Tanya Kenapa (Kenapa Tanya) #13

Suatu hari, di sebuah instansi yang sedang merekrut tenaga kerja. Sebuah ruang tunggu ber-AC sudah tidak terasa lagi AC-nya saking penuh sesak oleh manusia. Mereka menanti nama mereka dipanggil dari pengeras suara di ruangan sebelah. Mereka harus sabar menanti nama yang dipanggil satu-satu sesuai urutan daftar hadir yang mereka isi saat tiba di gedung ini.

Tiba-tiba datang seorang peserta di saat waktu dhuha beranjak habis. Dia mengisi daftar hadir dengan urutan yang telah berbilang ratusan. Kemudian dengan santainya dia masuk ke dalam ruangan sebelah, entah untuk apa. Tak lama kemudian dia kembali dan menyapa teman-temannya yang juga sedang menunggu giliran.

Dia: “Eh, lama ya nunggunya. Gue tadi nitip aja biar nama gue diselipin, jadi bisa duluan.”

Teman: “Emang bisa?”

Dia: “Bisa. Coba aja gih. Biar ga lama nunggunya.” (nada bicaranya tanpa rasa bersalah, meski banyak mata tertuju padanya dengan tatapan tidak suka)

Tidak lama kemudian…

Sebuah nama disebut. Ternyata namanya. Dia yang masih mengobrol dengan temannya tergesa membereskan berkasnya yang masih berantakan. Kemudian keluar seorang pria paruh baya dari ruangan sebelah, mencari pemilik nama tersebut. Pria itu mengenakan seragam instansi tersebut, menandakan dia adalah karyawan di sana. Pria itu kemudian memberi isyarat kepada dia yang namanya disebut untuk bergegas masuk.

Subhanallah, enak ya kalau urusan kita bisa dipermudah seperti itu.

Untukmu yang Ditinggalkan

Untukmu yang merasa sendiri karena ditinggalkan, dengarlah ini ya?

Sadarilah bahwa untuk beberapa saat engkau akan berlaku agak aneh, yaitu merasa bahwa engkau hanya sendiri di dalam hidup ini, dan bahwa dunia ini kosong dari apa pun yang bisa menggembirakanmu.

Cobalah ingat, betapa cerianya engkau dulu sebelum dia datang dan membuatmu jatuh cinta kepadanya?

Bukankah engkau dulu mampu untuk hidup mandiri dan bebas untuk bergembira di mana pun dan dengan siapa pun?

Apakah dia demikian hebatnya, sampai-sampai engkau berlaku menistakan nikmat Tuhan yang amat sangat luas ini?

Jangan sampai engkau ditanya:

… nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Jangan sampai engkau tidak mendapatkan yang tidak baik bagimu sekarang, dan membatalkan kepantasanmu untuk mendapatkan belahan jiwa yang sesuai bagimu jika engkau berbaik sikap?

Apakah sesungguhnya engkau sedang menistakan rencana Tuhan bagi jiwa yang lebih baik, karena engkau tak kunjung membijak kehilangan yang tidak baik?

… nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Sudahlah. Lupakanlah dia.

Dulu engkau berbahagia tidak mengenalnya, dan engkau bisa tetap berbahagia setelah pernah mengenalnya.

Perlakukanlah dia sebagai yang pernah kau cintai, seperti keikhlasanmu menerima semua kehilanganmu selama ini.

Pantaskanlah dirimu bagi belahan jiwa yang lebih baik.

Sesungguhnya,

Keindahan yang kau dapat, sesuai dengan keindahan yang kau upayakan.

_Mario Teguh_

Idealisme VS Realita

Bismillah.

Hari ini ina pergi ke sebuah instansi di Jakarta. Biasa, mencoba mengadu nasib, siapa tahu berjodoh di sana. Hehe. Di sms pemberitahuannya, agenda hari ini adalah mengambil nomor tes dan penjelasan mengenai tata cara lamaran (mulai dari berkas, waktu tes, dan segala macamnya). Dengan ditemani laki-laki paling hebat sedunia (baca: Abi), ina sampai di tempat itu sekitar jam 10. Ternyata antrian sudah panjang. Ina dapet nomor tes 212, kayak kapaknya Wiro Sableng ya. Hehe.

Sambil menunggu antrian untuk daftar dan mengambil formulir, ina melihat sekeliling. Banyak juga yang datang melamar. Saat sedang melihat-lihat, tatapan ina terhenti pada sosok berjilbab yang tidak asing. Seperti pernah lihat di mana gitu. Dan ternyata benar. Setelah diingat-ingat, ina pernah ketemu dia di salah satu acara kampus. Waktu itu ina jadi panitia dan dia jadi peserta, tapi sekarang keadaannya berbalik, dia panitia tes penerimaan karyawan baru dan ina peserta.

Tapi ada yang berubah darinya. Seingat ina, dulu dia berjilbab panjang, berbaju panjang dan rok panjang yang lebar. Sekarang jilbabnya masih masih cukup panjang, baju atasannya pun panjang, tapi roknya berganti jadi celana panjang. Kenapa bisa berubah ya? Apa kerja di sini tidak boleh pake rok? Terus kalo tetap bersikeras memakai rok apa tidak akan diterima? Bermacam pertanyaan mulai muncul di pikiran ina.

Realita memang tidak selalu sejalan dengan idealisme yang kita anut. Dan saat itulah kita harus memilih, akan tetap teguh dengan idealisme kita atau pasrah dengan realita yang ada. Memang banyak instansi yang melarang karyawannya mengenakan rok panjang, bahkan melarang mengenakan kerudung. Tapi kita bisa memilih kan? Selama idealisme yang kita anut berlandaskan perintah-Nya, hal itu sangat layak untuk kita perjuangkan. Tidak perlu takut nggak dapet kerja karena kita kekeuh pada prinsip kita. Toh Dia yang Maha Pemberi Rezeki. Selama cara kita baik dan sesuai jalur, insyaAllah tidak akan disia-siakan oleh-Nya. Semoga Allah selalu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.

Nilai Pernikahan

Bismillah.

Seneng banget, hari ini ina dapet satu kabar baik. Teman ina mau nikah, dengan kakak angkatan di kampus. Satu fakultas, beda peminatan. Waw, magic. Beneran nggak nyangka mereka berdua bakal menikah. Surprise banget lah pokoknya..

Jadi inget, dulu ina pernah baca tulisan seseorang. Isinya tentang nilai pernikahan. Nilainya dari A sampe E. Kurang lebih isinya seperti ini: “Kata para mahasiswa, kalau nikah dengan beda kampus dan beda fakultas itu nilainya A. Kalau nikah dengan satu kampus, tapi beda fakultas nilainya B. Kalau nikah dengan satu kampus, satu fakultas, tapi beda angkatan nilainya C. Kalau satu kampus, satu fakultas dan satu angkatan nilainya D. Yang terakhir, kalau nikah dengan satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, dan satu jurusan, nilainya E.”

Berarti nilai pernikahan temen ina itu C donk?? Hehe, ada-ada aja deh. Masa pernikahan dinilai dengan penilaian seperti itu. Kalo memang sudah jodoh ya nggak bakal kemana, pasti ketemu. Mau itu jauh (beda kampus misalnya), atau ternyata teman sepermainan di kampus. Tapi itu semua rahasia Allah, sampai Dia memutuskan untuk membuka tabirNya.

Buat temanku tersayang, Barokallah ya.. Semoga bisa menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah, trus segera melahirkan jundi-jundi penerus estafet perjuangan dakwah (haduh, ini apa sih bahasanya?! ). Dan untuk teman-temanku para jomblo’ers (sebetulnya ini ditujukan khusus untuk diri sendiri, hehe ), sabar ya menunggu saatnya tiba. Isi dengan kegiatan yang baik-baik, biar diri ini tambah baik. Karena saat diri ini baik, akan hadir dia yang juga baik.

If I Could

Lagi iseng ngubek-ngubek buku karena ga ada kerjaan, trus nemu puisi dari buku Aisyah Putri.. Bagus, ina tulis ulang ya..

_If I Could_

If I could
I would always tell the truth
I will always love you
from the heart

If I could
I would take you in my arms
Take you inside
into my heart

If I could
I would be the place you turn
When you’re feeling lonely
or afraid
I would shine
Like a lantern in the dark

Take you inside
into my heart
When you feel as if
you don’t know know who you are
I’ll remind you with my love

If I could
I would always keep you safe
Take you inside
into my heart
When you feel as if
you simply couldn’t go on
I’ll remind you that you’re strong

If I could
I would love you as you are
Take you inside
into my heart
into my arms
into.. my life…

(Asma Nadia)