[FF] Sekat antara Cinta dan Benci

Aku seorang anak yang tidak diinginkan. Setidaknya itulah yang kurasakan. Aku tidak pernah akur dengan ibu. Dia bagai orang asing bagiku. Aku selalu iri melihat teman-temanku akrab dengan ibu mereka, bercanda, bermanja, bahkan menangis di pelukannya. Seingatku, aku tidak pernah memeluk atau dipeluk ibuku. Padahal aku sangat ingin, tapi aku tak berani.

Ada dua pasal yang dianut ibuku dalam mendidik anaknya. Pertama, ibu selalu benar. Kedua, jika ibu salah maka kembali ke pasal pertama. Ibuku tidak pernah mau mengaku salah. Dalam kamus hidupnya hanya anak yang wajib untuk meminta maaf, tak peduli siapa sebenarnya yang bersalah. Sekali sang anak ditemukan bersalah, omelan panjang lebar akan memekakkan telinga sepanjang hari. Tidak hanya hari dimana sang anak berbuat salah, tapi hari-hari selanjutnya pun kadang diungkit kembali.

Hampir tak ada kenangan manis antara aku dan ibuku. Kalaupun ada, semuanya tak bisa mengalahkan kenangan menyedihkan yang memang sepertinya lebih banyak. Yang banyak terekam dalam ingatanku adalah adegan kemarahannya. Tak jarang aku dipukulinya dengan sapu lidi. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat aku kelas satu SMP. Hari itu hujan deras. Aku terlambat mengikuti les karena bangun kesiangan. Aku sudah minta maaf pada ibu, namun mungkin di mata ibu permintaan maaf itu tak setimpal dengan besarnya kesalahanku. Aku pun dihukum dipukul dengan sapu lidi. Sekujur tubuhku berbekas garis-garis merah, bajuku pun robek. Tidak cukup sampai di situ, aku pun tetap dipaksa berangkat les setelah dihukum.

Gaya mendidik ibu membuatku tumbuh menjadi gadis yang pemberontak dan pemarah. Aku pun mulai membenci ibu. Salahkah? Aku merasa menjadi anak yang tidak diinginkan oleh orang tuaku. Aku mulai benci rumah. Aku mengikuti segala macam kegiatan ekstrakulikuler agar waktuku di rumah menjadi lebih sedikit. Aku tak pernah cerita kepada siapa pun tentang keadaanku. Semuanya aku pendam sendiri. Sampai akhirnya aku tak tahan dan memutuskan untuk kabur dari rumah. Sebuah keputusan tanpa pikir panjang.

Tapi yang membuatku bingung, ibu hanya berlaku seperti itu terhadapku, tidak terhadap adik-adikku. Ibu tak pernah marah lama-lama pada adik-adikku. Berbeda apabila marah denganku, bisa berhari-hari dia akan tahan untuk tidak menyapaku. Adikku yang bungsu justru sangat dekat dengannya. Walaupun sudah besar tapi masih sering minta tidur bareng ibu. Dan ibu akan mengabulkan permintaanya tanpa marah-marah. Aku jadi sering berpikir, apakah aku cuma “anak pancingan” yang dipungutnya dari tong sampah? Kalau iya, tolong kembalikan saja aku ke tong sampah. Biar aku hidup di panti asuhan atau di jalanan sekalian.

Cita-citaku adalah cepat lulus sekolah dan cepat kerja, jadi bisa cepat keluar dari rumah ini. Ya, seperti sekarang ini. Aku sudah bekerja dan sudah lima tahun tidak pulang ke rumah. Walaupun begitu, aku tetap rutin mengirimkan beberapa rupiah hasil kerjaku untuk ibu lewat adikku. Sebenarnya ada rasa rindu yang mengajakku untuk pulang. Tapi kenangan-kenangan buruk itu menahanku untuk tetap tidak pulang. Apakah aku seorang pendendam? Mungkin benar kata orang, kekecewaan yang digoreskan oleh orang yang kita cintai akan terasa lebih menyakitkan dibandingkan orang lainnya. Kita pun lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan orang yang kita cintai.

Dan tibalah sms itu di ponselku. Kak, ibu sakit. Cepat pulang. Aku gamang. Apakah kali ini aku harus pulang? Memangnya separah apa sakit ibu sampai aku disuruh pulang? Toh selama lima tahun ini aku sering mendapat kabar ibu sakit. Tapi aku tidak pernah disuruh pulang. Aku bingung, pikiranku terbagi dua. Satu sisi tetap bertahan untuk tidak pulang, satu sisi menyuruhku pulang. Tapi sejujurnya, aku belum siap untuk kehilangan ibu, bagaimanapun caranya.

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s