Insya Allah Ya..

Suatu hari, percakapan antara Ina dan Korlap Magang.

Korlap: :”Saya mau hari jumat minggu ini kamu udah selesai BAB 1-2 ya.”

Ina: “Iya, Insya Allah, Pak.”

Korlap: “Saya ga mau kata-kata Insya Allah. Saya ingin yang pasti, kamu bisa apa ga, sanggup apa ga dengan deadline saya?”

Ina: ”Iya, sanggup, Pak. Insya Allah.”

Korlap: “Bilang sanggup kalo sanggup, ga kalo ga. Selama ini orang yang bilang Insya Allah itu cuma janji-janji palsu. Ujung-ujungnya mereka ga bisa.”


Kalo ada yang bilang, “Insya Allah”, apa yang ada di benak teman-teman?? Kalo untuk ina pribadi, kata Insya Allah mencerminkan sebuah tekad yang kuat untuk melakukan sesuatu. Ya, kalo ditakar, 90% yakin akan melakukan hal itu, sisanya ya keputusan Allah. Karena sekuat apapun tekad kita untuk melakukan sesuatu, kalo Allah ga berkehendak, ga akan terjadi, kan? Tapi sepertinya kata “Insya Allah” sudah membias artinya. Insya Allah jadi berarti 50:50, bisa iya bisa ga, bisa sanggup bisa tidak, bisa datang bisa tidak. Ina jadi bingung, jadi arti yang sebenarnya itu seperti apa?? Apa jangan-jangan, kebiasaan buruk (ingkar janji) kitalah yang telah membuat makna “Insya Allah” jadi berubah??

Seperti yang dirasakan oleh Korlap magang ina. Sepertinya beliau sudah bosan mendengar janji palsu seseorang dengan berkedok “Insya Allah”, sampe-sampe beliau ga percaya lagi dengan kata-kata itu, bahkan hampir antipati. Setelah percakapan di atas, beliau menceritakan tentang kebiasaan siswa salah satu sekolah nasrani di kota ini. Beliau memuji kedisiplinan mereka, betapa mereka sangat menjaga janji yang mereka ucapkan. Mereka akan dengan jujur bilang sanggup atau bisa dan menjaga konsekuensi dari kata-kata itu, dengan jujur juga mengatakan tidak apabila mereka memang tidak bisa.

Padahal harusnya kita (muslim) bisa lebih baik dari mereka kan? Toh agama ini sebenarnya sudah yang terbaik, hanya mungkin pengikutnya yang menjadikan citranya jadi buruk. Semoga kita bisa selalu memperbaiki diri, hingga citra agama ini bisa menjadi baik.. Insya Allah.. ^_^

***

Kemarin sore, saat sedang membujuk seseorang untuk ikut rafting.

Ina: “Mba, ayo ikutan aja. Lebih rame lebih seru.”

Mba: “Insya Allah ya.”

Ina (dengan mata berbinar): “asyiiikkk!!!”

Mba: “Eh, Insya Allah lho…”

Ina: “……….”