Surat Sahabat

Jakarta, 13 Mei 2010

Untuk sahabatku tercinta

Naila Rahmadiyanti

Di Tempat

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Salam sejahtera semoga selalu tercurah kepadamu, Sahabatku. Mudah-mudahan kamu sedang berbahagia di sana. Alhamdulillah, aku di sini dalam keadaan sehal wal’afiat. Aku juga sedang berbahagia karena sebentar lagi aku akan lulus dan diwisuda. Dan kebahagiaan itu pasti akan sempurna kalau kamu ada di sini, saat ini.

La, kamu masih ingat kejadian yang kita alami tanggal 13 Mei tujuh tahun yang lalu? Kamu pasti masih ingat, kan? Waktu itu kita bertemu, atau lebih tepatnya aku menabrakmu, di koridor di depan ruang guru. Lalu, tanpa permisi dan minta maaf, aku langsung lari meninggalkanmu yang masih jatuh terduduk. Aku jahat sekali, ya? Maafkan aku, ya. Aku benar-benar tidak menyangka orang kutabrak waktu itu kini menjadi sahabat baikku.

Kamu telah memberi warna baru dalam hidupku. Aku, yang dulu hanya berambisi untuk berprestasi dan menjadi yang terbaik, tanpa memiirkan orang lain, kini mulai mencoba berubah. Aku yang egois, cuek, mudah marah, dan keras kepala, berubah 180o. Ya, nggak 180o juga sih. Mungkin cuma 90o, karena kadang sifat jelekku masih suka muncul, apalagi kalau aku sedang emosi. Tapi kau tetap sabar menghadapi aku. Padahal kan aku lebih tua dari kamu.

La, aku mau mengakui sesuatu nih. Sebetulnya, puisi yang kamu buat untuk tugas Bahasa Indonesia waktu itu tidak hilang. Aku yang mengambil. Sejujurnya aku kagum sama kamu karena bisa membuat puisi sebagus itu. Aku juga iri, karena aku nggak bisa. Aku suka sekali sama puisi kamu, tapi aku nggak berani mengakuinya. Aku terlalu gengsi untuk mengakui kelebihanmu, yang dengan kata lain berarti mengakui kekuranganku. Dari kecil, aku sudah terbiasa menjadi nomor satu. Jadi, aku harap kamu mau memaafkanku ya.

Aku jadi ingat waktu kita bertengkar dulu. Cowok yang aku suka ternyata suka padamu. Dan kamu juga suka padanya. Aku langsung marah besar waktu itu. Aku memakimu dengan kata-kata yang, ah, aku jadi malu mengingatnya. Padahal kamu sudah mencoba menjelaskannya baik-baik kepadaku. Tapi karena aku memang keras kepala, tak satu pun kata-kata penjelasan darimu singgah di telingaku. Kini aku baru sadar, betapa baik hatinya dirimu, Sahabatku. Kamu dan dia saling suka. Dia malah sudah menyatakan perasaannya padamu. Tapi dengan halus kaumenolaknya. Kamu tidak ingin melukai hatiku. Alangkah bodohnya diriku, baru menyadari hal ini saat kau sudah jauh dariku.

Kamu benar-benar sahabat sejati. Kamu tidak pernah mengeluh saat mendengan curhat-curhatku yang panjang, kata-kataku yang kasar saat sedang marah, dan tangisan-tangisanku saat masalah berdatangan. Kau selalu bisa menyejukkan hatiku dengan kata-kata mutiaramu – mengalir indah bagai mata air kehidupan yang selalu bisa melenyapkan dahagaku. Sejak kita berpisah, aku tidak punya tempat curhat lagi. Tapi setiap mengingat kata-katamu, aku selalu bisa menjadi lebih tegar.

Di mataku, kau adalah sosok yang amat sempurna. Ya, aku tahu, manusia memang tidak ada yang sempurna. Tapi kamu lain. Mungkin kamu masih memiliki kekurangan, tapi kamu bisa menutupi kekurangan itu dengan sikap dan perilakumu yang mempesona. Kamu supel, ramah, sopan, dan terkenal baik di kalangan guru maupun teman-teman. Sedangkan aku, terkenal dengan semua sifat jelekku. Kadang aku bingung, mengapa dua orang yang sangat berbeda seperti kau dan aku bisa menjadi sahabat baik. Orang lain pasti juga pernah menanyakan hal itu di dalam hati mereka masing-masing. Dan akhirnya, aku hanya bisa menarik kesimpulan sederhana; mungkin Allah sudah menakdirkan kita untuk bersahabat. Dan mungkin, kamu adalah wanita berakhlak bidadari yang diturunkan-Nya untuk menuntunku supaya bisa lebih mengenal-Nya.

Perpisahan kita waktu itu diwarnai tangis dan air mata. Kita berpelukan lama sekali di stasiun. Waktu itu kau harus pindah ke kampung ibumu. Orang tuamu tidak sanggup lagi hidup di Jakarta karena biaya hidup di sini semakin besar. Ya, satu-satunya masalah yang kutahu ada dalam hidupmu adalah materi. Kau lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi kau tidak pernah merasa terbebani dengan hal itu. Lahir dari keluarga yang pas-pasan justru menjadikanmu wanita yang amat peka terhadap keadaan di sekitarmu. Kamu tidak pernah tidak memberi uang pada pengemis dan pengamen yang kau temui saat naik angkutan umum. Padahal aku tahu, uang jajanmu sangat sedikit. Tapi kamu tidak pernah pelit untuk membaginya dengan orang lain, yang tidak kau kenal sekalipun. Melihat tingkah lakumu itu aku seperti tertampar. Aku, yang lahir dari keluarga yang amat berkecukupan, jarang sekali bersedekah. Kalaupun aku sedekah, aku akan mencari uang dengan nominal terkecil di dompetku. Aku jadi malu padamu. Malu pada Allah.

Kamu pernah bilang bahwa kehalusan budi dapat meluluhkan kesombongan dan kekerasan hati. Kini aku merasakan hal itu. Kehalusan budi dan tingkah lakumu telah meluluhkan kekerasan hatiku. Sekarang, aku mulai berubah walau perlahan. Karena semua butuh proses, iya kan? Sekarang aku sudah mulai berjilbab, biar bisa menjadi anggun seperti kamu. Orang tuaku sangat senang melihat perubahanku. Mungkin kau juga akan senang bila melihat keadaanku sekarang. Ah, seandainya kau ada di sini, saat ini…

La, aku ingin minta maaf. Aku banyak sekali berbuat salah padamu. Seandainya waktu liburan dua tahun yang lalu aku tidak merengek agar kau datang ke rumahku, pasti saat ini kita masih bisa tertawa bersama. Pasti kau tidak akan naik bis naas itu, yang akhirnya merenggut nyawamu. Maafkan aku, La. Aku tahu, semua ini pasti kehendak Allah. Tapi aku sangat sulit menerimanya. Setelah kecelakaan itu, berbulan-bulan aku depresi. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku tahu, pasti kamu tidak menyalahkanku atas kejadian itu. Dan kamu juga pasti sudah memaafkan kesalahanku. Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Berbulan-bulan aku menjalani kehidupan yang sangat sulit. Tapi Alhamdulillah, ada mama yang selalu ada di sampingku. Mendengar nasihat beliau, aku jadi ingat saat kau menasihatiku saat aku sedang punya masalah. Lama-kelamaan aku sadar, dengan keadaanku yang seperti ini kau malah akan semakin berat untuk pergi. Perlahan, aku mulai mengikhlaskan kepergianmu. Aku mulai
menjalani hari-hariku dengan semangat baru. Aku ingin kau bangga memiliki teman seperti aku.

La, butuh waktu lama bagiku untuk bangun dari keterpurukan. Dan aku membutuhkan membutuhkan waktu dua tahun untuk bisa menyebut namamu tanpa menangis. La, aku doakan semoga kamu selalu bahagia di sana. Semua kebaikan dan ketulusan hatimu akan kusimpan dan kuceritakan kepada anak cucuku nanti. Terima kasih untuk segalanya. You are the best.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Peluk cium sahabatmu,

Izka Fitria

***

Surat di atas ditujukan untuk Naila Rahmadiyanti, yang sudah meninggal dalam kecelakaan bis saat sedang menuju ke rumah sahabatnya, Izka Fitria. Dan surat ini ditemukan di dekat jenazah Izka Fitria, yang meninggal dalam kecelakaan mobil saat hendak berziarah ke makam sahabatnya, Naila Rahmadiyanti.

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s