Suka-duka Kepanitiaan

Bismillah..

Nggak nyangka, Ina bakal ada “slek” sama seorang temen yang cukup dekat di kampus. Apalagi cuma karena urusan sepele, uang. Rasanya sangat tidak dewasa mempermasalahkan hal yang kecil seperti ini. Tapi, emang gitu keadaannya.

Awal mulanya dari sebuah kepanitiaan. Ternyata benar kata seorang kakak kelas, di kepanitiaan, kita bisa melihat sisi lain dari teman-teman kita. Begitu juga sisi lain dari diri kita, akan muncul bahkan tanpa kita sadari. Harus banyak sabar dan mencoba untuk saling mengerti.

Apalagi saat posisi kita dalam keadaan memimpin. Seorang pemimpin harus bisa “melayani” anggotanya. Harus bisa mengakomodir anggotanya. Tapi Ina belum bisa. mungkin, karena Ina belum terbiasa.

Di saat pertama mengemban amanah ini, justru langsung ada masalah seperti ini. Dia ingin dimengerti oleh Ina. Tapi apa salah kalau Ina juga ingin dimengerti? Atau, apakah seorang pemimpin memang harus seperti itu: mengabdi, melayani, dan mengerti anggotanya tanpa dirinya boleh meminta untuk dimengerti?

Astaghfirullah, maafin Ina, Ya Allah..
Ina tidak bisa menjalankan amanah dengan baik, sampai-sampai ada seseorang yang merasa terzolimi oleh kepanitiaan yang Ina pimpin.
Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat Ina, supaya tidak ada “dia-dia” lainnya yang menyusul…
Amin…