Download Audio: Kesalahan – Kesalahan Dalam Berhari Raya (Ustadz Zainal Abidin, lC)

Berikut adalah rekaman kajian yang di sampaikan oleh Al-Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin, Lc diselenggarakan di Masjid Khairul Ummah Bumiagara, Bekasi pada hari ahad, 28 Ramadhan 1429 ba’da shalat ashar – selesai. Dengan mengambil tema ” Menyikapi Salah Kaprah Berhari Raya “.

Dalam kajian ini beliau menjelaskan beberapa kesalahan yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia dalam memaknai/ merayakan hari raya ‘iedul fitri. Pembahasan luasnya silakan simak poin-poin yang disampaikan dengan mendownload kajian berikut:

Link download: http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/02/22/download-audiomenyikapi-salah-kaprah-berhari-raya-ustadz-zainal-abidinlc-penting/

***

Dan berikut kami sampaikan pula kajian ” Seputar Hukum-Hukum Hari Raya ” oleh Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf. Semoga bermanfaat

Link download: http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/09/12/download-audio-hukum-seputar-hari-raya-ustadz-ahmad-sabiq-abu-yusuf-lengkap/

Apabila Ied Bertepatan Dengan Hari Jum’at

Fatwa Al-lajnah Ad-Daaimah lilbuhuts wal Ifta’

Soal: Dua hari raya berkumpul tahun ini yaitu Hari Jum’at dan Iedul Adha, maka mana yang benar, apakah kami shalat dhuhur apabila kami tidak shalat Jum’at, atau bahwa shalat dhuhur itu gugur bila kami tidak shalat Jum’at?

Jawab: Siapa yang shalat Ied di hari Jum’at maka ada rukhshoh (keringanan) baginya dalam meninggalkan hadir untuk shalat Jum’at pada hari itu kecuali Imam. Maka wajib atas Imam mendirikan shalat Jum’at dengan orang yang hadir untuk shalat Jum’at dari orang yang telah shalat Ied dan dengan orang yang tidak shalat Ied. Maka apabila tidak ada yang hadir seorang pun kepada Imam itu maka gugurlah kewajiban Jum’atnya dari sang Imam itu dan ia shalat dhuhur.

Mereka (para Ulama) berdalil dengan hadits riwayat Abu Dawud dalam Sunannya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata, aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dia bertanya kepada Zaid bin Arqam dengan berkata, apakah kamu menyaksikan beserta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua hari raya berkumpul dalam satu hari?

Dia menjawab, ya.

Ia bertanya, lalu bagaimana beliau berbuat?

Dia menjawab,

{ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ied kemudian memberi rukhshoh (keringanan) mengenai shalat Jum’at, kemudian beliau bersabda:

” مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ “

Siapa yang berkehendak untuk shalat (Jum’at) maka hendaklah ia shalat.” (Diriwayatkan oleh lima Imam kecuali At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Dan para ulama berdalil pula dengan hadits riwayat Abu Dawud dalam Sunannya juga, dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

{ قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ عَنْ الْجُمُعَةِ ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ }

“Sungguh telah berkumpul pada harimu ini dua hari raya, maka siapa yang berkehendak maka telah mencukupinya dari Jum’at, dan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.”

Maka hal itu menunjukkan atas rukhshoh (keringanan) dalam berjum’at bagi orang yang telah shalat Ied pada hari itu. Dan diberitahukan tidak adanya rukhshoh (keringanan) bagi Imam, karena sabdanya dalam hadits:

“ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “

“dan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.”

Dan karena (berdasarkan) hadits riwayat Muslim dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaca dalam shalat Jum’at dan Ied dengan surat Sabbihisma (Surat Al-A’la) dan Al-Ghasyiyah. Barangkali dua hari raya itu berkumpul dalam satu hari maka beliau membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) dalam kedua shalat (Ied dan Jum’at).

Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at dari orang yang telah menyaksikan shalat Ied maka wajib atasnya untuk shalat dhuhur, sebagai perbuatan dengan umumnya dalil-dalil yang menunjukkan atas wajibnya shalat dhuhur atas orang yang tidak shalat Jum’at.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

Fatwa Al-lajnah Ad-Daaimah lilbuhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa) soal kelima dari fatwa nomor 2358.

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 8 / ص 296)
السؤال الخامس من الفتوى رقم ( 2358 )
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Artikel: http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/apabila-ied-bertepatan-dengan-hari-jum’at/

Mudik Lebaran, Dan Tradisi Yang Keliru

Oleh: Al Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin, Lc

TRADISI MUDIK LEBARAN DALAM TINJUAN ISLAM

Sebagian besar kaum Muslimin di negeri kita mengira, bahwa mudik lebaran ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena terkait dengan ibadah bulan Ramadhan. Sehingga banyak yang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan lailatul qadr. Dengan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang. Pada hari lebaran, lembaga pegadaian menjadi sebuah tempat yang paling ramai dipadati pengunjung yang ingin berhutang.

Padahal yang benar mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Apabila yang dimaksud mudik lebaran sebagai bentuk kegiatan untuk memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh dan hubungan yang retak sementara tidak ada kesempatan yang baik kecuali hanya waktu lebaran maka demikian itu boleh-boleh saja namun bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam atau disebut dengan istilah tradisi Islami maka demikian itu bisa menjadi bidah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam. Sebab seluruh macam tradisi dan kebiasaan yang tidak bersandar pada petunjuk syareat merupakan perkara bidah dan tertolak sebagaimana sabda Nabi:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat”. [Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

SILATURAHMI YANG SESUAI DENGAN SUNNAH

Makna silaturahmi secara bahasa adalah dari lafadz rahmah yang berarti lembut dan kasih sayang.

Abu Ishak berkata: “Dikatakan paling dekat rahimnya adalah orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kekerabatannya”. [3

Imam Al Allamah Ar Raghib Al Asfahani berkata bahwa Ar Rahim berasal dari rahmah yang berarti lembut yang memberi konsekwensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[4]

Oleh sebab itu salaturrahmi merupakan bentuk hubungan dekat antara bapak dan anaknya atau seseorang dengan kerabatnya dengan kasih saying yang dekat, sebagaimana firman Allah: “Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim”. [an Nisa’:1]

Silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua dan sanak kerabat merupakan urusan yang sangat penting, kewajiban yang sangat agung, dan amal salih yang memiliki kedudukan mulia dalam agama Islam serta merupakan aktifitas ibadah yang sangat mulia dan berpahala besar sehingga banyak sekali nash baik dari Al-Qur’an dan Sunnah yang memberi motivasi untuk silaturahmi dan mengancam bagi siapa saja yang memutuskannya dengan ancaman berat.

Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. [al Baqarah : 27]

Ayat di atas terdapat anjuran agar setiap muslim melakukan silaturrahmi dengan kerabat dan sanak famili.

Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabary berkata: “Pada ayat di atas Allah menganjurkan agar menyambung hubungan dengan sanak kerabat dan orang yang mempunyai hubungan rahim dan tidak memutuskannya”.[5]

Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim hendaknya melakukan silaturrahmi dengan sanak kerabat baik dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menyayangi, menghormati dan menyambung hubungan hubungan kerabat baik pada saat berdekatan maupun berjauhan.

Dari Aisyah bahwa Nabi bersabda:

الرَّحِمُ شَجْنَةٌ مِنَ اللهِ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

“Rahim adalah syajnah (bagian dari limpahan rahmat) [6] dari Allah, barangsiapa yang menyambungnya maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskannya maka Allah akan memutuskannya”. [7]

Hubungan persaudaraan khususnya antara saudara laki-laki dan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ الرَّحِمُ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَذَاكِ لَكِ

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dan setelah usai darinya maka rahim berdiri lalu berkata: Ini adalah tempat orang berlindung dari pemutusan silaturramhi. Maka Allah berfirman: Ya. Bukankah kamu merasa senang Aku akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan memutuskan hubungan dengan orang memutuskan denganmu? Ia menjawab: Ya. Allah berfirman: Demikian itu menjadi hakmu”.[8]

Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturrahmi tanpa alasan syar’i maka berhak mendapatkan sanksi berat dan kutukan dari Allah serta diancam tidak masuk surga.

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Muhammad bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.”.[9]

KESALAHAN-KESALAHAN PADA SAAT LEBARAN

Hari raya adalah salah satu syiar kemuliaan kaum muslimin. Pada hari itu mereka berkumpul jiwa-jiwa menjadi bersih dan persatuan terbentuk serta pengaruh kejelekan dan kesengsaraan hilang, sehingga tidak tampak pada waktu itu kecuali kebahagiaan. Namun hal ini sering terjadi kekeliruan-kekeliruan dalam merayakannya. Diantaranya.

1. Meniru orang kafir dalam berpakaian. Kita mulai melihat sebagai fenomena aneh pada masyarakat kita khususnya pada hari raya. Mereka mengenakan pakaian yang aneh-aneh ala orang kafir. Seorang muslim dan muslimah seharusnya memiliki semangat untuk menjaga agama, kehormatan dan fitrahnya. Jangan tergoda untuk ikut-ikutan mereka meniru-niru kebiasaan orang-orang yang tidak me
njaga kehormatan.

2. Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai syiar melaksanakan kemaksiatan, sehingga secara terang-terangan ia melakukan perbuatan yang diharamkan. Misalnya dengan mendengarkan musik dan memakan makanan yang diharamkan Allah.

3. Dalam berziarah (kunjungan) tidak memperhatikan etika islami. Contohnya bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, saling berjabat tangan antara laki-laki yang bukan mahram

4. Berlebih-lebihan dalam membuat makanan dan minuman yang tidak berfaedah, sehingga banyak yang terbuang, padahal kaum muslimin yang membutuhkan.

5. Hari Raya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyatukan hati kaum muslimin, baik yang ada hubungan kerabat atau tidak. Juga kesempatan untuk mensucikan jiwa dan menyatukan hati, namun pada kenyataannya, penyakit hati masih tetap saja bercokol.

6. Menganggap bahwa silaturahmi hanya dikerjakan pada saat hari raya saja.

7. Menganggap bahwa pada hari raya sebagai saat yang tepat untuk ziarah kubur.

8. Saling berkunjung untuk saling maaf-memaafkan diantara para kerabat dan sanak famili dengan keyakinan saat itulah yang paling afdhal.[10]

Baca selengkapnya: http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/09/06/mudik-lebaran-dan-tradisi-yang-keliru/