Kenapa Mesti Ujub??

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A

Betapa banyak diantara kita yang berusaha untuk berlari kencang menjauhi riyaa’ karena takut amalan kita hancur lebur terkena penyakit riya. Akan tetapi pada waktu yang bersamaan jiwa kita terulurkan dalam dekapan ujub…, bangga dengan amalan yang telah kita lakukan.., bangga dengan ilmu yang telah kita miliki…, bangga dengan keberhasilan dakwah kita.., bangga dengan kalimat-kalimat indah yang kita rangkai…, dst…??!!

Bukankah ujub juga menggugurkan amalan sebagaimana riyaa’..??

Bukankah ujub juga menyebabkan pelakunya terjerumus dalam neraka jahannam sebagaimana riyaa’…?

Bukankah ujub juga merupakan salah satu bentuk syirik kecil sebagaimana riya’…??

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }

“Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa’ dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya-pen). Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa’ tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ “Hanya kepadaMulah kami beribadah”, dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan”. Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa’, dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub” (Majmuu’ Al-Fataawaa 10/277).

Rasulullah bersabda :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menukilkan perkataan seorang salaf, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melakukan sebuah dosa, dan dengan dosa tersebut menyebabkan ia masuk surga. Dan seorang hamba benar-benar melakukan sebuah kebaikan yang menyebabkannya masuk neraka. Ia melakukan dosa dan dia senantiasa meletakkan dosa yang ia lakukan tersebut di hadapan kedua matanya, senantiasa merasa takut, khawatir, senantiasa menangis dan menyesal, senantiasa malu kepada Robb-Nya, menunudukan kepalanya dihadapan Robbnya dengan hati yang luluh. Maka jadilah dosa tersebut sebab yang mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungannya. Hingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada banyak ketaatan…

Dan seorang hamba benar-benar melakukan kebaikan yang menjadikannya senantiasa merasa telah berbuat baik kepada Robbnya dan menjadi takabbur dengan kebaikan tersebut, memandang tinggi dirinya dan ujub terhadap dirinya serta membanggakannya dan berkata : Aku telah beramal ini, aku telah berbuat itu. Maka hal itu mewariskan sifat ujub dan kibr(takabur) pada dirinya serta sifat bangga dan sombong yang merupakan sebab kebinasaannya…” (Al-Wabil As-Shoyyib 9-10)

Seorang penyair berkata :

والعُجْبَ فَاحْذَرْهُ إِنَّ الْعُجْبَ مُجْتَرِفٌ أَعْمَالَ صَاحبِهِ فِي سَيْلِهِ الْعَرِمِ

Jauhilah penyakit ujub, sesungguhnya penyakit ujub akan menggeret amalan pelakunya ke dalam aliran deras arusnya

Lantas kenapa kita begitu waspada terhadap riyaa namun melalaikan penyakit ujub…?

Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada penyakit-penyakit kronis lainnya, diantaranya :

  • Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri, seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya
  • Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah dihadapan Allah yang telah menganugrahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya
  • Terlebih jelas lagi lenyap sikap tawadhu’ dihadapan manusia
  • Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jiwanya senantiasa mengajaknya untuk menyatakan bahwasanya dialah yang terbaik, dan apa yang telah diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk dipuji. Berbeda dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk diacungkan jempol.

Kalimat indah yang pernah diucapkan oleh seorang ulama :

“Orang yang ujub merasa bahwa dirinya paling tinggi dihadapan manusia yang lain… bahkan merasa dirinya lebih tinggi di sisi Allah.., namun pada hakikatnya dialah orang yang paling rendah dan hina di sisi Allah”.

Kenapa Mesti Ujub?

Sebelum kita terlena dengan ujub yang menggerogoti hati kita maka hendaknya kita renungkan tentang diri kita. Kenapa kita ujub..??, bukankah kita ujub karena amalan kita serta hasil karya yang banyak dan hebat…??. Jika perkaranya demikian maka hendaknya renungkanlah perkara-perkara berikut ini :

Pertama : Sudah yakinkah amalan-amalan kita tersebut dibangun di atas keikhlasan kepada Allah??

Ikhlas merupakan perkara yang sangat mulia, yang menjadikan pelakunya menjadi sangat tinggi dan mulia di sisi Allah. Orang yang ikhlas hatinya hanya sibuk mengaharapkan keridhoan Allah dan tidak peduli dengan komentar dan penilaian manusia yang tidak memberi kemanfaatan dan tidak memudhorotkan. Yang paling penting baginya adalah penilaian Allah terhadap amalannya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang amalannya tatkala bersendirian lebih banyak daripda amalannya tatkala dilihat oleh orang lain.

Kedua : Bukankah banyak hal yang bisa menggugurkan amalan-amalan kita tersebut??

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata “Penggugur dan perusak amalan sangatlah banyak.

وَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي الْعَمَلِ إِنَّمَا الشَّأْنُ فِي حِفْظِ الْعَمَلِ مِمَّا يُفْسدُهُ وَيُحْبِطُهُ

Dan yang penting adalah bagaimana menjaga amal agar tidak rusak dan gugur bukan yang penting adalah beramalnya.

Riyaa’ –meskipun sekecil apapun- merupakan penggugur amal, dan bentuk-bentuknya sangatlah banyak. Demikian juga amalan yang tidak dibangun diatas ittibaa’ sunnah juga merupakan penggugur amalan. Sikap al-mann dalam hati terhadap Allah (yaitu merasa telah berbuat baik kepada Allah dengan mengungkit-ngungkit dan menyebut-nyebut kebaikan tersebut -pen) juga menghancurkan amalan. Demikian juga sikap al-mann (yaitu mengungkit-ngungkitnya) dalam sedekah, berbuat kebaikan, dan bersilaturahmi juga membatalkan amalan, sebagaimana firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (QS Al-Baqoroh : 264)

Dan mayoritas manusia tidak mengetahui tentang hal-hal buruk yang bisa menggugurkan amalan-amalan kebajikan. Allah telah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari (QS Al-Hujuroot : 2)

Maka (dalam ayat ini-pen) Allah telah mengingatkan kaum mukminin agar amalan mereka tidak gugur karena mereka mengeraskan suara mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengeraskan suara diantara mereka. Hal ini bukanlah kemurtadan akan tetapi merupakan kemaksiatan yang menggugurkan amalan dan pelakunya tidak sadar. Maka bagaimana lagi dengan orang yang mendahulukan perkataan seseroang di atas perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, petunjuknya, dan jalannya??, bukankah amalannya telah gugur dan dia dalam keadaan tidak sadar??!!

Diantara hal yang menggugurkan amalan adalah sebagaimana sabda Nabi

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْر فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan sholat ashar maka telah gugur amalannya” (HR Al-Bukhari no 553)

Dan termasuk dalam hal ini perkataan Aisyah –semoga Allah meridhoinya dan meridhoi ayahnya- kepada Zaid bin Arqom rahdiallahu ‘anhu tatkala melakukan transaksi dengan sistem ‘iinah (riba)

إِنَّهُ قَدْ أَبْطَلَ جِهَادَهُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ إِلاَّ أَنْ يَتُوْبَ

“Sesungguhnya ia (Zaid) telah menggugurkan (pahala) jihadnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali jika ia bertaubat”

Transaksi dengan system ‘iinah bukanlah kemurtadan, paling banter ia merupakan kemaksiatan.

Oleh karenanya mengetahui perkara-perkara yang bisa membatalkan amal tatkala amalan sedang dikerjakan dan demikian juga hal-hal yang bisa membatalkan amal setelah dikerjakannya amal merupakan perkara yang sangat penting untuk diketahui oleh seorang hamba dan diwaspadai serta untuk mengecek dirinya” (Al-Wabil As-Shoyyib 21-22)

Ketiga : Bukankah penilaian Allah yang paling utama adalah tentang hati dan keimanan seseorang?, bukan hanya sekedar amalan yang dzohir??

Betapa banyak orang yang dzohirnya kurang amalannya dan seakan-akan mata kita merendahkannya, namun ternyata ia sangat tinggi di sisi Allah. Sebagai contoh nyata adalah Uwais Al-Qoroni rahimahullah (lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/17-tabiin-terbaik-uwais-al-qoroni)

Keempat : Betapa banyak dosa yang kita lakukan tanpa kita sadari, dan betapa banyak dosa yang kita lakukan dan kita sadari namun kita melupakannya??

Betapa sering kita melupakan dosa-dosa yang kita lakukan.., bukankah terlalu banyak dosa yang dilakukan oleh kedua mata kita..??, dosa yang dilakukan oleh kedua telinga kita..??, dosa-dosa yang dilakukan oleh lisan kita..??, dosa-dosa yang dilakukan oleh hati kita…??

Sebagai contoh, coba sekarang kita berusaha untuk mengingat kembali dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh lisan kita..??, apakah kita masih ingat siapa saja yang pernah kita ghibahi..??, siapa saja yang pernah kita sakiti hatinya dengan perkataan kita…??. Tentu kebanyakannya telah kita lupakan.

Belum lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan hati kita..??

Bukankah takabbur, hasad, berburuk sangka juga merupakan dosa…??

Jika perkaranya demikian…bahwasanya tidak satu amalanpun yang kita yakini kita lakukan ikhlas karena Allah…dan tidak satu amalanpun yang ikhlas kita lakukan lantas kita yakin pasti diterima oleh Allah karena selamat dari hal-hal yang merusaknya…, maka apakah yang bisa kita banggakan untuk bisa ujub di hadapan Allah dan merasa lebih baik dari orang lain…???.

Kota Nabi, 21 Muharram 1432 / 27 Desember 2010

Artikel: http://www.firanda.com

Derajat Hadits ” Surga Itu Di Bawah Telapak Kaki Ibu “

Telah kita ketengahkan pada edisi sebelumnya[1] sebuah hadits yang berbunyi:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan. (Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593)

Kemudian kita jelaskan bahwa hadits dengan lafazh di atas adalah palsu. Dan ada juga yang lemah. (lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666)

Setelah itu kami tegaskan bahwa ungkapan yang masyhur ini adalah ucapan manusia semata (bukan hadits)[2]. Dan sampai di sini pembahasan singkat kita pada waktu itu.

LAFAZH LAIN BERDERAJAT HASAN

Namun perlu diketahui, ada riwayat lain yang semakna dengan hadits di atas dengan lafazh yang berbeda yang berderajat hasan. Yang mana secara maknanya menunjukkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Berikut bunyi hadits tersebut:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.

Syaikh al-Albani berkomentar: “Diriwayatkan oleh an-Nasa`i, jilid 2, hlm. 54, dan yang lainnya seperti ath-Thabrani jilid 1, hlm. 225, no. 2. Sanadnya Hasan insyaAllah. Dan telah dishahihkan oleh al-Hakim, jilid 4, hlm. 151, dan disetujui oleh adz-Dzahabi dan juga oleh al-Mundziri, jilid 3, hlm. 214.” (as-Silsilah adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, pada penjelasan hadits no. 593)[3]

Dan ada hadits lain yang lafazhnya berbeda dengan yang di atas.

UCAPAN ULAMA SEPUTAR HADITS DI ATAS

Ketika mensyarah hadits ini, Imam Ali al-Qarirah mengatakan: ”Maksudnya yaitu senantiasalah (engkau) dalam melayani dan memperhatikan urusannya”. (Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, jilid 4, hlm. 676)

Ath-Thibi mengatakan: ”Sabda beliau: ”…pada kakinya…”, adalah kinayah dari puncak ketundukan dan kerendahan diri, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…”. (Ibid, (IV/677).

Sedangkan as-Sindi mengatakan: ”Bagianmu dari surga itu tidak dapat sampai kepadamu kecuali dengan keridhaannya, dimana seakan-akan seorang anak itu milik ibunya, sedangkan ibunya adalah tonggak baginya. Bagian dari surga untuk orang tersebut tidak sampai kepadanya kecuali dari arah ibunya tersebut. Hal itu karena sesungguhnya segala sesuatu apabila keadaannya berada di bawah kaki seseorang, maka sungguh ia menguasainya dimana ia tidak dapat sampai kepada yang lain kecuali dari arahnya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan An-Nasa-i, karya as-Sindi, jilid 6, hlm. 11, dalam nuskhah yang dicetak bersama Zuhr ar-Rabaa ’Ala al-Mujtabaa, karya as-Suyuti)

KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bahwa hadits dengan lafazh “Surga itu di bawah telapak kaki ibu” adalah lemah, bahkan ada riwayat lain yang palsu.

Namun ada hadits lain yang secara makna menjelaskan bahwa ungkapan di atas adalah benar. Maka itu, ungkapan tersebut tidak dapat kita katakan salah secara mutlak lantaran adanya hadits hasan yang memperkuatnya. Wallahu a’lam. (Red)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 51, hal. 43-44

______

1. Tepatnya pada pada rubrik Tanya Jawab, hlm. 8.

2. Yang kita maksudkan adalah hadits dengan lafazh di atas atau seperti penggalan pertama hadits di atas, bukan lafazh yang lainnya. Dan kita telah memiliki pembahasan tentang gambaran bakti kaum salaf terhadap kedua orang tua, yang padanya ada keterangan sedikit tentang hadits lain yang hasan seputar ungkapan tersebut. Sebenarnya akan kita terbitkan pada edisi kali ini, namun karena banyak hal akhirnya tidak bisa kita muat pada edisi kali ini. Semoga dimudahkan untuk dimuat pada edisi selanjutnya. Dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, maka pada edisi ini kami cantumkan keterangan singkat tentang hadits hasan seputar pembahasan, wa billahi at-taufiq.

3.Kami ucapkan jazakumullahu khairan wa zadakum ‘ilman wa taufiqon kepada sidang pembaca dari Jakarta yang telah mengusulkan kepada kami agar pembahasan tentang hadits ini disempurnakan dan dijelaskan hadits hasan yang semakna dengan ungkapan “surga itu di bawah telapak kaki ibu.”
Dan itu -sebagaimana ia sebutkan- karena didasari oleh dua hal:

1. Sadd adz-dzara-i’ (menutup pintu) keyakinan tidak adanya hadits yang shahih tentang masalah ini dan tidak benarnya ungkapan tersebut secara mutlak.

2. Membuktikan benarnya penjelasan sebagian ulama bahwa hadits-hadits yang shahih telah mencukupi dari mempergunakan hadits yang lemah.
Beberapa ucapan ulama ini kami ambil dari sebuah surat yang dikirimkan oleh Seorang pembaca dari Jakarta yang dilayangkan kepada kami via e-mail.

Barakallahu fihi.

Artikel: majalahislami.com

Lima Faidah Menawan Seputar Hujan

Oleh: Ustadz Abu Ashim Muhtar Arifin, Lc

1. Meski Do’anya Ketika Minta Hujan Dikabulkan, Tidak Harus Belajar Kepadanya

Ilmu agama adalah perkara yang dapat menentukan keadaan selamatnya seseorang di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, dalam memilih guru, pengajar, ustadz dan syaikh harus berhati-hati dan waspada dengan teliti. Jangan sampai keliru belajar kepada orang yang sesat atau tidak memiliki keahlian masalah ilmu agama, meskipun dia adalah orang yang shalih dan banyak beribadah. Hal itu karena dapat mendatangkan bahaya, apabila sembarangan.

Dalam sebuah riwayat Imam Malik -rahimahullah- berkata, ”Aku telah bertemu dengan segolongan kaum di negeri ini yang mana mereka sekiranya meminta hujan, tentu akan diberi hujan, dan sungguh mereka telah mendengar hadits yang banyak, tetapi aku tidak mengambil dari salah seorang di antara mereka”. (Tartiib al-Madarik wa Taqriib al-Masaalik, karya al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sibti, I/137)

Beliau juga berkata, ”Aku pernah melihat Ayyub as-Sikhtiyani di Mekah ketika melakukan dua kali haji, maka akupun tidak belajar dari beliau. Pada kali yang ketiga aku melihat beliau duduk di halaman air zamzam. Apabila disebut Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- di sisinya beliau menangis sampai aku mengasihani beliau. Setelah mengetahui hal itu, akupun belajar dari beliau. (Tartiib, I/139).

2. Amanah Ilmiyyah Imam al-Muzani, Tampak Dalam Menyebutkan Ayat Hujan.

Imam al-Muzani mengatakan, “Bab Thaharah” Imam Syafi’i berkata, “Allah -azza wa jalla- berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. al-Furqan: 48)”. (Mukhtashar al-Muzani, hlm. 1)

Imam as-Suyuti mengatakan dalam kitabnya yang sangat berharga sekali:

“Beliau (yaitu Imam al-Muzani) telah berkata dalam awal kitab Mukhtasharnya -yang mana semoga Allah hiasi dengan keagungan dan cahaya karena keikhlasannya dan semoga menambah ketinggiannya dan kemasyhurannya di semua ufuk– “Kitab Thaharah” Imam Syafi’i berkata , “Allah ta’ala telah berfirman:
<وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهDia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang Amat bersih. (QS. al-Furqan: 48)”.

Bukankah Imam al-Muzani melihat ayat ini terdapat dalam mushaf, lalu ia dapat menukilnya tanpa harus menyandarkannya kepada Imamnya?

Para Ulama menjelaskan, “Sesunggunya beliau melakukan hal itu hanyalah karena iftitah (pembukaan) dengan ungkapan itu berasal dari idenya Imam Syafi’i, bukan dari beliau sendiri”. (Al-Faariq bainal Mushannif was Saariq, as-Suyuti, hal. 745 dalam nuskhah yang telah ditahqiq dan dimuat tahqiqnya dalam Majalah ‘Alamul Kutub, Riyadh, edisi keempat, Jilid II, hal. 745, bulan Rabi’uts Tsani 1402/Januari-Februari 1982M)

Berkaitan dengan Mukhtashar ini, Imam al-Muzani mengatakan, “Dahulu aku menulis kitab ini selama dua puluh tahun, aku tulis tiga kali dan aku rubah. Setiap kali aku ingin menulisnya aku berpuasa selama tiga hari dan melakukan shalat sekian-sekian rakaat”. (Manaaqibisy Syafi’i, karya al-Baihaqi II/349)

3. Wajibnya Shalat Jama’ah Tampak Dalam Syariat Menjama’ Saat Hujan.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan:

“Tentang wajibnya shalat jama’ah, dapat berdalil dengan adanya jama’ antara dua shalat yang disyariatkan ketika terjadi hujan agar dapat dilakukan secara berjama’ah. Padahal salah satu di antara shalat tersebut telah berada di luar waktunya, sedangkan (melakukan masing-masing shalat pada) waktu (yang telah ditetapkan) adalah wajib.

Sekiranya berjama’ah itu tidak wajib, maka waktu yang wajib (untuk dilakukan shalat di dalamnya) ini tidak ditinggalkan untuk melakukan jama’ ini”. (Badai’ al-Fawaid, hlm. 1098 tahqiq al-Imran, al-Jam’ Baina Shalatain, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, hlm. 167)

4. Langit Tidak Menurunkan Hujan Emas.

Dalam rangka menganjurkan untuk bekerja mencari rizki, Umar bin Khaththab -radhiallohu anhu- mengatakan:

لاَ يَقْعُدْ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ، يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ، فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَ السَّمَاءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَةً

Janganlah salah seorang di antara kalian enggan untuk mencari rizki, seraya mengatakan, “Ya Allah, berilah aku rizki”, padahal kalian telah mengetahui bahwa langit itu tidak menurunkan hujan yang berupa emas dan tidak pula perak. (Ihya’ Ulum ad-Diin, II/62, Dar al-Ma’rifah, Bairut, tt).

Oleh karena itu, tidak heran apabila Sufyan ats-Tsauri menanyakan tentang keadaan orang yang akan belajar kepada beliau sebagaimana dalam riwayat berikut:

Abdurrahim bin Sulaiman ar-Razi berkata, “Kami pernah berada disisi Sufyan ats-Tsauri. Apabila ada orang yang mendatanginya untuk menuntut ilmu dari beliau, beliau bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sumber penghidupan?’ Apabila ia memberitahunya bahwa dia dalam kecukupan, beliau memerintahkannya untuk menuntut ilmu, dan apabila dia tidak dalam kecukupan, maka dia diperintahkan agar mencari penghidupan”. (Al-Jami’ Li Akhlaq ar-Rawi, al-Khathib al-Baghdadi, I/144, no. 50)

5. Ummat Rasulullah Dimisalkan Dengan Hujan.

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَثَلُ أُمَتِيْ مِثْلُ الْمَطَرِ لاَ يُدْرَى أَوَلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah yang pertama yang lebih baik ataukah yang akhirnya. (Shahih al-Jami’, no. 5854, Syaikh al-Albani berkata : Shahih)

Al-Baidhawi berkata, “Yang dimaksud adalah mengingkari perbedaan, karena setiap tingkatan di antara mereka memiliki keistimewaan yang pasti mengandung sisi kelebihbaikannya, sebagaimana setiap naubah dari naubnya hujan, memiliki faedah dalam menumbuhkan, tidak mungkin dapat diingkari dan dihukumi tidak bermanfaatnya. Hal itu karena generasi pertama-tama telah beriman dengan apa yang mereka saksikan yang berupa mu’jizat, menerima dakwah Rasul dan beriman. Sedangkan orang-orang yang akhir, mereka beriman kepada perkara ghaib, karena telah sampai kepada mereka secara mutawatir, yaitu ayat-ayat, mereka mengikuti generasi yang sebelumnya dengan baik…”. (Faidh al-Qadir, jilid 5, hlm. 517)

Sedangkan Imam Nawawi mengatakan, “Sekiranya shahih (hal itu karena beliau mendha’ifkannya-pen), tentu maknanya adalah bahwa ini terjadi setelah turunnya Isa ketika barakah telah nampak dan kebaikan menjadi banyak, dan agama menjadi tampak… sekiranya shahih tentu tidak menyelisihi hadits-hadits yang shahih seperti hadits,

‘‘Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian (generasi) yang datang berikutnya’, dan hadits, ‘Tidaklah ada suatu tahun, melainkan tahun yang berikutnya adalah lebih buruk dari sebelumnya’.” (Al-Mantsurat wa ‘Uyun al-Masail al-Muhimmat, hlm. 287-288, Darul Kutub Islamiyyah, mesir, tahqiq Abdul Qadir Ahmad ‘Atha, cet. 1, 1402 H/1982 M)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 56 hal. 55-58

Artikel: majalahislami.com

Family Nutrition

The Family Nutrition Care

Daily Journal

Learn from yesterday . Live for today. Hope for tomorrow. (Albert Einstein)

Little Part of My Life

All about a journey in my short life

Menembus Langit

sebab menulis adalah bagian dari tauhid

Kolam Ilmu

Mengisi waktu dengan menyelami kolam yang berisi ilmu

anotherbrandnewdawn

everyday is a brand new day and let's hope to be better for today than yesterday

MuslimAfiyah

Sehat Jiwa dan Raga Bersama Islam

segores pena

Bermimpilah Karna Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu (Arai-Sang Pemimpi)

rumah belajar Ibnu Abbas

Pendidikan, Keluarga, dan Risalah Islam

drprita1

Belajar dan Berbagi

Me & Mine

Live My Dream :)

in between...

adni kurniawan's perspective

Benteng Kehidupan™

Bentengi Diri Kita dengan Ilmu

Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah

أم صفية الباليتارية

Ummu Salma al-Atsariyah

Meraih Kebahagian Dunia dan Akhirat

Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam | SALAFIYUNPAD.wordpress.com

Belajar Islam Dakwah Salafiyah Download Free Video Ebook Ceramah MP3 Gratis Ahlus Sunnah Kajian Islam Wanita Fikih Aqidah Konsultasi Syariah Bisnis Online

%d bloggers like this: