Sepenggal Asa

…Cerpen ini udah pernah Ina taro di Mp…

tapi waktu itu masih dalam bentuk attachment..
Jadi,, Ina post lagi ya…
***

Sepenggal Asa

Aku menatap tugas Agama Islam di tanganku lama. Tersisa satu soal lagi yang belum kukerjakan. Duh, Pak Zaenal ngasih tugasnya susah banget sih, aku mengeluh. Pak Zaenal adalah dosen agamaku di kampus. Kembali kubolak-balik buku panduan agamaku, namun tak juga kutemui jawaban untuk soal itu. Kesal, kuletakkan kertas itu begitu saja lalu berjalan ke teras. Aku ingin menyegarkan kepalaku yang sudah butek karena mengerjakan soal tadi. Langit malam ini mendung, hanya dihiasi beberapa bintang. Bulan pun tak tampak. Aku melihat abi dan kedua adikku baru pulang dari mesjid.

“Assalamu’alaikum,” ucap abi dan kedua adikku serentak. Aku menjawab salam itu dan kemudian mencium tangan abi.

“Kakak lagi ngapain ngelamun sendirian? Mikirin apa sih?” tanya abi sambil senyum-senyum iseng. Di rumah, aku memang dipanggil kakak oleh orang tua dan adik-adikku. Tapi kadang aku juga suka dipanggil Ina, nama kecilku.

“Mikirin tugas agama. Susah banget, Bi,” aku merajuk.

“Soal apa sih? Coba sini Abi lihat,” ucap abi seraya masuk ke dalam rumah.

“Nih, nomor 7,” aku memberikan soal itu kepada abi. “Kepala kakak udah mau botak tuh, gara-gara mikirin soal itu. Udah dicari di buku tapi nggak ada, Bi,” aku kembali mengeluh.

“Hmm,” kening abi berkerut, pertanda beliau sedang berfikir. “Tunggu sebentar,” ucap abi seperti ingat sesuatu lalu beliau pergi ke kamarnya, meninggalkanku yang bertanya heran. Beberapa detik kemuadian abi keluar kamar dengan membawa handphone-nya. Handphone? Buat apa? Kini giliran keningku yang berkerut. Abi lalu menelepon seseorang dengan handphone-nya. Huh, kirain mau bantuin, nggak tahunya malah nelepon, aku bersungut. Aku lalu melanjutkan PR-ku sendiri. Namun kertas soalnya tidak ada. Aku mencari-cari soal itu. Tidak juga ketemu. Tak lama kemudian abi kembali dengan wajah cerah.

“Nih, jawabannya udah ketemu,” abi menyerahkan soal yang sudah diisi itu kepadaku. Aku menatap abi takjub.

“Abi tahu jawabannya dari mana?” tanyaku.

“Tadi abi nanya temen. Namanya Zaky. Orangnya pinter, ganteng lagi. Kakak kalau punya masalah apa aja tentang agama, tanya dia aja. Dia udah master lho. Umurnya baru dua tujuh,” ucap abi ‘mempromosikan’ temannya padaku. Aku hanya nyengir mendengar perkataan abi. Pake promosi segala, pikirku.

“Iya, makasih ya, Bi,” aku menerima kertas soal itu sambil tersenyum lalu meneruskan belajarku yang tadi sempat tertunda.

Setelah belajar, aku masuk kamar dan tidur. Sebetulnya tidak langsung tidur. Aku kepikiran juga dengan kata-kata abi tadi, tentang temannya. Aku, yang masih kuliah tingkat dua ini, membayangkan sosok yang tadi digambarkan oleh abi. Apa ada ya, orang yang se-perfect itu, tanyaku pada diri sendiri. Dan akhirnya, aku hanya bisa menyimpan tanya itu karena kantuk tiba-tiba menyerangku.

***

Beberapa minggu berlalu sejak percakapan dengan abi waktu itu. Tapi aku masih sering bertanya-tanya tentang sosok lelaki ‘sempurna’ itu. Namun aku tak pernah berani bertanya langsung pada abi. Takut disangka naksir!

Hari ini akan ada beberapa teman abi yang akan berkunjung ke rumah. Abi sibuk memparsiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. Abi kayak mau kedatangan tamu penting aja, ledek batinku. Umi pun ikut sibuk membantu abi. Aku hanya membantu sesekali. Kadang malah menggerecoki keduanya. Kedua adikku entah berada di mana. Mereka berdua kalau sudah bermain suka lupa pulang.

Semua sudah beres saat hari mulai senja. Keluargaku pun solat Maghrib berjamaah di rumah. Setelah solat dan tilawah, seperti biasa, aku dan kedua adikku belajar untuk besok.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara beberapa orang dari luar. Abi segera menjawab salam dan membukakan pintu. Lalu abi mempersilakan tamu-tamu itu masuk.

“Kak, tolong bikinin minum!”

Agak malas aku melangkahkan kaki ke dapur. Setelah selesai membuat beberapa cangkir teh, aku membawanya ke ruang tamu. Kuletakkan gelas satu persatu sambil sekilas melirik wajah para tamu. Tamu abi ada tiga orang, dua di antaranya sudah aku kenal karena dulu pernah bertemu. Tapi wajah yang seorang lagi masih asing. Aku kembali lagi ke ruang tengah untuk belajar. Di sana ada umi yang sedang mengajari kedua adikku, Fajar dan Novia. Rumahku memang mungil sehingga ruang tamu terlihat jelas dari ruang tengah. Jadi aku dapat mendengar dan melihat para tamu dengan jelas.

“Gimana Pak Zaky, bulan-bulan pertama mengajar di sekolah baru?” tanya abi pada pemuda yang tak dikenali olehku. Oh, jadi namanya Zaky, batinku. Tapi tunggu, perasaan pernah denger nama itu deh. Kapan ya? Aku bertanya-tanya dalam hati. Oh iya, itu kan nama teman abi yang waktu itu ‘dipromosiin’, aku menepuk keningku. Diam-diam aku melirik pemuda itu lagi. Hmm, betul juga kata abi, dia ganteng. Dan kalau diperhatikan dari cara bicaranya, sepertinya dia juga cerdas. Dia juga masih muda. Aku mengagumi pemuda yang bernama Zaky itu dalam hati. Tapi, ups, dia melirik ke arahku saat aku sedang asik memandanginya. Duh, ketangkep basah deh, sesalku. Wajahku memerah karena malu.

Aku lalu melanjutkan belajar. Aku tak berani melirik ke ruang tamu lagi. Aku mencoba berkonsentrasi dengan diktatku. Tak lama kemudian abi masuk ke ruang tengah dengan Zaky.

“Kak, ini Pak Zaky yang waktu itu abi ceritain. Kalau ada masalah apa-apa tanya aja sama dia. Dia pinter, lho,” abi promosi lagi sambil tersenyum. Aku tersenyum salah tingkah ke arahnya. Zaky membalas senyumku, manis.

Setelah berkenalan, Zaky mulai mengobrol dengan umi. Obrolan mereka tidak jauh dari kehidupan dan pekerjaan Zaky sekarang. Kadang obrolan mereka menyerempet ke masalah agama. Sesekali aku ikut bicara. Aku sudah tak canggung sama Zaky.

Setelah agak larut, teman-teman abi pulang. Di kamar, aku kembali memikirkan sosok Zaky. Ternyata benar, cowok perfect itu ada. Mungkin nggak ya, aku bisa punya suami kayak Zaky? Bahagia dunia akhirat deh, aku tersenyum sendiri. Pikiranku mulai ngawur. Aku menepisnya dan bersiap untuk tidur.

***

Kedatangan Zaky waktu itu adalah awal dari kedatangannya selanjutnya. Dia mulai sering main ke rumah. Kadang karena ada urusan penting dengan abi, tapi tak jarang dia datang ke rumah hanya untuk mengobrol dengan abi.

“Wah, Ina lagi nyetrika ya? Kalau tahu gitu, tadi Bang Zaky bawa cucian dari rumah, biar sekalian disetrikain,” godanya sambil tersenyum. Zaky memang lebih suka dipanggil abang olehku.

“Makanya, Bang, cepet-cepet cari istri. Nanti kan jadi ada yang ngurusin. Betah banget sendirian,” aku balas menggodanya. Usia Bang Zaky sudah dua tujuh, tapi dia belum menikah. Mungkin memang belum ketemu jodoh, batinku. Mendengar kata-kataku barusan, Bang Zaky hanya tersenyum. Aku jadi salah tingkah. Senyumnya itu lho, manis banget. Aku langsung pura-pura sibuk dengan setrikaanku, menutupi salah tingkahku.

***

Hari ini, guru dan karyawan yang bekerja di sekolah yang abi pimpin akan mengadakan acara Tafakkur Alam di Cibodas. Mereka akan menginap semalam. Aku ditawari abi untuk ikut. Aku pun tidak menolak. Aku butuh refreshing satelah selama ini pusing belajar. Apalagi setelah aku tahu Bang Zaky juga akan ikut. Aku jadi tambah semangat.

Aku sekeluarga pergi ke sekolah abi naik mobil pribadi. Dari sana, kami sama-sama naik bis dengan guru-guru yang lain. Kulihat Bang Zaky sibuk mempersiapkan semuanya. Mungkin dia memang seksi acara. Tapi ada satu orang guru perempuan yang selalu berada di dekat Bang Zaky. Namanya Bu Desi, guru Fisika. Kemana-mana selalu berdua. Semangatku langsung terbang entah kemana.

Sekitar jam 9, bis berangkat. Sebelum berangkat kami berdoa bersama yang dipimpin oleh Bang Zaky. Selama di bis aku hanya diam dan membaca novel yang aku bawa. Kali ini aku tidak ikut bercanda dengan Bang Zaky. Aku masih kesal melihat kejadian tadi. Padahal, apa hakku untuk kesal? Aku menggerutu sendiri.

“Ina serius banget. Lagi baca apa sih?” tanya Bang Zaky tiba-tiba. Mungkin dia heran melihat aku yang biasanya cerewet jadi pendiam. Aku tersenyum dengan sedikit dipaksakan lalu menyebutkan sebuah judul buku. Sepertinya dia menyadari perubahan wajahku. Lalu dia pun mempersilakan aku untuk melanjutkan membaca.

Kurang lebih dua jam kemuadian bis tiba di tempat tujuan. Udara di sini berbeda dengan Jakarta. Segar sekali. Kurentangkan tangan lebar-lebar dan kuhirup oksigen sepuasnya. Jarang-jarang aku bisa menghirup udara sesegar ini. Setelah membereskan barang-barang yang kubawa, aku langsung membawa kameraku dan mulai memotret pemandangan di sana. Pemandangan di sana benar-benar indah. Dari teras vila tempatku menginap terlihat bukit-bukit yang hijau dengan lereng-lerengnya yang curam. Pemandangan langka nih, batinku.

Setelah puas berfoto dengan alam, aku dan kedua adikku pergi menunggang kuda. Kami berkeliling daerah cibodas. Tak lupa aku mengabadikan kejadian itu dengan kameraku. Setelah itu aku bermain dengan adik-adikku sampai senja.

Malam harinya ada acara bakar-bakaran. Bakar ayam, bakar ikan, juga ada kambing guling. Nikmat banget malam-malam yang dingin kayak begini makan yang hangat-hangat, ucap hatiku senang. Aku juga senang melihat Bang Zaky sudah tidak ‘nempel’ lagi dengan Bu Desi. Aku pun makan dengan lahap.

“Laper ya, Na? Mau abang ambilin lagi ayamnya?” tanya Bang Zaky.

Aku tersipu. Aku jadi malu mengetahui kalau dari tadi Bang Zaky memerhatikan cara makanku. Habis, aku makan seperti orang yang sudah nggak makan tiga hari.

“Eh, emm, iya, Bang. Laper. Tapi sekarang udah kenyang kok,” aku tersenyum dan segera menyelesaikan makanku.

***

Selama di Cibodas Bang Zaky perhatian banget sama aku. Entah ini benar atau cuma perasaanku saja. Aku jadi suka Ge eR sendiri. Lama-kelamaan perasaanku pada Bang Zaky mulai tumbuh subur tanpa bisa kucegah. Aku jadi suka melamunkan pemuda itu. Berharap suatu saat nanti aku bisa selalu bersama dengannya.

Malam ini Bang Zaky akan datang lagi ke rumah. Tapi kali ini bukan untuk bertemu dengan abi, melainkan untuk mengisi sebuah kajian di kompleks rumahku. Abi yang memintanya. Kajian itu akan diadakan di mesjid dekat rumah. Aku dan keluarga juga akan menghadirinya. Dalam perjalanan ke sana, Bang Zaky mengobrol dengan Novia, adikku yang masih duduk di kelas enam SD. Aku berjalan di samping kanan Novia, sedangkan Bang Zaky di samping kirinya.

“Dek Via kalau udah gede mau jadi apa?” tanya Bang Zak
y pada adikku.

“Mau jadi guru. Kalau Abang mau jadi apa?” adikku balik bertanya.

“Kalau Abang, mau jadi suami yang soleh,” jawab Zaky.

Aku meliriknya dan dia juga melirikku. Aku langsung menunduk, wajahku memerah. Dalam hati aku mengamini kata-katanya barusan. Aku juga mau jadi istri yang solehah. Jadi klop kan? Hatiku berkata-kata. Aku tersenyum memikirkan kata hatiku barusan.

***

Sudah empat bulan berlalu sejak kedatangan Bang Zaky waktu itu. Aku mulai bertanya-tanya, ke mana Bang Zaky. Mengapa dia tidak pernah main ke rumah lagi? Abi juga tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi nama Bang Zaky. Aku benar-benar penasaran. Namun aku tak pernah berani menanyakan langsung kepada abi maupun umi. Aku menyimpan tanya dan perasaanku pada Bang Zaky rapat-rapat.

Hari ini kuliah libur. Jadi, aku memanfaatkan hari libur ini untuk menulis cerpen, salah satu hobiku selain membaca. Saat jari-jariku sedang asik menari di atas keyboard, umi memanggilku. Aku segera menghampiri beliau.

“Ada apa, Mi?”

“Umi mau cerita sama kakak. Tapi jangan bilang-bilang abi ya,” ucap umi dengan wajah serius.

“Iya, janji. Emang mau cerita apa sih? Kayaknya serius banget nih,” aku langsung duduk di dekat umi.

“Kakak tahu nggak, kenapa Bang Zaky nggak pernah main ke sini lagi?” tanya umi. Aku menggeleng.

“Sekarang dia udah nggak di sini lagi. Dia udah balik ke Bandung, ke rumah orang tuanya. Dia diberhentikan dari sekolah.”

Diberhentikan? Kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Dia melakukan sesuatu yang telah membuat malu sekolah,” ucap umi seakan bisa membaca pikiranku. “Tapi kayaknya kakak nggak bakalan percaya kalau Umi kasih tau alasannya.”

“Emang kenapa?” tanyaku penasaran.

“Dia… dia, homo,” ucap umi setengah berbisik.

Blar! Aku bagai mendengar petir di siang bolong. Aku tidak percaya dengan kata-kata umi barusan. Umi sampai harus mengulang kata-katanya dua kali untuk meyakinkanku kalau aku tidak salah dengar. Lalu mengalirlah cerita itu dari umi.

“Bang Zaky kan buka les privat khusus putra di rumahnya. Waktu itu salah satu siswanya pulang dengan kulit wajah dan leher merah-merah. Dia cerita sama orang tuanya kalau dia habis diciumi sama Bang Zaky. Orang tuanya langsung mengadu pada pihak sekolah. Awalnya Bang Zaky nggak mau ngaku. Tapi setelah diancam akan dilaporkan ke polisi, akhirnya Bang Zaky mengakuinya. Dia bilang kalau dia khilaf dan dia meminta maaf pada orang tua siswa tersebut. Dan akhirnya, dia diberhentikan,” umi menceritakan semuanya. “Jangan bilang-bilang abi ya, Kak,” pinta umi lagi.

Aku mengangguk, lalu pergi ke kamar. Meninggalkan umi yang mungkin bertanya heran.

Di kamar aku menangis. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini, mengapa Bang Zaky masih membujang di usianya yang sudah hampir kepala tiga. Tapi, benarkah itu penyebabnya? Karena dia menyukai sesama jenis? Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bang Zaky bisa melakukan hal yang sangat dibenci Allah. Apalagi setelah waktu yang selama ini kulewati dengannya. Kenanganku bersamanya muncul bagai sebuah film yang diputar di bioskop. Bang Zaky yang soleh, Bang Zaky yang humoris, Bang Zaky yang perhatian, Bang Zaky yang, ah, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Kecewa ini tak pantas kubawa

Entah pada siapa atau pada apa harus kutimpakannya

Kecewaku kini tak bermuara

Tak sanggup lagi mengadu luka

Bahkan limpahkan rasa dalam air mata

Tuhan…

Perkenankan aku mati untuk sementara

(Aurasinai, Kuldesak)

Setelah makan malam, aku langsung masuk ke kamar. Aku masih belum bisa meredakan sara kecewa ini. Di kamar, aku memandangi handphone-ku. Di sana tertera sebuah nomor yang kuhapal, namun tak pernah ku hubungi atau pun menghubungiku. Nomor handphone Bang Zaky. Ragu, aku menelepon Bang Zaky untuk mendapatkan kepastian berita itu. Kudengar suara yang sudah sangat kukenal di telepon. Setelah berbasa-basi sedikit, aku menanyakan kebenaran hal itu padanya dengan suara sedikit tersendat. Hening. Tak ada suara terdengar. Aku menunggu dengan sabar.

“Jadi, kamu sudah tahu semua, Na? Ya, itu semua benar. Aku khilaf waktu itu. Kejadian itu terjadi begitu saja. Aku menyesal,” terdengar suara sedikit ter
isak di telepon.

“Ya, Ina ngerti, Bang. Ina harap, ini bisa jadi suatu pelajaran buat kita semua. Mudah-mudahan cepet sembuh ya, Bang. Ina akan selalu mendoakan Abang. Maaf, Bang, Ina udah ganggu malam-malam. Assalamu’alaikum.” Klik, aku memutuskan sambungan telepon. Air mataku kembali meleleh.

Mengapa kau tak mengerti

Halusnya perasaanku

Kau goreskan keraguan

Namun kumenyayangimu

Walau hilang percayaku

Biar cinta menuntunku

Untukmu…

Haruskahku pergi darimu

Haruskah….

(Rossa – Kepastian)

Tak henti-hentinya aku berdoa untuk Bang Zaky. Aku masih ingat percakapanku dengan Bang Zaky beberapa waktu yang lalu.

“Na, di kampus kamu ada teman akhwat atau dosen yang sudah siap menikah nggak?” tanya Bang Zaky suatu hari.

“Emm, emang kenapa? Mau cari calon istri ya?” godaku saat itu. Namun hatiku jadi tak tenang dibuatnya. Aku belum siap melihat Bang Zaky menikah dengan siapa pun. Apalagi dengan teman sekampus atau dosenku sendiri.

“Ya, siapa tahu aja ada yang cocok,” jawabnya sambil tertawa.

Kalau keinginan menikah masih ada, berarti kemungkinan Bang Zaky untuk sembuh masih terbuka lebar. Ya Allah, sembuhkanlah Bang Zaky. Berilah ia istri yang solehah, yang bisa menuntunnya kembali istiqomah di jalan-Mu, doa tulusku dalam hati.

©©©

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu. Sudah lulus kuliah dan kini bekerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku masih belum menikah. Sebetulnya sudah ada beberapa pemuda yang melamarku. Tapi entah mengapa tidak pernah ada yang cocok. Aku selalu membanding-bandingkan mereka dengan sosok yang sebenarnya sangat ingin kulupakan. Bang Zaky.

Kupercepat langkahku. Hujan gerimis sudah mulai turun. Kulihat sebuah motor terparkir di depan rumah. Motor yang sudah sangat kuhapal plat nomornya karena pemiliknya sering membawanya ke sini. Motor Bang Zaky. Aku segera masuk ke rumah. Kulihat di sana ada Bang Zaky dengan seorang wanita manis berjilbab yang tidak kukenal sedang menggendong anak kecil. Kutaksir anak itu baru berusia satu atau dua tahun.

“Hai, Na. Apa kabar? Kenalkan, ini istriku, Farah, dan ini anakku, Fathin,” ucapan Bang Zaky barusan menjawab semua pertanyaanku yang belum sempat terucap. Aku hanya menatap mereka nanar. Tidak terasa air mata menetes begitu saja di pipiku. Aku tidak tahu harus bahagia atau malah bersedih. Perasaanku pada Bang Zaky kini hanyalah sepenggal asa yang tak mungkin lagi terwujud.

©©©

Bekasi, bulan menjelang akhir tahun ajaran 2005/2006

Depok, 090308 (edit)

Jauza Al Khansa

Thanks to My luvly, ‘Mbah Nuche’

for your support and advices…

Seni Meminta Maaf

Lebaran tahun lalu, Ina mendapat sms dari seorang teman. Kurang lebih seperti ini bunyinya:

meminta maaf tak kan membuat kita menjadi hina, memberi maaf janganlah membuat kita menjadi bangga. Karena keikhlasanlah yang membuat kita lebih mulia,,..”

Waktu pertama kali membacanya, nggak terlintas pikiran apapun di benak Ina. Ina hanya berfikir bahwa ini adalah sms lebaran dan langsung Ina kirim sms balasan. Ternyata, baru setahun kemudian Ina berfikir bahwa sebenarnya sms tersebut menyimpan makna yang luar biasa.

            Banyak dari kita yang sering merasa gengsi untuk minta maaf (hayo ngaku?? Ina juga pernah kok..). Walaupun hati kecil kita mengakui bahwa diri kita ikut andil dalam terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan dengan orang lain (pertengkaran, salah paham, dll), namun pasti ego kita nggak pernah mau mengalah. Kenapa harus kita yang minta maaf? Dia juga salah kok.. Pasti kata-kata itu pernah terlintas di benak kita. Rasanya kita akan menjadi orang paling hina sedunia kalau kita meminta maaf duluan. Dan kita akan menjadi bangga diri bila ada seseorang yang meminta maaf pada kita.

            Ya, mengalahkan ego sendiri memang sangat tidak mudah. Karena memang sudah fitrahnya, manusia memiliki self defense bila ada di dalam keadaan yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Perasaan seperti ini adalah salah satu contohnya. Tidak mau disalahkan. Maunya menyalahkan orang lain.

Ina pernah dijuluki “Mpo Minah” sama teman-teman di SMA. Tau kenapa? Ya, karena sedikit-sedikit Ina bilang “maap”. Di keluarga Ina memang sudah ditanamkan kebiasaan seperti itu. Kata maaf, tolong, dan terima kasih sudah menjadi menu utama sehari-hari. Tapi, setelah mendapat julukan seperti itu, Ina jadi berfikir, apa ini salah?

Ina mulai gamang dengan kebiasaan dari kecil itu. Lama-lama, kata maaf sudah mulai jarang Ina ucapkan. Ina sudah merasa biasa saja kalau berbuat salah, tidak perlu minta maaf. Toh, orang yang bersangkutan nggak marah sama Ina. Rasa bersalah pun sudah jarang mampir di hati Ina. Dan Ina pun memiliki kebiasaan baru, malas meminta maaf.

Tapi lama-kelamaan Ina jadi berpikir, bagaimana kalau ternyata di dalam hati orang tersebut tersimpan perasaan marah pada Ina, dia cuma tidah enak untuk mengatakannya langsung. Bagaimana kalau dia merasa sakit hati karena sikap dan perilaku Ina? Lalu, Allah pun dengan baik hati memberikan Ina jawabannya.

Suatu waktu, Ina slek dengan seseorang. Sebut saja si Q (bosen ya, kalo A or X melulu? ;D). Ina agak kurang suka dengan sikap si Q. Tapi Ina bingung bagaimana caranya bilang sama dia. Akhirnya Ina simpen aja perasaan itu. Tapi karena Ina nggak speak up, Q merasa Ina oke-oke aja sama sikapnya. Dan akhirnya dia bersikap seperti itu terus menerus. Lama-kelamaan Ina jadi sakit hati. Ina udah pernah menyindirnya secara halus, tapi sepertinya dia nggak tanggap. Ina nggak tau juga, dia benar-benar nggak tanggap or sengaja membuat dirinya menjadi nggak peka. Beberapa sikapnya memaksa Ina untuk berpikir seperti ini.

Nah, bagaimana kalau Ina yang ada di posisi Q? Bagaimana kalau Ina berbuat salah tapi Ina nggak sadar itu? Akhirnya Ina sampai pada kesimpulan, lebih baik Ina minta maaf duluan, apapun situasinya. Ina kan juga nggak tau, mungkin ada sesuatu pada diri Ina yang membuat Q jadi begitu sama Ina. Mungkin emang Ina-nya yang nyebelin.. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya. Tapi, dengan kebiasaan baru Ina tadi, Ina jadi agak sulit untuk mengucap kata maaf. Tapi (lagi), Ina akan berusaha kembali lagi kaya’ dulu, membiasakan meminta maaf lebih dulu.

Yuk, teman-teman, kita budayakan meminta maaf. Jangan merasa gengsi karena kita lebih tua, atau karena lebih senior, atau karena alasan apapun. Lebih baik diselesaikan di dunia kan? Daripada nanti di akhirat ada yang komplain trus amalan kita jadi korban? Nggak mau kan? Setelah meminta maaf, Insya Allah perasaan kita akan jadi tenang. Masalah dia memaafkan kita apa nggak bukan urusan kita lagi. Itu urusan dia dengan Allah. Yang penting kita sudah meminta maaf dengan tulus. Sepakat? ;D

Ina jadi ingat lirik lagu Sherina yang judulnya Persahabatan. Ini potongan liriknya…

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan

Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui…

Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati

Hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan…

Indah banget ya, liriknya??? Seandainya semua manusia bisa seperti itu, pasti tingkat kriminalitas bisa turun… Soalnya pada mau minta maaf dan memaafkan, jadi nggak ada yang sakit hati,, hehehe… ;D

Nah, karena udah mau selesai, Ina minta maaf ya, kalau ada kata-kata yang salah atau menyinggung perasaan. Ina nggak bermaksud seperti itu. Karena yang salah pasti datang dari Ina, dan yang benar hanya datang dari Allah..

Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhaduallaa ilaahaillaa anta, astagfiruka wa atubu ilaih..

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta..

Subhanallah…
Buku ini keren banget buat teman2 yang lagi kasmaran…
hehehe…
Gimana caranya memenej rasa cinta kita supaya tetep sesuai syariat
Ina dapet rekomendasi buku ina dari seorang teman yang ahli di bidang ini (lho???)
Penasaran???
Beli donk…

Aisyah Putri – Hidayah Buat Sang Bodyguard

Siapa yang suka Aisyah Putri???
Wah,, Ina suka banget nih,, sama cerita Puput n The Gank n The Family…
Pengen deh,, punya empat abang kaya’
Bang Vincent..
Bang Harap..
Bang Hamka..
dan Bang Iid…

Pas beli,, Ina kira buku ini memuat cerita baru…
ternyata cuma refresh dari cerita2 sebelumnya…
tapi ga papa…
Tetep seru,, n bisa membuat Ina senyum2 sendiri pas bacanya… ^_^

My Girl

Ina suka banget serial my girl…
lucu,,, pemainnya juga cakep2…
Apalagi Lee Dong Wook,, hehehe…
Beda banget deh sama sinetron2 Indonesia…
Ade Ina juga suka banget…
Dia malah apal percakapannya…
Padahal 16 episode lho…

Mau tau filnya seperti apa???
kapan2 deh,, Ina kasih tau…

Barokallahu Laka

Kutatap layar komputer di depanku sekali lagi. Aku masih tak percaya dengan tulisan yang tertera di sana. Alhamdulillah, Ya Allah. Aku lulus SPMB. Diterima di UI. Segera kumatikan komputer dan membayar di kasir warnet. Aku ingin segera pulang dan memberitahukan kabar gembira ini pada ibu.

“Gimana, Mbak, hasilnya?” tanya penjaga warnet sambil memberikan uang kembalianku. Dia tahu kalau aku ingin melihat pengumuman SPMB.

“Alhamdulillah, diterima, Mas. Makasih ya,” jawabku seraya keluar warnet.

Kugoes sepeda dengan cepat. Aku gemetar. Mungkin karena terlalu senang. Ya, siapa yang nggak senang bisa diterima di universitas ternama itu? Lewat jalus SPMB lagi, mengalahkan ribuan orang lainnya yang ingin kuliah di sana juga.

“Bu! Ibu! Ica diterima, Bu!” ucapku begitu masuk rumah.

“Alhamdulillah, Sayang,” ucap Ibu seraya sujud syukur bersamaku. “Diterima di mana?” tanya Ibu lagi.

“Di pilihan pertama, Bu. Di UI,” jawabku sambil tersenyum. Kulihat Ibu ikut tersenyum. Senyum bangga yang sudah kutunggu. Aku segera mengabarkan berita gembira ini ke Ayah. Ayah pun langsung memberi tahu berita ini ke nenek. Begitu seterusnya. Dan dalam waktu singkat, berita Fellica Zahara masuk UI menyebar ke seantero jagad. Eh, nggak segitunya ding. Hehehe.

YYY

Waktu daftar ulang di UI sudah dekat. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai. Namun aku belum mempersiapkan apa-apa. Tempat kos saja aku belum tahu di mana. Aku bingung. Di keluargaku tidak ada yang kuliah di UI. Ke sana pun mereka belum pernah. Aku harus cari info sendiri nih. Kira-kira siapa yang tahu seluk beluk UI ya? Sebuah nama terlintas di benakku. Kak Rio. Ya, dia mantan guru bimbel aku. Dia kan lulusan UI. Mmh, aku coba tanya dia aja.

From: Ica (085611xxx….)

Asw. Ka, mau tanya. Tahu tempat kos buat cw di sekitar UI g? Ica lg cari kosan. Alhmd, ica diterima d UI.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Wasw. Alhmd, bgs donk. Mau nyari kpn? Aq tmnin aja d. Nnti km nyasar lagi.

From: Ica (085611xxx….)

Ica sih mau ke UI bsk, ada briefing. Y ud, ktmu di sana y.

Aku sedikit tenang sekarang. Besok aku mau cari tempat kos, ditemenin Ka Rio. Aku bilang pada Ibu. Beliau memberi aku uang secukupnya untuk mem-booking tempat kos. Beliau benar-benar mempercayakan semua padaku.

YYY

Aku datang briefing hari ini dengan perasaan senang. Senang kenapa ya? Apa gara-gara nanti mau ketemu Ka Rio? Ya, aku memang sudah lama sekali tidak bertemu dia. Wajar donk, kalau aku kangen. Aku dan dia teman baik.

Acara briefing sudah selesai. Aku menunggu Ka Rio di halte seperti janji kemarin. Tapi kok nggak dateng-dateng ya? Sudah mau ashar nih. Tak lama kemudian terdengar bunyi sms masuk.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, maaf bgt. Tiba2 ada rapat mendadak di sekolah. Smua guru hrs ikut. Bisa tunggu sampe jm 5 g? Nnti aq k sna.

From: Ica (085611xxx….)

Y ud, ica cari kosnya sma tmn aja d.

Kuhembuskan napas kecewa. Akhirnya aku mencari tempat kos dengan Hana, teman baruku. Dia juga belum dapat tempat kos. Lumayan lama juga mencarinya. Kami berdua memang tidak tahu medan. Tapi alhamdulillah, ketemu juga kosan yang cocok dengan uang yang diberikan Ibu.

Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17.20. sebentar lagi magrib. Aduh, aku menepuk keningku. Aku nggak tahu jalan pulang. Aku benar-benar baru sekali ini ke Depok. Gimana nih? Tanya Ka Rio aja deh.

From: Ica (085611xxx….)

Ka, kl mau k Bekasi dr Dpok naek apa?

From: Ka Rio (085622xxx….)

Udah ktmu kosannya? Skr aku lg d jln mau ke sna. Km tunggu aja. Nnti aq anter smp rumah.

Aku bingung. Terima tidak ya, tawarannya? Kalau aku terima, aku malu. Masa akhwat berjilbab pulang dianter laki-laki yang bukan muhrim? Naik motor lagi. Tapi kalau kutolak, ak
u juga takut pulang malam-malam sendirian. Mana belum ada pengalaman pergi Bekasi-Depok lagi. Ah, ini kan darurat. Allah pasti ngerti.

Adzan magrib berkumandang. Ka Rio belum datang juga. Lingkungan universitas sudah sepi. Kupeluk diriku sendiri untuk menghangatkan badan. Udara mulai terasa dingin.

Sekarang adzan sudah berhenti berkumandang. Kutatap sekeliling. UI di waktu malam ternyata seram. Kudengar deru motor mendekat. Akhirnya Ka Rio datang juga.

“Lama ya, Ca?”

“Lumayan. Solat magrib dulu,” aku mengingatkan. Dia mengangguk sambil memberikan helm padaku.

Setelah solat magrib, Ka Rio mengantarku pulang. Sebelumnya dia meminjamkan jaketnya padaku. Badanku kini jadi hangat. Di sepanjang jalan, Ka Rio memberi tahu angkutan apa saja yang harus aku naiki kalau mau menuju Bekasi. Dia juga menunjukkan yang mana angkutannya.

Aku sudah sampai rumah. Kuajak dia mampir, lalu kukenalkan pada Ayah dan Ibu. Tak lama kemudian dia pulang. Aku diintrogasi sama Ibu. Katanya, aku tidak boleh lagi-lagi minta diantar pulang oleh laki-laki. Padahal kan bukan aku yang minta. Dia yang nawarin. Tapi biarlah.

Aku sedang bersiap untuk tidur ketika Hpku berbunyi. Ada sms.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, ortumu marah ga kamu dianter aq plang?

From: Ica (085611xxx….)

Ga. Makasih y.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Y. it’s my pleasure. Met bobo y. Miss u…

Keningku berkerut. Apa maksud sms itu? Ah, peduli amat. Aku ngantuk.

YYY

Keadaan sekitarku sangat berantakan. Aku sedang menyiapkan barang-barang yang mau dibawa ke tempat kos. Kudengar bunyi sms masuk dari Hpku.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, lg ngpain? Ca, skr kan udah kliah, apa rncna km slnjtnya? Aq mau tny ttg twrn yg lalu. Apa skr bisa dtrima?

From: Ica (085611xxx….)

Lg beres2 brg2 yg mau dibawa k kosan. Twran? Ap?

From: Ka Rio (085622xxx….)

Kpn km mrncnakan nikah? Tahun depan bisa?

Apa? Nikah? Oh, iya, aku ingat. Dua tahun yang lalu Ka Rio memang pernah berniat melamarku. Tapi aku nggak nyangka kalau dia serius. Aku kira dia bercanda. Jadi waktu itu aku tanggepin sambil bercanda juga. Gimana nih? Dia ngajak nikah lagi? Tahun depan? Alamak, aku belum siap. Kuliah aja baru masuk. Umur juga baru 17. Mana kepikiran nikah? Jadi apa nanti rumah tanggaku?

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, gmn? Ko g dbls?

From: Ica (085611xxx….)

Mav br bls. Ica blm mkrin itu. Gmn nnti aja itu mah.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Oh, gitu. Y ud, met brs2 y.

Aku tersenyum lega karena Ka Rio memutuskan pembicaraan. Tapi tak lama kemudian smsnya kembali mampir ke Hpku.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Aku ingin mencintaimu dg sederhana. Dg kata yang tak sempat diucapkan kayu kpd api yg menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dg sederhana. Dg isyarat yang tak sempat disampaikan awan kpd hujan yg menjadikannya tiada. (Sapardi Djoko Damono)

Ya, Allah, apa maksud Ka Rio mengirimkan sms ini? Kurasakan hatiku berdebar tak karuan. Ada berbagai rasa di sana: cemas, takut, senang. Tapi aku tak bisa mengartikan perasaan ini.

YYY

Perkuliahan sudah dimulai. Aku menyambutnya dengan semangat. Ternyata tidak mudah menjadi mahasiswa. Banyak hal yang membuatku bingung. Tapi selalu ada orang yang bisa kutanya saat ada yang tak kumengerti dan saat aku butuh pertolongan. Ka Rio. Aku tak tahu kenapa aku harus bertanya padanya. Tapi aku juga tak menemukan alasan untuk tak bertanya padanya.

Tak terasa bulan Ramadhan kembali menyapa. Aku menyambutnya dengan bahagia. Ternyata Allah masih mempertemukan aku dengan Ramadhan. Aku semakin sibuk di bulan Ramadhan ini. Banyak acara dan kepanitiaan yang kuikuti. Hubungan denga Ka Rio juga semakin baik. Dia semakin sering meng-sms aku. Menayakan kabar, kesibukan, bahkan hanya sekadar menanyakan sudah solat apa belum. Sesuatu yang kupikir tak perlu dia tanyakan.

Suatu hari aku sms-an lagi dengan dia. Dia membicarakan masalah nikah lagi.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, menurut km, usia yg cocok buat akhwat utk menikah brp?

From: Ica (085611xxx….)

G tau. 20 mungkin.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Berarti aku harus nunggu ica 3 tahun lagi donk. Lama banget. Tahun depan aja gmn?

From: Ica (085611xxx….)

Siapa yang suruh nunggu? Kalo udah mau nikah, nikah aja sama yg udah siap. Kalo perlu nnti ica bantuin cari calonnya.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ga mau. Mau nunggu ica aja. Udah dzuhur belom? Aq solat dulu y.

Aku tak habis pikir. Mengapa dia mau nunggu aku? Aku jadi risih. Aku nggak mau ditunggu siapa-siapa. Aku solat dzuhur untuk menenangkan pikiran. Setelah solat, aku melihat HP. Di sana sudah ada satu pesan. Dari Ka Rio.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Nabi SAW bersabda, “Adam hidup di surga sebelum Hawa. Maka, ia merasa kesepian. Lalu diciptakanlah Hawa. Adam berkata pada Hawa, ‘Siapa engkau dan mengapa engkau diciptakan?’ Hawa menjawab, ‘aku adalah penentram untukmu.’”

Tak kubalas sms itu karena kupikir memang tak membutuhkan balasan. Segera aku menuju kelas fisika yang sebentar lagi dimulai. Sms itu tak kupikirkan lagi.

YYY

Suatu hari, iseng aku sms Ka Rio.

From: Ica (085611xxx….)

Ka, knp sih mau sama ica? Tau kan ica orgnya kaya gmn? Urakan, kasar, cerewet. G ada bgsnya.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Y, krn g ada yg laen. Dulu aq prnh suka sm akhwat n brniat utk menikahinya. Tp keduluan sm org lain. Skr ngincer km aja deh.

From: Ica (085611xxx….)

Jd, ica cadangan nih?

From: Ka Rio (085622xxx….)

Yah, tak ada rotan, akar pun jadi.

From: Ica (085611xxx….)

Jadi gitu y? Ternyata selama ini ica suma dianggap akar.

Aku kesal. Ternyata aku cuma akar buat dia. Aku memang nggak berniat untuk nikah sama dia. Aku cuma ingin tahu alasan dia mengejar aku. Padahal sudah kutolak. Hpku berbunyi lagi.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Lho kok marah sih, Ca? Kan cuma becanda. Ica tuh pinter, imut, manis, lucu, baik, bawel, dll. Masa dijadiin akar sih? Rugi kali, kalo ga jadiin ica rotan.

Hatiku berbunga tak karuan membaca sms itu. Ternyata aku berarti buat dia. Tapi sebuah pikiran aneh terliny
as di pikiranku. Bagaimana kalau dia benar-benar suka padaku? Aku tak punya perasaan apa-apa ke dia. Tapi sepertinya dia benar-benar punya perasaan ke aku.

Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat aku masih sekolah dan mengikuti bimbel di dekat rumah. Dia salah satu guru di sana. Saat itu dia masih kuliah. Dia sangat perhatian kepadaku. Dia yang selalu menghibur saat aku punya masalah. Dia punya cara unik untuk menghiburku, yaitu dengan ledekannya. Dia tidak akan berhenti meledek kalau aku belum cemberut. Setelah itu dia akan tertawa yang membuat orang lain mau tak mau ikut tertawa.

YYY

Hatiku tidak tenang. Semua karena ta’lim tadi sore. Tadi sore aku ta’lim dengan teman-teman satu fakultas. Masalah yang dibahas adalah adab berhubungan antara ikhwan dan akhwat. Semua yang dikatakan kakak mentorku bagaikan menamparku. Aku jadi tahu bahwa hubungan yang aku jalin dengan Ka Rio sudah melenceng. Kami sudah mulai saling mengirim taushiah, bertanya kabar, sudah solat apa belum, dan masih banyak hal yang seharusnya tidak perlu kami tanyakan. Hubungan ini mengundang fitnah. Tapi aku bingung. Tiba-tiba HPku bergetar karena ada sms masuk.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Tok tok tok… “Assalamu’alaikum,” kuketuk pintu hatimu.

Tok tok tok… “Assalamu’alaikum,” kuketuk lagi.

Tok tok tok… “Assalamu’alaikum,” kuketuk lagi dengan sabar.

(selanjutnya terserah)

Sms Ka Rio menambah rasa bingungku. Aku tak bisa memutuskan apa-apa. Namun aku mencoba untuk menjauh. Aku jadi lebih jarang mengirim sms lagi padanya. Jika perlu bantuan pun aku akan mencari orang lain untuk ditanya. Namun dia tak pernah berhenti mengirimiku sms. Memang isi smsnya hanya taushiah, tapi aku tahu ada maksud lain dari sms itu.

Suatu hari dia menanyakan tentang perubahan sikapku. Aku jawab, mungkin aku sedang bete waktu itu. Aku juga terus menyarankannya untuk berhenti menungguku dan mencari yang lain saja. Dan akhirnya pertanyaan itu muncul. Dia bertanya mengapa aku seperti tidak mau dia menungguku.

Aku ceritakan saja semua yang kudengar dari kakak mentorku. Aku bilang kalau hubunganku dengannya sudah melampaui batas, dan mungkin malah berdosa. Dan cara yang ampuh untuk mengakhiri dosa ini dengan menikah, atau memutuskan hubungan sama sekali. Kalau untuk menikah, jujur aku belum siap. Memutuskan hubungan pun akan sulit kalau dia tidak mau.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Cinta, awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Ia tidak dapat dilukiskan tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya dan syariat pun tidak melarangnya, karena hati ada di tangan Tuhan, Dia yang membolak-baliknya. (Ibnu Hazm: Thauq Al-Hamamah)

Aku tidak menghiraukan sms Ka Rio barusan. Aku sudah bertekad tidak akan membalas sms-nya kalau itu tidak penting. Mungkin dalam hatiku juga telah tersemat sebuah rasa untuknya. Rasa yang seharusnya hadir setelah ijab qabul. Namun aku tak akan membiarkan diriku dilenakan perasaan cinta semu ini. Kecuali aku sudah siap untuk menikah dengannya.

YYY

Tak terasa sudah hampir empat bulan aku tidak menerima sms dari Ka Rio. Ka Rio mungkin akhirnya menyerah karena aku jarang sekali membalas sms-smsnya. Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh. Ada rasa kehilangan yang, ah, sangat sulit kuartikan. Wajarkah itu? Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk solat, mengingatkan untuk makan, atau sekadar menanyakan kabar. Memang aneh, ada yang mengejar aku menghindar. Yang mengejar sudah berhenti aku malah kangen. Namun ada rasa gengsi dan malu yang memaksaku untuk tidak meng-sms-nya.

Malam itu aku sangat capek. Hari ini kuliah full dari pagi sampai sore. Sesampainya di kosan, langsung kuincar kasur empuk di pojok ruangan. Rasanya enggan sekali bangun saat tubuh ini sudah menempel dengan benda empuk itu. Aku hampir tertidur saat Hpku berbunyi. Ada sms masuk.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Assalamu’alaikum,Ca. Lama ya, ga smsan. Apa kabar? Sibuk ya, sama kegiatan di kampus? Jaga kesehatan juga ya..

Aku terkejut sekaligus senang menerima sms tersebut. Segera kubalas sms dengan wajah tersenyum lebar. Dalam hati aku jadi meragukan perasaanku pada Ka Rio. Apa aku suka padanya?

From: Ica (085611xxx….)

‘Alaikum salam, Ka Rio. Ica alhmd baik. Kk gimana kabarnya? Ya, lumayan sibuk lah. Tapi seru ko.

Kutunggu balasan darinya dengan hati tak karuan. Ah, aku jadi malu.

From: Ka Rio (085622xxx….)

Ca, aku sedang dalam proses ta’aruf dengan seorang akhwat nih. Doakan supaya lancar ya.. J

Lama, kubaca tulisan yang tertera di layar Hpku. Mataku mulai berkaca. Ah, mengapa aku menangis? Bukankah aku yang menyuruhnya untuk tidak menungguku dan mencari orang lain saja? Tapi mengapa sekarang aku merasa sedih?

Kuhapus air mata yang mulai menetes. Kuketik huruf per huruf untuk membalas sms-nya. Rasanya lama sekali. Aku sudah tak tahu tanganku mengetik apa. Pikiranku sedang tidak bersamaku. Dia pergi entah kemana.

From: Ica (085611xxx….)

Ya, selamat ya, Ka. Semoga lancar..

Terbersit sebuah pikiran di kepalaku, ini kan masih proses ta’aruf, bisa saja tidak berujung pada pernikahan. Ah, jahat sekali pikiranku itu. Segera kutepis pikiran itu dan kucoba untuk tidur. Tiga jam kemudian, aku baru bisa terlelap, dengan mata sembab dan bengkak.

YYY

Beberapa hari aku berada dalam keadaan berkabung. Mungkin patah hati. Aku teringat lagunya Audy yang berjudul Pergi Cinta. Liriknya cocok sekali dengan keadaanku saat ini. Buku catatan kuliahku penuh dengan lirik lagu itu.

Terlambatku menyusuri jalan ini

Tersesat disaat kau menjauh

Terlambatku mengartikan cintamu

Kusadari setelah kau pergi

Berat hati menerima kehilanganmu

Tegarkan aku saat kau memilih dirinya

Pergi cinta, lupakanlah aku cinta

Kurelakan dia ada di pelukmu

Pergi cinta, hapus bayanganku cinta

Bahagiakan dia cinta

Sampai akhir waktu engkau bersamanya

Terlambatku memenangkan hatimu

Setelah kau menyerah padaku

Ku tak tahu sampai kini kau berlalu

Tersadar dirimu slalu di hatiku

Ah, mengapa aku jadi melankolis begini ya? Sudahlah, barangkali dia memang bukan jodohku. Aku akan mencoba membiarkannya pergi dari hatiku, walau mungkin sulit. Aku tak ingin bersedih saat saudaraku sedang bahagia.

YYY

Tiga bulan telah berlalu sejak sms Ka Rio waktu itu. Aku tak pernah tahu bagaimana kelanjutan proses Ka Rio dengan akhwat itu. Ka Rio tidak pernah meng-sms-ku lagi. Aku juga malu untuk menanyakan langsung padanya.

Kutemukan e-mail itu saat sedang iseng mengecek e-mail yang masuk. Email dari Ka Rio. Isinya undangan pernikahannya dengan seorang akhwat yang bernama Wulan, lengkap dengan denah tempat resepsi pernikahannya. Kutarik nafas panjang, lalu kuhembuskan sambil tersenyum. Kurasa senyum itu tulus. Sebait do’a meluncur dari bibirku. Lancar, tanpa cela. Karena hatiku sudah bebas lepas tanpa beban.

Barokallahu laka, wa barokallahu ‘alaika, wa jama’a bainakum fii khoiir. Semoga Allah karuniakan barokah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan”.

YYY

Depok, 09 Oktober 2008

Jauza Al Khansa

Untuk my teacher, selamat menempuh hidup baru…

Doakan agar aku segera mengikuti jejakmu. J