Selamat Tinggal, Cinta…

Selamat Tinggal, Cinta…

Lingkungan kampus sudah sepi. Kulihat jam tanganku, sudah pukul 17.30. Bergegas kubereskan bukuku yang berserakan di meja taman. Akhirnya selesai juga tugas biostatistik dari Bu Luknis. Setelah semua beres, aku melangkahkan kaki untuk pulang. Aku berjalan pelan, tubuh ini sudah letih beraktifitas dari pagi. Belum lagi ditambah sisa capek karena aktifitas kemarin yang sangat menguras tenaga. Sudah terbayang apa yang akan kulakukan di tempat kos nanti. Aku akan mandi, lalu membuat teh hangat. Hmm, nikmatnya.

Kulewati musholla fakultas yang sudah sepi. Hanya ada satu dua orang yang masih beraktifitas. Dan saat itu mataku melihat sosok seseorang. Seketika jantungku berhenti berdetak. Kurasakan sensasi aneh dalam diriku. Getar yang aneh, namun sangat kunikmati. Astagfirullahal’adzim, segera kutundukkan pandanganku. Aku kembali melangkah cepat, meninggalkan sosok barusan. Terukir seulas senyum di bibirku. Entah senyum untuk apa.

***

Kugerakkan badanku yang kaku. Sakit. Ngilu. Yah, beginilah nasib orang yang tidak pernah olah raga. Sekalinya olah raga badan langsung pegal-pegal. Semester ini aku dapat mata kuliah olah raga. Kemarin, hari pertama masuk, dosennya langsung mengajar dan menyuruh berlari untuk pemanasan. Akibatnya baru aku rasakan hari ini. Badanku sakit semua. Tapi aku harus bangun untuk belajar. Besok ada kuis. Bisa kacau kalau nggak belajar.

“Na, mau belajar bareng nggak?” kudengar suara teriakan dari kamar sebelah. Tiya.

“Iya. Duluan aja. Nanti nyusul,” sahutku sambil mencoba bangun dari tempat tidur. Kupijit lengan dan betisku. Lumayan untuk mengurangi sedikit rasa pegal. Tak lama kemudian aku pergi ke kamar sebelah. Membawa setumpuk buku sambil berjalan terseok-seok.

“Napa lo, Na? Madesu amat,” ucap Tiya sambil tertawa.

Aku hanya nyengir. Tak lama kemudian datang Hani, Febri, Alwa, dan Muti. Mereka semua sekosan denganku. Belajar pun dimulai. Kami saling tanya jawab. Kalau Febri, dia lebih memilih mojok sendirian sambil membaca diktatnya. Dia memang lebih konsen kalau belajar sendiri.

Keadaan aman dan terkendali pada awalnya. Namun entah siapa yang memulai, tercetuslah topik obrolan itu. Calon suami. Kami tidak lagi mendiskusikan pelajaran. Semua sibuk membicarakan seseorang yang diidamkan akan menjadi suami mereka kelak.

“Eh, kalo Kak Taufan gimana? Do’i kan keren. Soleh lagi,” celetuk salah satu dari mereka. Diikuti oleh koor “cie” dari teman-teman yang lain.

“Lo suka ya? Emang sih lumayan. Tapi gue mah tetep Bang Salim ah. Ketua BEM gitu loh. Hahaha,” Tiya menanggapi.

“Kalo Ina gimana? Dari tadi diem aja,” tanya Hani. Mendengar namaku disebut, aku jadi gelagapan. Aku kaget ditembak pertanyaan seperti itu. Seketika bayangan sosok di mushola tadi sore hadir di hadapanku. Aku diam.

“Lo suka sama siapa? Kak Farhan?” tembak Alwa.

“Nggak. Nggak ada kok,” aku mencoba menghindar.

“Ah, dia mah sukanya sama Kak Fahri. Iya kan? Ngaku aja deh. Hehehe,” Muti membuatku terpojok. Seketika raut wajahku jadi merah.

“Na, lo beneran suka sama Kak Fahri? Gila, selera lo tinggi banget,” Tiya ikut berkomentar. Aku tetap diam.

“Na, jawab donk. Kalo bener juga nggak apa-apa kok. Malah kita dukung. Iya nggak?” Hani menyemangati. Yang lain mengangguk. Aku jadi bingung. Tebakan Muti benar-benar jitu. Mau tak mau akhirnya aku terpaksa mengaku.

“Cie, Ina! Mudah-mudahan berhasil ya… Nanti kalo beneran jadi, jangan lupa ngundang-ngundang ya,” celetuk Alwa yang disusul tawa teman-teman yang lain yang memenuhi ruangan itu. Tak henti-hentinya aku mengaminkan dalam hati.

***

Memori dua tahun silam itu memenuhi pikiranku. Aku akan tersenyum dengan sendirinya bila mengingat kejadian itu. Dasar mahasiswi baru. Saat itu aku dan sahabat-sahabatku baru semester dua. Tapi kami sudah berpikir jauh sekali.

Aku juga jadi malu kalau mengingat masa itu. Aku pernah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan seorang akhwat. Aku pernah mencopot poster di mading hanya untuk mendapat foto Kak Fahri. Mencuri-curi kesempatan untuk memotonya, walau dari jarak yang sangat jauh. Wajah Kak Fahri saja tidak jelas mata, hidung, dan mulutnya. Tapi aku sangat senang waktu itu. Kini foto-foto hasil “usaha”ku aman tersimpan di dalam diariku.

Perasaanku pada Kak Fahri masih sama. Namun seiring usia bertambah, kedewasaan pun mulai menghampiri. Aku tidak lagi melakukan hal yang kekanak-kanakkan seperti dulu. Biar saja rasa ini kutitipkan pada-Nya. Teman-temanku pun begitu. Mereka yang dulunya selebor, kekanak-kanakkan, dan heboh kalau melihat ada ikhwan ganteng, kini menjadi lebih dewasa dan sangat lemah lembut. Walau sifat-sifat buruk itu kadang masih suka muncul, apalagi kalau sudah berkumpul bersama.

Kak Fahri sudah lulus setahun yang lalu. Saat itu aku sangat merasa kehilangan. Tidak akan ada lagi sosoknya yang bisa kulihat di sekitar kampus. Tapi ada hal yang sedikit menghiburku waktu itu. Aku sudah berkenalan dengannya. Tepatnya bukan hanya aku, tapi aku dan teman-teman satu kosku. Kami berkenalan dengannya di salah satu organisasi keislaman kampus yang kami ikuti. Kebetulan ketua organisasi itu adalah Kak Fahri. Aku senang sekali bisa berkenalan dengannya. Meskipun aku ragu, apakah dia masih mengingatku saat ini.

Hari ini aku akan ta’lim dengan sahabat-sahabatku itu ba’da ashar. Kami memang satu kelompok ta’lim. Kulihat jam tanganku, masih ada setengah jam sebelum ta’lim dimulai. Aku memutuskan untuk menunggu di musholla saja.

Di musholla, aku melihat Hani sedang membaca Al Qur’an. Kutunggu dia selesai, lalu kusapa dia.

“Assalamu’alaikum, Hani,” ucapku sambil merangkulnya. Dia menjawab salamku sambil membalas rangkulanku.

“Udah selesai kuliah, Na?”

“Udah Alhamdulillah. Udah dari tadi ya, Han?”

“Nggak kok, baru aja.”

“Assalamu’alaikum, Hani, Ina,” Kakak mentorku, Kak Yanti datang. Beliau mahasiswi S2 di sini. Kami menjawab salam dengan kompak.

“Alhamdulillah, pas banget nih. Aku mau nunjukkin sesuatu,” ucap Kak Yanti. Aku dan Hani saling tatap.

“Nih, ada proposal dari seorang ikhwan,” Kak Yanti berkata sambil tersenyum. “Buat Hani,” lanjutnya.

Kami berdua kaget. “Buat aku, Kak? Beneran? Bukan buat Ina?” Hani mencoba memperjelas.

“Iya, buat Hani. Permintaan dari sananya begitu,” jawab Kak Yanti sambil tersenyum.

Aku langsung tersenyum dan mengucap hamdalah. Tak lupa aku memberi Hani selamat. Namun sepertinya dia masih sedikit syok.

“Siapa, Kak?” tanya Hani. Gemetar dia menerima map yang disodorkan Kak Yanti. “Boleh dibaca di sini?” tanya Hani lagi.

“Boleh, baca aja. Aku ke dalem sebentar ya. Mau naro tas.”

Penasaran, Hani membuka dan membaca isi map itu. Aku juga diperbolehkannya untuk ikut melihat. Ya Allah, nama itu… Aku langsung lemas. Mataku berkaca-kaca. Nama itu, Achmad Fahri Azzam. Itu nama Kak Fahri. Dan proposal itu bukan untukku, tapi untuk Hani, sahabat baikku. Kulihat Hani menunjukkan ekspresi kaget tak beda jauh dengan kekagetanku. Dia menoleh ke arahku. Sorot matanya sulit kuartikan. Aku tak kuat. Aku segera berlari keluar musholla. Aku menangis sambil berlari tak tentu arah. Kubiarkan langkahku membawaku kemana saja dia mau.

Langkah ini terhenti agak jauh dari musholla. Aku bersandar pada sebatang pohon. Kutumpahkan tangisanku di sana. Ya Allah, sakit sekali hati ini. Mengapa, Ya Allah? Mengapa proposal itu bukan untukku? Mengapa Engkau begitu padaku, Ya Allah? Air mataku semakin deras. Kurasakan rintik air di sekelilingku. Hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Aku basah kuyup. Kubiarkan tubuhku menggigil diguyur hujan. Kuharap derasnya hujan bisa mengikis rasa kecewaku.

Hari sudah gelap. Sebentar lagi magrib. Hujan sudah reda dari tadi. Begitu pun air mataku. Mungkin persediaanya sudah habis. Mataku pasti sangat bengkak. Aku bangkit perlahan. Aku harus pulang. Kulangkahkan kaki perlahan. Aku tak tahu seperti apa penampilanku saat ini. Aku tak peduli. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai di tempat kos.

Kulihat Hani ada di depan kamarku, mondar-mandir. Dia kaget melihatku datang dengan baju basah kuyup. Dia mencoba merangkulku namun kutepis dengan kasar. Segera kubuka pintu kamarku dan kututup dengan sekali bantingan. Pasti Hani sangat kaget. Namun aku tak peduli. Segera kukeringkan badanku dan ganti baju. Lalu aku langsung berbaring di kasur setelah solat Magrib. Lelahku sangat luar biasa hari ini. Lelah lahir dan batin.

***

Sosok itu mendekat. Wajahnya putih bersih. Tanda hitam bersemayam di keningnya, saksi bisu ketaatan dalam beribadah. Wajah itu tersenyum. Tangannya terulur ke arahku. Aku mencoba menggapainya, namun tidak bisa. Kini sosok itu menj
auh. Semakin dan semakin menjauh. Jangan, jangan pergi! Aku mencoba memanggil sosok itu kembali, namun terlambat, dia sudah menghilang.

Mataku terbuka. Badanku basah oleh keringat. Astagfurullahal’adzim, itu mimpi. Dadaku naik turun dengan cepat. Kulihat jam meja Winnie the Pooh-ku, jam dua pagi. Ya Allah, aku belum solat Isya’. Segera aku menuju kamar mandi. Setelah wudlu, kutatap wajahku di cermin. Masih terlihat bekas tangisan tadi sore di wajahku. Mataku pun masih bengkak.

Aku pun solat sambil menangis. Aku masih berat menerima kenyataan ini. Setelah selesai solat Isya’, aku langsung qiyamul lail. Aku mengadukan semua keluh kesahku pada-Nya. Aku benar-benar masih sulit menerima kalau ini kenyataan yang harus kuhadapi. Setelah puas mengadu pada-Nya, aku sempatkan membaca beberapa halaman Al Qur’an.

Kuraih ponselku. Ternyata masih di-silent. Kulihat ada dua pesan dan lima panggilan tak terjawab. Semuanya dari Hani. Kuhapus semua pesannya tanpa kubaca lebih dulu. Aku masih perlu waktu untuk mengobati rasa kecewa ini.

***

Hari-hari berikutnya kujalani tanpa semangat. Hani masih sabar mencoba mengajakku bicara. Begitu juga dengan Kak Yanti dan sahabatku yang lain. Namun aku tak pernah meladeni mereka. Akan kukubur semua kenanganku dengan Kak Fahri dan dengan Hani. Kuanggap tidak pernah mengenal mereka.

Kulihat banyanganku di cermin. Wajah ini semakin tirus. Kantung mata semakin menghitam. Kurasa itu bukan diriku. Aku tidak mengenal pantulan di cermin itu. Yang kulihat di sana adalah sosok gadis patah hati yang merana. Ya, mungkin itu memang aku. Karena aku semakin tidak mempedulikan diriku sendiri. Hanya Allah yang membuatku bisa bertahan hingga saat ini.

Kukenakan kerudung kaos dengan pelan. Aku akan belanja kebutuhan bulanan. Biasanya aku belanja dengan sahabatku, paling sering dengan Hani. Tapi mulai saat ini aku akan pergi belanja sendiri.

Jalan raya di depan pusat perbelanjaan ini selalu ramai. Aku menunggu jalanan agak sepi dengan pikiran kosong. Akhir-akhir ini aku sulit untuk memfokuskan pikiranku. Setelah jalanan cukup kosong, aku memutuskan untuk menyebrang. Tiba-tiba kepalaku sangat pusing. Langkah kakiku pun terhenti. Sayup-sayup terdengar suara teriakan di sekelilingku. Setelah itu aku merasakan tubuhku melayang dan terjatuh, sakit sekali. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi.

***

Kubuka mataku perlahan, terlihat sebuah ruangan yang asing. Tapi aku yakin ini adalah rumah sakit. Kucoba menolehkan kepalaku, namun hanya sakit yang kurasa. Kuraba kepalaku, tak ada jilbab di sana. Yang ada hanya perban. Kepalaku sedikit pusing. Kulihat kakiku pun diperban. Kuingat lagi peristiwa yang bisa kuingat. Ya, aku pasti kecelakaan.

Perlahan pintu ruangan ini terbuka, lalu muncul sesosok wanita manis berjilbab. Hani. Dia tersenyum kepadaku. Wajahku datar-datar saja. Aku tidak membalas senyumnya. Duhai hati, alangkah sulitnya menghilanghan rasa kecewa ini.

“Assalamu’alaikum, Ina,” sapanya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, kamu udah sadar. Gimana, udah enakan apa masih pusing? Aku panggil suster dulu ya.”

Aku hanya diam. Bibir ini mengikuti perintah hati untuk tetap diam. Tak lama kemudian seorang dokter berjilbab didampingi seorang suster datang untuk memeriksaku. Setelah memeriksaku, dokter itu menyuruhku untuk banyak istirahat dan tidak berfikir yang berat-berat dulu. Aku mengalami gegar otak, dan lumayan parah katanya. Seperti biasa, aku
hanya diam, tanpa ekspresi. Aku jadi berfikir, apa aku sudah lupa cara tersenyum ya?

Sahabat-sahabatku datang menjenguk. Orang tuaku juga datang. Namun mereka tidak bisa berlama-lama menemaniku karena mereka tidak bisa meninggalkan adik-adikku terlalu lama. Ayahku pun harus kembali bekerja. Jarak kampus dan rumahku memang sangat jauh. Jadi, mereka hanya menemaniku tiga hari. Setelah mereka pulang, sahabat-sahabatkulah yang bergantian menemaniku. Membacakan majalah, bercerita, kadang juga mengajakku mengobrol. Di antara semua sahabatku, yang paling sering menjenguk dan menemaniku adalah Hani. Dia tulus sekali menjagaku. Hatiku mulai luluh. Aku mulai tersenyum padanya. Alangkah ringannya hati ini saat dia membalas senyumku.

Aku merasa sudah lebih sehat. Namun aku belum boleh pulang. Proses pemulihan gegar otak memang agak lama. Saat ini aku sendirian. Hani sedang kuliah. Sahabatku yang lain juga punya kegiatan masing-masing. Tiba-tiba sebuah sosok terlintas di pikiranku. Kak Fahri. Bagaimana ya, kelanjutan prosesnya dengan Hani? Kuraih buku dan pulpen di atas meja di samping tempat tidurku. Tiba-tiba saja aku ingin menulis sesuatu.

Doa untuk Kekasih… *)

untuk seseorang yang telah mengisi ruang hati yg dulu hampa…

Allah yang Maha Pemurah…

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia

dan mempertemukan aku dengannya.

Terima kasih untuk saat – saat indah

yang dapat aku nikmati walau hanya dengan memandang wajahnya.

Terima kasih untuk setiap pertemuan

yang telah kulalui bersamanya.

Aku datang bersujud di hadapan-Mu…

Sucikan hatiku ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidupku.

Ya Allah, jika diri ini bukanlah pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan diri ini merindukan kehadirannya…

janganlah biarkan diri ini melabuhkan hati di hatinya..

kikislah pesonanya dari pelupuk mataku dan jauhkan dia dari relung hatiku…

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni…

dan tolonglah hamba-Mu ini agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Ya Allah, Ya Rabb

Jika dia bukanlah jodohku

Bawalah ia jauh dari pandanganku

Luputkanlah ia dari ingatanku

Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan

Ya Allah, ya Tuhanku yang Maha Mengerti…

Berikanlah aku kekuatan

Melontar bayangannya jauh ke dada langit

Hilang bersama senja nan merah

Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…

Gantikanlah yang telah hilang

Tumbuhkanlah kembali yang telah patah

Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…

Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu

Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan

Adalah yang terbaik buatku

Karena Engkau Maha Mengetahui

Segala yang terbaik buat hamba-Mu ini

Ya Allah…

Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku

Di dunia dan di akhirat

Dengarlah rintihan dari hamba-Mu yang daif ini

Amin…

Aku tersenyum. Aku merasa ikhlas, sangat ikhlas menyerahkan Kak Fahri pada Hani. Aku yakin dia bisa menjaganya. Aaarrrggghhh, sakit! Kepalaku sakit sekali. Kuraih tombol untuk memanggil suster. Namun terlambat, aku tak sempat menekan tombol itu karena tak sadarkan diri.

***

Sosok itu mendekatiku. Mendekat dan semakin mendekat. Namun sosok itu bukan dia. Sosok itu jauh lebih tampan. Wajahnya lebih bercahaya. Aku tak kenal siapa dia. Dia tersenyum ke arahku. Dia mengajakku ikut bersamanya. Aku teringat sesuatu, masih ada hal yang harus kuselesaikan. Kutepis ajakan itu dan kujelaskan alasanku. Sosok itu pun menjauh, lalu menghilang.

Mataku terbuka perlahan. Kulihat banyak orang di sekitarku.

“Na, kamu sudah sadar? Alhamdulillah. Kita takut banget waktu dokter bilang harapan kamu tipis,” Hani berkata sambil menggenggam tanganku erat. Ada bekas tangisan di wajahnya. Aku tersenyum menenangkan. Seketika semua perhatian tertuju padaku. Aku mencoba untuk bicara.

“Han, mengenai Kak Fahri,”

“Kalo kamu nggak setuju aku nggak akan nikah sama dia. Bener, Na, aku janji,” Hani memotong perkataanku.

“Ssst, dengerin dulu. Jangan dipotong ya,” jawabku. “Aku ikhlas kamu nikah sama dia. Aku yakin kamu bisa membahagiakannya.”

“Tapi, kamu kan…”

“Dia ingin kamu yang menjadi pendampingnya, bukan aku. Aku nggak boleh memaksakan kehendak. Nggak boleh egois. Kamu mau kan, menjaga dia buat aku? Biar aku
bisa tenang.”

“Na, kamu serius?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kurasakan genggamannya semakin erat. Bulir bening jatuh membasahi pipinya. Kulihat sosok itu kembali muncul. Dia melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum mengangguk.

“Alhamdulillah, aku sudah tak punya beban lagi. Terima kasih ya, semuanya,” aku tersenyum dan memandang sekeliling. Bisa kulihat raut bingung di wajah Hani dan sahabatku yang lain. Sosok itu semakin dekat. Dia kembali mengulurkan tangannya. Kali ini kusambut uluran tangan itu dengan senyuman. Ringan, hanya ringan yang kurasa. Dia membawaku ke suatu tempat yang penuh cahaya. Tempat yang tak ada rasa sedih dan kecewa di sana.

***

*) artikel dari dudung.net (dengan sedikit perubahan).

Bekasi, 2 Maret 2008

Jauza Al Khansa’

Kala hati rindu dengan-Nya dan dengannya

Kehilangan

Setiap kita pasti akan kehilangan. Kita mungkin akan kehilangan teman, sahabat, adik, kakak, dan juga orang tua. Mereka mungkin hanya mampir sesaat dalam kehidupan kita. Ketika mereka pergi, kita pun akan merasa kehilangan. Dari sana kita dapat pelajaran: berbuat baik pada orang yg kita temui sekarang adalah lebih baik dibandingkan kita terus merindukannya ketika dia sudah pergi. Lalu, akan datang orang2 baru yg akan memberi warna di kehidupan kita. Mereka datang dan pergi. Kita pasti berharap mereka akan pergi dg perasaan yg bahagia dan mungkin mereka akan terus merindukan kita. Dan ketika mereka pergi, kita juga harus berdoa supaya kita dan mereka bisa kembali berkumpul bersama di surga yg abadi; sebuah tempat yg tidak ada datang dan pergi..

by: Haryo Mojopahit