Eps 2 : Cerita Cinta Ayah

Sepertinya aku harus berterimakasih pada Alit. Mungkin nanti, ketika Alit sudah mengerti apa arti mak comblang.

Satu tahun lalu, Play Group tempat Alit bermain (well,namanya saja play –> main) mengadakan kunjungan wisata ke Kebun Binatang. Semalaman Alit bawel menanyaiku nama-nama hewan. Bukan sekedar nama hewan saja,tapi pertanyaan itu akan merembet kemana-mana.

“Om Irsyad, yang ini apa namanya?” Alit menyodorkan gambar hewan berwarna keabu-abuan dengan belalai panjang terangkat.
“Gajah” jawabku singkat,pandangan mataku belum teralih dari layar komputerku. Asyik sekali aku bermain-main di dunia maya.
“Kok lebih besar dari kuda nil yang tadi ya Om?” Alit tetap di sampingku.
“Memang”
“Emang besar gajah,Om?”
“Iya,besar. Besar sekali”
“Seberapa Om?”

Demi membuat Alit diam akhirnya aku mengalihkan pandanganku dari layar komputer, menatap si Alit dan membuat lingkaran besar di udara dari kedua tanganku, “Seginiiiiiii……” ucapku.

Mata Alit membulat,”whaaa….besar Alit dong Om”
Fine,rupanya Alit nyata-nyata menganggap gajah sebesar lingkaran di udara yang telah ku buat. Untuk mengembalikan pikiran Alit ke arah yang benar, aku membuat bentuk gajah di udara sebesar ruang tamu di rumah.

Itu masih satu hewan,bayangkan saja ada berapa banyak hewan di buku mewarnainya. Selama itu waktuku habis meladeni ocehannya.

Esok paginya ternyata Ibu sedang sibuk membuat kue-kue kering pesanan tetangga. Jadilah lagi-lagi aku yang ketiban menemani Alit bersama rombongan bermainnya.

“Tolong ya Irsyad, kasihan Alit kalau butuh apa-apa.”
Manalah mungkin aku menolak permohonan Ibu.

Mungkin semesta memang membuatnya begitu.
—————–

Di Kebun Binatang

Alit berlarian kesana-kemari, mataku harus awas melihatnya. Si kecil itu mudah sekali membuatku cemas. Dari satu kandang ke kandang lain. Tapi ketika Alit mulai membuka mulutnya hendak bertanya,aku bergegas sembunyi. Biarlah gurunya saja yang meladeni Alit,dia dibayar untuk itu bukan?

Tak berapa lama kemudian aku menyadari itu salah.

Rombongan Alit hilang dari jangkauan pandanganku, berkeliling aku mencari di Kebun Binatang terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Kemudian aku melihat rombongan tersebut mengantri untuk menaiki sampan.

Aku bergegas menghampiri mereka. Tapi Alit tidak ada.
Aku bersitegang dengan guru Alit,dia ngotot Alit mengikutiku ketika aku lepas dari rombongan.

Amarahku sudah di ubun-ubun,tapi aku khawatir sementara aku masih bersitegang disana Alit sudah semakin jauh.

Semua cara aku lakukan,mulai mengelilingi kebun binatang hingga terduduk kelelahan di pusat informasi. Tapi semuanya nihil. Alit benar-benar tidak ditemukan.
Petugas keamanan bergerak mencari Alit berbekal fotonya yang kubawa di dompetku.

Tapi hingga 3 jam kemudian,Alit masih tak dapat kulihat.
Tanganku menimang-nimang handphone,berpikir berulang kali untuk mengabari Ibu di rumah. Tapi berulang kali pula kuurungkan.

Petugas sekuriti kembali dengan tangan hampa. Menyarankanku untuk segera lapor polisi. Penculikan anak banyak terjadi akhir-akhir ini. Aku makin kebas.

—-to be continue—-

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s