Sepenggal Asa

…Cerpen ini udah pernah Ina taro di Mp…

tapi waktu itu masih dalam bentuk attachment..
Jadi,, Ina post lagi ya…
***

Sepenggal Asa

Aku menatap tugas Agama Islam di tanganku lama. Tersisa satu soal lagi yang belum kukerjakan. Duh, Pak Zaenal ngasih tugasnya susah banget sih, aku mengeluh. Pak Zaenal adalah dosen agamaku di kampus. Kembali kubolak-balik buku panduan agamaku, namun tak juga kutemui jawaban untuk soal itu. Kesal, kuletakkan kertas itu begitu saja lalu berjalan ke teras. Aku ingin menyegarkan kepalaku yang sudah butek karena mengerjakan soal tadi. Langit malam ini mendung, hanya dihiasi beberapa bintang. Bulan pun tak tampak. Aku melihat abi dan kedua adikku baru pulang dari mesjid.

“Assalamu’alaikum,” ucap abi dan kedua adikku serentak. Aku menjawab salam itu dan kemudian mencium tangan abi.

“Kakak lagi ngapain ngelamun sendirian? Mikirin apa sih?” tanya abi sambil senyum-senyum iseng. Di rumah, aku memang dipanggil kakak oleh orang tua dan adik-adikku. Tapi kadang aku juga suka dipanggil Ina, nama kecilku.

“Mikirin tugas agama. Susah banget, Bi,” aku merajuk.

“Soal apa sih? Coba sini Abi lihat,” ucap abi seraya masuk ke dalam rumah.

“Nih, nomor 7,” aku memberikan soal itu kepada abi. “Kepala kakak udah mau botak tuh, gara-gara mikirin soal itu. Udah dicari di buku tapi nggak ada, Bi,” aku kembali mengeluh.

“Hmm,” kening abi berkerut, pertanda beliau sedang berfikir. “Tunggu sebentar,” ucap abi seperti ingat sesuatu lalu beliau pergi ke kamarnya, meninggalkanku yang bertanya heran. Beberapa detik kemuadian abi keluar kamar dengan membawa handphone-nya. Handphone? Buat apa? Kini giliran keningku yang berkerut. Abi lalu menelepon seseorang dengan handphone-nya. Huh, kirain mau bantuin, nggak tahunya malah nelepon, aku bersungut. Aku lalu melanjutkan PR-ku sendiri. Namun kertas soalnya tidak ada. Aku mencari-cari soal itu. Tidak juga ketemu. Tak lama kemudian abi kembali dengan wajah cerah.

“Nih, jawabannya udah ketemu,” abi menyerahkan soal yang sudah diisi itu kepadaku. Aku menatap abi takjub.

“Abi tahu jawabannya dari mana?” tanyaku.

“Tadi abi nanya temen. Namanya Zaky. Orangnya pinter, ganteng lagi. Kakak kalau punya masalah apa aja tentang agama, tanya dia aja. Dia udah master lho. Umurnya baru dua tujuh,” ucap abi ‘mempromosikan’ temannya padaku. Aku hanya nyengir mendengar perkataan abi. Pake promosi segala, pikirku.

“Iya, makasih ya, Bi,” aku menerima kertas soal itu sambil tersenyum lalu meneruskan belajarku yang tadi sempat tertunda.

Setelah belajar, aku masuk kamar dan tidur. Sebetulnya tidak langsung tidur. Aku kepikiran juga dengan kata-kata abi tadi, tentang temannya. Aku, yang masih kuliah tingkat dua ini, membayangkan sosok yang tadi digambarkan oleh abi. Apa ada ya, orang yang se-perfect itu, tanyaku pada diri sendiri. Dan akhirnya, aku hanya bisa menyimpan tanya itu karena kantuk tiba-tiba menyerangku.

***

Beberapa minggu berlalu sejak percakapan dengan abi waktu itu. Tapi aku masih sering bertanya-tanya tentang sosok lelaki ‘sempurna’ itu. Namun aku tak pernah berani bertanya langsung pada abi. Takut disangka naksir!

Hari ini akan ada beberapa teman abi yang akan berkunjung ke rumah. Abi sibuk memparsiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. Abi kayak mau kedatangan tamu penting aja, ledek batinku. Umi pun ikut sibuk membantu abi. Aku hanya membantu sesekali. Kadang malah menggerecoki keduanya. Kedua adikku entah berada di mana. Mereka berdua kalau sudah bermain suka lupa pulang.

Semua sudah beres saat hari mulai senja. Keluargaku pun solat Maghrib berjamaah di rumah. Setelah solat dan tilawah, seperti biasa, aku dan kedua adikku belajar untuk besok.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara beberapa orang dari luar. Abi segera menjawab salam dan membukakan pintu. Lalu abi mempersilakan tamu-tamu itu masuk.

“Kak, tolong bikinin minum!”

Agak malas aku melangkahkan kaki ke dapur. Setelah selesai membuat beberapa cangkir teh, aku membawanya ke ruang tamu. Kuletakkan gelas satu persatu sambil sekilas melirik wajah para tamu. Tamu abi ada tiga orang, dua di antaranya sudah aku kenal karena dulu pernah bertemu. Tapi wajah yang seorang lagi masih asing. Aku kembali lagi ke ruang tengah untuk belajar. Di sana ada umi yang sedang mengajari kedua adikku, Fajar dan Novia. Rumahku memang mungil sehingga ruang tamu terlihat jelas dari ruang tengah. Jadi aku dapat mendengar dan melihat para tamu dengan jelas.

“Gimana Pak Zaky, bulan-bulan pertama mengajar di sekolah baru?” tanya abi pada pemuda yang tak dikenali olehku. Oh, jadi namanya Zaky, batinku. Tapi tunggu, perasaan pernah denger nama itu deh. Kapan ya? Aku bertanya-tanya dalam hati. Oh iya, itu kan nama teman abi yang waktu itu ‘dipromosiin’, aku menepuk keningku. Diam-diam aku melirik pemuda itu lagi. Hmm, betul juga kata abi, dia ganteng. Dan kalau diperhatikan dari cara bicaranya, sepertinya dia juga cerdas. Dia juga masih muda. Aku mengagumi pemuda yang bernama Zaky itu dalam hati. Tapi, ups, dia melirik ke arahku saat aku sedang asik memandanginya. Duh, ketangkep basah deh, sesalku. Wajahku memerah karena malu.

Aku lalu melanjutkan belajar. Aku tak berani melirik ke ruang tamu lagi. Aku mencoba berkonsentrasi dengan diktatku. Tak lama kemudian abi masuk ke ruang tengah dengan Zaky.

“Kak, ini Pak Zaky yang waktu itu abi ceritain. Kalau ada masalah apa-apa tanya aja sama dia. Dia pinter, lho,” abi promosi lagi sambil tersenyum. Aku tersenyum salah tingkah ke arahnya. Zaky membalas senyumku, manis.

Setelah berkenalan, Zaky mulai mengobrol dengan umi. Obrolan mereka tidak jauh dari kehidupan dan pekerjaan Zaky sekarang. Kadang obrolan mereka menyerempet ke masalah agama. Sesekali aku ikut bicara. Aku sudah tak canggung sama Zaky.

Setelah agak larut, teman-teman abi pulang. Di kamar, aku kembali memikirkan sosok Zaky. Ternyata benar, cowok perfect itu ada. Mungkin nggak ya, aku bisa punya suami kayak Zaky? Bahagia dunia akhirat deh, aku tersenyum sendiri. Pikiranku mulai ngawur. Aku menepisnya dan bersiap untuk tidur.

***

Kedatangan Zaky waktu itu adalah awal dari kedatangannya selanjutnya. Dia mulai sering main ke rumah. Kadang karena ada urusan penting dengan abi, tapi tak jarang dia datang ke rumah hanya untuk mengobrol dengan abi.

“Wah, Ina lagi nyetrika ya? Kalau tahu gitu, tadi Bang Zaky bawa cucian dari rumah, biar sekalian disetrikain,” godanya sambil tersenyum. Zaky memang lebih suka dipanggil abang olehku.

“Makanya, Bang, cepet-cepet cari istri. Nanti kan jadi ada yang ngurusin. Betah banget sendirian,” aku balas menggodanya. Usia Bang Zaky sudah dua tujuh, tapi dia belum menikah. Mungkin memang belum ketemu jodoh, batinku. Mendengar kata-kataku barusan, Bang Zaky hanya tersenyum. Aku jadi salah tingkah. Senyumnya itu lho, manis banget. Aku langsung pura-pura sibuk dengan setrikaanku, menutupi salah tingkahku.

***

Hari ini, guru dan karyawan yang bekerja di sekolah yang abi pimpin akan mengadakan acara Tafakkur Alam di Cibodas. Mereka akan menginap semalam. Aku ditawari abi untuk ikut. Aku pun tidak menolak. Aku butuh refreshing satelah selama ini pusing belajar. Apalagi setelah aku tahu Bang Zaky juga akan ikut. Aku jadi tambah semangat.

Aku sekeluarga pergi ke sekolah abi naik mobil pribadi. Dari sana, kami sama-sama naik bis dengan guru-guru yang lain. Kulihat Bang Zaky sibuk mempersiapkan semuanya. Mungkin dia memang seksi acara. Tapi ada satu orang guru perempuan yang selalu berada di dekat Bang Zaky. Namanya Bu Desi, guru Fisika. Kemana-mana selalu berdua. Semangatku langsung terbang entah kemana.

Sekitar jam 9, bis berangkat. Sebelum berangkat kami berdoa bersama yang dipimpin oleh Bang Zaky. Selama di bis aku hanya diam dan membaca novel yang aku bawa. Kali ini aku tidak ikut bercanda dengan Bang Zaky. Aku masih kesal melihat kejadian tadi. Padahal, apa hakku untuk kesal? Aku menggerutu sendiri.

“Ina serius banget. Lagi baca apa sih?” tanya Bang Zaky tiba-tiba. Mungkin dia heran melihat aku yang biasanya cerewet jadi pendiam. Aku tersenyum dengan sedikit dipaksakan lalu menyebutkan sebuah judul buku. Sepertinya dia menyadari perubahan wajahku. Lalu dia pun mempersilakan aku untuk melanjutkan membaca.

Kurang lebih dua jam kemuadian bis tiba di tempat tujuan. Udara di sini berbeda dengan Jakarta. Segar sekali. Kurentangkan tangan lebar-lebar dan kuhirup oksigen sepuasnya. Jarang-jarang aku bisa menghirup udara sesegar ini. Setelah membereskan barang-barang yang kubawa, aku langsung membawa kameraku dan mulai memotret pemandangan di sana. Pemandangan di sana benar-benar indah. Dari teras vila tempatku menginap terlihat bukit-bukit yang hijau dengan lereng-lerengnya yang curam. Pemandangan langka nih, batinku.

Setelah puas berfoto dengan alam, aku dan kedua adikku pergi menunggang kuda. Kami berkeliling daerah cibodas. Tak lupa aku mengabadikan kejadian itu dengan kameraku. Setelah itu aku bermain dengan adik-adikku sampai senja.

Malam harinya ada acara bakar-bakaran. Bakar ayam, bakar ikan, juga ada kambing guling. Nikmat banget malam-malam yang dingin kayak begini makan yang hangat-hangat, ucap hatiku senang. Aku juga senang melihat Bang Zaky sudah tidak ‘nempel’ lagi dengan Bu Desi. Aku pun makan dengan lahap.

“Laper ya, Na? Mau abang ambilin lagi ayamnya?” tanya Bang Zaky.

Aku tersipu. Aku jadi malu mengetahui kalau dari tadi Bang Zaky memerhatikan cara makanku. Habis, aku makan seperti orang yang sudah nggak makan tiga hari.

“Eh, emm, iya, Bang. Laper. Tapi sekarang udah kenyang kok,” aku tersenyum dan segera menyelesaikan makanku.

***

Selama di Cibodas Bang Zaky perhatian banget sama aku. Entah ini benar atau cuma perasaanku saja. Aku jadi suka Ge eR sendiri. Lama-kelamaan perasaanku pada Bang Zaky mulai tumbuh subur tanpa bisa kucegah. Aku jadi suka melamunkan pemuda itu. Berharap suatu saat nanti aku bisa selalu bersama dengannya.

Malam ini Bang Zaky akan datang lagi ke rumah. Tapi kali ini bukan untuk bertemu dengan abi, melainkan untuk mengisi sebuah kajian di kompleks rumahku. Abi yang memintanya. Kajian itu akan diadakan di mesjid dekat rumah. Aku dan keluarga juga akan menghadirinya. Dalam perjalanan ke sana, Bang Zaky mengobrol dengan Novia, adikku yang masih duduk di kelas enam SD. Aku berjalan di samping kanan Novia, sedangkan Bang Zaky di samping kirinya.

“Dek Via kalau udah gede mau jadi apa?” tanya Bang Zak
y pada adikku.

“Mau jadi guru. Kalau Abang mau jadi apa?” adikku balik bertanya.

“Kalau Abang, mau jadi suami yang soleh,” jawab Zaky.

Aku meliriknya dan dia juga melirikku. Aku langsung menunduk, wajahku memerah. Dalam hati aku mengamini kata-katanya barusan. Aku juga mau jadi istri yang solehah. Jadi klop kan? Hatiku berkata-kata. Aku tersenyum memikirkan kata hatiku barusan.

***

Sudah empat bulan berlalu sejak kedatangan Bang Zaky waktu itu. Aku mulai bertanya-tanya, ke mana Bang Zaky. Mengapa dia tidak pernah main ke rumah lagi? Abi juga tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi nama Bang Zaky. Aku benar-benar penasaran. Namun aku tak pernah berani menanyakan langsung kepada abi maupun umi. Aku menyimpan tanya dan perasaanku pada Bang Zaky rapat-rapat.

Hari ini kuliah libur. Jadi, aku memanfaatkan hari libur ini untuk menulis cerpen, salah satu hobiku selain membaca. Saat jari-jariku sedang asik menari di atas keyboard, umi memanggilku. Aku segera menghampiri beliau.

“Ada apa, Mi?”

“Umi mau cerita sama kakak. Tapi jangan bilang-bilang abi ya,” ucap umi dengan wajah serius.

“Iya, janji. Emang mau cerita apa sih? Kayaknya serius banget nih,” aku langsung duduk di dekat umi.

“Kakak tahu nggak, kenapa Bang Zaky nggak pernah main ke sini lagi?” tanya umi. Aku menggeleng.

“Sekarang dia udah nggak di sini lagi. Dia udah balik ke Bandung, ke rumah orang tuanya. Dia diberhentikan dari sekolah.”

Diberhentikan? Kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Dia melakukan sesuatu yang telah membuat malu sekolah,” ucap umi seakan bisa membaca pikiranku. “Tapi kayaknya kakak nggak bakalan percaya kalau Umi kasih tau alasannya.”

“Emang kenapa?” tanyaku penasaran.

“Dia… dia, homo,” ucap umi setengah berbisik.

Blar! Aku bagai mendengar petir di siang bolong. Aku tidak percaya dengan kata-kata umi barusan. Umi sampai harus mengulang kata-katanya dua kali untuk meyakinkanku kalau aku tidak salah dengar. Lalu mengalirlah cerita itu dari umi.

“Bang Zaky kan buka les privat khusus putra di rumahnya. Waktu itu salah satu siswanya pulang dengan kulit wajah dan leher merah-merah. Dia cerita sama orang tuanya kalau dia habis diciumi sama Bang Zaky. Orang tuanya langsung mengadu pada pihak sekolah. Awalnya Bang Zaky nggak mau ngaku. Tapi setelah diancam akan dilaporkan ke polisi, akhirnya Bang Zaky mengakuinya. Dia bilang kalau dia khilaf dan dia meminta maaf pada orang tua siswa tersebut. Dan akhirnya, dia diberhentikan,” umi menceritakan semuanya. “Jangan bilang-bilang abi ya, Kak,” pinta umi lagi.

Aku mengangguk, lalu pergi ke kamar. Meninggalkan umi yang mungkin bertanya heran.

Di kamar aku menangis. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini, mengapa Bang Zaky masih membujang di usianya yang sudah hampir kepala tiga. Tapi, benarkah itu penyebabnya? Karena dia menyukai sesama jenis? Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bang Zaky bisa melakukan hal yang sangat dibenci Allah. Apalagi setelah waktu yang selama ini kulewati dengannya. Kenanganku bersamanya muncul bagai sebuah film yang diputar di bioskop. Bang Zaky yang soleh, Bang Zaky yang humoris, Bang Zaky yang perhatian, Bang Zaky yang, ah, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Kecewa ini tak pantas kubawa

Entah pada siapa atau pada apa harus kutimpakannya

Kecewaku kini tak bermuara

Tak sanggup lagi mengadu luka

Bahkan limpahkan rasa dalam air mata

Tuhan…

Perkenankan aku mati untuk sementara

(Aurasinai, Kuldesak)

Setelah makan malam, aku langsung masuk ke kamar. Aku masih belum bisa meredakan sara kecewa ini. Di kamar, aku memandangi handphone-ku. Di sana tertera sebuah nomor yang kuhapal, namun tak pernah ku hubungi atau pun menghubungiku. Nomor handphone Bang Zaky. Ragu, aku menelepon Bang Zaky untuk mendapatkan kepastian berita itu. Kudengar suara yang sudah sangat kukenal di telepon. Setelah berbasa-basi sedikit, aku menanyakan kebenaran hal itu padanya dengan suara sedikit tersendat. Hening. Tak ada suara terdengar. Aku menunggu dengan sabar.

“Jadi, kamu sudah tahu semua, Na? Ya, itu semua benar. Aku khilaf waktu itu. Kejadian itu terjadi begitu saja. Aku menyesal,” terdengar suara sedikit ter
isak di telepon.

“Ya, Ina ngerti, Bang. Ina harap, ini bisa jadi suatu pelajaran buat kita semua. Mudah-mudahan cepet sembuh ya, Bang. Ina akan selalu mendoakan Abang. Maaf, Bang, Ina udah ganggu malam-malam. Assalamu’alaikum.” Klik, aku memutuskan sambungan telepon. Air mataku kembali meleleh.

Mengapa kau tak mengerti

Halusnya perasaanku

Kau goreskan keraguan

Namun kumenyayangimu

Walau hilang percayaku

Biar cinta menuntunku

Untukmu…

Haruskahku pergi darimu

Haruskah….

(Rossa – Kepastian)

Tak henti-hentinya aku berdoa untuk Bang Zaky. Aku masih ingat percakapanku dengan Bang Zaky beberapa waktu yang lalu.

“Na, di kampus kamu ada teman akhwat atau dosen yang sudah siap menikah nggak?” tanya Bang Zaky suatu hari.

“Emm, emang kenapa? Mau cari calon istri ya?” godaku saat itu. Namun hatiku jadi tak tenang dibuatnya. Aku belum siap melihat Bang Zaky menikah dengan siapa pun. Apalagi dengan teman sekampus atau dosenku sendiri.

“Ya, siapa tahu aja ada yang cocok,” jawabnya sambil tertawa.

Kalau keinginan menikah masih ada, berarti kemungkinan Bang Zaky untuk sembuh masih terbuka lebar. Ya Allah, sembuhkanlah Bang Zaky. Berilah ia istri yang solehah, yang bisa menuntunnya kembali istiqomah di jalan-Mu, doa tulusku dalam hati.

©©©

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu. Sudah lulus kuliah dan kini bekerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku masih belum menikah. Sebetulnya sudah ada beberapa pemuda yang melamarku. Tapi entah mengapa tidak pernah ada yang cocok. Aku selalu membanding-bandingkan mereka dengan sosok yang sebenarnya sangat ingin kulupakan. Bang Zaky.

Kupercepat langkahku. Hujan gerimis sudah mulai turun. Kulihat sebuah motor terparkir di depan rumah. Motor yang sudah sangat kuhapal plat nomornya karena pemiliknya sering membawanya ke sini. Motor Bang Zaky. Aku segera masuk ke rumah. Kulihat di sana ada Bang Zaky dengan seorang wanita manis berjilbab yang tidak kukenal sedang menggendong anak kecil. Kutaksir anak itu baru berusia satu atau dua tahun.

“Hai, Na. Apa kabar? Kenalkan, ini istriku, Farah, dan ini anakku, Fathin,” ucapan Bang Zaky barusan menjawab semua pertanyaanku yang belum sempat terucap. Aku hanya menatap mereka nanar. Tidak terasa air mata menetes begitu saja di pipiku. Aku tidak tahu harus bahagia atau malah bersedih. Perasaanku pada Bang Zaky kini hanyalah sepenggal asa yang tak mungkin lagi terwujud.

©©©

Bekasi, bulan menjelang akhir tahun ajaran 2005/2006

Depok, 090308 (edit)

Jauza Al Khansa

Thanks to My luvly, ‘Mbah Nuche’

for your support and advices…

4 thoughts on “Sepenggal Asa

  1. Jazakallah…Sebetulnya ini ga sepenuhnya nyata…Sampe sekarang Ina juga masih bisa merasakan getar itu…Tapi,, alhamdulillah Bang Zaki udah menikah bulan Juli yang lalu…Semoga ini yang terbaik… ^_^

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s