Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 1)

Sekedar petunjuk:

“Aku” di sini adalah seorang perempuan yang terus menerus bicara tentang “sang ksatria”.
“Aku” kadang bercerita kepada “sang pangeran”, anak laki-laki berumur sepuluh tahun yang sangat menyukai dongeng2 tentang “sang ksatria”.

Sang ksatria
adalah laki-laki berbaju zirah yang datang dari antah berantah
tiba-tiba dia sudah ada di tepi hutan dekat tempat tinggal “aku” dengan dua panah yang menancap di dadanya
“aku” tidak tahu apa-apa sebelumnya
tapi seiring waktu
“aku” pun tahu bahwa

sang ksatria punya masa lalu
dan luka di dadanya berkaitan dengan “sang putri” yang entah di mana rimbanya kini

sedangkan…
di sisi lain ada “sang penyembuh”
dia adalah sahabat sang ksatria
yang juga mencintainya

dan “aku” sangat yakin
kalau keduanya–sang penyembuh dan ksatria
akan bersatu pada akhirnya
<meskipun baru-baru ini saja “aku” sadar>

***

Pangeran kecilku, apa yang sedang kau pandangi?

sepasang mataku yang berwarna lembayung
yang telah banyak melihat dunia
yang telah banyak menangisi kisah

sepasang telapak tanganku yang pucat
yang tidak pernah kuserahkan pada siapapun untuk digenggam
yang tidak pernah menyentuh apa pun yang tidak patut aku sentuh

Pangeran kecilku, apa yang ingin kau tanyakan?

hm.
aku telah menjelajahi banyak tempat.
padang beku di utara, gurun pasir dengan unta berpunuk dua
naik gondola di bawah jembatan,
berlari-lari di savana bersama gazette
bermandikan cahaya matahari di bulan desember
memandangi gugusan bintang dari balik layar kapal

hm.
aku menangisi daun-daun yang berubah warna
aku menangisi burung-burung yang terbang ke selatan
aku menangisi aurora yang berpendar di langit kutub
aku menangisi buah ginko yang beracun
aku menangisi salju yang turun di bulan Juli

aku menangisi banyak hal
terutama
karena dia tidak bersama ku waktu itu

Pangeran kecilku, apa yang kau takutkan?

tidak ada monster di kolong tempat tidurmu
dan aku ada di sini
duduk di sampingmu meski tak dapat memberimu pelukan

hm.
Aku selalu mengatakan aku tidak mungkin bersamamu
karena
aku sedang menunggu ksatria ku
dia yang masih menyembuhkan luka-luka
masa lalu nya

Ya, pangeran kecilku
seperti Penelope,
aku akan menunggunya
meski itu memakan waktu lama

hm.
Bila dia tak kunjung kembali…
entahlah, Pangeran kecilku
entahlah

untuk sekarang
aku hanya dapat menunggu
dan kau harus tidur

karena bulan sudah condong ke barat

Ada apa, Pangeran kecilku?

Tidak. Tidak.
Bukankah kau harus menjemput sang putri?
putri yang selalu hadir dalam mimpimu di malam hari
yang kau ceritakan padaku di siang harinya

Aku tidak mungkin menjadi sang Putri.
Bukan kah begitu?
Jawablah aku, Pangeran kecilku

Mungkin, ya?
Entah,
yang pasti kau harus segera tidur.
jangan kau pandangi aku seperti itu…

Baiklah,
sebuah lagu pendek saja

…some day, when i’m awfully low,
when the world is cold,
i will feel a glow just thinking of you…
and the way you look tonight

yes you’re lovely, with your smile so warm
and your cheeks so soft,
there is nothing for me but to love you,
and the way you look tonight…

<dan aku melihat kau terlelap dengan senyum yang melelehkan hati. Pangeran kecilku.>
0:01 01/10/2007

sumber: dudung.net

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s