Bicara Tanpa Pahala (Part 1)

Bicara Tanpa Pahala
Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari

Waktu (baca: usia) adalah modal untuk melakukan amal shalih. Orang yang mengerti hakikat ini tidak akan menggunakannya kecuali untuk hal yang bermanfaat. Dia akan berusaha memanfaatkan segala potensi diri untuk mendapat pahala sebanyak mungkin. Di antara yang bisa dimanfaatkan untuk menabung bekal di sisi Allah adalah lidah. Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling menasehati sehingga meraih banyak pahala. Namun sebaliknya, lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret orang-orang ke neraka, jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kesadaran seseorang terhadap fungsi lisan ini akan mendorong dirinya untuk menjaga lidah, tidak berbicara kecuali bermanfaat.
Berikut ini akan dinukilkan beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh lidah, dengan harapan agar kita dapat menjauhinya setelah kita faham. Bencana-bencana tersebut di antaranya:
Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat
Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat,” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976; Malik, 2/470; al-Bahgawi no. 4132. Dishahihkan oleh al-Albani).
Sesuatu yang tidak bermanfaat itu bisa berupa perkataan atau perbuatan ; perkara yang haram, atau makruh, atau perkara mubah yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lisan yang pertama ini, hendaklah seseorang selalu mengucapkan sesuatu yang mengandung kebaikan. Jika tidak bisa, hendaklah diam. Nabi Muhammad bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam,” (HR. Bukhari, no. 6475; Muslim, no. 47; dari Abu Hurairah).
Walaupun ini berat, seorang hamba yang ingin selamat di hari akhirat seyogyanya berusaha untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa Muwarriq al-‘Ijli berkata, “Ada satu perkara yang aku sudah berusaha mencarinya semenjak duapuluh tahun lalu. Aku belum berhasil meraihnya. Namun aku tidak akan berhenti mencarinya”. Orang-orang bertanya, “Apa itu wahai Abu Mu’tamir?” Dia menjawab, “Diam (tidak berbicara-red) dari sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku”.

Berdebat dengan cara yang bathil atau tanpa ilmu
Nabi bersabda:
“Sesungguhnya yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat,” (HR. Bukhari, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll).
Mendebat dalam hadits di atas adalah mendebat dengan cara bathil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan demdam, dan mencela orang lain. Nabi bersabda:
“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya, (HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahihkan oleh an-Nawawi dalam Riyadhlus Shalihin, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah, no. 273.
Mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban seorang muslim. Jika penjelasan itu diterima itulah yang dikehendaki. Namun jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan ini. Ini dalam urusan agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan untuk berdebat.

Banyak berbicara, suka menggangu, dan sombong
Masalah-masalah ini dijelaskan oleh Nabi dengan sabda beliau:
“Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun. Para shahabat berjata: ‘Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi apakah al-mutafaihiqun?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang sombong,’” (Hadist shahih dengan penguat-penguatnya. HR. Tirmidzi, no. 2018 dari Jabir; dan Ahmad 2/369 dari Abu Hurairah).
Setelah meriwayatkan hadist ini, imam Tirmidzi mengatakan, “Ats-tsartsar adalah orang yang banyak bicara, sedangkan al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa menggangu orang lain dengan perkataan dan berbicara jorok kepada mereka”.
Imam Ibnul Atsir menjelaskan dalam kitab an-Nihayah: “ats-Tsartsarun adalah orang-orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. Al-mutasyaddiqun adalah orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa hati-hati. Ada juga yang mengatakan, al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang lain dengan mencibirkan bibir ke arah mereka”.
Imam al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib: “Ats-tsartsar adalah orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri. al-mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan seluruh bibirnya untuk menunjukkan kefasihan dan keagungan perkataannya. al-mutafaihiq hampir semakna dengan al-mutasyaddiq, karena maknanya adalah orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan dan berbicara panjang lebar untuk menunjukkan kefasihannya, keutamaannya, dan merasa lebih tinggi dari orang lain (seperti berbagai sajak dan syair yang dibuat oleh banyak orang-pen). Oleh karena inilah, Nabi menafsirkan al-mutafaihiq dengan orang yang sombong. (Dinukil dengan ringkas dari Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Tirmidzi)
Tetapi lafazh-lafazh yang disampaikan khatib dan kalimat-kalimat indah untuk memberi peringatan tidak termasuk sajak yang dibenci, asal tidak berlebihan dan aneh. Karena tujuannya adalah untuk membangkitkan hati dan menggerakkannya menuju kebaikan dengan kalimat yang indah dan semacamnya.

(to be continued… )

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s