Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 3)

Pangeran kecilku,
apa yang harus kulakukan, setiap kali kulihat sang ksatria menangis
meratapi masa lalunya dalam tawa sumbang
yang mengiris hati

membisikkan nama sang putri
yang telah terbang ke utara bersama burung-burung
yang telah memilih tempat yang lebih baik…
jauh di batas langit dan bumi

***

Aku ingin sekali mengucapkan perpisahan
pada anganku
pada harapku
pada khayalku
pada mimpiku
semua tentang sang ksatria

aku ingin sekali menghapus
semua tulisanku
semua puisiku
semua esaiku
yang bernafaskan dirinya

aku ingin sekali berteriak pada semua orang bahwa
aku keracunan!
tolong aku!

“Somebody! Call 911!”

aku tenggelam
tangan ku menggapai-gapai udara
melambai panik pada helikopter tim SAR
pada orang-orang berbaju oranye
yang bergelantungan pada tali yang bergetar hebat

aku tenggelam
aku ingin ditarik keluar
tapi
sebelah kakiku membelitkan diri
pada kelpie
pada rumput laut yang berlendir
berharap bisa menahanku tetap di air
berharap bisa…

aku tidak tahu
apa yang harus kulakukan
ketika bertahan semakin berat
ketika seolah aku harus memilih
padahal tidak ada pilihan

bisakah aku berkata pada orang-orang yang mengulurkan tangannya padaku,
“tunggu sesaat”
padahal sesaat bisa jadi seumur hidup

bisakah aku berkata pada ksatria,
“Aku muak pada rengekmu. Lihatlah dunia! Mereka semua sudah berubah”

Aku berpaling pada helikopter yang menderu
“Adakah kesempatan kedua? Adakah ksatria lain?”

Aku berpaling pada ksatria dalam gelembung,
lukanya masih menganga,
“Adakah sedikit saja namaku dalam sejarahmu?”

Dan tiba-tiba
tak ada suara
telingaku teredam
tak ada yang terdengar

tak ada yang menjawab

dan aku terjebak di tengah-tengah

***

tidak ada klausa yang dapat menggambarkan
keadaan ku dengan lebih baik lagi
selain

berbeda 180 derajat

saat aku memandang langit malam yang penuh bintang
dan berandai
apakah dia melihat hal yang sama

jawabannya tidak

karena langitnya sangat terang
sinar menyilaukan menyinari begitu dia mendongak
dan satu-satunya bintang yang dilihatnya adalah matahari

saat aku berpikir tentangnya
dan berandai
apakah dia memikirkan hal yang sama

<berbeda 180 derajat>

jawabannya tidak

17:36 28/10/2007

***

Aku memohon pada Tuhan
“Jangan biarkan dia lepas dariku,
biarkan aku di sini lebih lama
bicara
tertawa
dan
menangis dalam bisu”

Aku berteriak pada semesta,
“mengapa ada orang sepertinya?
apakah wujudnya hanya sebagai bukti bagiku
bahwa
harap bisa jadi nyata
meski tidak untuk dimiliki”

Pangeran kecil,
itu lah kisah ku

aku masih di sini
mengemis rahasia kecil berharga yang menetes
dalam jam pasir nya yang kaya akan cerita

akan luas nya dunia
dalam nya ilmu
langit yang ternyata tidak selalu biru
kesetiaan terhadap cinta sejati
kepolosan bocah
kemarahan teredam
hati yang mati

meskipun begitu
aku tetap saja terpaku
menunggu nya tiba
dan terus bertanya-tanya
apa lagi yang akan diceritakan nya hari ini

6:24 25/11/2007

9:42 17/10/2007

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s