenangan Itu

Teh Pahit dan Kenangan Itu

Udara dingin yang berasal dari air conditioner di restoran ini menyergapku. Suasana dingin yang sama kurasakan pula di hatiku. Padahal saat ini seharusnya aku bahagia. Sahabat yang telah lama berpisah denganku kini bertemu kembali. Namun, entah sejak kapan, aku telah lupa rasa bahagia itu seperti apa. Sepanjang perjalanan Reva, sahabat lamaku, tak berhenti bercerita tentang kehidupannya setelah dia pindah ke luar kota dan berpisah denganku. Aku menanggapi dengan sesekali tersenyum. Itu pun agak dipaksakan. Semoga dia tidak menyadari hal itu.

“Wa, mau makan apa?” tanya Reva membuyarkan anganku.

“Makanan kesukaan kita aja. Masih ingat?” jawabku sambil tersenyum lemah.

“Oke, kita pesen fuyunghai ya,” ucapnya sambil tersenyum menang. Ternyata dia masih ingat. “Minumnya milkshake cokelat. Iya kan?”

“Nggak usah. Aku mau teh pahit panas aja. Yang kental ya,” jawabku datar.

“Teh pahit? Sejak kapan kamu suka teh pahit?” Reva bertanya heran.

“Sejak… Ya, sejak aku tahu kalau teh pahit itu nikmat,” senyum lemahku kembali terlihat.

“Oh, gitu. Ya udah. Wa, kamu baik-baik aja kan? Kayaknya nggak semangat gitu. Nggak seneng ya, makan bareng aku?” tanya Reva sedikit merajuk. Aku buru-buru menggeleng. “Nggak kok, Va,” ucapku sambil tersenyum. Kali ini kuberi dia senyum manisku.

“Nah, gitu dong. Oh ya, dari tadi kan aku yang cerita, sekarang kamu ya. Apa aja nih yang terjadi saat 4 tahun berpisah?”

Nothing special. Biasa aja kok. Aku lulus SMA, terus kuliah deh, sampai sekarang. Kayaknya kehidupan kamu lebih menarik.”

“Ah, nggak juga kali. Eh, makanannya udah dateng. Yuk, makan,” Reva langsung menyantap makanannya dengan lahap. Sejujurnya, aku tak berselera untuk makan. Jadi, aku minum tehku dulu. Kulihat asap mengepul dari tehku. Benar-benar masih panas. Kunikmati aromanya yang khas. Ah, sensasinya tidak pernah berubah. Masih sama seperti tiga tahun lalu, saat pertama kali kucoba menikmati teh pahit. Kutatap lekat-lekat teh itu. Ada sekelebat bayangan di sana. Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes. Aku langsung berlari menuju toilet, meninggalkan Reva yang berteriak heran memanggilku.

***

Tahun kedua SMA, menjelang perpisahan dengan Reva.

Hari Minggu selalu indah. Mengapa? Karena hari ini hari libur. Aku sedang membuat kue bersama Ibu ketika Ayah memanggilku.

“Alwa, tolong buatkan Ayah teh pahit ya.”

Aku melongokkan kepala ke ruang tengah, tempat Ayah membaca buku dan mengacungkan ibu jariku sambil berteriak, “Oke, Bos!”. Beberapa saat kemudian aku pergi ke ruang tengah membawa secangkir tek pahit, segelas besar milkshake cokelat kesukaanku, dan kue yang sudah matang.

“Nih, Yah,” ucapku seraya memberikan cangkir teh. Lalu aku duduk di samping Ayah. “Lagi baca apa, Yah? Serius banget kayaknya. Kerutannya nambah banyak tuh. Hehehe,” tanyaku sambil mencandai Ayah. Aku memang dekat dengan Ayahku. Dari ketiga anak yang Ayah miliki, aku yang paling bungsu dan paling cantik. Kakak-kakakku keduanya ganteng. Hehehe, tahu maksudku kan?

“Huh, kamu tuh,” ucap Ayah sambil mengacak rambutku. “Nih, buku otomotif. Makasih ya, tehnya,” ucap Ayah sambil tersenyum. Ayah memang tak pernah lupa mengucapkan terima kasih kalau sudah ditolong. Itu hal yang aku suka dari beliau. Kalau menyuruh anak-anaknya pun Ayah tak pernah lupa menyelipkan kata tolong. Pokoknya beliau itu idolaku deh. Kuamati Ayah yang sedang meminum tehnya. Kelihatannya nikmat sekali.

“Yah, emang enak teh pahit?” tanyaku penasaran.

“Mau tahu? Coba aja. Nanti ketagihan deh,” ucapnya menantangku.

“Coba ya,” ucapku sambil meminta tehnya. Namun, begitu cairan itu masuk ke mulutku, lidahku dengan spontan menolak. Weks, pahit banget. Ayah tertawa melihat reaksiku. “Ih, nggak enak gitu juga. Mendingan minum ini,” ucapku sambil mengacungkan milkshake-ku. Ayah hanya tersenyum kemudian melanjutkan membaca bukunya.

“Yah, Alwa boleh pinjem mobil Ayah nggak? Mau jalan-jalan sama temen,” pintaku sambil memijit-mijit lengan Ayah. Tak lupa kuberikan senyumanku yang paling manis. Ini salah satu senjataku untuk meluluhkan hati Ayah.

“Mau ke mana? Sama siapa aja?” tanya Ayah menyelidik.

“Sama Reva, Okta, and Novi. Buat acara perpisahan, Yah. Besok kan Reva mau pindah. Boleh ya? Ayah baik deh,” rayuan maut mulai kukeluarkan.

“Duh, anak Ayah yang satu ini emang pinter ngerayu. Apa sih yang nggak buat kamu? Ya udah, gih sana. Tapi hati-hati ya,” Ayah berpesan sambil tersenyum. “Yes!!!” ucapku seraya berlari ke kamar. Bersiap-siap, mengenakan kardigan baruku dan cela
na panjang model pensil. Yup, semua siap. Aku pamit pada Ibu dan Ayah. Tak lupa kucium tangan keduanya.

“Eh, Alwa, kerudungnya mana? Kok nggak dipakai?” tanya Ayah saat aku berpamitan.

“Oh iya, lupa. Buru-buru sih,” ucapku sambil nyengir. Ayah dan Ibu hanya geleng-geleng kepala. Ayah memang menyuhku berjilbab saat aku masuk SMA. Tapi aku baru mau memakainya saat kelas dua ini. Itu pun masih sering dilepas kalau keluar rumah selain sekolah.

***

Tahun ketiga SMA, menjelang kelulusan.

“Permisi!” terdengar suara laki-laki di depan pintu rumah. Mbak Ayu, pembantu di rumahku membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Putra, teman laki-laki yang kini menjadi pacarku. Kami memang sudah janjian mau jalan-jalan malam ini. Kebetulan Ayah dan Ibu sedang pergi dan sepertinya baru akan pulang setelah agak larut, jadi aku berani menyuruhnya menjemputku di rumah. Kalau Ayah sampai tahu anaknya yang masih kelas tiga SMA ini sudah pacaran, pasti beliau marah besar. Beliau tidak suka kalau anak-anaknya pacaran. Pikiran yang sangat kolot menurutku.

“Berangkat yuk! Nanti jangan malam-malam ya, pulangnya. Nanti ketahuan Ayah,” ucapku sambil tersenyum.

Putra mengangguk sambil tersenyum, lalu menggenggam tanganku. Perasaan aneh menjalari diriku. Tapi aku tak enak untuk menarik tanganku. Kutepis perasaan aneh itu. Kami langsung berangkat, jalan-jalan di malam minggu yang cerah.

Ternyata Putra mengajakku ke pantai. Kami mengobrol banyak di sana. Aku sangat menikmati saat itu. Karena terbawa suasana, aku jadi lupa waktu. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku sangat terkejut begitu melihat nama Ayah tertera di sana. Ragu-ragu kuangkat telepon itu. Ayah marah besar! Beliau membentakku, menyuruhku pulang saat itu juga. Seumur-umur baru kali ini Ayah membantakku. Putra segera mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan, aku hanya menangis. Aku benar-benar takut dengan kemarahan Ayah.

Aku sudah sampai di depan pintu rumah. Putra menawarkan diri untuk menemaniku masuk rumah, namun kutepis baik-baik. Aku tak ingin dia kena marah Ayah juga. Kulangkahkan kaki perlahan memasuki rumah. Rumah sepi. Kulanjutkan langkahku hingga ke ruang keluarga. Namun tak juga kutemui Ayah di sana. Aku langsung menuju dapur, mencari Mbak Ayu.

“Mbak Ayu, Ayah mana?” tanyaku sambil berbisik.

“Ayah tadi langsung masuk kamar, abis nelepon Neng Alwa. Ibu juga masuk kamar,” Mbak Ayu menjawab dengan berbisik juga.

Aku menarik napas lega. Sepertinya aku tidak akan ‘diadili’ hari ini. Aku segera menuju kamarku untuk tidur. Menyiapkan diri untuk besok, pasti aku akan dimarahi habis-habisan.

***

Hari Minggu, hari yang biasanya seru, kini kelabu. Aku bangun tanpa semangat. Tapi aku bertekad ingin minta maaf pada Ayah. Aku benar-benar merasa tidak enak pada Ayah. Ini pertama kalinya Ayah sangat marah padaku. Dan ini gara-gara aku pacaran. Ya, pokoknya aku harus minta maaf dan Ayah harus memaafkan aku. Bikin apa ya, biar Ayah senang? Aha, bikin teh pahit kesukaan Ayah saja.

Aku beranjak ke dapur. Kulihat Ibu sedang memasak dengan Mbak Ayu.

“Bu, Ayah mana?” tanyaku setelah mencium pipi beliau. Satu ritual yang kulakukan tiap pagi.

“Tadi pagi Ayah lari pagi. Ibu mau temenin, Ayah bilang nggak usah. Mungkin mau menenangkan pikiran. Kamu ini, udah gede jangan bikin Ayah marah. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu punya pacar?” tanya Ibu sambil mengelus rambutku. Aku menarik napas, berat. Akhirnya aku ceritakan semua pada Ibu. Aku sebenarnya pacaran hanya iseng. Di antara teman-teman perempuanku, hanya aku yang belum punya pacar. Aku jadi malu. Makanya waktu Putra nembak, tanpa pikir panjang langsung aku terima. Tapi sekarang aku menyesal. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat Ayah memaafkanku.

“Ya ampun, Alwa, kenapa kamu nggak cerita? Kamu tahu nggak, tadi malam Ayah marah besar. Ibu sampai takut. Ibu belum pernah lihat Ayah semarah itu sebelumnya. Kamu harus minta maaf ya,” Ibu panjang lebar menasihatiku.

“Iya, Bu. Rencananya Alwa juga mau minta maaf. Alwa bikinin teh pahit aja ya, buat Ayah. Sebentar lagi Ayah pulang, kan?” ucapku bersemangat.

“Ya, mungkin sebentar lagi. Ayah lari paginya udah lumayan lama.”

Aku langsung membuat teh panas spesial untuk Ayah, spesial penuh cinta dan maaf. Aku tersenyum membayangkan reaksi ayah nanti. Pasti beliau kaget dan senang. Ayah kalau marah biasanya nggak lama.

Setengah jam telah berlalu. Teh panas yang kubuat telah menjadi dingin. Tapi ayah belum pulang. Aku dan ibu jadi bingung. Tidak biasanya ayah lari pagi sampai sesiang ini.

Kring!!! Telepon di ruang tengah mengagetkanku. Ibu segera mengangkatnya.

“Wa’alaikum salam. Ya, benar. Ada apa ya, Pak?” jawab ibu di telepon.

“Apa?! Sekarang di mana, Pak?” nada bicara ibu berubah khawatir. Perasaan aneh menjalari hatiku. Jangan-jangan ayah…

“Iya, Pak. Kami segera ke sana. Terima kasih,” ucap ibu seraya menutup telepon itu. Ibu berbalik ke arahku. Terlihat air mata telah menganak sungai di sana. Segera kupeluk ibu. “Ayah kecelakaan. Sekarang kita ke rumah sakit,” ucapnya setengah berbisik. Aku mengangguk bagai terhipnotis. Pikiranku kosong. Aku tak bisa berpikir apa-apa saat itu.

***

Kuperhatikan wajah teduh itu. Tak tercermin rasa sakit di sana. Yang kulihat hanya damai. Kuraih tangan ayah, kupegang erat-erat, lalu kucium. Ayah, bangun. Aku janji, aku nggak akan bikin ayah marah lagi, ucapku dalam hati. Aku pun mengutuk orang yang menabrak ayah tadi pagi. Ayah tertabrak motor. Dan pengemudi motor itu melarikan diri setelah tahu kalau dia menabrak seseorang. Benar-benar tidak bertanggung jawab! Kini ayah harus dirawat di rumah sakit karena mengalami gegar otak yang lumayan parah.

Aku merasakan gerakan perlahan dari tangan ayah yang masih kugenggam. Mata ayah pun perlahan membuka. Aku tersenyum, ayah pun membalas senyumku. Ayah memberi isyarat padaku untuk mendekat padanya. Aku menurutinya. Ternyata ayah ingin memeluk dan mengusap kepalaku. Aku marasa sangat damai saat itu.

Terlintas sesuatu di dalam benakku. Aku harus minta maaf pada ayah sekarang. Segera kutarik kepalaku dari pelukannya. Mata ayah yang masih lemah menyiratkan perasaan heran. Aku menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri untuk mengucapkan kata-kata itu. Namun, sebelum kata maaf itu keluar dari bibirku, ayah berubah kejang. Aku panik. Aku berteriak minta tolong. Kutekan tombol pemanggil suster. Ibu pun datang bersamaan dengan datangnya dokter dan perawat.

“Ada apa, Alwa?” tanya ibu cemas.

Nggak tahu, Bu. Tadi, tadi ayah udah sadar. Tapi tiba-tiba langsung kejang. Alwa takut, Bu. Takut ayah dipanggil Allah,” ucapku sambil menangis di pelukan ibu.

“Hus, jangan ngomong begitu. Sekarang kita doakan ayah ya,” ucapnya menenangkanku. Tapi air mata pun telah mengalir di pipinya.

Ibu dan aku melihat usaha dokter dan perawat untuk menjaga agar ayah tetap hidup tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun, harap dan do’a selalu mengalir untuk ayah.

“Maaf Bu, Dik, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi nyawa Pak Hadi tak bisa diselamatkan. Maaf,” ucap dokter Kardi setelah hampir satu jam berusaha menyelamarkan ayah.

“Nggak!!!!! Ayah!!!!” teriakku saraya berlari menuju tubuh ayah yang sudah kaku. Air mata begitu deras mengalir di pipiku. Ibu mendekat dan mencoba menenangkanku.

“Bu, Alwa belum sempat minta maaf sama ayah. Alwa anak durhaka, Bu. Alwa masih punya dosa sama ayah,” ucapku sambil menangis di pelukan ibu.

“Alwa, ibu yakin ayah sudah memaafkanmu. Sekarang, kamu harus mengikhlaskan ayah. Biar ayah bisa tenang. Ya?” jawab beliau sambil mengusap punggungku. Ya, aku tahu, ayah bukan orang pendendam. Ayah pasti sudah memaafkan kesalahanku. Tapi rasa kehilangan ini begitu menyiksaku. Satu perasaan yang tak akan pernah hilang dari hatiku.

***

Aku dan Reva berpelukan. Telah kuceritakan semua padanya. Sekarang dia mengerti apa yang telah terjadi padaku. Itu pula sebabnya mengapa aku selalu menangis setiap meminum teh pahit. Kenanganku bersama ayah akan datang bersamaan dengan mengalirnya teh itu di tenggorokanku. Yah, maafkan Alwa.

***

Depok, 22 Mei 2008

Wrote by: Jauza Al Khansa

I dedicate this story to my beloved father

I’ll make you proud of me

I love you…

One thought on “Teh Pahit dan Kenangan Itu

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s