Surat untuk Hujan

Tulisan Ini juga Ina dapet dari teman…

Ina dapet tulisan ini waktu acara Mentoring Pergerakan Mahasiswa…
Yang bikin tulisan ini Bang Zaenal, salah satu pencetus MPM..
***

Surat untuk Hujan

Hujan yang jelek,

Kristal benci kamu! Kemarin waktu Kristal pulang kuliah, kamu turun deraaas sekali. Airmu menembus ke dalam tas Kristal. Gara-gara itu, buku-buku Kristal basah semua.

Kamu tahu, Jan? Kristal betul-betul sedih. Kamu ‘kan tahu Kristal selalu menjaga buku-buku Kristal baik-baik. Bayangkan bagaimana sedihnya Kristal melihat buku-buku itu basah kuyup. Tulisan di buku Kristal luntur semua, tidak bisa diperbaiki. Padahal Kristal masih harus belajar dengan buku-buku itu selama empat – lima tahun, sampai Kristal lulus kuliah.

Setelah merusak buku-buku Kristal, kamu belum puas juga. Airmu, yang mesuk melalui jendela bis kampus yang terbuka, menjitaki kepala Kristal. Kristal kesal! Kok masih-sempat-sempatnya kamu meledek Kristal?

Waktu Kristal menatapmu dengan marah dan kecewa, kamu tidak mau kalah. Mendungmu yang murung, gunturmu yang mengagetkan, seperti sengaja mengajak Kristal berkelahi.

Sekarang Kristal demam nich, Kristal jadi tidak bisa masuk kuliah! Padahal hari ini ada ujian. Gara-gara kamu, Kristal terpaksa ikut ujian susulan. Kamu tidak pernah kuliah khan, Jan? Pantas saja tidak tahu bagaimana tidak enaknya ujian susulan!

Hujan, apa sich salah Kristal? Kristal memang nggak pernah menyukai kesan muran dan sedih yang selalu kamu bawa. Tapi apa Kristal pernah menyakiti atau mengganggu kamu? Tidak khan? Kok kamu tega sich, Jan? Kok kamu jahat?!!

 

_Kristal_

 

Kristal melipat surat untuk Hujan, kemudian menitipkan surat itu pada angin. Dua hari kemudian, Hujan membalas surat kristal.

 

Kristal yang manis,

Hujan minta maaf. Sebetulnya Hujan tak bermaksud menyakiti kamu. Hujan sayang padamu. Kamu sendiri khan, yang duluan memusuhi Hujan? Kamu memang tak pernah menyakiti Hujan, secara fisik. Tapi coba bayangkan betapa sedihnya Hujan setiap kamu menatap benci keluar jendela waktu Hujan turun?

Hujan tahu, sebetulnya kamu ingin sekali menyakiti Hujan. Kalau ada pisau yang bisa membelah mendung dan membuat mendung berdarah, Hujan yakin kamu menjadi orang pertama yang melukai mendung.

Kamu mencintai semua teman Hujan. Kamu mencintai langit siang yang biru dan putih, lembayung yang orange-ungu, langit malam dan bintang-bintangnya… dari semua anggota keluarga langit, cuma Hujan yang kamu benci.

Padahal Hujan sudah berusaha menarik perhatian kamu. Kamu ingat tidak, Hujan pernah sengaja tidak turun waktu kamu sedang diskusi. Malah pernah pada suatu kali, Hujan menunggu sampai kamu masuk ke dalam rumah sebelum melepaskan air yang Hujan bawa. Hujan juga pernah turun agak lama supaya kamu bisa berteduh di kampus dan mengobrol lebih lama dengan teman-temanmu, kemudian membiarkanmu menjadikan Hujan alasanmu pulang sore. Ibumu tidak menyalahkan kamu, dia menyalahkan Hujan. Hujan bersedia menerima umpatan ibumu karena Hujan pikir dangan begitu bkamu bisa melihat betapa Hujan sungguh-sungguh ingin bersahabat denganmu.

Tapi ternyata setelah semua itu kamu tetap membenci langit mendung dan Hujan. Kamu sama sekali tidak tidak pernah mengingat kebaikan yang Hujan coba berikan padamu. Kalau ada temanmu yang menganggap Hujan manis dan romantis, kamu akan memprovokasi mereka supaya ikut membenci Hujan.

Sekarang Hujan balik bertanya, apa salah Hujan?

Kristal sayang,

Hujan juga punya batas kesabaran. Empat hari yang lalu Hujan tidak bisa menahan kekecewaan Hujan pada kamu. Hujan pikir, “Kalau kamu memang menganggap Hujan jahat, pemurung, dan perusak, oke! Inilah Hujan yang perusak itu!”. Maka turunlah Hujan sederas-derasnya, menjadikan langit segelap-gelapnya, dan menyambarkan petir sekeras-kerasnya. Hujan membiarkan kamu dan barang-barangmu basah kuyup, membiarkan kamu kedinginan sampai akhirnya jatuh sakit.

Tapi sekarang Hujan menyesal. Hujang sadar memang Hujan keterlaluan. Hujan tidak tega melihat kamu menangis sambil mengeringkan buku-buku kuliahmu dengan hair dryer, melihat kamu tertidur kecapaian di kamar sendirian, melihat wajahmu memerah karena demam… maafkan Hujan ya…

Hujan membiarkan matahri bersinar secerah-cerahnya supaya barang-barangmu yang basah bisa dijemur, supaya kamu tidak bertambah sakit ketika menatap pemandangan di luar jendela. Tapi hari ini Hujan harus turun lagi, maaf ya. Setelah semua yang telah Hujan lakukan kemarin, Hujan mengerti kalau kamu jadi benci pada Hujan. Sekarang Hujan bisa terima. Hujan memang tidak bisa berubah menjadi teduh dan indah seperti teman-teman Hujan yang lain karena memang beginilah adanya Hujan; murung dan gelap. Semoga cepat sembuh, Kristal. Mulai sekarang Hujan berjanji sebisa mungkin tak akan menyakitimu lagi…

 

_Hujan_

 

Kristal melipat surat yang baru diterimanya. Ia menyingkap tirai jendela kamarnya, kemudian menatap Hujan sedang turun dengan derasnya. Sekarang Kristal tahu bahwa dia adalah bagian dari kemurungan Hujan sore itu. Maka, Kristal mencoba tersenyum pada Hujan, menawarkan sebuah hubungan baru; persahabatan.

Entah kenapa langit berangsur-angsur cerah…

Meskipun Hujan masih turun rintik-rintik…

 

ZCA/FIB UI/2003

8 thoughts on “Surat untuk Hujan

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s