Birrul Walidain “Keteladanan Salaf & Durhaka Kepada Orang Tua”

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, Lc

Contoh-Contoh Berbaktinya Salaf Kepada Orangtua Mereka

Contoh pertama

Muhammad bin Sirin berkata, ((Harga kurma naik melambung di masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan hingga 1000 dirham, maka Usamah bin Zaid pun pergi menuju pohon kurma yang ia miliki lalu iapun melobanginya dan mengambil jantung kurma tersebut lalu ia berikan kepada ibunya. Orang-orang lalu berkata kepadanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan ini padahal engkau tahu bahwa harga pohon kurma sekarang mencapai 1000 dirham?”, Usamah berkata, “Ibuku meminta jantung pohon kurma kepadaku dan tidaklah ia meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu kecuali aku penuhi permintaannya”))[1]

Contoh kedua

شهد بن عمر رجلا يمانيا يطوف بالبيت حمل أمه وراء ظهره يقول

إني لها بعيرها المذلل إن أذعرت ركابها لم أذعر

ثم قال يا بن عمر أترانى جزيتها قال لا ولا بزفرة واحدة ثم طاف بن عمر فأتى المقام فصلى ركعتين ثم قال يا بن أبى موسى إن كل ركعتين تكفران ما أمامهما

Dari Abu Burdah mengabarkan bahwasanya Ibnu Umar melihat seorang pria dari Yaman towaf di ka’bah sambil mengangkat ibunya di belakang punggungnya seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah onta ibuku yang tunduk..jika ia takut untuk menungganginya aku tidak takut (untuk ditunggangi)”, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah menurutmu aku telah membalas jasa ibuku?”, Ibnu Umar berkata, “Tidak, bahkan engkau tidak bisa membalas jasa karena keluarnya satu tetes cairan dari cairan yang dikeluarkannya tatkala melahirkan”, kemudian Ibnu Umar menuju maqom Ibrahim dan sholat dua rakaat lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa sesungguhnya setiap dua rakaat menebus dosa-dosa yang ada dihadapan kedua rakaat tersebut”[2]

Lihatlah pemuda dari yaman ini yang telah bersusah payah memikul ibunya untuk berbakti kepada ibunya tatkala thowaf demi untuk membalas kebaikan ibunya namun seluruh keletihan itu tidaklah menyamai setetes air yang keluar tatkala melahirkan. Ini jelas menunjukan akan tingginya dan agungnya hak orangtua atas anaknya

Contoh ketiga

Dari Musa bin ‘Uqbah berkata, “Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib tidak makan bersama ibunya padahal ia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya. Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu maka ia berkata, “Aku takut jika aku makan bersama ibuku lantas matanya memandang pada suatu makanan dan aku tidak tahu pandangannya tersebut lalu aku memakan makanan yang dipandangnya itu maka aku telah durhaka kepadanya”[3]

Contoh keempat

Dikatakan bahwasanya Kihmis bin Al-Hasan At-Tamimi[4] hendak membunuh kalajengking namun kalajengking tersebut masuk ke dalam lubangnya maka beliaupun memasukan jari beliau ke dalam lubang tersebut dari belakang kalajengking maka kalajengking tersebutpun menyengatnya. Lalu ditanyakan kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?, ia berkata, “Aku khawatir kalajengking itu keluar dari lubangnya kemudian menyengat ibuku”[5]

Contoh kelima

Al-Ma’mun berkata, “Aku tidak melihat ada orang berbakti kepada ayahnya sebagaimana berbaktinya Al-Fadhl bin Yahya kepada ayahnya. Yahya (ayah Fadhl) adalah orang yang tidak bisa berwudhu kecuali dengan air hangat. Pada suatu waktu Yahya dipenjara maka penjaga penjara melarangnya untuk memasukan kayu bakar di malam yang dingin, maka tatkala Yahya hendak tidur Al-Fadhl pun mengambil qumqum (yaitu tempat air dari tembaga yang atasnya sempit, yaitu semacam kendi kecil yang terbuat dari tembaga) lalu ia penuhi dengan air kemudian ia dekatkan dengan lampu sambil berdiri. Ia terus berdiri sambil memegang qumqum hingga subuh.”

Dan selain Ma’mun menceritakan bahwasanya para petugas penjaga penjarapun mengetahui apa yang diperbuat oleh Al-Fadhl maka merekapun melarang Al-Fadhl untuk mendekati lampu pada malam berikutnya maka Al-Fadhl pun mengambil qumqum yang penuh dengan air kemudian ia membawanya tatkala ia hendak tidur, ia memasukannya diantara bantal-bantal hingga subuh sehingga airnyapun hangat”[6]

Dan masih banyak contoh-contoh para salaf dalam berbakti kepada orangtua mereka.

Durhaka Kepada Orang Tua

Jika birul walidain merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda akan kuatnya keimanannya maka sebaliknya durhaka kepada kedua orangtua merupakan tanda lemahnya agama seseorang, jeleknya hatinya, dan tanda bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang celaka di akhirat. Bagaimana seseorang bisa lupa dengan kesulitan dan pengorbanan kedua orangtuanya demi untuk melangsungkan kehidupannya??, bagaimana ia bisa lupa bahwa kalau tidak ada kedua orangtunaya maka ia tidak akan ada di dunia ini sehingga bisa merasakan kenikmatan dunia ini??, bagaimana ia bisa lupa semua ini???, oleh karena itu Allah telah dengan tegasnya mengharamkan durhaka kepada orangtua

إن الله حرم عليكم عقوق[7] الأمهات

((Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu))[8]

Durhaka kepada orangtua merupakan dosa besar

Durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar yang tidak diragukan lagi, bahkan ia termasuk dosa-dosa besar yang paling besar, bahkan Allah menggandengkan pengharamannya dengan pengharaman syirik kepadaNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ألا أنبئكم بأكبر الكبائر قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين وكان متكئا فجلس فقال ألا وقول الزور وشهادة الزور ألا وقول الزور وشهادة الزور فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت

((Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang terbesar?)), kami berkata, “Tentu ya Rasulullah”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ((Berbuat syirik[9] kepada Allah, durhaka kepada kedua orangtua)), dan beliau tadinya berittika’ (berbaring sambil bersandaran kepada tangannya)[10] lalu beliau duduk dan berkata, ((Ketahuilah (termasuk juga) perkataan dusta dan persaksian dusta, ketahuilah perkataan dusta dan persaksian dusta)), beliau terus mengulang-ngulanginy
a hingga aku berkata, “Ia tidak akan diam”[11]

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله ما الكبائر قال الإشراك بالله قال ثم ماذا قال ثم ماذا قال ثم عقوق الوالدين قال ثم ماذا قال اليمين الغَمُوْسُ[12] قلت وما اليمين الغموس قال الذي يقتطع مال امرئ مسلم هو فيها كاذب

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata, “Datang seorang arab badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah apakah itu dosa-dosa besar?”, beliau berkata, ((Syirik kepada Allah)), ia berkata, “Kemudian apa?”, beliau r berkata, ((Durhaka kepada kedua orangtua)), ia berkata, “Kemudian apa?”, beliau berkata, ((Bersaksi dengan tangan yang tercelupkan)), aku berkata, “Wahai Rasulullah apakah itu “bersaksi dengan tangan yang tercelupkan”?”, beliau berkata, ((Orang yang mengambil harta seorang muslim dengan sumpah dusta))[13]

Berkata Al-‘Aini, “Jika dikatakan bagaimana durhaka kepada orangtua berada di derajat yang sama dengan kesyirikan padahal kesyirikan merupakan kekafiran?, jawabannya adalah hanyalah durhaka kepada orangtua dimasukkan dalam barisan kesyirikan dalam rangka mengagungkan kedua orangtua dan sebagai penekanan dan pengerasan terhadap anak yang durhaka, atau dikatakan bahwa dosa besar yang paling besar yang berkaitan dengan hak Allah adalah kesyirikan dan dosa besar yang paling besar yang berkaitan dengan hak manusia adalah durhaka kepada orangtua”

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة العاق لوالديه والمرأة المترجلة والديوث وثلاثة لا يدخلون الجنة العاق لوالديه والمدمن على الخمر والمنان بما أعطى

Dari Ibnu Umar , ia berkata, “Rasulullah bersabda ((Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, wanita yang meniru-niru pria dan Ad-Dayyuts (yaitu orang yang membiarkan kemungkaran di keluarganya), dan tiga golongan yang tidak akan masuk surga, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, pecandu khomr, dan orang yang menyebut-nyebutkan pemberiannya (sehingga menyakiti orang yang diberi))”[14]

Definisi durhaka kepada orangtua

Berkata Imam An-Nawawi, ((Adapun definisi “durhaka” yang diharamkan oleh syari’at maka hanya sedikit yang mendefinisikannya. Berkata Syaikh Imam Abu Muhammad bin Abdissalam, “Aku tidak menemukan definisi yang bisa aku jadikan pegangan tentang durhaka kepada kedua orangtua dan hak-hak yang khusus berkaitan dengan kedua orangtua, namun tidak wajib untuk taat kepada kedua orangtua pada semua yang diperintahkan dan dilarang oleh mereka berdua berdasarkan kesepakatan para ulama, dan telah diharamkan atas anak untuk berjihad tanpa idzin kedua orangtua karena hal itu terasa berat bagi mereka karena kawatir sang anak bisa terunuh atau terputus salah satu anggota tubuhnya yang hal ini sangat memukul mereka berdua. Dan disamakan hukumnya dengan hal ini (jihad) semua safar yang mereka berdua mengawatirkan keselamatan jiwa sang anak atau kawatir hilangnya salah satu dari anggota tubuh sang anak”…dan berkata Syaikh Abu ‘Amr bin As-Sholah pada sebagian fatwa-fatwa beliau, “Durhaka yang diharamkan adalah seluruh perbuatan yang orangtua merasa terganggu (tersakiti) dengan perbuatan tersebut atau semisalnya, yaitu gangguan yang tidak ringan dengan catatan bahwa perbuatan tersebut bukan termasuk perkara-perkara yang diwajibkan”, ia (Ibnus Solah) juga berkata, “Mungkin juga dikatakan bahwa taat (patuh) kepada kedua orangtua adalah wajib pada seluruh perkara yang bukan merupakan kemaksiatan, dan menyelisihi perintah mereka berdua pada perkara-perkara tersebut adalah durhaka. Bahkan banyak dari para ulama yang mewajibkan untuk taat kepada kedua orangtua pada perkara-perkara yang syubhat[15]”, ia berkata, “Dan bukanlah perkataan sebagian ulama kami “bahwasanya boleh untuk bersafar dalam rangka untuk menuntut ilmu dan untuk berdagang tanpa idzin mereka berdua” bertentangan dengan apa yang telah aku sebutkan karena perkataan mereka adalah perkataan yang mutlak, dan apa yang telah aku sebutkan ada penjelasan yang mentaqyid perkataan yang mutlaq itu, Wallahu A’lam”))[16]

Berkata Ibnul Atsir, “Durhaka ضد البر adalah lawan dari berbakti”[17] Berkata Ibnu Daqiqil ‘Ied, “Dan durhaka yang diharamkan adalah ما لهما فيه عسر sesuatu yang membuat kedua oangtua susah”, beliau juga berkata “Dan durhaka kepada kedua orangtua bertingkat-tingkat”[18]

Berkata Syaikh Taqiyyuddin As-Subki, “Defenisi durhaka adalah menyakiti (mengganggu) kedua orangtua dengan jenis penggangguan apa saja, baik tingkatan gangguan tersebut rendah atau tinggi yang mereka melarang gangguan itu atau tidak, atau sang anak menyelisihi perintah mereka berdua atau larangan mereka berdua dengan syarat (perintah atau larangan mereka) bukanlah kemaksiatan”[19]

At-Thurthusi (dari kalangan ulama madzhab Maliki) berpendapat bahwasanya jika kedua orangtua melarang sang anak untuk melaksanakan sholat sunnah rawatib sekali atau dua kali maka hendaknya sang anak patuh kepada mereka berdua, adapun jika mereka melarangnya untuk meninggalkan sholat sunnah rawatib untuk selama-lamanya maka tidak ada ketaatan pada mereka karena hal ini akan menyebabkan hilangnya (matinya) syari’at[20]

Berkata Syaikh DR Abdul Bari Ats-Tsubaiti[21], “Termasuk durhaka kepada orangtua adalah membuat mereka menangis dan menyedihkan mereka, membentak dan menghardik mereka, mengucapkan uf (ah) dan mengeluh dengan perintah mereka, memandang mereka dengan pandagan sinis (tajam), cemberut dihadapan mereka, tidak membantu mereka, meremehkan pendapat mereka, mencela mereka dan menuduh mereka (dengan hal-hal yang tidak mereka lakukan), mencaci mereka dan melaknat mereka[22], pelit kepada mereka dan tidak perhatian kepada mereka, meninggalkan mereka dan tidak memberi nasehat kepada mereka, mendahulukan ketaatan kepada istri dan anak dari pada ketaatan kepada kedua orangtua, bahkan jika sang istri memintanya untuk mengeluarkan kedua orangtuanya dari rumahnya maka iapun akan mengeluarkannya, dan yang paling parah dan paling busuk adalah menyakiti mereka padahal mereka dalam keadaan lemah, dan terkadang sang anak menginginkan mereka berdua segera mati agar ia bisa terlepas dari beban merawat mereka jika mereka miskin dan fakir”

Sebagian orang sangat ramah dan lembut kepada teman-temannya adapun kepada orangtuanya sangat berbalik hingga ayahnya berangan-angan kalau seandainya dahulu ia mandul.

Berkata Syaikh Utsaimin, “Ketahuilah bahwasanya berbakti kepada kedua orangtua sebagaimana ia merupakan kewajiban maka Allah akan memberi ganjaran kepada anak yang berbakti di dunia sebelum Allah memberi ganjaran kepadanya di akhirat, oleh karena itu kita mendapati –berdasarkan apa yang telah kami dengar dan kami lihat- kita mendapati bahwasanya orang yang berbakti kepada kedua orangtuanya Allah menganugrahkan kepadanya an
ak-anak yang berbakti kepadanya dan orang yang tidak berbakti kepada kedua orangtuanya maka Allah akan memberikan kepadanya anak-anak yang durhaka kepadanya”[23]

Artikel: www.firanda.com

Catatan Kaki:

[1] Sifatus Sofwah 1/522

[2] HR Al-Bukhari dalam adabul mufrod 1/18 dan Dishahihkan sandanya oleh Syaikh Al-Albani

[3] Kitabul bir was silah hal 82 karya Ibnul jauzi sebagaimana dinukil oleh Abdurrahman bin abdilwahhab Alibabtain dalam risalahnya birul walidain hal 33

[4] Seorang tabi’in yang tinggal di Bashroh dan seorang ‘abib (ahli ibadah) , wafat pada tahun 149 H (Masyahir Ulama Al-Amshor 1/152). Berkata Adz-Dzahabi, “Beliau sholat sehari semalam 1000 rakaat…dan uangnya sedinar pernah jatuh lalu iapun mencarinya dan akhirnya mendapatkannya, namun ia tidak mengambilnya dan berkata, “Jangan-jangan ini bukan uangku”,…dan beliau adalah orang yang berbakti kepada ibunya…” (As-Siyar 6/216-217)

[5] Nuzhatul Uqola’ 1/541 sebagaimana dinukil oleh Abdurrahman bin abdilwahhab Alibabtain dalam risalahnya birul walidain hal 35

[6] Kitabul bir was silah, karya Ibnul Jauzi hal 85 sebagaimana dinukil oleh Abdurrohman Alibabtein dalam risalahnya “Birrul Walidain” hal 45

[7] Lafal (عقوق) diambil dari (العق) yang maknanya adalah (القطع) yang artinya memutuskan. Dikatakan عق والده يعقه عقا وعقوقا dengan mendommah huruf ‘ain (ia telah durhaka kepada orangtuanya) jika ia memutuskan hubungan dengan orangtuanya dan tidak menyambung silaturahmi dengan orangtuanya (Al-Minhaj 2/87). Adapun perkataan وعق عن ولده يعق عقا artinya adalah mengaqiqah (menyembelih untuk aqiqah anaknya) (Umdatul Qori 22/86)

[8] HR Al-Bukhari 5/2229 no 5630 bab عقوق الوالدين من الكبائر, dari hadits Al-Mughiroh. Berkata Al-’Aini, “…penyebutan “para ibu” dalam hadits ini bukan berarti hukumnya khusus untuk para ibu saja, namun karena biasanya yang didurhakai adalah para ibu karena lemahnya mereka. Ada juga yang mengatakan karena durhaka kepada para ibu menunjukan kejelekan yang lebih, atau penyebutan “para ibu” untuk mewakili penyebutan para bapak” (Umdatul Qori 22/87)

[9] Faedah:

Berkata Ibnu Hazm, “Kalau memang pada hadits ini kekufuran bukanlah kesyirikan maka kekufuran bukanlah termasuk dari dosa-dosa besar, bahkan durhaka kepada kedua orangtua dan persaksian palsu lebih besar dari pada kufur, dan tidak ada seorang muslimpun yang berpendapat demikian. Oleh karena itu benarlah bahwa setiap kekufuran merupakan kesyirikan dan setiap kesyirikan adalah kekufuran dan kedua nama ini (kefur dan syirik) adalah dua nama yang Allah jadikan untuk satu nama…jika memang tidaklah disebut seorang musyrik kecuali kepada orang yang melakukan kesyirikan sebagaimana sesuai dengan sisi bahasa (yaitu orang yang melakukan kesyirikan saja) maka demikian juga kufur maka tidaklah disebut seseorang kafir kecuali kepada orang yang mengingkari kepada Allah dan mengingkari Allah secara menyeluruh (yaitu tidak mengakui adanya Allah-pen) dan bukanlah orang kafir orang yang mengakui adanya Allah dan tidak menentang adanya Allah maka hal ini melazimkan bahwa tidaklah disebut orang-orang kafir kecuali Dahriyah adapun Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Al-Barahimah bukanlah orang-orang kafir karena mereka semua mengakui adanya Allah…dan tidak ada seorang muslimpun di atas muka bumi ini yang mengatakan demikian, atau sebaliknya wajib bahwa semua yang menutup sesuatu adalah oarng kafir karena kufur dalam bahasa adalah menutup. Dan jika semua ini adalah kebatilan maka jelas bahwa syirik dan kufur merupakan dua nama yang Allah pindahkan dari makna asal bahasanya kepada setiap orang yang mengingkari sesuatu dari agama Allah yaitu agama Islam yang dengan pengingkarannya itu ia telah menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah sampainya peringatan kepadanya” (Al-Muhalla 4/245-246 permasalahan no 499)

Namun perkataan Ibnu Hazm ini perlu dicek lagi karena Rasulullah telah membedakan antara kekufuran dan kesyirikan sebagaimana dalam sabdanya:

بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

(Batas) antara seorang (muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat (HR Muslim 1/88 no 82)

Dan kaedah menyatakan bahwa العطف يقتضي المغايرة “Atof menunjukan adanya perbedaan”. Al-Munawi berkata, “(Pada hadits ini) ada ‘atof ‘aam (umum) kepada khoos (yang khusus) karena kesyirikan adalah salah satu dari jenis-jenis kekufuran” (Faidhul Qodir 3/210)

Berkata Imam An-Nawawi, “Sesungguhnya kesyirikan dan kekufuran terkadang datang dengan satu makna yaitu kufur kepada Allah dan terkadang dibedakan antara keduanya, maka syirik khusus bagi para penyembah berhala atau penyembah makhluk-makhluk yang lain bersama keadaan para penyembah tersebut yang mengaku dengan adanya Allah sebagaimana orang-orang kafir Quraisy, jika demikian maka kekafiran lebih umum dibandingkan dengan kesyirikan” (Al-Minhaj 2/71)

Berkata Ibnu Hajr, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ((Dosa-dosa besar yang paling besar adalah kesyirikan kepada Allah..)) ada kemungkinan yang dimaksud dengan lafal kesyirikan ini adalah kekufuran secara umum sehingga pengkhususan penyebutan lafal kesyirikan adalah dikarenakan wujudnya yang mendominasi terlebih lagi di negeri-negeri Arab, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut lafal syirik untuk mengingatkan jenis-jenis kekufuran yang lain. Dan mungkin juga yang dimaksud dengan lafal syirik dalam hadit ini adalah kesyirikan secara khusus, hanya saja kemungkinan yang kedua ini terbantah dengan adanya sebagian kekufuran yang lebih jelek dari pada kesyirikan yaitu pengingkaran wujud Allah, karena ia adalah penafian secara mutlaq (tidak adanya Allah-pen) adapun kesyirikan adalah itsbat muqoyyad (yaitu tetap ada pengakuan akan adanya Allah hanya saja orang yang musyrik juga menyembah kepada selain Allah-pen) maka kemungkinan pertama lebih kuat (Fathul bari 5/262-263) Dan perkataan Ibnu Hajr ini adalah perkataan Ibnu Daqiqil ‘Ied (dengan lafal yang sama sebgaimana dinukil oleh Ibnu Haj dalam Fathul Bari 10/411), (lihat juga Umdatul Qori 1/204, Tuhfatul Ahwadzi 8/296)

[10] Berkata Al-Muhallab, “Hadits ini menunjukan akan beolehnya seorang alim untuk berittika’ di hadapan manusia, demikian juga dalam majelis fatwa, hal ini juga berlaku bagi sulton dan amir jika mereka membutuhkan hal itu bukan karena ingin merilekskan sebagian anggota tubuh, namun tidaklah ittika’ ini dilakukan pada mayoritas duduknya” (Umdatul Qori 22/260)

[11] HR Al-Bukhari no 5631, dari hadits Abu Bakroh, dalam riwayat yang lain ليته سكت (seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam)

[12] Berkata Ibnu Hajr, “Dikatakan bahwa dina
makan demikian “Al-Yamin Al-Gomus” karena sumpah yang dusta tersebut menyebabkan pelakunya tenggelam di dalam dosa kemudian tenggelam di neraka, maka (الغموس) wazannya (فعول) namun maknanya (فاعل), dan dikatakan juga bahwa asalnya diambil dari keadaan mereka yang dahulu jika ingin untuk bersumpah maka mereka menghadirkan tempayan yang diletakkan di dalamnya minyak wangi atau darah atau abu kemudian mereka bersumpah tatkala mereka memasukkan tangan-tangan mereka dalam tempayan tersebut sehingga sempurnalah maksud mereka yaitu penekanan apa yang mereka inginkan maka dinamakanlah sumpah tersebut jika orang yang bersumpah melanggarnya (غموسا) (yang tercelup) karena ia telah terlalu parah melanggar sumpahnya. Maka seakan-akan diambil dari tangan yang tercelup (Fathul Bari 11/555-556)

[13] HR Al-Bukhari 6/2535 no 6522

[14] HR An-Nasai 5/80 no 2562 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 2/284

[15] Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama sebagaimana yang dihikayatkan oleh Al-Gozali (Umdatul Qori 22/86)

[16] Al-Minhaj (2/87)

[17] Umdatul Qori 22/86

[18] Umdatul Qori 22/86

[19] Umdatul Qori 22/86

[20] Umdatul Qori 22/86, dan pendapat ini disepakati oleh Al-Gozali

[21] Khotib dan imam masjid Nabawi dalam khutbahnya di mesjid Nabawi (dengan sedikit tasorruf)

[22] Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه قيل يا رسول الله وكيف يلعن الرجل والديه قال يسب الرجل أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Termasuk dosa-dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya)), maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orangtuanya?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Seseorang memaki ayah orang lain maka orang itupun memaki ayahnya dan dia memaki ibu orang lain maka orang itupun memaki ibunya)) (HR Al-Bukhari 5/2228 no 5628 bab باب لا يسب الرجل والديه)

Dalam riwayat Muslim ((من الكبائر شتم الرجل والديه قيل يا رسول الله وهل يشتم الرجل والديه)) ((Termasuk dosa besar adalah seseorang memaki kedua orangtuanya)), maka dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah ada seseorang memaki kedua orangtuanya?” (HR Muslim 1/92 no 90)

[23] Fatwa Ibnu Utsaimin jilid 7, Al-Washoya Al-‘Asyr, wasiat yang kedua

‘Aisyah Adalah Istri Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam di Dunia dan di Akhirat

Oleh: Ustadz Abul Jauzaa’ al-Atsary

Telah berkata Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah :

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ الْمَكِّيِّ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah Al-Makkiy, dari Ibnu Abi Husain, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Aaisyah : “Bahwasannya Jibriil datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama gambar Aisyah dalam secarik kain sutera hijau, lalu berkata :

‘Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat’” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 3880, At-Tirmidziy berkata : “Hadits ini hasan ghariib, kami tidak mengetahuinya selain dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Alqamah”].

Hadits ini shahih.[1]

Ada penguat lain, yaitu :

أخبرنا بن خزيمة حدثنا سعيد بن يحيى الأموي حدثني أبي حدثني أبو العنبس سعيد بن كثير عن أبيه قال حدثنا عائشة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر فاطمة قالت فتكلمت انا فقال أما ترضين ان تكونى زوجتى في الدنيا والآخرة قلت بلى والله قال فأنت زوجتى في الدنيا والآخرة

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Khuzaimah : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Yahyaa Al-Umawiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Abul-‘Anbas Sa’iid bin Katsiir, dari ayahnya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aaisyah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan Faathimah. ‘Aaisyah berkata : “Maka, akupun protes kepada beliau”. Beliau kemudian bersabda : “Apakah engkau tidak ridla menjadi istriku di dunia dan di akhirat”. Aku berkata : “Tentu, demi Allah”. Beliau bersabda : “Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 7095].
Hadits ini shahih lighairihi.[2]

‘Ammaar bin Yasiir pun mengakui bahwasannya ‘Aaisyah adalah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat, dan Al-Hasan bin ‘Aliy pun men-taqrir-nya radliyallaahu ‘anhum.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ قَالَ لَمَّا بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارًا وَالْحَسَنَ إِلَى الْكُوفَةِ لِيَسْتَنْفِرَهُمْ خَطَبَ عَمَّارٌ فَقَالَ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّهَا زَوْجَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ ابْتَلَاكُمْ لِتَتَّبِعُوهُ أَوْ إِيَّاهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami Ghundar : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam : Aku mendengar Abu Waail berkata : Ketika ‘Aliy mengutus ‘Ammaar dan Al-Hasan ke Kuufah untuk mengerahkan mereka berjihad, ‘Ammaar berkhutbah : “Sungguh aku mengetahui bahwa ia (‘Aaisyah) adalah istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Akan tetapi sekarang Allah menguji kalian apakah akan mentaati-Nya (yaitu tidak keluar ketaatan dari ‘Aliy dan melawannya) atau mengikutinya (‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa dalam melawan ‘Aliy)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3772. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 7100 & 7101, Ahmad 4/265, Al-Bazzaar dalam Al-Musnad no. 1408-1409, Al-Baihaqiy 8/174, dan yang lainnya].

Lihatlah keadilan ‘Ammaar. Ia tetap mengakui keutamaan ‘Aaisyah sebagai istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat meskipun posisinya saat itu berseberangan dengannya[3]. Ia jauh dari celaan sebagaimana celaan orang-orang Syi’ah. Begitu pula Al-Hasan bin ‘Aliy yang men-taqrir (menyetujui) apa yang dikatakan ‘Ammaar.

Mungkin orang Syi’ah akan berkelit bahwa Al-Hasan tidak ada di hadir di tempat itu dan belum tentu ia men-taqrir apa yang dikatakan ‘Ammaar. Sungguh kerdil logika mereka !. ‘Ammaar dan Al-Hasan adalah dua orang yang diutus secara khusus oleh ‘Aliy bin Abi Thaalib dalam mengatasi pasukan Jamaal. Sesampainya di Kuufah, ‘Ammaar berkhutbah di depan khalayak. Tentu saja apa yang dikatakannya itu didengar banyak orang, baik rombongannya maupun orang-orang Kuufah. Tidak terkecuali Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum. Riwayat berikut adalah pemutusnya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَرْيَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ الْأَسَدِيُّ قَالَ لَمَّا سَارَ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَائِشَةُ إِلَى الْبَصْرَةِ بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ وَحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ فَقَدِمَا عَلَيْنَا الْكُوفَةَ فَصَعِدَا الْمِنْبَرَ فَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَوْقَ الْمِنْبَرِ فِي أَعْلَاهُ وَقَامَ عَمَّارٌ أَسْفَلَ مِنْ الْحَسَنِ فَاجْتَمَعْنَا إِلَيْهِ فَسَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُ إِنَّ عَائِشَةَ قَدْ سَارَتْ إِلَى الْبَصْرَةِ وَ وَاللَّهِ إِنَّهَا لَزَوْجَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ابْتَلَاكُمْ لِيَعْلَمَ إِيَّاهُ تُطِيعُون
أَمْ هِيَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah menceriakan kepada kami Yahyaa bin Aadam : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy : Telah menceritakan kepada kami Abu Hushain : Telah menceritakan kepada kami Abu Maryam ‘Abdullah bin Ziyaad Al-Asadiy, ia berkata : Tatkala Thalhah, Az-Zubair, dan ‘Aaisyah berangkat ke Bashrah, Aliy mengutus ‘Ammaar bin Yaasir dan Hasan bin Aliy mendatangi kami di Kuufah. Lalu keduanya naik minbar. Ketika itu Al-Hasan bin ‘Aliy di atas mimbar di tangga paling atas, sedangkan ‘Ammaar berdiri di bawah Al-Hasan. Kami berkumpul di sekelilingnya, dan aku mendengar ‘Ammaar berkata : ‘Aaisyah sedang berangkat ke Bashrah. Demi Allah, ia adalah isteri Nabi kalian shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akherat. Namun Allah tabaaraka wa ta’ala menguji kalian agar Dia mengetahui, apakah kalian taat kepada-Nya atau kepada Aisyah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7100].

Seandainya Al-Hasan tidak sependapat yang dikatakan ‘Ammaar, tentu ia akan segera menyanggah. Kedudukannya tidaklah lebih rendah daripada ‘Ammaar. Ia putra seorang khalifah. Apalagi situasi saat itu sangat mendukung, dimana ‘Aaisyah merupakan pihak kontra yang hendak dilawan. Seruan mereka berdua (‘Ammaar dan Al-Hasan) adalah seruan untuk membela ‘Aliy bin Abi Thaalib melawan pasukan Jamal (yang padanya terdapat Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa). Dalam kaedah pun dikatakan : ta’khiirul-bayaan fil-waqtil-haajah, la yajuuz (mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan adalah tidak diperbolehkan). Apa yang menghalangi Al-Hasan bin ‘Aliy tidak mengingkari perkataan ‘Ammaar bin Yaasir seandainya perkataannya itu salah ? Memuji orang yang telah jelas kefasikannya atau tidak mengkafirkan orang yang sudah jelas kekafirannya adalah perbuatan yang keliru. Takut ? Tidak pernah sekalipun terbersit di hati hal itu terhadap Al-Hasan bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa

Jika orang Syi’ah mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu : taqiyyah, I have no comment bout this…
Dan perlu diketahui oleh rekan-rekan sekalian, ‘Ammaar bin Yaasir bahkan mencela orang yang mencela ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhumaa. Perhatikan riwayat berikut :

حدثنا يحيى بن آدم قثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن عريب بن حميد قال رأى عمار يوم الجمل جماعة فقال ما هذا فقالوا رجل يسب عائشة ويقع فيها قال فمشى إليه عمار فقال اسكت مقبوحا منبوحا اتقع في حبيبة رسول الله إنها لزوجته في الجنة

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari ‘Uraib bin Humaid, ia berkata : ‘Ammaar pada peperangan Jamal pernah melihat sekumpulan orang. Lalu ia berkata : “Apakah ini ?”. Mereka berkata : “Seorang laki-laki yang mencaci dan mencela ‘Aaisyah”. ‘Ammaar pun berjalan menuju orang tersebut dan berkata : “Diamlah engkau dari perkataan yang jelek itu. Apakah engkau mencela seorang yang menjadi kesayangan/kekasih Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam ?. Sesungguhnya ia adalah istri beliau di surga” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 1647].
Riwayat ini shahih li-ghairihi.[4]

Giliran Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa memberi kesaksian :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ ذَكْوَانَ مَوْلَى عَائِشَةَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ لِابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ تَمُوتُ وَعِنْدَهَا ابْنُ أَخِيهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ هَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْكِ وَهُوَ مِنْ خَيْرِ بَنِيكِ فَقَالَتْ دَعْنِي مِنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَمِنْ تَزْكِيَتِهِ فَقَالَ لَهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ فَقِيهٌ فِي دِينِ اللَّهِ فَأْذَنِي لَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْكِ وَلْيُوَدِّعْكِ قَالَتْ فَأْذَنْ لَهُ إِنْ شِئْتَ قَالَ فَأَذِنَ لَهُ فَدَخَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ ثُمَّ سَلَّمَ وَجَلَسَ وَقَالَ أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَكِ وَبَيْنَ أَنْ يَذْهَبَ عَنْكِ كُلُّ أَذًى وَنَصَبٍ أَوْ قَالَ وَصَبٍ وَتَلْقَيْ الْأَحِبَّةَ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهُ أَوْ قَالَ أَصْحَابَهُ إِلَّا أَنْ تُفَارِقَ رُوحُكِ جَسَدَكِ فَقَالَتْ وَأَيْضًا فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتِ أَحَبَّ أَزْوَاجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ يُحِبُّ إِلَّا طَيِّبًا وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَرَاءَتَكِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ فَلَيْسَ فِي الْأَرْضِ مَسْجِدٌ إِلَّا وَهُوَ يُتْلَى فِيهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَسَقَطَتْ قِلَادَتُكِ بِالْأَبْوَاءِ فَاحْتَبَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنْزِلِ وَالنَّاسُ مَعَهُ فِي ابْتِغَائِهَا أَوْ قَالَ فِي طَلَبِهَا حَتَّى أَصْبَحَ الْقَوْمُ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا } الْآيَةَ فَكَانَ فِي ذَلِكَ رُخْصَةٌ لِلنَّاسِ عَامَّةً فِي سَبَبِكِ فَوَاللَّهِ إِنَّكِ لَمُبَارَكَةٌ فَقَالَتْ دَعْنِي يَا ابْنَ عَبَّاسٍ مِنْ هَذَا فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Khutsaim, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Dzakwaan maulaa ‘Aaisyah : Bahwasannya ia (Dzakwaan) memintakan ijin Ibnu ‘Abbaas kepada ‘Aaisyah yang waktu itu sedang sakit menjelang kematiannya dan di sisinya ada anak saudaranya, ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman. Dzakwan berkata : “Ini Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepadamu dan ia termasuk putra terbaik kaummu”. ‘Aaisyah menjawab : “Bebaskan aku dari Ibnu ‘Abbaas dan tazkiyah-nya”. ‘Abdurrahmaan berkata kepada ‘Aaisyah : “Ia ad
alah Qaari` Kitabullah dan orang yang faqih dalam agama. Ijinkanlah ia mengucapkan salam kepadamu dan menjengukmu”. ‘Aaisyah berkata : “Ijinkan ia jika engkau berkenan”. ‘Abdurrahmaan pun mengijinkan Ibnu ‘Abbaas masuk, maka Ibnu ‘Abbaas pun masuk, mengucapkan salam dan duduk. Lalu Ibnu ‘Abbaas berkata : “Bergembiralah wahai Ummul-Mukminiin. Demi Allah, tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan perginya segala penyakit dan bala’, serta pertemuan dengan orang-orang tercinta, Muhammad dan pengikutnya – atau dalam satu riwayat -, para sahabatnya, melainkan ruh yang berpisah dari jasadmu”. ‘Aaisyah berkata : “Tambah lagi”. Ibnu ‘Abbaas lalu berkata : “Engkau adalah isteri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang paling dicintai, sedangkan beliau tidak mencintai melainkan yang baik. Allah menurunkan ayat yang berisi pembebasan dirimu dari atas langit ketujuh, maka tidak satu pun masjid yang luput dari membaca ayat tersebut di waktu pagi dan petang. Dan ketika kalungmu terjatuh di Abwaa’, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tertahan bersama para sahabatnya untuk mencari kalung tersebut hingga shubuh mendatangi mereka dalam keadaan tidak mendapatkan air untuk berwudlu, kemudian Allah menurunkan ayat : ‘Maka bertayammumlah dengan tanah yang suci’ (QS. Al Maidah : 6), yang mana perkara tayammum ini adalah keringanan untuk umat yang disebabkan olehmu. Maka demi Allah, engkau adalah wanita yang penuh dengan berkah”. ‘Aaisyah berkata : ”Wahai Ibnu ‘Abbaas, tinggalkan aku dari itu semua. Demi Allah, sungguh aku ingin sekali menjadi orang yang lupa dan dilupakan” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/349 dan dalam Al-Fadlaail no. 1639].

Riwayat ini shahih.[5]

Oleh karenanya, Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

ولا أعلم في أمه محمد صلى الله عليه وسلم، بل ولا في النساء مطلقا، أمرأة أعلم منها.
وذهب بعض العلماء إلى أنها زوجة نبينا صلى الله عليه وسلم في الدنيا والآخرة، فهل فوق ذلك مفخر

“Aku tidak mengetahui seorang pun di kalangan umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan di kalangan wanita secara mutlak, ada wanita yang lebih pandai darinya. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa ia merupakan istri Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Apakah ada kebanggan yang melebihi hal itu ?” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 2/140].

Ya benar, tidak ada kebanggaan bagi seorang wanita melebihi kebanggaan mendampingi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat (jannah).

Segala karunia yang Allah ta’ala berikan kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa ternyata tidaklah membuat senang semua pihak. Ada saja pihak-pihak tertentu yang senantiasa sakit kepala membaca riwayat-riwayat ini. Misalnya, Al-‘Ayyaasyiy – salah seorang mufassir Syi’ah – menukil riwayat ‘tandingan’, demi menjatuhkan kedudukan ‘Aaisyah, dari perkataan Ja’far Ash-Shaadiq dengan sanadnya tentang firman Allah ta’ala :

وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” (QS. An-Nahlo : 92)

ia (Ja’far Ash-Shaadiq) berkata :

التي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثا : عائشة، هي نكثت إيمانها

Seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali; adalah ‘Aaisyah, yang tercerai-berai imannya” [Tafsir Al-‘Ayyaasyiy, 2/269. Lihat pula Al-Burhaan oleh Al-Bahraaniy 2/383 dan Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 7/454].

Al-‘Ayyaasy kembali menukil riwayat dusta dengan sanadnya dari Ja’far Ash-Shaadiq tentang firman Allah ta’ala yang menggambarkan neraka :

“Jahanam itu mempunyai tujuh pintu” (QS. Al-Hijr : 44)

Ia (Ja’far Ash-Shaadiq) berkata :

يؤتى بجهنم لها سبعة أبواب….. والباب السادس لعسكر…..

“Jahannam didatangkan sedangkan ia mempunyai tujuh buah pintu…… dan pintu keenam adalah untuk ‘pasukan’ (‘askar)….” [Tafsir Al-‘Ayaasyiy 2/243. Lihat juga : Al-Burhaan oleh Al-Bahraaniy 2/345 dan Bihaarul-Anwaar oleh Al-Majlisiy 4/378 & 8/220].

‘Pasukan’ (‘askar) dalam perkataan di atas merupakan kinaayah dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu sebagaimana dikatakan oleh Al-Majlisiy. Maksudnya, ‘Aaisyah adalah orang yang menaiki onta saat peperangan Jamal, sehingga disebut sebagai ‘askar [Bihaarul-Anwaar, 4/378 & 8/220].

Tentu saja ini dusta atas nama Allah ta’ala.

Entek amek kurang golek, tidak cukup berdusta atas nama Allah, mereka perlu membuat kedustaan tambahan atas nama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam[6]. Katanya, dengan sanad sampai dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda :

لا يبغض عليا أحد من أهلي ولا من أمتي إلا خرج من الإيمان

Tidak ada seorang pun dari kalangan keluargaku/istriku dan tidak pula dari umatku yang membenci ‘Aliy, kecuali ia telah keluar dari keimanan (= kafir)” [lihat : Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 118].

يا علي حربك حربي

Wahai ‘Aliy, orang yang memerangimu ekuivalen dengan memerangiku” [Ash-Shiraathul-Mustaqiim oleh Al-Bayaadliy, 3/161].

Lantas mereka (orang-orang Syi’ah) berkata : “Orang yang memerangi Nabi itu kufur” [Ash-Shiraathul-Mustaqiim oleh Al-Bayaadliy, 3/161]. Konsekuensinya, ‘Aaisyah pun kufur karena perselisihannya dengan ‘Aliy.
***

‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa adalah istri/wanita yang paling dicintai oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَ
دَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Telah menceritakan kepada kami Ma’laa bin Asad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata : Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada beliau : “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Beliau menjawab : “‘Aisyah. Aku kembali bertanya : “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Beliau menjawab : “Bapaknya (yaitu Abu Bakr)”. Aku kembali bertanya : “Kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab : “‘Umar bin Al-Khaththab”. Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa orang laki-laki” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

Oleh karenanya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering memanggilkan dengan kata-kata indah bagi ‘Aisyah yang menunjukkan kedekatan dan kasih-sayang. Di antaranya beliau kadang memanggilnya dengan ‘Aaisy’ :

حدثنا أبو اليمان: أخبرنا شعيب، عن الزُهري قال: حدثني أبو سلمة بن عبد الرحمن، أن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا عائش هذا جبريل يقرئك السلام). قلت: وعليه السلام ورحمة الله، قالت: وهو يرى ما لا نرى.

Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abirrahmaan : Bahwasannya ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Yaa ‘Aaisy, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu”. Aku (‘Aaisyah) berkata : “Wa’alaihis-salaam warahmatullaah”. ‘Aaisyah berkata : “Jibril itu melihat sesuatu yang tidak kita lihat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6201].

Beliau pun memanggil ‘Aaisyah dengan Humairaa’ (yang kemerah-merahan).

أنا يونس بن عبد الأعلى قال أنا بن وهب قال أخبرني بكر بن مضر عن بن الهاد عن محمد بن إبراهيم عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت : دخل الحبشة المسجد يلعبون فقال لي يا حميراء أتحبين أن تنظري إليهم فقلت نعم فقام بالباب وجئته فوضعت ذقني على عاتقه فأسندت وجهي إلى خده قالت ومن قولهم يومئذ أبا القاسم طيبا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم حسبك فقلت يا رسول الله لا تعجل فقام لي ثم قال حسبك فقلت لا تعجل يا رسول الله قالت ومالي حب النظر إليهم ولكني أحببت أن يبلغ النساء مقامه لي ومكاني منه

Telah memberitakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah memberitaan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Bakr bin Mudlar, dari Ibnul-Haad, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, dari ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : Orang-orang Habasyah masuk ke masjid dan bermain-main. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Wahai Humairaa’, apakah engkau suka melihat mereka ?”. Aku berkata : “Ya”. Lalu beliau berdiri di samping pintu, lalu aku menghampiri beliau dan aku letakan daguku di atas pundak beliau. Lalu akupun menyandarkan wajahku di pipi beliau”. ‘Aaisyah melanjutkan : “Dan yang termasuk perkataan orang-orang Habasyah tersebut adalah : ‘Wahai Abul-Qaasim yang baik’. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Cukupkah engkau (melihatnya)”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru”. Maka beliau pun kembali berdiri. Setelah itu beliau kembali berkata : “Cukupkah engkau (melihatnya)?”. Aku berkata : “Jangan terburu-buru, wahai Rasulullah”. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik melihat mereka, akan tetapi aku senang memperlihatkan kepada para wanita lainnya tentang kedudukan beliau bagiku, dan juga kedudukanku di hati beliau” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa, 8/181 no. 8902 dan Ath-Thahaawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 1/268 no. 292].
Hadits ini shahih.[7]

Itu semua merupakan wujud kecintaan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.

Kebalikannya, dari kelompok Syi’ah, mari kita simak penuturan Ya’quub bin Sarraaj :

قَالَ لِيَ اذْهَبْ فَغَيِّرِ اسْمَ ابْنَتِكَ الَّتِي سَمَّيْتَهَا أَمْسِ فَإِنَّهُ اسْمٌ يُبْغِضُهُ اللَّهُ وَ كَانَ وُلِدَتْ لِيَ ابْنَةٌ سَمَّيْتُهَا بِالْحُمَيْرَاءِ

“Maka Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam) berkata kepadaku : ‘Pergilah dan ganti nama anak perempuanmu yang telah engkau beri nama kemarin, karena ia adalah nama yang membuat Allah murka’. (Ya’qub bin Sarraaj berkata : ) Kemarin aku dikaruniai anak perempuan yang aku namakan Al-Humairaa” [Al-Kaafiy, 1/310].

Bagaimana Allah ta’ala bisa murka dengan sesuatu yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam cinta kepadanya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridla dengan nama Humairaa’. Telah banyak riwayat yang menyatakan bahwa beliau mengganti nama-nama buruk sebagian shahabat menjadi nama-nama yang baik sesuai syari’at. Dan Humairaa’ adalah salah satu nama/sebutan yang dipilihkan beliau untuk istrinya. Allah tidak murka dengan nama Humairaa’. Justru, Allah ta’ala murka dengan ulah orang-orang Syi’ah yang telah memanipulasi riwayat dengan mengatasnamakan Allah dan Ahlul-Bait.
****

Allah ta’ala telah menyebut istri-istri Nabi shallallaahu ‘ala
ihi wa sallam
– dan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa salah satu di antaranya – dengan sebutan Ummahatul-Mukminiin (ibunya orang-orang yang beriman) sebagaimana tersebut dalam firman-Nya :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka [QS. Al-Ahzaab : 6].

Namun tahukah Pembaca Budiman apa yang diucapkan oleh lidah-lidah karatan ulama Syi’ah dalam perkara ini ? Mereka katakan bahwa Ahlus-Sunnah lah yang membuat-buat istilah itu. Telah berkata Ibnul-Muthahhar Al-Hulliy, salah seorang pentolan ulama mereka :

وسموها أمّ المؤمنين، ولم يسموا غيرها بذلك الاسم

“Dan mereka (Ahlus-Sunnah telah menamakan ‘Aaisyah dengan Ummul-Mukminiin, dan mereka tidak menamakan selain dirinya dengan nama itu” [Minhaajul-Karaamah – bersama Minhaajus-Sunnah 2/198].

Bahkan, mereka menyebut Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyalaahu ‘anha sebagai Ummusy-Syuruur (أم الشرور) – ‘biang kejelekan’ sebagaimana diucapkan oleh Al-Bayaadliy dalam kitabnya Ash-Shiraathul-Mustaqiim 3/161.

Semoga Allah ta’ala membalas kekejiannya dengan setimpal.

Itulah Ummul-Mukminiin ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ketinggian derajat dan kedudukannya di mata Islam. Istri yang paling dicintai beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Sekaligus sedikit informasi tentang mauqif Syi’ah kepadanya. Tidak memudlaratkan kebencian orang-orang yang membenci dari kalangan Syi’ah Raafidlah. Tidaklah salah jika kita mengambil kesimpulan bahwa Islam di satu sisi dan Syi’ah di sisi lain.

Semoga Allah ta’ala memberikan manfaat dari tulisan kecil ini.


[1] Keterangan perawi :

a. ‘Abdun bin Humaid bin Nashr Al-Kussiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh (w. 249 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 634 no. 4294].

b. ‘Abdurrazzaaq, ia adalah Ibnu Hammaam bin Naafi’ Al-Humairiy Al-Yamaaniy, Abu Bakr Ash-Shan’aaniy (wafat : 211 H); seorang tsiqah, haafidh, penulis terkenal, namun kemudian mengalami kebutaan sehingga berubah hapalannya di akhir umurnya [idem, hal. 607 no. 4092]. ‘Abdun bin Humaid di sini mendengar riwayat ‘Abdurrazzaaq sebelum ikhtilath-nya [Al-Mukhtalithiin oleh Al-‘Alaaiy hal. 92-93 no. 29 beserta komentar muhaqqiq-nya]. Muslim berhujjah dengan riwayat ‘Abdun bin Humaid dari ‘Abdurrazzaaq, sebagaimana dikatakan oleh Al-‘Iraaqiy [Al-Ightibaath biman Rumiya minar-Ruwaat bil-Ikhtilaath, hal. 219].

c. ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah Al-Kinaaniy Al-Makkiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 530 no. 3526].

d. Ibnu Abi Husain adalah ‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain Al-Qurasyiy An-Naufaliy Al-Makkiy; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 719 no. 4939].

e. Ibnu Abi Mulaikah, ia adalah ‘Abdullah bin ‘Ubaidillah bin Abi Mulaikah; seorang yang tsiqah lagi faqiih (w. 117 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 719 no. 4939].

Sanad hadits ini shahih.

‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain mempunyai mutaba’ah dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim; sebagaimana diriwayatkan oleh Ishaaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya no. 1237, dan darinya Ibnu Hibbaan meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 7094.

‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim Al-Qaariy, Abu ‘Utsmaan Al-Makkiy; seorang yang shaduuq (w. 132 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 526 no. 3489].

At-Tirmidziy berkata :

وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مُرْسَلًا وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَقَدْ رَوَى أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مِنْ هَذَا

“Hadits ini telah diriwayatkan oleh ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Alqamah dengan sanad ini secara mursal, tanpa menyebut padanya ‘Aaisyah. Dan Abu Usaamah juga telah meriwayatkan dari Hisyaam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aaisyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu dari hadits ini” [Al-Jaami’, 6/181].

Diriwayatkannya hadits ini dari jalur Ibnu Mahdiy secara mursal tidaklah membuat hadits ini cacat, sebab sanad bersambung lebih kuat daripada yang mursal. Bahkan, sanad mursal ini menjadi penguat dari sanad hadits maushul ini.

[2] Keterangan perawi :

a. Ibnu Khuzaimah, seorang imam yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Lihat biografinya dalam artikel : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html.

b. Sa’iid bin Yahyaa bin Sa’iid bin Abaan Al-Umawiy; seorang yang tsiqah, namun kadang melakukan kekeliruan (w. 249 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 390 no. 2428]. Kekeliruan yang disifatkan padanya tidak memudlaratkan riwayatnya, karena hanya sedikit.

c. Yahyaa bin Sa’iid bin Abaan bin Sa’iid bin Al-‘Aash Al-Umawiy, Abu Ayyuub Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq yughrib (w. 194 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1055 no. 7604]. Namun perkataan yang lebih benar tentang dirinya, ia seorang yang tsiqah, sebagaimana dikatakan Adz-Dzahabiy [Al-Kaasyif, 2/366 no. 6172]. Telah di-tsiqah-kan oleh sejumlah ulama seperti : Ibnu Ma’iin, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Ammaar, Ad-Daaruquthniy, Abu Daawud, An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Ibnu Sa’id.

d. Sa’iid bin Katsiir bin ‘Ubaid Al-Qurasyiy At-Taimiy, Abul
-‘Anbas Al-Malaaiy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 386 no. 2394].

e. Katsiir bin ‘Ubaid Al-Qurasyiy At-Taimiy, Abu Sa’iid Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq hasanul-hadiits [Tahriirut-Taqriib, 3/194 no. 5619].

Sanad hadits ini hasan, dan ia menjadi shahih (lighairihi) dengan penguat hadits sebelumnya.

[3] Silakan baca artikel kami di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/11/apakah-aisyah-berniat-memerangi-ali.html.

[4] Keterangan perawi :

a. Yahyaa bin Aadam bin Sulaimaan Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Zakariyyaa Al-Kuufiy; seorang tsiqah, haafidh, lagi mempunyai keutamaan (w. 203 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1047-1048 no. 7546].

b. Israaiil, ia adalah Ibnu Yuunus bin Abi Ishaaq As-Sabii’iy Al-Hamdaaniy; seorang yang tsiqah (w. 160 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 134 no. 405].

c. Abu Ishaaq, ia adalah As-Sabii’iy, ‘Amru bin ‘Abdillah bin ‘Ubaid Al-Hamdaaniy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, banyak haditsnya, ‘aabid, namun bercampur hapalannya di akhir umurnya (w. 129 dalam usia 96 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 739 no. 5100]. Israail mendengar hadits dari Abu Ishaaq di akhir umurnya [Al-Ightibaath, hal. 278-279].

d. ‘Ariib bin Humaid, Abu ‘Ammaar Al-Hamdaaniy Ad-Duhniy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 675 no. 4605].

Riwayat di atas juga dibawakan oleh Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah 3/186 dan Ibnu Sa’d 8/65 dari jalan Israaiil bin Yuunus.

Israaiil dalam periwayatan dari Abu Ishaaq mempunyai mutaba’ah dari :

a. Al-Jarraah bin Maliih, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Fadlaail no. 1631 : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ayahnya, dari Abu Ishaaq.

Keterangan perawi :

Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Sufyaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aabid (127/128/129-196/197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1037 no. 7464].

Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Wakii’ Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq, sering keliru (w. 175/176 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 196 no. 916].

b. Yuunus bin Abi Ishaaq, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/44 : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Iisaa Muusaa bin ‘Aliy Al-Khataliy : Telah menceritakan kepada kami Jaabir bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Faqiih, dari Yuunus bin Abi Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaaq.

Muhammad bin Al-Hasan adalah seorang perawi yang sangat lemah [lihat Mishbaahul-Ariib, 3/106 no. 23151].

c. ‘Amru bin Qais dan Sufyaan Ats-Tsauriy, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 23/40 no. 102 dan Al-Haakim no. 5684 : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaikh Abu Bakr bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Syihaab Al-Hanaath : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Qais dan Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq.

Abu Bakr bin Ishaaq adalah Al-Haafidh Ibnu Khuzaimah. Ia, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dan Sufyaan Ats-Tsauriy adalah orang-orang tsiqaat yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Muhammad bin Abaan bin ‘Imraan As-Sulamiy, Abul-Hasan Al-Waasithiy; seorang yang shaduuq (w. 238 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 819 no. 5724].

Abu Syihaab Al-Hanaath, ia adalah ‘Abdu Rabbih bin Naafi’ Al-Kinaaniy Al-Hanaath; seorang yang shaduuq mendekati tsiqah (w. 171/172). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Tahrriut-Taqriib, 2/304 no. 3790].

d. Zuhair bin Mu’aawiyyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d sebagaimana dalam Musnad-nya no. 2629, dan dari jalannya Ath-Thabaraaniy 23/40 no. 103.

Zuhair bin Mu’aawiyyah seorang yang tsiqah lagi tsabat [Taqriibut-Tahdziib, hal. 342 no. 2062].

Riwayat tersebut juga dibawakan oleh :

a. At-Tirmidziy no. 3888 dari Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan.

Semua perawi yang disebutkan adalah tsiqaat.

b. Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 22/184 dengan sanadnya sampai Abul-Qaasim Al-Baghawiy : Telah menceritakan kepada kami Basyaar bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami Syariik.

Basyaar bin Muusa dan Syariik adalah dua orang perawi lemah.

Keduanya (Sufyaan dan Syariik) dari Abu Ishaaq, dari ‘Amru bin Ghaalib, dari ‘Ammaar bin Yaasir radliyallaahu ‘anhu.

‘Amru bin Ghaalib adalah seorang yang tsiqah, telah di-tsiqah-kan oleh An-Nasaa’iy, At-Tirmidziy, dan Ibnu Hibbaan [Tahdziibut-Tahdziib, 8/88].

Semua riwayat di atas sanadnya berporos pada Abu Ishaaq yang meriwayatkan dari ‘Ariib bin Humaid dan ‘Amru bin Ghaalib dengan ‘an’anah. Ia (Abu Ishaaq) sendiri seorang mudallis. Ibnu Hajar meletakkannya pada martabat ketiga [lihat : Thabaqaatul-Mudallisiin no. 91]. Akan tetapi ini perlu di-tahqiq. Yang benar, ia seorang yang sedikit tadlis-nya. Riwayatnya tetap dihukumi bersambung selama tidak ada bukti bahwa ia memang melakukan tadlis terhadap riwayat tersebut. Ada bahasan menarik tentang tadlis Abu Ishaaq As-Sabi’iy ini, silakan baca : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=104306.

Adapun periwayatan para perawi setelah ikhtilath-nya, maka itu ndak ngaruh karena keberadaan beberapa mutaba’aat yang disebutkan di atas.

Kesimpulannya, riwayat ini shahih, sebagaimana dikatakan oleh At-Tirmidziy. Wallaahu a’lam.

Catatan : Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahima
hullah
men-dla’if-kan riwayat ini, sebagaimana tertuang dalam Dla’iif Sunan At-Tirmidziy hal. 445.

[5] Keterangan perawi :

a. ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam, telah lalu keterangan tentangnya.

b. Ma’mar bin Raasyid Al-Azdiy, Abu ‘Urwah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 154 dalam usia 58 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 961 no. 6857].

c. Ibnu Khutsaim, ia adalah ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim. Telah lalu keterangan tentangnya.

d. Ibnu Abi Mulaikah, telah lalu keterangan tentangnya.

e. Dzakwaan, Abu ‘Amru Al-Madaniy, maula ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 313 no. 1851].

Sanad hadits ini shahih.

‘Abdurrazzaaq mempunyai mutaba’ah dari Sufyaan bin ‘Uyainah sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 1/220 tanpa menyebutkan Dzakwaan.

Diriwayatkan pula Al-Haakim 4/8-9 dari ‘Aliy bin Hamsyaadz Al’Adl : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusaa : Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, dari Ibnu Abi Mulaikah, tanpa menyebutkan Dzakwaan. Selain tidak menyebutkan Dzakwaan, riwayat Al-Haakim ini juga tidak menyebutkan Ma’mar bin Raasyid antara Sufyaan dan Ibnu Khutsaim.

Ma’mar dalam periwayatan dari Ibnu Khutsaim mempunyai mutaba’aat dari :

a. Zaaidah bin Qudaamah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 1/277 dan Ath-Thabaraaniy 10/390-391 no. 10783 dari jalan Mu’aawiyyah bin ‘Amru, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaaidah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Khutsaim.

Mu’aawiyyah bin ‘Amru bin Al-Muhallab adalah tsiqah [idem, hal. 956 no. 6816]. Adapun Zaaidah bin Qudaamah, ia seorang yang tsiqah lagi tsabat [idem, hal. 333 no. 1993].

b. Zuhair bin Mu’aawiyyah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah hal. 47-48 no. 84 : Telah menceritakan kepada kami An-Nufailiy : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’aawiyyah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim.

An-Nufailiy, ia adalah ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aliy bin Nufail Al-Qadlaa’iy, Abu Ja’far An-Nufailiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh [idem, hal. 543 no. 3619].

c. Bisyr bin Al-Mufadldlal; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ya’laa no. 2648 : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kam ‘Abdullah bin ‘Utsmaan (bin Khutsaim).

‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Maisarah Al-Qawaaririy adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat [idem, hal. 643 no. 4354]. Bisyr bin Al-Mufadldlal bin Laahiq Ar-Raqqaasiy adalah seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aabid [idem, hal. 171 no. 710].

d. Yahyaa bin Sulaim; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 7108 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/45 dari jalan Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Janaad Al-Halabiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sulaim, dari ‘Abdulah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim; dengan tanpa menyebutkan Dzakwaan.

Al-Hasan bin Sufyan bin ‘Aamir bin ‘Abdil-‘Aziz An-Nasawiy, seorang yang tsiqah [Mishbaahul-Ariib, 1/336 no. 6988]. Al-Haitsaam bin Jannaad, disebutkan Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat 9/237. Yahyaa bin Sulaim Al-Qurasyiy Ath-Thaaifiy, seorang yang shaduuq, namun jelek hapalannya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1057 no. 7613].

Ibnu Khutsaim dalam periwayatan dari Ibnu Abi Mulaikah juga mempunyai mutaba’aah dari ‘Umar bin Sa’iid bin Abi Husain; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4753; tanpa menyebutkan Dzakwaan.

Atsar ini juga diriwayatkan secara ringkas oleh Ahmad dalam Al-Fadlaail no. 1636 dari jalan Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Abi Ibraahiim, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid : “Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepada ‘Aaisyah (untuk menemuinya/menjenguknya) saat ia sakit yang membawa kepada kematiannya…..dst”.

Haaruun bin Abi Ibraahiim Al-Barbariy, seorang yang tsiqah [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/96-97 no. 399]. ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair bin Qataadah Al-Laitsiy, seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 524-525 no. 3478].

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy secara ringkas no. 3771 dari jalan Muhammad bin Basyaar, dan no. 4754 dari jalan Muhammad bin Al-Mutsannaa; keduanya berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Abdil-Majiid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Al-Qaasim : “Bahwasannya Ibnu ‘Abbaas meminta ijin kepada ‘Aaisyah…..dst.”.

[6] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat shahih lagi mutawatir bersabda :

من كذب علي متعمدا فليتبوء مقعده من النار

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka persiapkan tempat duduknya (kelak) di neraka”.

[7] Keterangan perawi :

a. Yuunus bin ‘Abdil-A’laa bin Maisarah bin Hafsh bin Hayyaan Ash-Shadafiy, Abu Muusaa Al-Mishriy; seorang yang tsiqah (170-264 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1098 no. 7964].

b. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyiy Al-Fihriy, Abu Muhammad Al-Mishriy Al-Faqiih; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ‘aabid (125-197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 556 no. 3718].

c. Bakr bin Mudlar bin Muhammad bin Hakiim bin Salmaan, Abu Muhammad/Abu ‘Abdil-Malik Al-Mishriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (102-173/174 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 176 no. 759].

d. Ibnul-Haad, ia adalah Yaziid bin ‘Abdillah bin Usaamah bin Al-Haad Al-Laitsiy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, banyak haditsnya (w. 139 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1077 no. 7788].

e. Muhammad bin Ibraahiim bin Al-Haarits bin Khaalid Al-Qurasyiy At-Taimiy; seorang yang tsiqah (lahu afraad) (w
. 120 dalam usia 74 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 819 no. 5727].

f. Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Auf Al-Qurasyiy Az-Zuhriy Al-Madaniy; seorang yang tsiqah banyak haditsnya (w. 94 H dalam usia 72 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1155 no. 8203].

Para perawinya tsiqaat, sanadnya bersambung, dan tidak ada ‘illat sedikitpun.

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath 2/444 dan Al-‘Iraaqiy dalam Takhriij Al-Ihyaa’ 1/393.

Artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/11/aisyah-adalah-istri-nabi-shallallaahu.html

Family Nutrition

The Family Nutrition Care

Daily Journal

Learn from yesterday . Live for today. Hope for tomorrow. (Albert Einstein)

Little Part of My Life

All about a journey in my short life

Menembus Langit

sebab menulis adalah bagian dari tauhid

Kolam Ilmu

Mengisi waktu dengan menyelami kolam yang berisi ilmu

anotherbrandnewdawn

everyday is a brand new day and let's hope to be better for today than yesterday

MuslimAfiyah

Sehat Jiwa dan Raga Bersama Islam

segores pena

Bermimpilah Karna Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu (Arai-Sang Pemimpi)

rumah belajar Ibnu Abbas

Pendidikan, Keluarga, dan Risalah Islam

drprita1

Belajar dan Berbagi

Me & Mine

Live My Dream :)

in between...

adni kurniawan's perspective

Benteng Kehidupan™

Bentengi Diri Kita dengan Ilmu

Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah

أم صفية الباليتارية

Ummu Salma al-Atsariyah

Meraih Kebahagian Dunia dan Akhirat

Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam | SALAFIYUNPAD.wordpress.com

Belajar Islam Dakwah Salafiyah Download Free Video Ebook Ceramah MP3 Gratis Ahlus Sunnah Kajian Islam Wanita Fikih Aqidah Konsultasi Syariah Bisnis Online

%d bloggers like this: