Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 6)

Aku telah bertemu dengannya
di sebuah persimpangan jalan

sang penyembuh

seorang wanita dewasa
sekepalan lebih pendek dariku
rambutnya coklat berkilat ditekuk dalam sanggul mungil di tengkuknya

dia berbaju putih
menjinjing tas dan menenteng perban

saat kutanya mau ke mana kah dia,

dia menjawab,
aku akan merawat seorang ksatria yang terluka di pinggir hutan

ksatria ku
kataku dalam hati

aku mengikuti langkahnya,
dia pun melambatkan jalannya

di sepanjang jalan kami berbincang
dan tahu lah diriku,
dia telah mengenal sang ksatria dengan sangat baik

dan tiap kali dia mengucap namanya,
sepasang mata hitamnya berbinar

aku mengenali sorot itu
kemudian
aku sadar…
sang penyembuh begitu mencintainya

ada seleret iri melintas di hati

namun lekas ku menghapusnya
aku tak dapat membencinya

aku tak dapat membencinya
hanya karena dia mengenal sang ksatria lebih dulu dariku

aku tak dapat membencinya
hanya karena dia memegang kunci kastil yang ditinggalkan sang ksatria

aku tak dapat membencinya
karena dia begitu tulus
dan senyumnya
adalah satu hal lain yang membuatku…tidak dapat membencinya
***
ketika kami tiba di hutan,
ksatria masih berada di tempat yang sama
dan panah masih mencuat dari balik baju zirahnya

kami
berdua menghampiri
dan
ksatria pun menggumamkan sebuah nama,

“Trisna…”

sang penyembuh berlutut
dengan sabar
diusapnya peluh
dan sang ksatria pun menurut

dia mengumamkan sesuatu
dan sang ksatria pun mengangguk setuju

ketika ditawarkan agar panah dicabut
sang ksatria menggeleng
dia menerawang jauh ke atas awan
seolah sang putri ada di sana dan balik menatapnya

sang penyembuh melihat itu
dia pun tak lagi bertanya

dan dari semua makhluk di bumi,
kecuali sang ksatria sendiri,
maka sang penyembuh adalah orang yang paling mengerti

kisah sang ksatria dan putri
***
di mana aku saat itu?
aku berada di balik pohon ek raksasa
aku adalah bayangan tanpa nama

aku berdiri bersedekap
dan aku telah siap menangis
tapi tak ada air mata yang keluar
karena yang kusaksikan begitu indah

karena apa yang kuminta sebenarnya sedang terjadi di depan mata

dahulu kala…
ketika rasa tamak belum menghuni hati
aku pernah berdoa,
“Ya Tuhan, jadikanlah aku saksi bagi hidup sang ksatria yang begitu menakjubkan.
Jadikanlah aku saksi. Aku sudah puas atasnya.”

itu lah yang sedang terjadi
dan aku patah hati
***
Aku mungkin tak lagi dapat menyaksikan kelanjutan kisah nya
karena…
ketika aku berpaling beberapa detik lamanya,
sekedar untuk melihat tupai yang berlarian di atas kepalaku,

sang ksatria sudah tidak ada
dia pergi

namun di sana

sang penyembuh masih berlutut
sambil memungut guntingan perban dan ceceran pembembat

dia menoleh dan tersenyum kepadaku
dan detik itu aku pun tahu

sang penyembuh masih akan menunggu
menunggu dengan sabar
untuk waktu yang lebih lama lagi
kemudian
sang ksatria akan berada di sisinya
suatu hari nanti

itu menjadi hal yang hampir pasti
karena di suatu masa yang berselang
sang ksatria pernah berkata padaku,

“Aku akan berada di sisinya. Tidak sekarang.
Tapi aku pasti akan memilihnya. Suatu hari”

cukup sekian memoar ku tentang sang ksatria dengan panah di dadanya
karena setelah ini
kami berpisah jalan

1:34 13/02/2008

Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 5)

“…bersatu…”

Suatu hari, Pangeran kecil
saat hidup kedua sudah dimulai
saat aku berada di gerbang keputusan
saat di tangan ada lembar perjanjian agung
yang akan mengikatkan ku pada seseorang
bagai kewajiban seberat Gunung Uhud

Suatu hari, Pangeran kecil
sehari sebelumnya
atau beberapa hari sebelumnya
atau sekejap sebelumnya
saat keberanian selama bertahun-tahun terkumpul sudah
saat kenangan telah menjadi bab-bab penuh cerita
saat kebenaran mengalahkan segala

Suatu hari, Pangeran kecil
aku akan mengulang sejarah
meniru Khadijah Al Kubra
meski aku tidak seagung dirinya
meski dia tidak sebanding dengan Rasulullah tercinta

Suatu hari, Pangeran kecil
aku akan menawarkan diriku
sehari, beberapa hari, atau sekejab sebelum semua terlambat

demi bab-bab yang tertulis
demi tawa dan tangis
demi takdir

Suatu hari, Pangeran kecil
bukan sekarang
bukan saat ini

karena aku masih belia
karena nama belum menjelma rupa
karena <bahkan> nama belum terujar

dan cerita masih berupa coretan kecil
goresan main-main di pojok halaman kehidupan

seperti yang pernah seseorang bisikan padaku
di suatu masa berselang
“Biarlah berjalan dengan waktu…”

<sudahkah kau sembuh sekarang, Pangeran kecil? Ingat nasihat ku, perempuan itu beracun. Karena memang sesungguhnya obat itu sendiri adalah racun>

4:35 10/10/2007

***

Pangeran kecilku selalu menyukai dongeng tentang ksatria dengan luka di dadanya,

Pangeran kecil,
bila dia seumpama musik
maka dia adalah harmoni dinamis
yang dimainkan dengan tekanan keras di atas bilah piano
diawali dengan denting tajam lambat
kemudian berangsur sahut-menyahut
tak menyisakan celah tempo kosong

nada-nada itu, Pangeran kecil
akan membuat siapapun kelelahan
karena begitu sesak
begitu kompleks

Dia kemudian melambat
walaupun masih diselingi loncatan-loncatan
Aku tahu, pangeran kecil
itu adalah fase di mana ada penyangkalan timbul di celah hatinya
Namun aku tahu, Pangeran kecil
gasing tidak terus berputar selamanya
begitu juga tornado, dia akan melemah dan menjadi angin sepoi
meninggalkan semua yang tersisa di belakang
menuju tempat baru

Elang pun…meski terbang sendirian pasti akan kembali ke sarang

Begitulah,
lagu itu, tak terhindarkan lagi, diakhiri
dengan perlahan…sehalus bisikan cinta sang kekasih di tengah malam

Itulah di mana
suatu hari ksatria akan lelah
kemudian berpikir untuk hidup tenang di tepi hutan
sambil menanam jagung,
menunggu seseorang yang dicintainya pulang
dan membawa ikan dari pasar

Kau ingin mengunjunginya, Pangeran kecilku?
baiklah,
tapi sebelumnya kita harus mampir ke toko ikan

8:29 01/01/2008

***

Ketika semuanya memudar
ketika akal sehat kembali ke dalam tempurung kepala–tempat di mana seharusnya mereka berada
ketika mimpi terputus oleh kokok ayam jantan di pagi hari
ketika cinta…ketika cinta…tak tampak seperti sebelumnya
ketika cinta…ternyata hanya kegilaan sesaat

ketika aku sampai di titik itu
tak ada kata lain yang lebih baik, meskipun menyakitkan
selain berkata
“Selamat tinggal, Ksatria.”

maaf
aku tidak bisa menunggu
bila suatu hari kita bertemu
maka…
anggap saja
doaku di Padang Arafah terkabul

***

Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 4)

Ode untuk sang Putri

Seorang gadis duduk di ujung pelangi
dia tidak mencari emas Leperchaun
“Dari sini dunia tampak lebih indah”
katanya

Seorang gadis dan telur bertahtahkan permata
“Berlian adalah sahabat terbaik wanita”
dia pun tertawa

tawa yang halus
tawa yang terngiang sampai berabad lamanya

Seorang gadis mendongak
langit penuh bintang
“Itu tempat ku kelak karena telah kutemukan kebenaran sejati”

tangannya bergetar saat menyentuh detak lemah tersendat di dada kiri
“Waktu ku hampir habis”

gadis itu memandang sepasang mata kelabu sang kekasih
yang digenangi air mata

“Aku mencintai mu, dan jangan pernah berhenti mencintai ku”

“Aku berjanji”

Gadis itu tersenyum
senyum yang tak akan lekang walaupun waktu berlalu

setidaknya dalam memori sang kekasih–sang ksatria dengan panah tertancap di dadanya

17:10 26/12/2007

***

Aku takut…
aku takut tidak dapat menyelesaikan pertandingan ini

Aku takut…
Aku takut tidak mampu berlari hingga batas akhir

Aku takut…
Aku takut sedikit demi sedikit merasakan cinta yang memudar
dikikis waktu

apakah ini hanya bias perjumpaan
kata-kata yang memantul dalam ingatan
kemudian menciptakan diri menjadi imaji

Aku takut…
untuk menanggung pernyataan,
“Aku sedang tidak jatuh cinta <lagi>”

Aku takut…
Aku takut pada sang Putri di ujung pelangi
Aku takut akan kenangan yang dia torehkan
betapa dalam
betapa indah…

Aku takut…
Aku takut aku bukan apa-apa
sekedar senyum menyedihkan di sebuah kotak
yang mengemis-ngemis untuk disapa

17:08 26/12/2007

***

Jangan bersedih Ksatria kesepian,
perjalananmu amat panjang memang
musim dingin urung pergi
sedang tubuh tegapmu mulai rapuh
sepasang kaki membeku kaku pada sendinya
khawatir pecah saat melangkah

Lantas diam adalah yang terbaik,
begitukah?

Jangan bersedih Ksatria penagih janji,
ingatkah sumpahku di hari lalu
ketika langit tak berwarna selain biru
dan kita masih sangat belia

“Berpisah untuk bertemu.
Aku menunggu, kau ‘kan mencariku.
Aku terlupakan begitu pula dirimu.
Bertemu untuk berpisah.
Perpisahan tiada abadi.
Namun pertemuan setelahnya akan selamanya,
kita tahu itu.”

Jangan bersedih Ksatria pendamba rona,
ada tunas muda muncul dari selubung es
kelak
ada daisy kuning mengangguk-angguk mengantuk dibuai angin hangat
pasti
ada anggur ranum sewaktu dedaunan berubah coklat

dan kau tidak dapat melihatnya dari tempatmu berdiri sekarang
maka

berlari walau tanpa kaki
tinggalkan yang pecah, biarlah
raga hanya kepompong busuk bila
jiwa terpenjara ragu ‘tuk jadi kupu-kupu

Jangan bersedih Ksatria belahan jiwa,
yakinkan sang putri ada di balik tirai
yang kau sibak sewaktu senja

dan saat itu,
pencarianmu berakhir sudah

jemari terkait songsong hari yang tersisa
berdua menoreh sajak berwarna hingga akhirnya
tinta mengering

satu lagi perpisahan harus terlewati

Jangan bersedih Ksatria,
padamu lah seribu kali hatiku persembahkan
satu padang berumput hijau tlah menanti kita
di mana hari tak pernah berlalu
pekat malam mustahil hadir tanpa pendar bintang keperakan
dan
wangi udara tah melebihi segala
bahkan sengat matahari tak lagi menyakitkan
hujan turun dengan takaran

Aku ada di situ
meringkuk lelap lewati waktu…
menunggumu

<menyedihkan…dinarasikan oleh sang putri untuk sang Ksatria
dan aku bukan lah sang putri
aku adalah seorang penulis yang begitu takjub akan keindahan kisah cinta keduanya…
Romeo and Juliet dalam versi yang masuk akal
karena Romeo tetap hidup meski dengan hati yang mati
dan Juliet sedikit lebih tua dari kisahnya>

Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 3)

Pangeran kecilku,
apa yang harus kulakukan, setiap kali kulihat sang ksatria menangis
meratapi masa lalunya dalam tawa sumbang
yang mengiris hati

membisikkan nama sang putri
yang telah terbang ke utara bersama burung-burung
yang telah memilih tempat yang lebih baik…
jauh di batas langit dan bumi

***

Aku ingin sekali mengucapkan perpisahan
pada anganku
pada harapku
pada khayalku
pada mimpiku
semua tentang sang ksatria

aku ingin sekali menghapus
semua tulisanku
semua puisiku
semua esaiku
yang bernafaskan dirinya

aku ingin sekali berteriak pada semua orang bahwa
aku keracunan!
tolong aku!

“Somebody! Call 911!”

aku tenggelam
tangan ku menggapai-gapai udara
melambai panik pada helikopter tim SAR
pada orang-orang berbaju oranye
yang bergelantungan pada tali yang bergetar hebat

aku tenggelam
aku ingin ditarik keluar
tapi
sebelah kakiku membelitkan diri
pada kelpie
pada rumput laut yang berlendir
berharap bisa menahanku tetap di air
berharap bisa…

aku tidak tahu
apa yang harus kulakukan
ketika bertahan semakin berat
ketika seolah aku harus memilih
padahal tidak ada pilihan

bisakah aku berkata pada orang-orang yang mengulurkan tangannya padaku,
“tunggu sesaat”
padahal sesaat bisa jadi seumur hidup

bisakah aku berkata pada ksatria,
“Aku muak pada rengekmu. Lihatlah dunia! Mereka semua sudah berubah”

Aku berpaling pada helikopter yang menderu
“Adakah kesempatan kedua? Adakah ksatria lain?”

Aku berpaling pada ksatria dalam gelembung,
lukanya masih menganga,
“Adakah sedikit saja namaku dalam sejarahmu?”

Dan tiba-tiba
tak ada suara
telingaku teredam
tak ada yang terdengar

tak ada yang menjawab

dan aku terjebak di tengah-tengah

***

tidak ada klausa yang dapat menggambarkan
keadaan ku dengan lebih baik lagi
selain

berbeda 180 derajat

saat aku memandang langit malam yang penuh bintang
dan berandai
apakah dia melihat hal yang sama

jawabannya tidak

karena langitnya sangat terang
sinar menyilaukan menyinari begitu dia mendongak
dan satu-satunya bintang yang dilihatnya adalah matahari

saat aku berpikir tentangnya
dan berandai
apakah dia memikirkan hal yang sama

<berbeda 180 derajat>

jawabannya tidak

17:36 28/10/2007

***

Aku memohon pada Tuhan
“Jangan biarkan dia lepas dariku,
biarkan aku di sini lebih lama
bicara
tertawa
dan
menangis dalam bisu”

Aku berteriak pada semesta,
“mengapa ada orang sepertinya?
apakah wujudnya hanya sebagai bukti bagiku
bahwa
harap bisa jadi nyata
meski tidak untuk dimiliki”

Pangeran kecil,
itu lah kisah ku

aku masih di sini
mengemis rahasia kecil berharga yang menetes
dalam jam pasir nya yang kaya akan cerita

akan luas nya dunia
dalam nya ilmu
langit yang ternyata tidak selalu biru
kesetiaan terhadap cinta sejati
kepolosan bocah
kemarahan teredam
hati yang mati

meskipun begitu
aku tetap saja terpaku
menunggu nya tiba
dan terus bertanya-tanya
apa lagi yang akan diceritakan nya hari ini

6:24 25/11/2007

9:42 17/10/2007

Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 2)

Ada luka menganga di hatinya,
ada harap tak terucap di bibirnya,
ada kenangan tak terlupa di ingatannya,

ksatria ku yang terluka,
bersandar sambil memegangi dada
dua anak panah yang menancap

darah mengalir
sakit tak terperi
tapi Ksatria ku tetap membisu

Pangeran kecil ku,
dia adalah Ksatria yang sering kuceritakan padamu
dia yang akan kutunggu sampai batas waktu
karena waktu ku tidak lama
karena cinta adalah karena pada satu alasan yang taktergugat

Pangeran kecilku,
belajar lah darinya
dari keangkuhan sepasang telapaknya yang tak pernah tertengadah

tidak juga,
dia pernah melakukannya dulu
dulu sekali
ketika dunia masih begitu muda
ketika ksatria dan putri tercintanya masih bersama
musim panas sepanjang tahun
krim dan buah yang melimpah
musim gugur pendek
hanya untuk memamerkan bahwa daun merah juga dapat mempesona
musim dingin yang indah
dengan salju putih sehangat mentari
musim semi datang
membawa kabar dari surga…

Ya, pangeran kecil ku,
aku bukanlah putri yang dapat mengembalikan tawa sang ksatria

aku hanyalah…
entah

Bagaimana kau memandangku, pangeran kecil?
Siapakah aku?

Aku adalah
pendengar yang setia
penulis yang bersemangat
yang akan merekam hidup nya

Pangeran kecilku,
kenapa aku bisa seperti ini…
sedih dan gembira
sesak dan lega
dalam waktu yang sama?

<Pangeran kecilku ternyata sudah terlelap sejak tadi. Dan ternyata aku bicara seorang diri…>

4:38 06/10/2007

Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 1)

Sekedar petunjuk:

“Aku” di sini adalah seorang perempuan yang terus menerus bicara tentang “sang ksatria”.
“Aku” kadang bercerita kepada “sang pangeran”, anak laki-laki berumur sepuluh tahun yang sangat menyukai dongeng2 tentang “sang ksatria”.

Sang ksatria
adalah laki-laki berbaju zirah yang datang dari antah berantah
tiba-tiba dia sudah ada di tepi hutan dekat tempat tinggal “aku” dengan dua panah yang menancap di dadanya
“aku” tidak tahu apa-apa sebelumnya
tapi seiring waktu
“aku” pun tahu bahwa

sang ksatria punya masa lalu
dan luka di dadanya berkaitan dengan “sang putri” yang entah di mana rimbanya kini

sedangkan…
di sisi lain ada “sang penyembuh”
dia adalah sahabat sang ksatria
yang juga mencintainya

dan “aku” sangat yakin
kalau keduanya–sang penyembuh dan ksatria
akan bersatu pada akhirnya
<meskipun baru-baru ini saja “aku” sadar>

***

Pangeran kecilku, apa yang sedang kau pandangi?

sepasang mataku yang berwarna lembayung
yang telah banyak melihat dunia
yang telah banyak menangisi kisah

sepasang telapak tanganku yang pucat
yang tidak pernah kuserahkan pada siapapun untuk digenggam
yang tidak pernah menyentuh apa pun yang tidak patut aku sentuh

Pangeran kecilku, apa yang ingin kau tanyakan?

hm.
aku telah menjelajahi banyak tempat.
padang beku di utara, gurun pasir dengan unta berpunuk dua
naik gondola di bawah jembatan,
berlari-lari di savana bersama gazette
bermandikan cahaya matahari di bulan desember
memandangi gugusan bintang dari balik layar kapal

hm.
aku menangisi daun-daun yang berubah warna
aku menangisi burung-burung yang terbang ke selatan
aku menangisi aurora yang berpendar di langit kutub
aku menangisi buah ginko yang beracun
aku menangisi salju yang turun di bulan Juli

aku menangisi banyak hal
terutama
karena dia tidak bersama ku waktu itu

Pangeran kecilku, apa yang kau takutkan?

tidak ada monster di kolong tempat tidurmu
dan aku ada di sini
duduk di sampingmu meski tak dapat memberimu pelukan

hm.
Aku selalu mengatakan aku tidak mungkin bersamamu
karena
aku sedang menunggu ksatria ku
dia yang masih menyembuhkan luka-luka
masa lalu nya

Ya, pangeran kecilku
seperti Penelope,
aku akan menunggunya
meski itu memakan waktu lama

hm.
Bila dia tak kunjung kembali…
entahlah, Pangeran kecilku
entahlah

untuk sekarang
aku hanya dapat menunggu
dan kau harus tidur

karena bulan sudah condong ke barat

Ada apa, Pangeran kecilku?

Tidak. Tidak.
Bukankah kau harus menjemput sang putri?
putri yang selalu hadir dalam mimpimu di malam hari
yang kau ceritakan padaku di siang harinya

Aku tidak mungkin menjadi sang Putri.
Bukan kah begitu?
Jawablah aku, Pangeran kecilku

Mungkin, ya?
Entah,
yang pasti kau harus segera tidur.
jangan kau pandangi aku seperti itu…

Baiklah,
sebuah lagu pendek saja

…some day, when i’m awfully low,
when the world is cold,
i will feel a glow just thinking of you…
and the way you look tonight

yes you’re lovely, with your smile so warm
and your cheeks so soft,
there is nothing for me but to love you,
and the way you look tonight…

<dan aku melihat kau terlelap dengan senyum yang melelehkan hati. Pangeran kecilku.>
0:01 01/10/2007

sumber: dudung.net