Sepenggal Cerita

Aku duduk di taman itu sendirian. Menunggunya. Di bawan pohon akasia yang sesekali menggugurkan daunnya. Entah sudah berapa lama aku hanya termangu disini. Beberapa kali angin datang, menggoyangkan ujung jilbabku dan berseru,

“Pulanglah! Kau hanya akan kecewa menunggunya.”

Tapi aku diam dan tak bergeming. Memandangi sehelai akasia yang baru saja jatuh di depanku dan terserak di tanah begitu saja. Mungkinkah suatu saat harapanku juga seperti daun itu? Satu demi satu berguguran ke tanah, dan mjd sampah..

Aku berada di batas penantianku, tapi sosok itu tak juga muncul. Sosok yang kutunggu sejak senja mulai berlalu. Aku mengemas butiran lembut di sudut mataku dengan jari. Sedih dan kecewa. Entah perasaan apalagi yang kupunya saat ini. Aku bangkit dan bersiap hendak pergi saat ponselku berbunyi. Sebuah sms. Dari dia.

maaf aku tak bisa kesana. jangan marah ya..

Ahh.. kesedihanku kian membuncah. Kenapa hanya amarah yg bisa kau baca dari mataku? Kenapa tak pernah membaca kesedihan dan air mataku?

(sumber: di sini)