Salam perpisahanku untuk Ksatria “dengan dua panah di dadanya” (part 5)

“…bersatu…”

Suatu hari, Pangeran kecil
saat hidup kedua sudah dimulai
saat aku berada di gerbang keputusan
saat di tangan ada lembar perjanjian agung
yang akan mengikatkan ku pada seseorang
bagai kewajiban seberat Gunung Uhud

Suatu hari, Pangeran kecil
sehari sebelumnya
atau beberapa hari sebelumnya
atau sekejap sebelumnya
saat keberanian selama bertahun-tahun terkumpul sudah
saat kenangan telah menjadi bab-bab penuh cerita
saat kebenaran mengalahkan segala

Suatu hari, Pangeran kecil
aku akan mengulang sejarah
meniru Khadijah Al Kubra
meski aku tidak seagung dirinya
meski dia tidak sebanding dengan Rasulullah tercinta

Suatu hari, Pangeran kecil
aku akan menawarkan diriku
sehari, beberapa hari, atau sekejab sebelum semua terlambat

demi bab-bab yang tertulis
demi tawa dan tangis
demi takdir

Suatu hari, Pangeran kecil
bukan sekarang
bukan saat ini

karena aku masih belia
karena nama belum menjelma rupa
karena <bahkan> nama belum terujar

dan cerita masih berupa coretan kecil
goresan main-main di pojok halaman kehidupan

seperti yang pernah seseorang bisikan padaku
di suatu masa berselang
“Biarlah berjalan dengan waktu…”

<sudahkah kau sembuh sekarang, Pangeran kecil? Ingat nasihat ku, perempuan itu beracun. Karena memang sesungguhnya obat itu sendiri adalah racun>

4:35 10/10/2007

***

Pangeran kecilku selalu menyukai dongeng tentang ksatria dengan luka di dadanya,

Pangeran kecil,
bila dia seumpama musik
maka dia adalah harmoni dinamis
yang dimainkan dengan tekanan keras di atas bilah piano
diawali dengan denting tajam lambat
kemudian berangsur sahut-menyahut
tak menyisakan celah tempo kosong

nada-nada itu, Pangeran kecil
akan membuat siapapun kelelahan
karena begitu sesak
begitu kompleks

Dia kemudian melambat
walaupun masih diselingi loncatan-loncatan
Aku tahu, pangeran kecil
itu adalah fase di mana ada penyangkalan timbul di celah hatinya
Namun aku tahu, Pangeran kecil
gasing tidak terus berputar selamanya
begitu juga tornado, dia akan melemah dan menjadi angin sepoi
meninggalkan semua yang tersisa di belakang
menuju tempat baru

Elang pun…meski terbang sendirian pasti akan kembali ke sarang

Begitulah,
lagu itu, tak terhindarkan lagi, diakhiri
dengan perlahan…sehalus bisikan cinta sang kekasih di tengah malam

Itulah di mana
suatu hari ksatria akan lelah
kemudian berpikir untuk hidup tenang di tepi hutan
sambil menanam jagung,
menunggu seseorang yang dicintainya pulang
dan membawa ikan dari pasar

Kau ingin mengunjunginya, Pangeran kecilku?
baiklah,
tapi sebelumnya kita harus mampir ke toko ikan

8:29 01/01/2008

***

Ketika semuanya memudar
ketika akal sehat kembali ke dalam tempurung kepala–tempat di mana seharusnya mereka berada
ketika mimpi terputus oleh kokok ayam jantan di pagi hari
ketika cinta…ketika cinta…tak tampak seperti sebelumnya
ketika cinta…ternyata hanya kegilaan sesaat

ketika aku sampai di titik itu
tak ada kata lain yang lebih baik, meskipun menyakitkan
selain berkata
“Selamat tinggal, Ksatria.”

maaf
aku tidak bisa menunggu
bila suatu hari kita bertemu
maka…
anggap saja
doaku di Padang Arafah terkabul

***

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s