Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 4)

Ode untuk sang Putri

Seorang gadis duduk di ujung pelangi
dia tidak mencari emas Leperchaun
“Dari sini dunia tampak lebih indah”
katanya

Seorang gadis dan telur bertahtahkan permata
“Berlian adalah sahabat terbaik wanita”
dia pun tertawa

tawa yang halus
tawa yang terngiang sampai berabad lamanya

Seorang gadis mendongak
langit penuh bintang
“Itu tempat ku kelak karena telah kutemukan kebenaran sejati”

tangannya bergetar saat menyentuh detak lemah tersendat di dada kiri
“Waktu ku hampir habis”

gadis itu memandang sepasang mata kelabu sang kekasih
yang digenangi air mata

“Aku mencintai mu, dan jangan pernah berhenti mencintai ku”

“Aku berjanji”

Gadis itu tersenyum
senyum yang tak akan lekang walaupun waktu berlalu

setidaknya dalam memori sang kekasih–sang ksatria dengan panah tertancap di dadanya

17:10 26/12/2007

***

Aku takut…
aku takut tidak dapat menyelesaikan pertandingan ini

Aku takut…
Aku takut tidak mampu berlari hingga batas akhir

Aku takut…
Aku takut sedikit demi sedikit merasakan cinta yang memudar
dikikis waktu

apakah ini hanya bias perjumpaan
kata-kata yang memantul dalam ingatan
kemudian menciptakan diri menjadi imaji

Aku takut…
untuk menanggung pernyataan,
“Aku sedang tidak jatuh cinta <lagi>”

Aku takut…
Aku takut pada sang Putri di ujung pelangi
Aku takut akan kenangan yang dia torehkan
betapa dalam
betapa indah…

Aku takut…
Aku takut aku bukan apa-apa
sekedar senyum menyedihkan di sebuah kotak
yang mengemis-ngemis untuk disapa

17:08 26/12/2007

***

Jangan bersedih Ksatria kesepian,
perjalananmu amat panjang memang
musim dingin urung pergi
sedang tubuh tegapmu mulai rapuh
sepasang kaki membeku kaku pada sendinya
khawatir pecah saat melangkah

Lantas diam adalah yang terbaik,
begitukah?

Jangan bersedih Ksatria penagih janji,
ingatkah sumpahku di hari lalu
ketika langit tak berwarna selain biru
dan kita masih sangat belia

“Berpisah untuk bertemu.
Aku menunggu, kau ‘kan mencariku.
Aku terlupakan begitu pula dirimu.
Bertemu untuk berpisah.
Perpisahan tiada abadi.
Namun pertemuan setelahnya akan selamanya,
kita tahu itu.”

Jangan bersedih Ksatria pendamba rona,
ada tunas muda muncul dari selubung es
kelak
ada daisy kuning mengangguk-angguk mengantuk dibuai angin hangat
pasti
ada anggur ranum sewaktu dedaunan berubah coklat

dan kau tidak dapat melihatnya dari tempatmu berdiri sekarang
maka

berlari walau tanpa kaki
tinggalkan yang pecah, biarlah
raga hanya kepompong busuk bila
jiwa terpenjara ragu ‘tuk jadi kupu-kupu

Jangan bersedih Ksatria belahan jiwa,
yakinkan sang putri ada di balik tirai
yang kau sibak sewaktu senja

dan saat itu,
pencarianmu berakhir sudah

jemari terkait songsong hari yang tersisa
berdua menoreh sajak berwarna hingga akhirnya
tinta mengering

satu lagi perpisahan harus terlewati

Jangan bersedih Ksatria,
padamu lah seribu kali hatiku persembahkan
satu padang berumput hijau tlah menanti kita
di mana hari tak pernah berlalu
pekat malam mustahil hadir tanpa pendar bintang keperakan
dan
wangi udara tah melebihi segala
bahkan sengat matahari tak lagi menyakitkan
hujan turun dengan takaran

Aku ada di situ
meringkuk lelap lewati waktu…
menunggumu

<menyedihkan…dinarasikan oleh sang putri untuk sang Ksatria
dan aku bukan lah sang putri
aku adalah seorang penulis yang begitu takjub akan keindahan kisah cinta keduanya…
Romeo and Juliet dalam versi yang masuk akal
karena Romeo tetap hidup meski dengan hati yang mati
dan Juliet sedikit lebih tua dari kisahnya>

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s