Gimana Skripsinya???

Seseorang (S) bertanya: “Na, gimana skripsinya?”

Ina (I): “Alhamdulillah, proposal udah di-acc. Tinggal ngurus perizinan buat ambil data.”

Beberapa hari kemudian
(S): “Na, gimana skripsinya? Udah sampe mana?”

(I): “Alhamdulillah, lagi proses perizinan buat ngambil data.”

Beberapa hari kemudian, sekitar seminggu setelah pertanyaan sebelumnya.
(S): Na, gimana skripsinya? Udah selesai”

(I): “…” (bingung mau jawab apa)
Dalam hati: emang ente kira bikin cerpen, beberapa hari kelar???

TM Bookstore

Toko buku tercihuy yg pernah saya datengin. Walaupun bukan toko buku terbesar di kota kami (baca: Depok), tapi toko buku ini punya banyak kelebihan dibanding toko buku lainnya, termasuk dg toko buku terbesar di kota kami sekalipun.. :D

Nggak ada satu pun buku yg nggak didiskon di sini. Layanan satu ini pasti sangat menguntungkan buat kalangan mahasiswa kayak saya. Trus juga ada layanan pengembalian buku, yaitu kalo buku yg kita beli ternyata nggak sesuai dg keinginan atau harapan kita, kita bisa balikin n tuker buku yg lain (syarat dan ketentuan berlaku pastinya)..

Trus ada layanan penyampulan buku gratis kalo kita beli buku dengan harga tertentu. Trus juga suka ada bincang2 dg penulis buku2 terkenal. Ada sesi penandatanganan buku juga. Asyik lah pokoknya..

Dan yang paling penting, toko buku ini ramah n ngerti banget sama pengunjung. Ada banyak bangku yang disediakan untuk pengunjung yang mau baca-baca dulu calon buku yang mau dibeli. Nggak kayak di toko buku lain yang membiarkan pengunjungnya berdiri pegal atau bahkan merasa sedikit terusir kalo kelamaan lihat2. Bisa betah berjam-jam saya di toko buku ini.. :D

Yang belom pernah mampir ke toko buku ini, saya saranin mampir sesekali. Mudah2an suka dengan pelayanan mereka.. ^_^

Yasuko to Kenji

Drama yang menceritakan sepasang kakak beradik yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya.. Sang kakak yang tadinya ketua geng motor akhirnya membubarkan gengnya dan mencari pekerjaan lain demi merawat adik perempuan satu-satunya. Saking protektifnya sang kakak sampe2 di HP si adik nggak boleh ada nomor teman laki-laki.. hehe…
Drama keluarga yang bagus, lucu,dan juga banyak makna yang bisa direnungkan.. Ya, walaupun agak aneh juga, hehe..

[FF] Sekat antara Cinta dan Benci

Aku seorang anak yang tidak diinginkan. Setidaknya itulah yang kurasakan. Aku tidak pernah akur dengan ibu. Dia bagai orang asing bagiku. Aku selalu iri melihat teman-temanku akrab dengan ibu mereka, bercanda, bermanja, bahkan menangis di pelukannya. Seingatku, aku tidak pernah memeluk atau dipeluk ibuku. Padahal aku sangat ingin, tapi aku tak berani.

Ada dua pasal yang dianut ibuku dalam mendidik anaknya. Pertama, ibu selalu benar. Kedua, jika ibu salah maka kembali ke pasal pertama. Ibuku tidak pernah mau mengaku salah. Dalam kamus hidupnya hanya anak yang wajib untuk meminta maaf, tak peduli siapa sebenarnya yang bersalah. Sekali sang anak ditemukan bersalah, omelan panjang lebar akan memekakkan telinga sepanjang hari. Tidak hanya hari dimana sang anak berbuat salah, tapi hari-hari selanjutnya pun kadang diungkit kembali.

Hampir tak ada kenangan manis antara aku dan ibuku. Kalaupun ada, semuanya tak bisa mengalahkan kenangan menyedihkan yang memang sepertinya lebih banyak. Yang banyak terekam dalam ingatanku adalah adegan kemarahannya. Tak jarang aku dipukulinya dengan sapu lidi. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat aku kelas satu SMP. Hari itu hujan deras. Aku terlambat mengikuti les karena bangun kesiangan. Aku sudah minta maaf pada ibu, namun mungkin di mata ibu permintaan maaf itu tak setimpal dengan besarnya kesalahanku. Aku pun dihukum dipukul dengan sapu lidi. Sekujur tubuhku berbekas garis-garis merah, bajuku pun robek. Tidak cukup sampai di situ, aku pun tetap dipaksa berangkat les setelah dihukum.

Gaya mendidik ibu membuatku tumbuh menjadi gadis yang pemberontak dan pemarah. Aku pun mulai membenci ibu. Salahkah? Aku merasa menjadi anak yang tidak diinginkan oleh orang tuaku. Aku mulai benci rumah. Aku mengikuti segala macam kegiatan ekstrakulikuler agar waktuku di rumah menjadi lebih sedikit. Aku tak pernah cerita kepada siapa pun tentang keadaanku. Semuanya aku pendam sendiri. Sampai akhirnya aku tak tahan dan memutuskan untuk kabur dari rumah. Sebuah keputusan tanpa pikir panjang.

Tapi yang membuatku bingung, ibu hanya berlaku seperti itu terhadapku, tidak terhadap adik-adikku. Ibu tak pernah marah lama-lama pada adik-adikku. Berbeda apabila marah denganku, bisa berhari-hari dia akan tahan untuk tidak menyapaku. Adikku yang bungsu justru sangat dekat dengannya. Walaupun sudah besar tapi masih sering minta tidur bareng ibu. Dan ibu akan mengabulkan permintaanya tanpa marah-marah. Aku jadi sering berpikir, apakah aku cuma “anak pancingan” yang dipungutnya dari tong sampah? Kalau iya, tolong kembalikan saja aku ke tong sampah. Biar aku hidup di panti asuhan atau di jalanan sekalian.

Cita-citaku adalah cepat lulus sekolah dan cepat kerja, jadi bisa cepat keluar dari rumah ini. Ya, seperti sekarang ini. Aku sudah bekerja dan sudah lima tahun tidak pulang ke rumah. Walaupun begitu, aku tetap rutin mengirimkan beberapa rupiah hasil kerjaku untuk ibu lewat adikku. Sebenarnya ada rasa rindu yang mengajakku untuk pulang. Tapi kenangan-kenangan buruk itu menahanku untuk tetap tidak pulang. Apakah aku seorang pendendam? Mungkin benar kata orang, kekecewaan yang digoreskan oleh orang yang kita cintai akan terasa lebih menyakitkan dibandingkan orang lainnya. Kita pun lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan orang yang kita cintai.

Dan tibalah sms itu di ponselku. Kak, ibu sakit. Cepat pulang. Aku gamang. Apakah kali ini aku harus pulang? Memangnya separah apa sakit ibu sampai aku disuruh pulang? Toh selama lima tahun ini aku sering mendapat kabar ibu sakit. Tapi aku tidak pernah disuruh pulang. Aku bingung, pikiranku terbagi dua. Satu sisi tetap bertahan untuk tidak pulang, satu sisi menyuruhku pulang. Tapi sejujurnya, aku belum siap untuk kehilangan ibu, bagaimanapun caranya.

[Balada Skripsweet] Man Shabara Zhafira

Hari ini tiga jam ina menunggu dosen pembimbing (PA) tanpa kepastian. Padahal sebelumnya kami sudah janjian hari ini akan konsul. Ina sms tiap satu jam, ga ada balesan. Ina telepon, ga diangkat. Ya Allah, benar-benar ujian kesabaran.

Padahal ina udah bikin target-target untuk semester ini. Tapi rasanya mustahil akan tercapai kalau sang PA ga bisa diajak bekerja sama. Kadang sulitnya menemui PA, target-target ina, nasib skripsi ina, bikin ina ga bisa tidur. Bahkan sampe kebawa mimpi.

Tapi semua pasti ada hikmahnya. Hari ini, hari yang ina anggap sia-sia, ternyata malah bikin ina dapet teman baru di bis. Alhamdulillah, ternyata hari ini ga seburuk yang ina bayangkan. Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Slogan dari buku Ranah 3 Warna yang baru ina beli, pas banget dengan keadaan ina hari ini.

Sabar. Cuma satu kata, tapi efeknya sangat dahsyat. Semoga ina bisa terus bersabar, dengan sabar yang tak terbatas. Bukan hanya di semester ini, tapi juga selama helaan napas belum terputus. Bantulah ina agar senantiasa sabar, Duhai Rabbi.. Aamiinnn…. ^_^

[FF] Lelaki Terakhir (?)

Dia berbeda. Setidaknya itulah awalnya mengapa aku suka memerhatikannya. Dia pendiam. Hmmm, tidak pendiam juga sebenarnya. Kalau bersama teman-temannya dia bisa bicara panjang lebar. Tapi dia sangat pendiam padaku. Jauh berbeda dengan karyawan lainnya yang menyapa ramah saat pertama kali bertemu denganku. Dia hanya melirikku sekilas saat temannya mengenalkanku kepadanya sebagai karyawan baru. Tak ada basa basi menanyakan kabar atau asalku seperti karyawan lain. Hanya senyum tipis, itupun kalau bisa disebut senyum, yang dia perlihatkan. Hanya sepersekian detik. Tidak lebih, hanya itu.

Aku tidak bisa dibilang cantik. Aku pun tidak merasa cantik. Tapi teman-temanku bilang kalau aku manis dan imut. Kata mereka, orang akan betah melihat wajahku lama-lama, apalagi saat aku tersenyum. Aku tidak menyadari hal itu. Pun tidak terlalu memedulikannya. Namun seiring berjalannya waktu, wajahku yang manis ini ternyata banyak membantuku. Segala urusanku, terlebih dengan lawan jenis, akan selalu sempurna bila aku memadukannya dengan senyum manisku. Dosenku dulu juga pernah bilang kalau dia menyukai gaya presentasiku yang penuh senyuman. Dia bilang, gaya presentasi seperti itu harus dipertahankan, sangat menarik audience. Aku hanya tersenyum dalam hati. Sebenarnya bukan maksud hati untuk memergunakan senyumanku semaksimal mungkin, tapi aku memang hanya bisa tersenyum kalau sedang grogi.

Karena wajah dan senyum yang dibilang manis inilah banyak lelaki mengejarku. Sudah banyak gaya “tembak-menembak” lelaki yang pernah kulihat. Mulai dari membawa bunga, coklat, boneka, dan beraneka macam hadiah lainnya. Ekspresi wajahnya pun bermacam-macam. Ada yang penuh senyuman percaya diri, gemetar, wajah pias, salah tingkah, bahkan sampai tak bicara, hanya mampu memandangku dengan mata penuh harap dan mulut agak menganga. Selama ini kuanggap itu sebagai hiburan dalam hidupku. Rasanya lucu melihat semua ekspresi itu, walaupun akhirnya ekspresi apapun akan berubah menjadi ekspresi sedih atau marah karena aku tolak.

Ya, tidak ada satupun dari mereka yang aku terima. Bukannya sombong atau jual mahal, tapi aku tak pernah berpikir untuk pacaran. Aku juga bukan ahli dalam agama. Semua aku lakukan hanya karena aku merasa itu yang seharusnya kulakukan. Tidak pernah pacaran bukan berarti aku tidak pernah jatuh hati. Justru hatiku sering jatuh bangun karena rasa suka atau kagum terhadap lawan jenis. Tapi aku tidak pernah menanggapi rasa itu dengan serius. Aku hanya marasa senang dengan rasa itu, karena tandanya aku masih normal sebagai wanita.

Kembali kepada dia. Aku menjadi sangat penasaran terhadap sosoknya. Selama ini aku tidak pernah ditanggapi dingin oleh lawan jenis. Entah karena sikapnya yang terlalu dingin atau hanya ingin memuaskan rasa penasaranku, aku mengubah sedikit sikapku saat ada di dekatnya. Aku tersenyum lebih manis, bercanda lebih banyak, berbicara lebih bernada dengan orang-orang yang sedang ada di dekatnya. Tidak, aku tidak pernah mengajaknya bicara. Dalam kamus hidupku, tidak akan pernah aku mengakrabkan diri lebih dulu dengan lawan jenis. Dengan cara ini, aku ingin tahu berapa lama dia mampu bertahan tidak mengajakku bicara.

Ternyata caraku berhasil. Dia lama-lama mulai mengajakku mengobrol. Aku menjadi lebih tahu dia sosok seperti apa. Hubungan kami pun makin dekat. Tidak sulit untuk akrab dengannya karena bawaanku memang mudah akrab dengan siapa saja. Dia mulai mengajakku jalan-jalan, meneraktirku makan, nonton bioskop, dan berbelanja. Aku menanggapi itu biasa saja, karena aku menganggapnya hanya sebatas teman.

Dan meluncurlah pertanyaan itu. Dia “menembakku”. Bukan untuk menjadi pacarnya, tapi untuk menjadi pendamping hidupnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya perasaan spesial apapun kepadanya. Niat awalku kan hanya karena penasaran. Untuk menolak aku segan. Tak bisa kubayangkan ekspresinya saat ikut menjadi korban penolakanku selanjutnya. Untuk menerima pun aku enggan. Aku belum siap menikah. Masih belum merasa cocok dengannya. Masih ingin mencari yang lain. Tapi sisi hatiku yang lain membantah. Bagaimana kalau dia adalah laki-laki terakhir yang akan menyatakan cintanya padaku, mengingat selama ini aku sudah terlalu banyak menolak lelaki? Aku bingung. Dia memberi waktu dua minggu untuk berpikir sebelum memberikan jawaban. Dan hari ini adalah hari terakhir. Besok dia memintaku untuk bertemu saat makan siang. Aku harus menjawab apa???

Semangat!!! ^_^

Bismillah

Akhir-akhir ini ina ngerasa lebih sensitif. Sebentar-sebentar langsung kesel and cemberut. Bahkan kadang gampang nangis. Padahal cuma hal kecil. Contohnya, supir bis yang mengendarai bis agak lambat dikit bisa bikin ina langsung kesel (karena ina lagi buru-buru juga sih). Menunggu agak lama sedikit ina langsung kesel. Ada yg nanya tentang progress skripsweet langsung agak kesel (hehe, nggak juga ding, cuma merasa agak kurang nyaman aja.. Apalagi kalo lagi mentok n nggak ada progress.. ).

Rambut ina juga mulai rontok, sariawan mulai berdatangan, jadi gampang sakit juga. Katanya, ini semua tanda-tanda stres. Apa bener ina stres?? Huuft, sulit memang bertahan untuk menjadi mahasiswa tingkat akhir yang bahagia. Tapi sulit bukan berarti nggak bisa kan? (Mencoba untuk menyemangati diri sendiri.. Ya, soalnya kalo bukan diri sendiri yg menyemangati, siapa lagi?? hehe.. )

Pernah mencoba mencari akar masalah dari masalah ina ini. Jawabannya adalah: sepertinya ina terlalu mencemaskan hari esok. Bagaimana nanti kalo ina bermasalah saat pengambilan data? Bagaimana kalo nanti ina bermasalah cari referensi pas bikin pembahasan? Bagaimana nanti kalo ina kehabisan ide pas merumuskan saran? Dan yang paling penting, bagaimana sidang ina nanti?? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sering mampir di pikiran ina, bikin ina susah tidur.

Ina terlalu takut pada masalah-masalah yang sebetulnya belum tentu menimpa ina. Justru kalo selalu mikirin hal-hal yang menyeramkan kayak gitu mungkin malah akan benar-benar menimpa ina nantinya. Hal itu kan bisa hadi sugesti. Jadi, mulai sekarang ina hanya akan memikirkan hal-hal yang baik, memberikan sugesti-sugesti positif buat diri ina sendiri. InsyaAllah pengambilan data nanti lancar, InsyaAllah referensi bisa dicari dan teman-teman juga banyak yang bersedia membantu, InsyaAllah saran itu akan mengalir selama ina banyak baca, dan yang paling penting, InsyaAllah sidang akan berjalan lancar selama ina berusaha melakukan yang terbaik. Ina percaya, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya.

Lagipula, untuk apa takut pada hal yang belum terjadi?? Toh, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban pada hal yang belum terjadi. Justru kita akan diminta mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan saat ini. Jadi tetaplah lakukan yang terbaik saat ini. Selanjutnya, biarlah Kasih Sayang Allah yang menuntunmu. Semangat, Na!! Buktikan kamu bisa jadi mahasiswa tingkat akhir yang bahagia… hahaha…