Datang dan Pergi

Dua hari yang lalu, ina mendapat kabar bahwa ayah salah satu teman ina meninggal dunia karena kanker saluran getah bening. Innalillahi wainna ilaihi roji’un..

Ya Allah, ina membayangkan bagaimana perasaan teman ina itu. Pasti sangat kehilangan. Bulan Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan pertama tanpa ayah di sampingnya. Saat wisuda pun tak kan ada ayah yang tersenyum penuh kebanggaan melihat putrinya memakai toga. Pun tak kan ada ayah yang berkaca-kaca bahagia di hari pernikahannya kelak.

Setelah mendengar berita ini, ina pun merenung. Telah siapkah ina saat orang-orang yang ina cintai dipanggilNya?? Berkaca pada hati yang paling dalam, sungguh, ina belum siap, Ya Rabb. Ina belum sempat membalas kebaikan Ummi dan Abi, walau ina tahu kebaikan mereka tidak akan mungkin terbalaskan secara penuh.

Karena itu, Ya Rabb, ina mohon dengan segala nama yang Kau miliki, tolong jagalah Ummi dan Abi dikala penjagaan ina tak sampai pada mereka. Sayangilah mereka dikala rasa sayang ina tak sanggup merengkuh mereka dalam dekapan nyata. Karena Kau punya segala yang tidak ina punya. Dan karena ina tahu, hanya dengan bergantung padaMu-lah tidak akan ada rasa kecewa.

Teringat perkataan seorang teman sebelum dia pergi (dulu pernah ina post di sini). “Setiap kita pasti akan kehilangan. Kita mungkin akan kehilangan teman, sahabat, adik, kakak, dan juga orang tua. Mereka mungkin hanya mampir sesaat dalam kehidupan kita. Ketika mereka pergi, kita pun akan merasa kehilangan. Dari sana kita dapat pelajaran: berbuat baik pada orang yg kita temui sekarang adalah lebih baik dibandingkan kita terus merindukannya ketika dia sudah pergi. Lalu, akan datang orang2 baru yg akan memberi warna di kehidupan kita. Mereka datang dan pergi. Kita pasti berharap mereka akan pergi dg perasaan yg bahagia dan mungkin mereka akan terus merindukan kita. Dan ketika mereka pergi, kita juga harus berdoa supaya kita dan mereka bisa kembali berkumpul bersama di surga yg abadi; sebuah tempat yg tidak ada datang dan pergi.”

Semoga kita selalu bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Sayangi orang di sekitar kita sebelum terlambat dan akhirnya kita menyesal. Karena penyesalan tidak akan pernah mengubah keadaan.

“Never take someone for granted. Hold every person close to your heart. Because you might wake up one day and realize that you’ve lost a diamond while you were too busy collecting stones” (Unknown)

Panggilan Sayang

Hari ini saya kesal..
Kenapa? Alasan yang sepele sebenarnya.. Karena sebuah panggilan..
Ya, sebuah panggilan, sebuah nama yang digunakan beberapa teman untuk memanggil saya..

Kekanak-kanakan?? Mungkin. Tapi saya memang tidak suka dengan panggilan itu. Saya sudah pernah mencoba membicarakan ketidaksukaan saya ini kepada teman saya. Tapi mereka berdalih, “Itu kan panggilan “sayang”, Na.”. Tapi entah kenapa, saya tidak merasakan rasa “sayang” di panggilan itu.

Akhirnya, saya mencoba untuk menerima. Mungkin benar, itu cara mereka mengekspresikan rasa sayang kepada saya. Mungkin saya saja yang terlalu sensitif. Saya pun mulai mencoba menerima dengan lapang dada, mencoba tersenyum ketika dipanggil dengan panggilan itu. Tapi sangat sulit. Sampai sekarang pun masih ada rasa kesal terselip kalau ada teman yang memanggil dengan panggilan itu.

Pada kajian beberapa hari yang lalu, dibahas mengenai perkara lisan-lisan yang berdosa. Ternyata, betapa mudahnya kita menyakiti hati saudara kita dengan kata-kata, bahkan yang kita anggap baik. Saya jadi berpikir, mungkin selama ini saya juga banyak salah, memanggil seseorang dengan panggilan yang tidak dia sukai. Jadilah saya juga dipanggil dengan panggilan yang saya benci. Astaghfirullah, semoga Allah mau mengampuni saya.

So, untuk teman-teman yang saya sayangi karena Allah, saya hanya ingin sedikit mengingatkan (terutama kepada diri saya sendiri). Panggillah saudara/teman/sahabatmu dengan panggilan yang dia sukai.. Jangan memanggilnya dengan panggilan yang akan membuatnya sedih, bahkan sakit hati, walaupun kita meniatkan panggilan itu sebagai panggilan “sayang”.. Karena sesungguhnya, menyayangi itu adalah dengan menyenangkan hatinya, bukan menyakitinya..

Musibah kebakaran di Ma’had Ibnu Taimiyah

Hari Ahad malam tanggal 16 Sya’ban 1432H/ 17 Juli 2011M sekitar jam 18.15 ketika para santri dan penghuni pesantren tengah menunaikan ibadah sholat Maghrib, telah terjadi kebakaran di Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah Qism Banat (Pesantren Putri). Kejadian yang terjadi sangat cepat ini cukup membuat panik santri yang tengah sholat di masjid Banat (putri), pasalnya gedung dua lantai yang terbakar dilantai duanya ini persis terletak di belakang Mesjid sehingga para santri putri membatalkan sholatnya untuk menyelamatkan diri yang kemudian berhasil diungsikan ke Mesjid Al-Fauzan yang berlokasi di Pesantren putra. Adapun jama’ah sholat Maghrib di Pesantren Putra yang sedang khusuk melaksanakan sholat Maghrib, baru menyadari adanya kebakaran di pesantren putri setelah selesai sholat, sehingga cukup dramatis memang karena api baru berhasil dijinakkan setelah para santri, asatidzah dan segenap civitas pesantren dibantu oleh penduduk sekitar pesantren bergotong royong melokalisasi api dengan menggunakan ember dan mengambil air dari selokan kering didepan pesantren yang kebetulan setiap habis hujan terisi air, kemudian dibantu pemadaman api oleh satu truck tangki air untuk air minum isi ulang dan 3 armada pemadam kebakaran yang datang terlambat. Akhir kejadian tidak kurang dari separoh gedung sebelah timur di lantai II terbakar habis, dan 2 orang saudari kami musyrifah kamar (pengasuh santriwati) tewas terbakar. Mudah2an pengabdian dibidang dakwah selama hidup keduanya sehingga menemui ajalnya di tempat tugas mendapatkan tempat yang baik disisi Nya.

Mohon do’a dari ikhwani dan ikhwati semua agar kami para pengurus, asatidzah dan para santri santriwati diberi ketabahan, kesabaran dan kemampuan untuk menerima musibah ini dan segera dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar lagi bi idznillah serta bantuan antum.

Dan kami mengucapkan Jazakallahu khoiron atas tanggapan cepat dari ikhwani dan ikhwati yang telah mengirimkan bantuannya baik secara langsung telah datang ke pesantren maupun melalui transfer bank sebagaimana informasi dari kami yang terdapat pada link REKENING DONASI.

Menjadi Dewasa..

Waktu masih kecil, rasanya pengen banget jadi besar. Seorang anak TK ketika ditanya apa keinginannya saat ini, menjawab dengan mata berbinar, “Aku mau masuk SD.” Saat SD, tidak sabar rasanya ingin masuk SMP. Saat SMP, ingin segera merasakan jadi anak SMA. Saat SMA, selalu berdoa supaya cepat menyandang gelar mahasiswa, lalu kemudian kerja dan hidup mandiri.

Namun saat hendak menuju gerbang kehidupan yang sesungguhnya, kadang terbersit sebuah pikiran, alangkah enaknya kalau tetap seperti dulu. Tetap menjadi seorang gadis kecil yang tak perlu pusing memikirkan problematika kehidupan. Bisa selalu bermain, melakukan semua hal yang disukai, tanpa takut disalahkan oleh orang lain.

Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Sebuah kalimat yang mungkin berhasil menyadarkan beberapa orang kalau kedewasaan itu tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan sebuah pilihan hidup dan harus diperjuangkan. Teringat perkataan seseorang yang lebih tua saat saya bertanya mengapa mau berteman dengan orang yang masih kecil (ketika itu usia saya baru 15 tahun).

Dia menjawab, “Ina yang baik, ina tuh bukan anak kecil lagi. Lima belas tahun itu sudah termasuk tua. Di pelosok Jawa sana, umur lima belas tahun sudah pada punya anak. Mereka sudah merasa dewasa. Tahu kenapa? Sebab mereka ‘merasa’ sudah dewasa dan punya tanggung jawab. Jadi, jangan pernah bilang kalau Ina masih kecil, tapi tanamkan kalau Ina sudah dewasa. Biasanya mereka yang dewasa bercirikan: tidak emosional, rasional, punya rasa tanggung jawab, bisa mengayomi orang lain, dan sebagainya. So, jadilah seseorang yang dewasa. Jangan jadi ‘Baby Hue’ yang badannya gede tapi masih bayi.”

Dulu perkataan ini hanya seperti angin lalu. Tapi saat ini saya baru menyadari bahwa kata-katanya benar. Saya tidak akan pernah menjadi dewasa kalau saya tidak pernah merasa dewasa dan tidak mau menanamkan di pikiran saya kalau saya sudah dewasa. Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak?? Semoga saya bisa menjadi orang dewasa yang baik..

Andai..

Andai aku bisa memilih
Karena aku tak ingin memilih
satu di antara tiga, lima, enam, sepuluh atau berjuta
Karena diri ini lemah, ya Rabb
Tak tau mana yang terbaik
Tak paham makna rahasia-Mu
yang tersembunyi di Lauhul Mahfudz
Tapi pasti ada yang terbaik itu
Meski itu ekuivalen dengan
seribu tahun kumenunggu
Pasti ‘kan terbayar oleh waktu
Seluruh arti kesabaran
kepasrahan
ketawakalan
ketundukan
Teruji dalam sampul biru
Karena hari itu pastilah haru
Kala malaikat pun bertasbih
Memuji kebesaran-Mu
dalam kuasa-Mu

(No Man No Pain – Ria Fariana)

Tanya Kenapa (Kenapa Tanya) #7

Suatu malam, saat makan malam..

Abi: “Ka, harga garam lagi mahal ya??”
Ina: “Nggak tau deh, Bi. Emang kenapa??”
Abi: “Nggak kenapa-kenapa sih.. Cuma telur dadarnya nggak ada rasanya ni.”
Ina: Tepok jidat, trus nyengir.. “Maaf ya, Bi. Tadi lupa pake garam..” :D