Eps 3 : Cerita Cinta Bunda

Kamar kelas 2 ini hanya berisikan Bapak dan aku. 2 ranjang yang lain kosong tanpa seprai.
Berbagai macam selang menjalar di tubuh bapak yang berselimutkan kain berwarna putih bergaris-garis biru. Khas rumah sakit.

Sedang aku duduk di lantai. Beralaskan sajadah tipis milik salah seorang suster yang kupinjam,lengkap dengan mukena yang kupakai.
Ibu jari dan jari telunjuk tangan kananku tak berhenti memutar tasbih,bibirku mendesis mengagungkan namaNYA.

Sesekali aku berdiri untuk melihat Bapak. Kalau-kalau Bapak mencariku.

Bapak masih belum tersadar.
Bapak masih belum bangun.
3 Jam terakhir ini waktuku habis untuk shalat dan berdzikir. Bermunajat pada Allah.

Bapak menderita sakit ginjal. Tiga bulan lalu aku sudah mengingatkan bapak untuk ke dokter. Tapi bapak bilang, ” Ndak usah lah nduk, sakit pinggang begini udah biasa…”
Tapi penyakit biasa itu membawa Bapak ke Rumah Sakit ini.

3 Jam yang lalu, Dokter mendatangiku mengatakan penyakit ginjal bapak adalah Gagal Ginjal Kronik. Tak dapat di sembuhkan. Terlambat mengetahui. Tinggal menunggu waktu.

“Tidak mungkin! Anda bukan Tuhan! Dokter harus bisa menyelamatkan ayah saya. Bagaimanapun caranya…tolong Bapak saya…tolong Bapak saya…” dengan gusar kupotong segera penjelasan dokter tersebut.

“Kami berusaha sebaik mungkin,mbak. Tapi mintalah pada Allah, mintalah yang terbaik”
Dan disinilah aku. Tergugu meminta pada DIA di samping ranjang bapak yang masih tidur

Ya Allah. Kali ini aku meminta sedikit kemurahan hatiMU. Aku tau ini perkara kecil bagiMU. Aku tau tiada sulit bagiMU untuk membuat Bapak kembali membuka mata untukku. Ya Allah. Aku ini memang bukan hambaMU yang sempurna. Aku punya banyak dosa…aku punya banyak salah…dan aku sering lupa padaMU.

Tapi kali ini Ya Robb… kali ini aku menengadahkan tangan kepadaMU, bersujud berulang kali padaMU, tidakkah KAU mendengar doaku ya Robb..? Tidakkah KAU mendengar doaku ya Robb?!

Bibirku mulai patah-patah membacakan Ar-Rahman untuk Bapak. Susah payah aku menahan air mata ini agar tidak jatuh.

“Fa bi ayyi ālā-i rabbikumā tukadz-dzibān”

Ini surat kesayangan Bapak. Bapak memang tidak pernah mengaji,berulang kali kuajak. Namun Bapak tetap bergeming, tapi Bapak selalu menyimak ketika aku mengaji. Apalagi bila kubacakan Ar-Rahman. Bapak akan duduk dan menatapku dengan pandangan teduhnya.

“Tabārakasmu rabbika” Ayat terakhir kubacakan, kututup Al Quran dan kulepas mukenahku. Aku rindu menatap wajah Bapak.

Sekilas kulihat tangan bapak bergerak. Aku berdiri dari dudukku. Ya Allah…Ya Allah..tangan Bapak dingin. Dahi Bapak berkeringat. Bola mata Bapak telah menatap lurus ke langit-langit bangsal kami.
Aku segera teringat penjelasan ustadzku tentang hadist-hadist yang berisikan tanda-tanda sakaratul maut.

Ya Allah….Ya Allah… Tidakkah kau mendengar doa`ku?! Tidak adakah sedikit Iba MU padaku?! Aku mau Bapakku selamat!! Aku tidak mau Bapak pergi! Aku tidak mau, aku tidak mau ya Allah…..

” Laa Ilaaha Illallaah…Laa Ilaaha Illallaah..” bacaan talkin kubisikkan dekat telinga Bapak.Bergetar, sedapat mungkin aku mengucapkannya tanpa patah-patah. Tapi aku juga kesulitan membentung air mataku.

Ya Allah, betapa hinanya diri ini mempertanyakan kebesaranMU…mudahkan maut bapak bila ini yang terbaik..ya Allah….Sesungguhnya tiada satupun makhluk yang dapat mempercepat atau menangguhkan ketetapanMU.. tapi kali ini pintaku, mudahkanlah…mudahkanlah..

Badan bapak sekali tersentak perlahan. Kuciumi tangan bapak sembari terus membacakan talkin.
“Bapak,maafin Mirna…Bapak maafin Mirna…”

Air mata ini hampir tak terbendung lagi. Tapi demi kenangan Bapak yag terakhir, tapi demi kata-kata yang Bapak ucapkan 3 tahun lalu, aku memberikan senyumanku pada Bapak.

“Bapak…Mirna sayang Bapak… Semoga Bapak disayang Allah… Laa Ilaaha Illallaah…”

Bapak diam. Menatap wajahku dan betapa aku akan merindukan tatapan teduh itu Ya Robb..
Bergetar jemariku menutup kelopak mata Bapak.

3 tahun yang lalu, di rumah sakit yang sama. Bapak menggenggam bahuku yang berguncang. Adik lelakiku yang baru saja lulus SMA dan Ibu terbujur kaku setelah motor yang digunakan terseruduk bis yang remnya blong. Pendarahan dalam. Meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Bapak menatapku saat itu,menggenggam jemariku dan berkata lirih,
“Mirna, Bapak mohon. Bapak mohon jangan menangis. Bapak sedih Mirna, Bapak juga kehilangan, Bapak juga terluka..tapi Bapak akan jauh lebih sedih melihat anak Bapak menangis. Bapak lebih nelangsa melihatmu susah..Bapak jadi jauh lebih susah,Mirna. Jadi Bapak mohon. Bapak mohon kamu jangan menangis,nak”

Aku dan Bapak mengurus pemakaman dengan diam.
Selama bulan pertama Bapak lebih banyak mengurung diri di kamar. Menjawab seperlunya bila aku mengajak bicara.

Aku tau Bapak terluka. Aku tau Bapak kehilangan. Aku juga kehilangan. Tapi paling tidak saat itu aku masih punya Bapak.

Tidak seperti sekarang. Aku justru terduduk di samping jenazah bapak. Masih tak rela melewatkan sedikitpun waktu tanpa mengamati wajah Bapak lamat-lamat.

Tahukah kalian, bahwa saking gembiranya seseorang dapat menangis, saking marahnya seseorang dapat menangis…tapi kali ini aku tahu..saking sedihnya seseorang bahkan tak tau bagaimana caranya menangis.

Seorang gadis kecil menghampiriku, berpakaian gamis pink bermotif bunga-bunga. Bukankah ini gadis yang 3 jam lalu masuk ruang UGD tepat ketika dokter menjelaskan padaku tentang kondisi (almarhum) Bapak?

“Tante kenapa?”
Aku menggeleng,aku tidak apa-apa, tapi aku mohon, jangan paksa aku membuka bibirku,gadis kecil. Karena aku takkan sanggup menahan air mataku.

“Aku juga sedih…” katanya. “Om Irsyad gak ada..aku sakit..disini..” dia menunjuk lututnya, kemudian mengangkat gamis mungilnya,mempertontonkan padaku lututnya yang dibebat perban.

Ya Allah…dia juga kehilangan.
“Namamu siapa?”

“Aliiiiiiittttt!!!!”
Seorang pemuda melangkah panjang-panjang ke arahku. Badannya tegap dan wajahnya memancarkan kekhawatiran.