Anak Hutan (Sebuah Renungan)

 

Dulu kala ada seorang anak yang tinggal di hutan. Sebagai seorang anak yang dibuang oleh orang tuanya, ia tumbuh sebagaimana adanya. Tak ada binatang hutan yang merawatnya sebagaimana cerita Mogli, Tarzan atau Wiro Si Anak Rimba. Ia benar-benar hidup tanpa dimangsa apapun, memakan apapun dan minum dari tetesan-tetesan embun dan hujan. Ia hidup dan mulai beranjak remaja. Dari sinilah ia memulai perjalanannya.

Ia berjalan tak tentu arah. Ia hanya tahu berjalan sampai lelah dan istirahat. Tak terasa ia menjumpai sebuah telaga. Melihat air, ia bergegas minum. Alangkah kagetnya ia melihat sesosok wajah dekil, hitam, jelek, dan berambut panjang. Ia pun berusaha menghilangkan wajah buruk itu dari tempat minumnya. Air telaga di acak-acaknya agar si wajah buruk hilang. Benar saja. Wajah buruk itu tampak lebih buruk karena tercabik-cabik. Tapi, setelah air tenang wajah buruk itu muncul lagi. Ia ketakutan dan lari sekencang-kencangnya.

Kini sampailah ia pada sebuah desa. Dengan mengendap ia masuk ke desa tersebut. Saat melewati dapur sebuah rumah, alangkat terkejutnya ia. Dilihatnya kembali wajah buruk rupa yang dekil, hitam, jelek, dan berambut panjang itu pada sebuah panci besi mengkilap. Dengan geram ia menerobos pintu dapur dan mengambil panci tersebut. Dipukulkannya panci tersebut sampai ia benar-benar puas dan yakin si wajah buruk rupa hilang dalam alat masak yang kini penyok-penyok itu.

Saat ia sadar keadaan di sekelilingnya, penduduk desa sudah berkumpul. Semua penduduk memandanginya dengan tatapan penuh selidik. Ya, sepanjang sejarah desa itu penduduk desa tak pernah melihat ada orang yang dekil, hitam, jelek dan berambut panjang berkelahi dengan sebuah panci.

(Sumber: www.haryomojo.wordpress.com)

* * *

Ina dapet artikel ini dari seorang teman. Begitu selesai Ina baca, Ina jadi berfikir, jangan-jangan Ina selama ini seperti anak hutan tersebut. Selalu mencari kambing hitam atas segala kesalahan. Nggak pernah mau berfikir kalau mungkin penyebab semua kesalah itu adalah Ina sendiri.

Memang, mengalahkan ego sendiri tidak mudah. Namun, hal yang tidak mudah itu bukan berarti tidak bisa dilakukan kan??? Selama kita punya tekad yang kuat, InsyaAllah kita bisa melakukannya. If there is a wiil, there is a way, iya kan??? Selamat meng-introspeksi diri ya… Semoga kita tidak seperti anak hutan dalam cerita di atas… ^_^

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s