Eps 1 : Cerita Cinta Bunda

Oleh: Tiar Nurita Qadarsih

Pada akad nikahku aku akan mengenakan kebaya putih yang padat dengan detil payet. Pada resepsiku akan dilaksanakan di gedung yang luas,dekorasi ala arabian night yang mewah. Gaun kuning keemasan menjuntai hingga menyentuh lantai, rambutku di hair do ,sebagian tergerai bergelombang alami dan tiara berkilau menghiasi atas kepalaku. Senyumku mengembang sempurna ketika sahabat dan handai taulan satu persatu menyalamiku dang mengucapkan “selamat menempuh hidup baru”.

Suamiku berdiri dengan gagah di sampingku,dengan pakaian seragam yang membuatnya tampak begitu kokoh dan aku terlindungi dengan sempurna. Senyumnya tak pernah surut, menunjukkan kebahagiaan yang nyata. Sesekali kami bersitatap dan tersenyum sambil mengedipkan mata. Seolah berkata, ” aku mencintaimu” dan aku akan kesulitan menahan tubuhku agar tak melompat minta digendong.

Tapi bukan itu yang terjadi di pernikahanku.

Aku gelisah menunggu di kamar,sesekali melirik Alit,calon keponakanku yang berumur 5 tahun sedang berguling-guling di pembaringanku. Tidak,tidak dengan kebaya putih dengan detil payet-payet Jepang yang menjadi sandangku, melainkan sebuah gamis berwarna biru laut, warna kesukaan calon suamiku. Juga tiada tiara berkilau di atas kepalaku melainkan tertutup jilbab berwarna senada.

Sudah lebih dari sejam, tausiyah perkawinan yang diberikan oleh penghulu masih belum usai. Doa`a-do`a dipanjatkan dan aku turut mengamini.
Calon suamiku sedang mengucapkan akad nikah. Telingaku menyimak dengan cermat. Suaranya lembut menenangkan. Jantungku seakan berhenti sepersekian detik, nafasku juga tertahan hingga suara kencang “Saaaaaaahhhhh” bergema di rumah mungil ini.

“Alhamdulillah” aku mengurut dadaku, mataku berkaca-kaca. Kuraih Alit yang sedang asik bergulingan, memeluknya erat, kemudian menciumi kedua pipinya yang tembem menggemaskan. Kepalanya bergerak-gerak menghindari hujan kecupanku.

“Tante Mirna… A.lit.gak.bi.sa.na.pas” kedua belah tangan mungilnya mendorong tubuhku menjauh,dan aku baru tersadar,aku baru saja akan menghancurkan kebahagiaan hatiku dengan melakukan tindakan penganiayaan pada keponakanku.

Pintu kamarku terbuka. Suamiku berdiri disana, memandangku dengan wajah teduhnya. Aku buru-buru menurunkan Alit. Menundukkan pandanganku, namun sesekali mencuri pandang menatapnya. “Subhanallah…” desisku. Dia memang tak menggunakan pakaian kuning keemasan seperti yang kuimpikan ketika masih kecil dulu, tapi ada satu yang tak berubah. Dia layaknya pangeran gagahku, membuatku terlindungi.

“Om Irsyad ganteng……” Alit menggapai-gapai minta digendong, menyelamatkanku dari tatapan Irsyad, suamiku, yang membuatku salah tingkah.

“Eh..eh…Alit, ayo ikut nenek saja yaa…tuuuh..ada es krim.ya?” Ibu mertuaku, ah pipiku bersemu merah mengingat beliau telah menjadi ibu mertuaku, dengan mudah mengalihkan perhatian Alit. Ibu lantas menutup pintu kamar kami.

“Loh?” aku gugup,tanganku terangkat ke arah pintu. Panik mulai menyergapku. Demi menenangkan hati, aku duduk di sisi ranjang berseprai biru muda. Kurasakan Irsyad berjalan mendekatiku.

“Assalammualaikum..” sapanya.
Aduh, hatiku mencelos. Suaranyaaa…suaranyaaa..membuatku bergetar hebat. Aku ingin melonjak-lonjak..ingin segera memeluknya dengan erat.

Tapi bibirku kelu.

Usai shalat sunnah berjamaah, dia menatapku, aku melipat mukenaku dan pertama kalinya aku menjabat tangannya dan menciumnya.
Dia kemudian mendongakkan kepalaku lalu mencium kening.

Seketika aku merasa telah mengenalnya sepanjang usiaku. Seketika aku merasakan cinta yang begitu mendalam. Seketika lebur sudah segala “malu-malu kucing”ku.

Dia menghela nafas, “ada apa?” tanyaku.
“Ternyata hajar aswad itu harum sekali..” senyumnya tersungging, aku membuncah.
“Pernah menciumnya?” tanyaku
“baru sekali..”
“kapan?”
“baru saja..”

Aku celingukan. Sungguh tak mengerti. Hajar Aswad?

“Tadi, ustadz nya bilang, mencium kening istri setelah shalat berjamaah setimpal dengan mencium hajar Aswad, jadi enak ya, nikah itu paket hemat. Udah dapat separuh agama, bisa bolak-balik mencium hajar aswad pula. Apalagi kalau hajar aswadnya berparas cantik begini..”

Otot pipiku tertarik ke atas, wajahku menghangat.

Terimakasih, ya Robb…

Mirna Annisa – Irsyad Ilham

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s