[FF] Lelaki Terakhir (?)

Dia berbeda. Setidaknya itulah awalnya mengapa aku suka memerhatikannya. Dia pendiam. Hmmm, tidak pendiam juga sebenarnya. Kalau bersama teman-temannya dia bisa bicara panjang lebar. Tapi dia sangat pendiam padaku. Jauh berbeda dengan karyawan lainnya yang menyapa ramah saat pertama kali bertemu denganku. Dia hanya melirikku sekilas saat temannya mengenalkanku kepadanya sebagai karyawan baru. Tak ada basa basi menanyakan kabar atau asalku seperti karyawan lain. Hanya senyum tipis, itupun kalau bisa disebut senyum, yang dia perlihatkan. Hanya sepersekian detik. Tidak lebih, hanya itu.

Aku tidak bisa dibilang cantik. Aku pun tidak merasa cantik. Tapi teman-temanku bilang kalau aku manis dan imut. Kata mereka, orang akan betah melihat wajahku lama-lama, apalagi saat aku tersenyum. Aku tidak menyadari hal itu. Pun tidak terlalu memedulikannya. Namun seiring berjalannya waktu, wajahku yang manis ini ternyata banyak membantuku. Segala urusanku, terlebih dengan lawan jenis, akan selalu sempurna bila aku memadukannya dengan senyum manisku. Dosenku dulu juga pernah bilang kalau dia menyukai gaya presentasiku yang penuh senyuman. Dia bilang, gaya presentasi seperti itu harus dipertahankan, sangat menarik audience. Aku hanya tersenyum dalam hati. Sebenarnya bukan maksud hati untuk memergunakan senyumanku semaksimal mungkin, tapi aku memang hanya bisa tersenyum kalau sedang grogi.

Karena wajah dan senyum yang dibilang manis inilah banyak lelaki mengejarku. Sudah banyak gaya “tembak-menembak” lelaki yang pernah kulihat. Mulai dari membawa bunga, coklat, boneka, dan beraneka macam hadiah lainnya. Ekspresi wajahnya pun bermacam-macam. Ada yang penuh senyuman percaya diri, gemetar, wajah pias, salah tingkah, bahkan sampai tak bicara, hanya mampu memandangku dengan mata penuh harap dan mulut agak menganga. Selama ini kuanggap itu sebagai hiburan dalam hidupku. Rasanya lucu melihat semua ekspresi itu, walaupun akhirnya ekspresi apapun akan berubah menjadi ekspresi sedih atau marah karena aku tolak.

Ya, tidak ada satupun dari mereka yang aku terima. Bukannya sombong atau jual mahal, tapi aku tak pernah berpikir untuk pacaran. Aku juga bukan ahli dalam agama. Semua aku lakukan hanya karena aku merasa itu yang seharusnya kulakukan. Tidak pernah pacaran bukan berarti aku tidak pernah jatuh hati. Justru hatiku sering jatuh bangun karena rasa suka atau kagum terhadap lawan jenis. Tapi aku tidak pernah menanggapi rasa itu dengan serius. Aku hanya marasa senang dengan rasa itu, karena tandanya aku masih normal sebagai wanita.

Kembali kepada dia. Aku menjadi sangat penasaran terhadap sosoknya. Selama ini aku tidak pernah ditanggapi dingin oleh lawan jenis. Entah karena sikapnya yang terlalu dingin atau hanya ingin memuaskan rasa penasaranku, aku mengubah sedikit sikapku saat ada di dekatnya. Aku tersenyum lebih manis, bercanda lebih banyak, berbicara lebih bernada dengan orang-orang yang sedang ada di dekatnya. Tidak, aku tidak pernah mengajaknya bicara. Dalam kamus hidupku, tidak akan pernah aku mengakrabkan diri lebih dulu dengan lawan jenis. Dengan cara ini, aku ingin tahu berapa lama dia mampu bertahan tidak mengajakku bicara.

Ternyata caraku berhasil. Dia lama-lama mulai mengajakku mengobrol. Aku menjadi lebih tahu dia sosok seperti apa. Hubungan kami pun makin dekat. Tidak sulit untuk akrab dengannya karena bawaanku memang mudah akrab dengan siapa saja. Dia mulai mengajakku jalan-jalan, meneraktirku makan, nonton bioskop, dan berbelanja. Aku menanggapi itu biasa saja, karena aku menganggapnya hanya sebatas teman.

Dan meluncurlah pertanyaan itu. Dia “menembakku”. Bukan untuk menjadi pacarnya, tapi untuk menjadi pendamping hidupnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya perasaan spesial apapun kepadanya. Niat awalku kan hanya karena penasaran. Untuk menolak aku segan. Tak bisa kubayangkan ekspresinya saat ikut menjadi korban penolakanku selanjutnya. Untuk menerima pun aku enggan. Aku belum siap menikah. Masih belum merasa cocok dengannya. Masih ingin mencari yang lain. Tapi sisi hatiku yang lain membantah. Bagaimana kalau dia adalah laki-laki terakhir yang akan menyatakan cintanya padaku, mengingat selama ini aku sudah terlalu banyak menolak lelaki? Aku bingung. Dia memberi waktu dua minggu untuk berpikir sebelum memberikan jawaban. Dan hari ini adalah hari terakhir. Besok dia memintaku untuk bertemu saat makan siang. Aku harus menjawab apa???