Mudik-Mudik Bergembira #1

Alhamdulillah ya, tahun ini kesampean mudik lagi ke Ciamis. Bukan kampung ina sebetulnya, tapi kampung Ummi. Kalau beberapa tahun yang lalu, mudiknya dibagi dua kloter, satu tahun ke Cianjur, satu tahun ke Ciamis. Tapi karena Kakek dan Nenek dari Abi udah ga ada, udah ga mudik ke Cianjur lagi.

Mudik (pulang kampung) ke Ciamis tidak pernah membosankan buat ina karena Ciamis-nya bener-bener kampung. Jadi kan sesuai tuh, pulang kampung. Hehe.. Suasana di sini masih bener-bener asri, pemandangannya indah banget. Masih banyak sawah, banyak gunung, banyak pohon, kalau malam banyak bintang. Terus hawa di sini dingin banget, lebih dingin karena sekarang lagi musim kemarau.

Biasanya kalau di rumah Nini suka tarawih bareng sepupu-sepupu di rumah. Tapi karena masih sepi, ina jadinya terawih bareng Nini di mesjid deket rumah. Wauw, magic, terawihnya cepet banget. Kayak senam SKJ, 35 menit aja! Belum selesai bacaan rukuk, udah i’tidal. Kayak dikejar apa gitu, hehe. Tapi senang lihat jama’ahnya masih banyak. Apalagi kalau malam-malam ganjil di 10 hari terakhir. Mesjid akan tambah rame karena banyak yg pada mau “ngala berkat”.

Jadi, di malam-malam ganjil itu biasanya dibagikan makanan oleh pihak mesjid, isinya biasanya makanan ringan, mi instan, dan kue kampung. Makanan-makanan itu udah dipaket-paketin pake plastik, jadi seharusnya satu orang dapet satu paket. Tapi pada kenyataannya sih satu orang ada yg bisa dapet sampe empat paket. Hebat ya? Hehe..

Hmmm, segini dulu ya ceritanya. Kapan-kapan di sambung lagi. :D

Love Abi n Ummi So Much <3

Suatu hari, di sebuah rumah..

Seseorang: “Gimana Ina kuliahnya?”
Ina : “Alhamdulillah, udah lulus. Lagi cari-cari kerja.”
Seseorang: “Mau ngelamar di mana?”
Ina : “Coba di swasta dan PNS juga.”
Seseorang: “Iya tuh, coba PNS aja. Bapakmu juga dulu ditawarin jadi PNS, cuma
ditolak. Karena ga mau di luar Jawa katanya. Coba kalo dulu diterima,
udah tinggi tuh golongannya. Kan enak kalo jadi PNS. Hidup juga bisa
lebih terjamin pasti.
Ina : (Senyum)

Kalo seandainya Abi dulu jadi PNS, mungkin ga akan ketemu Ummi. Kalo Abi ga ketemu Ummi, mungkin Ina ga akan lahir. Kalopun ina lahir, mungkin ina ga akan punya ibu yg kayak Ummi. Kalo ina ga punya ibu yang kayak Ummi, mungkin ina ga akan jadi seperti sekarang ini.

Apapun yang telah Allah berikan, pasti itu yang terbaik. Tinggal bagaimana cara kita bersyukur dan bersabar atas segala ketetapanNya. Walaupun hidup tidak bergelimang harta, tapi alhamdulillah keluarga ini bahagia. Love my family so much.

Tanya Kenapa (Kenapa Tanya) #9

Suatu siang yang panas sekali..

A: “Eh, kalo lagi puasa mimisan ga batal kan ya??”
B: “Kalo darahnya ga ketelen sih ga batal.” (Nyengir)
A: (Ngomong sendiri) “Aduh, tadi ketelen ga ya?? Ga deh kayaknya. Mudah-mudahan ga deh. Aamiin.”

Tanya Kenapa (Kenapa Tanya) #8

Kemarin sore, saat buka bersama di rumah seorang teman rahimahullah.
Datang seorang teman yang belum lama menikah, ditemani dengan suaminya. Saat akan makan setelah sholat maghrib, terjadilah percakapan itu.

Akhwat: (menatap suaminya) “Mau diambilin makan sekarang??”
Suaminya: “Iya.”
Jomblo’ers: (koor) “Cieeeee…..”
Ikhwan (jomblo): “Mau juga donk diambilin.”
Akhwat (jomblo juga): “Nikah dulu makanya!”
Seluruh orang di ruangan: tertawa…

#Tiba-tiba ina menyadari sesuatu. Prioritas utama wanita yang telah menikah adalah suaminya. Tidak boleh egois lagi, Na. Dalam hal apapun..

Mereka Dido’akan Oleh Para Malaikat

Sumber: Buku Man Tushalli ‘alaihin al-Malaaikatu wa Man Tal’anuhun

Penulis: Dr. Fadhil Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Penerbit: Idaarah Turjumaan al-Islaami, Pakistan

Ada beberapa golongan orang yang termasuk kategori kelompok orang yang dido’akan oleh para malaikat. Allah dan RasulNya telah memberi tahu hal tersebut, diantara mereka adalah:

  1. Orang yang tidur dalam keadaan suci (telah berwudhu dan tidak batal);
  2. Orang yang duduk menunggu waktu sholat;
  3. Orang yang berada di shaff pertama ketika sholat;
  4. Orang yang berada di shaff sebelah kanan ketika sholat;
  5. Orang yang menyambung shaff;
  6. Orang yang berada dalam sholat jama’ah pada saat para malaikat mengaminkan bacaan imam pada surat Al Fatihah;
  7. Orang yang tetap duduk di tempat sholat setelah melakukan sholat;
  8. Orang yang melaksanakan sholat Shubuh dan Ashar dengan berjama’ah;
  9. Orang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam;
  10. Orang yang dido’akan oleh saudaranya dari kejauhan (tanpa sepengetahuannya);
  11. Orang yang mendo’akan saudaranya dari kejauhan (tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan);
  12. Orang yang berinfak di jalan kebaikan;
  13. Orang yang makan sahur;
  14. Orang yang makanannya dimakan orang lain sedangkan ia berpuasa;
  15. Orang yang menjenguk orang sakit;
  16. Orang yang mengucapkan kata-kata baik di sisi orang yang sakit dan orang yang sekarat;
  17. Orang yang mengajarkan kebaikan;
  18. Orang yang (tetap) beriman, bertaubat, dan mengikuti jalan Allah Subhanahu Wata’ala, begitu pula berbuat kebaikan kepada orang tuanya, istri-istrinya, dan keturunannya;
  19. Imam para Nabi dan pemimpin para Rasul, yaitu Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Apakah kita salah satunya???

*Rujukan dari poin-poin di atas ada di dalam kitab yang telah disebutkan. InsyaAllah semuanya shohih.

Ramadhanku Dulu Tak Begini

Ramadhan selalu memiliki kenangan tersendiri buat ina. Dulu waktu kecil, setiap Ramadhan, ina, Abi, dan Aa selalu menghias rumah dengan lampu-lampu kecil. Dibentuk huruf-huruf, atau hanya dipasang mengelilingi atap. Setiap malam libur juga kami boleh main kembang api. Ditambah lagi mudik yang selalu ditunggu-tunggu di setiap akhir Ramadhan.

Ramadhan juga selalu menjadi bulan yang terbaik menurut ina. Bulan dimana banyak manusia berubah menjadi lebih baik. Lebih banyak yang saling memberi, saling menghormati. Mesjid menjadi penuh, kotak amal semakin berat, juga banyak ceramah dan kajian. Wanita-wanita lebih banyak yang menutup aurat (walau hanya dengan selendang), juga tidak ada perokok berkeliaran.

Namun itu semua yang ina rasakan beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa, tahun ini Ramadhan terasa berbeda. Tidak ada lagi mesjid yang penuh, yang dulu sampai harus nge-take duluan kalau ingin dapet shof di dalam mesjid. Pendapatan kotak amal semakin sedikit, karena jama’ah mesjid juga berkurang. Shof ikhwan tinggal 3, padahal belum setengah Ramadhan.

Tidak ada lagi saling menghormati antara yang berpuasa dan yang tidak. Merujuk status seorang teman “hormatilah orang yang (tidak) berpuasa”. Ya, kita memang tidak boleh cengeng, melihat orang makan langsung tergoda. Tapi rasanya beda aja. Kalau dulu di siang hari rumah makan ditutup dengan tirai, sekarang walaupun masih ditutup dengan tirai, terlihat lebih banyak kaki-kaki dari bawah tirai. Bahkan di angkutan umum pun banyak orang yang cuek saja makan di siang hari. Tapi harus tetap semangat, Kawan. InsyaAllah pahala berbanding lurus dengan godaan yang ada.

Ya Rabbi, tidak terasa hampir dua per tiga RamadhanMu tahun ini telah berlalu. Rasanya belum maksimal diri ini memanfaatkannya. Ina berharap, semoga Ramadhan yang akan datang bisa kembali menyenangkan seperti dulu. Dan juga, semoga ina serta ummat Muslim lainnya bisa mendapatkan rahmat dan ampunanMu di bulan yang mulia ini, serta berkesempatan untuk bersua kembali dengan RamadhanMu selanjutnya. Aamiin..

Muslimah Kaku

Alkisah, ada seorang gadis kecil yang mulai beranjak dewasa. Dia mengikuti sebuah bimbingan belajar bersama teman-temannya. Namun karena murid yang ikut belajar di bimbingan belajar tersebut tidak banyak, suasana kelas seperti semi privat. Seorang guru hanya mengajar 5 sampai 8 murid. Hal ini membuat murid di sana lebih cepat akrab dengan guru-guru di sana.

Begitu juga dengan gadis itu. Dia cepat akrab dengan siapa saja yang ditemuinya, terutama dengan guru Bahasa Indonesia itu. Pemuda yang ramah dan suka membantu setiap kali sang gadis menemui kesulitan dalam belajar.

Walaupun telah berjilbab, sebetulnya sang gadis belum terlalu paham apa yang seharusnya dilakukan seorang muslimah. Dia hanya menuruti apa kata hatinya. Kalau dia merasa itu baik maka akan dia lakukan, dan juga sebaliknya. Begitu juga dengan menjaga pandangan. Dia tidak pernah memandang langsung lawan bicaranya yang laki-laki. Dia tidak tahu itu benar atau salah. Yang dia tahu hanya hatinya lebih tenang dengan seperti itu.

Suatu hari, saat sedang berdiskusi dengan guru Bahasa Indonesia itu, dia disodori sebuah buku*. Halamannya telah ditandai oleh sang guru, halaman 176.

Muslimah Kaku**

Sebut saja Ina (bukan nama asli). Masalahnya begini, si Ina itu punya kebiasaan buruk (menurut istilah anak-anak cowo) kalo diajak bicara atau ngobrol selalu memandang ke arah lain (jaga pandangan). Kaku banget. Lawan bicaranya ada di depan, tapi dia ngelihatnya ke atas atau ke sisi lain. Setiap lawan bicaranya menggeser duduknya untuk ngepasin posisi pandangannya, si Ina pun ikut menggeser menjauhkan pandangannya dari lawan bicaranya.


“Eh, lo dengerin gua ngga sih?”
“Iya!”
“Lihatin gua dong kalau lagi ngomong!”
“Orang gini juga kedengeran ko.”
“Gua juga tahu muka gua jelek, tapi jangan gitu dong caranya.”

Sang gadis menunduk, bingung dengan maksud diberikannya buku itu oleh sang guru.

***

So, apakah sikap gadis itu terlalu kaku?? Menyebalkan?? Mungkin bagi sang guru iya. Tapi menyebalkan atau tidak, tergantung dari sudut pandang yang kita gunakan untuk menilai.

Wallahu a’lam.

*Buku “Jangan Jadi Muslimah Nyebelin (Asma Nadia)”
**Salah satu kisah di buku tersebut, halaman 176 – 179