Seni Meminta Maaf

Lebaran tahun lalu, Ina mendapat sms dari seorang teman. Kurang lebih seperti ini bunyinya:

meminta maaf tak kan membuat kita menjadi hina, memberi maaf janganlah membuat kita menjadi bangga. Karena keikhlasanlah yang membuat kita lebih mulia,,..”

Waktu pertama kali membacanya, nggak terlintas pikiran apapun di benak Ina. Ina hanya berfikir bahwa ini adalah sms lebaran dan langsung Ina kirim sms balasan. Ternyata, baru setahun kemudian Ina berfikir bahwa sebenarnya sms tersebut menyimpan makna yang luar biasa.

            Banyak dari kita yang sering merasa gengsi untuk minta maaf (hayo ngaku?? Ina juga pernah kok..). Walaupun hati kecil kita mengakui bahwa diri kita ikut andil dalam terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan dengan orang lain (pertengkaran, salah paham, dll), namun pasti ego kita nggak pernah mau mengalah. Kenapa harus kita yang minta maaf? Dia juga salah kok.. Pasti kata-kata itu pernah terlintas di benak kita. Rasanya kita akan menjadi orang paling hina sedunia kalau kita meminta maaf duluan. Dan kita akan menjadi bangga diri bila ada seseorang yang meminta maaf pada kita.

            Ya, mengalahkan ego sendiri memang sangat tidak mudah. Karena memang sudah fitrahnya, manusia memiliki self defense bila ada di dalam keadaan yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Perasaan seperti ini adalah salah satu contohnya. Tidak mau disalahkan. Maunya menyalahkan orang lain.

Ina pernah dijuluki “Mpo Minah” sama teman-teman di SMA. Tau kenapa? Ya, karena sedikit-sedikit Ina bilang “maap”. Di keluarga Ina memang sudah ditanamkan kebiasaan seperti itu. Kata maaf, tolong, dan terima kasih sudah menjadi menu utama sehari-hari. Tapi, setelah mendapat julukan seperti itu, Ina jadi berfikir, apa ini salah?

Ina mulai gamang dengan kebiasaan dari kecil itu. Lama-lama, kata maaf sudah mulai jarang Ina ucapkan. Ina sudah merasa biasa saja kalau berbuat salah, tidak perlu minta maaf. Toh, orang yang bersangkutan nggak marah sama Ina. Rasa bersalah pun sudah jarang mampir di hati Ina. Dan Ina pun memiliki kebiasaan baru, malas meminta maaf.

Tapi lama-kelamaan Ina jadi berpikir, bagaimana kalau ternyata di dalam hati orang tersebut tersimpan perasaan marah pada Ina, dia cuma tidah enak untuk mengatakannya langsung. Bagaimana kalau dia merasa sakit hati karena sikap dan perilaku Ina? Lalu, Allah pun dengan baik hati memberikan Ina jawabannya.

Suatu waktu, Ina slek dengan seseorang. Sebut saja si Q (bosen ya, kalo A or X melulu? ;D). Ina agak kurang suka dengan sikap si Q. Tapi Ina bingung bagaimana caranya bilang sama dia. Akhirnya Ina simpen aja perasaan itu. Tapi karena Ina nggak speak up, Q merasa Ina oke-oke aja sama sikapnya. Dan akhirnya dia bersikap seperti itu terus menerus. Lama-kelamaan Ina jadi sakit hati. Ina udah pernah menyindirnya secara halus, tapi sepertinya dia nggak tanggap. Ina nggak tau juga, dia benar-benar nggak tanggap or sengaja membuat dirinya menjadi nggak peka. Beberapa sikapnya memaksa Ina untuk berpikir seperti ini.

Nah, bagaimana kalau Ina yang ada di posisi Q? Bagaimana kalau Ina berbuat salah tapi Ina nggak sadar itu? Akhirnya Ina sampai pada kesimpulan, lebih baik Ina minta maaf duluan, apapun situasinya. Ina kan juga nggak tau, mungkin ada sesuatu pada diri Ina yang membuat Q jadi begitu sama Ina. Mungkin emang Ina-nya yang nyebelin.. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya. Tapi, dengan kebiasaan baru Ina tadi, Ina jadi agak sulit untuk mengucap kata maaf. Tapi (lagi), Ina akan berusaha kembali lagi kaya’ dulu, membiasakan meminta maaf lebih dulu.

Yuk, teman-teman, kita budayakan meminta maaf. Jangan merasa gengsi karena kita lebih tua, atau karena lebih senior, atau karena alasan apapun. Lebih baik diselesaikan di dunia kan? Daripada nanti di akhirat ada yang komplain trus amalan kita jadi korban? Nggak mau kan? Setelah meminta maaf, Insya Allah perasaan kita akan jadi tenang. Masalah dia memaafkan kita apa nggak bukan urusan kita lagi. Itu urusan dia dengan Allah. Yang penting kita sudah meminta maaf dengan tulus. Sepakat? ;D

Ina jadi ingat lirik lagu Sherina yang judulnya Persahabatan. Ini potongan liriknya…

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan

Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui…

Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati

Hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan…

Indah banget ya, liriknya??? Seandainya semua manusia bisa seperti itu, pasti tingkat kriminalitas bisa turun… Soalnya pada mau minta maaf dan memaafkan, jadi nggak ada yang sakit hati,, hehehe… ;D

Nah, karena udah mau selesai, Ina minta maaf ya, kalau ada kata-kata yang salah atau menyinggung perasaan. Ina nggak bermaksud seperti itu. Karena yang salah pasti datang dari Ina, dan yang benar hanya datang dari Allah..

Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhaduallaa ilaahaillaa anta, astagfiruka wa atubu ilaih..

7 thoughts on “Seni Meminta Maaf

  1. jauzaalkhansa said: jangan2 tuh muka hasil operasi semua lagi…hehehe… piss!!

    Bang Lian,,,maaf ya, ttg kata2 yang tadi…jangan dimasukin ke hati ya…ntar harus operasi lagi deh… hehehe

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s