[FF] Gadis dan Bapak Tua

Suatu sore, di depan sebuah universitas terkemuka di ibukota. Seorang gadis sedang menunggu bis untuk pulang ke rumahnya. Tangan kanannya memegang payung, sedangkan yang kiri memeluk tas laptopnya. Di bahu kanannya tersampir tas selempang yang menambah beban bawaannya.

Hujan deras sudah turun dari tadi dan belum ada tanda akan berhenti. Sepatu dan rok gadis itu mulai kuyup. Beruntung bis yang ditunggu akhirnya tiba. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya., berdesakan dengan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama.

Hap! Gadis berhasil naik ke dalam bis. Kerepotan dia menutup payungnya. Namun tak lama, ada seorang bapak tua yang menggeser posisi duduknya supaya si gadis bisa duduk di sebelahnya. Tidak hanya itu, bapak tua itu juga membantu melipat payungnya.

Akrablah si gadis dengan bapak tua itu. Sepanjang perjalanan bapak tua itu banyak berkisah: tentang masa mudanya, tentang keluarganya, tentang pelajaran hidup. Bahwa hidup itu harus diperjuangkan, bahwa hidup tidak pantas untuk dikeluhkan, bahwa nikmatNya jauh lebih banyak dari yang kita sadari.

Seperti biasa, si gadis selalu menjadi pendengar yang baik, sesekali mengangguk, menanggapi, dan tersenyum. Tapi dengan begitu dia jadi dapat banyak pelajaran dan renungan. Betapa selama ini dia sangat kurang bersyukur, betapa selama ini dia terlalu sering mengeluh, betapa selama ini dia terlalu mudah menyerah. Gadis pun bertekad akan menjalani hidup dengan lebih baik.

Allah memberikan hikmah dan pelajaran lewat setiap peristiwa. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami dan menjadikannya semangat untuk selalu memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan.

Tanya Kenapa (Kenapa Tanya) #14

Suatu siang, di sebuah rumah. Beberapa ibu berkumpul sedang belajar membaca Al Qur’an. Karena situasi dan kondisi, sang anak terpaksa mengungsi ke lantai dua. Tidak lupa membawa bekal cemilan keripik dan air minum.

Suara riuh rendah terdengar dari lantai satu, khas ibu-ibu kalau sudah berkumpul. Si anak cuek saja memakan cemilannya tanpa merasa mengganggu ibu-ibu di bawah. Toh suara obrolan mereka di sana lebih kencang dari kunyahannya. Tapi dia tidak menyadari suara riuh yang berangsur hening. Suara kunyahan keripiknya kini menjadi melodi utama di rumah itu.

Tiba-tiba terdengar suara seorang ibu berbisik,
“Eh, Bu, dengerin deh. Itu suara apa ya?”

Si anak seketika berhenti mengunyah, menantikan kelanjutan obrolan itu.

“Suara tikus ya?” sambung suara yang lain. Glek!

“Oh, itu. Suara anak saya, Bu. Ada di lantai dua,” sang ibu pemilik rumah mencoba mengklarifikasi.

Wew, terlalu. Masa cantik begini disangka tikus?! Si anak membatin. Namun tak lama kemudian, keripik di toples telah berpindah lagi ke mulutnya. Terserah apapun kata mereka, yang penting keripik enak itu tidak disia-siakan..

[FF] Ruang Rasa (repost)

Menemukan tulisan ini di MP Mba Vika. Langsung jatuh hati pada pandangan pertama, hehe. Jadi ina re-post deh. Apalagi pas banget sama keadaan sekarang, dimana banyak “undangan” bertebaran. Silakan dinikmati.

========================================================================

Terngiang kalimat-kalimat yang meluncur dari laki-laki itu satu persatu. Ia mendesah lama. Benar-benar kata-kata yang sungguh ia kenal. Kata-kata lelaki itu.

* * *

Sejak semula ia tahu, di antara ia dan lelaki itu ada rasa yang lebih dari sekedar teman bercerita. Tapi tetap ia tidak berani mengucapkan sepatah kata. Tentu saja, perempuan itu tersenyum, aku begitu terbelenggu dengan norma, sehingga kutelan saja semua asa. Ia memutuskan menjadi perempuan biasa, yang melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Menunggu.

Dan menunggu sungguh membuat waktu begitu jemu. Tetap, perempuan itu masih melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

Hingga tiba suatu masa, ketika menunggu menjadi sesuatu yang lama, tapi tak jua lelaki itu beranjak dari ruang ceritanya. Tidak juga ada kata berlebih atau sinyal berbeda. Semua masih sama.

Ia mulai lelah. Rasa itu kemudian menjadi lupa, terkikis oleh masa dan hilang menguap begitu saja.

Ia beranjak untuk melangkah. Dan memutuskan ruang ceritanya. Cerita lelaki itu dengan dia.

* * *

Perempuan itu terpekur. Kenapa baru datang saat ini?

Terngiang sekali lagi pertanyaan-pertanyaan yang seolah bertubi-tubi datang padanya.

Tidakkah kau rindu padaku?

Hatinya mencelos. Aku perempuan, haruskah begitu jelas memperlihatkan perasaanku?

Hanya Tuhan yang tahu berapa malam dia tergugu semenjak ia meninggalkan laki-laki itu di bandara.

Tidakkah kau merasa kehilangan aku selama ini?


Ia menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Mencoba mengumpulkan kekuatan.

Perempuan itu memandang meja kayu di seberang tempat tidurnya. Beratus-ratus undangan berwarna merah muda dengan namanya tercetak dengan jelas. Siap untuk diedarkan.

Kau bertanya padaku arti kehilangan. Ia berbisik dalam hati “Bagaimana bisa aku merasa kehilangan jika sesungguhnya aku tidak pernah memiliki?”

sumber

Nikmatnya Berqurban, Nikmatnya Berbagi

Masih di hari tasyrik, jadi sepertinya masih belum terlambat untuk sedikit mengulas tantang qurban. Di sini ina nggak akan membahas yang berat-berat, hanya ingin berbagi pengalaman. Tentang berqurban, tentang berbagi.

Tahun ini ina sekeluarga alhamdulillah masih diberi rezeki untuk bisa berqurban. Mulai dari beberapa tahun yang lalu, Ummi dan saudara-saudaranya berencana qurban di kampung. Satu sapi, pas dengan jumlah keluarga yang ada. Awalnya berencana setiap tahun qurban di sana, tapi karena Abi selalu jadi panitia qurban di Bekasi, dan juga pertimbangan lainnya, akhirnya diputuskan berqurban di kampung setiap dua tahun sekali.

Nah, tahun ini giliran qurban di kampung. H-1 ina sekeluarga berangkat ke kampung. Alhamdulillah udah dapet satu sapi yang lumayan montok, hehe. Di hari H, dipotonglah si sapi. Ina nggak tega lihatnya, jadi nunggu tersaji di meja makan aja.

Pas proses pemotongan, banyak saudara yang datang. Bawa anak-anaknya, menantunya, sepupunya, cucu-cucunya, rame lah pokoknya. Tetangga juga banyak yang datang untuk membantu proses pembagian daging. Rumah Nini jadi semarak oleh orang-orang yang kebanyakan nggak ina kenal.

Ina jadi berpikir, di kampung, qurban satu sapi aja bisa membuat banyak orang senang. Terlihat dari wajah ceria mereka saat pembagian daging, walaupun jatah daging yang dibagi hanya sedikit karena begitu banyak warga yang akan dibagi. Bahkan banyak yang meminta qurban seperti ini dilakukan setiap tahun.

Bagi kita, mungkin makan daging sehari-hari sudah biasa. Tapi bagi mereka, mungkin kesempatan makan daging hanya setahun sekali. Mudah-mudahan Allah memberi kecukupan rizki dan kecukupan umur supaya dua tahun yang akan datang bisa berqurban di kampung lagi. Dan juga, semoga makin banyak orang yang tidak lupa dengan kampung halamannya saat berqurban. Aamiin..

[FF] Dalam Diam

“Jadi, kapan berencana nikah, Neng?” ucap bibi sambil tersenyum. Seorang gadis, ibunya, serta bibinya sedang berbincang santai sambil melepas rindu setelah cukup lama tidak bersua.

Gadis yang sedang mematut diri di depan cermin itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan merapikan rambutnya sambil tersenyum. Belum ada kata terucap dari bibir mungilnya.

“Kalau kamu sudah siap, nanti ibu minta carikan ke teman ngaji. Atau mungkin kamu sudah punya calon sendiri? Siapa tahu sudah ada yang kamu suka.” ucap ibunya seraya ikut menggoda putri sulungnya.

“Kalau misalnya, Neng suka tapi nggak tahu dia suka apa nggak, bagaimana, Bu?” sang gadis mencoba mengeluarkan sedikit perasaannya. Hanya sedikit.

“Perempuan kan boleh menawarkan diri. Itu syar’i kok. Atau mungkin bisa minta diperantarai oleh teman,” Ibu tersenyum mengerti.

Gadis ikut tersenyum. Ya, mungkin dia memang bisa menempuh cara itu. Tapi gadis itu terlalu pemalu. Biarlah hanya Allah dan dirinya yang tahu rasa itu. Walau diam, tak pernah putus doa terucap.

[FF] Mangga dan Dia

Gadis itu asik mengupas mangga yang baru dibelinya tadi siang. Di sampingnya ada laki-laki terbaiknya, sedang memakan sebagian mangga yang sudah dikupasnya. Suasana hening pada awalnya, hingga lelaki paruh baya itu mengangkat suara.

“Neng, sepertinya kamu sudah cukup umur untuk menikah. Mau abah carikan?”

Gerak pisau di tangan gadis itu mendadak berhenti. Potongan mangga yg dikunyahnya hampir membuatnya tersedak. Sekilas bayangan seseorang berkelebat di pikirannya, membuat pipi putih bersihnya sedikit merona. Dia harap lampu ruangan yang agak redup menyamarkan rona itu dari penglihatan ayahnya.

Sang ayah masih menunggu jawaban putrinya. Tapi putrinya hanya tersenyum. Senyum yang bisa menjadi penyemangat hidupnya selama ini. Kuharap engkau bisa selalu tersenyum seperti ini, nak, batin sang ayah.

Berapa gaji Minimal untuk MENIKAH???

Seorang temen pernah bertanya: “Eh, kalo gw nikah tapi dengan gaji gw yang cuma Rp***** bisa ga ya? Cukup ga ya? Hmmm…..

Maka dari pertanyaan itu dibuat survey asal, dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah merit. Sekedar berbagi aja, buat temen2 yang mungkin juga mengalami “Materi after merit phobia syndrome”..

Daftar anggaran bulanan:
————————–

—–
(asumsi : disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat2 relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah).

1. Makan
Dengan asumsi sekali makan adalah Rp. 5.000. Maka makan 3x sehari, kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua cuma berlaku pada saat pacaran aja), kali 30 hari adalah : Rp. 900.000.

*Tips :
Rajin2 ke kondangan, walimahan, atau sunatan, dan bawa pulang nasi kotaknya, pasti lebih ngirit.

2. Kontrakan
Dengan asumsi masih ngontrak di rumah petak, yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak. Maka dana untuk kontrakan sekitar Rp. 500.000/bulan.

*Tips :
Tinggallah di Pondok Mertua Indah. Niscaya 2 dana diatas gak akan pernah ada. Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk “makan ati” (^__^)

3. Listrik dan Air
Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah Rp. 100.000/bulan.

*Tips :
Jangan pake AC, cukup AC (Angin Cendela). Jangan suka main Plestesyen (PS), cukup main monopoli,sudamanda atau gaple, domino ama istri terasa lebih romantis.

4. Transportasi
Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit rit rit, maka untuk ongkos bensin dan servis adalah Rp. 100.000.

*Tips :
Gunakanlah Bensin campur! (Maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit). Atau ikutlah “Nebeng Fans Club”, dengan alasan mempererat silaturahmi dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kantor akan terasa lebih menyenangkan.

5. Komunikasi
Dengan asumsi pake CDMA yang 1000/menit maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah Rp. 100.000.

*Tips :
Pakelah “FREN” yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau sms tinggal bilang “Freeen…minjam HP nya dong freen…”)

6. Keperluan Sehari Hari
Seperti sabun,odol,syampu, dll dsb. Dengan asumsi tidak pake fesyel,krimbat, manikyur, pedikyur, kukyur2 maka alokasi dana untuk ini sebesar Rp.50.000.

*Tips :
Mandi kalo perlu saja. Kalo dulu 2 kali sehari,jadi 2 hari sekali. Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata

7. Kesehatan
Seperti minyak kayu putih,vitamin, obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!), maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar Rp. 50.000.

*Tips :
Jaga kesehatan. Jangan begadang…kalo tiada artinya…begadang bole saja…asalkan sambil ronda (halah!!)

8. Entertaiment
Nha ini kalo ada uang lebih aja, bisalaah sekali2 nomat (nonton hemat, bioskop), lari pagi di monas, atau makan martabak sekali2.

Kesimpulan
Jadi, dapat kita simpulkan…
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar :

Rp. 1.800.000/ bulan..

(busyeeett dah…masih gede juga ya)

Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen2 ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada. Kalopun masih ‘besar pasak daripada tiang’ Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang…ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!

Tapi ada 1 hal yang ga bisa dijelaskan dengan perhitungan ketika anda memutuskan untuk menikah
(Serius Mode : On)….

Yaitu, Berkah Menikah..

Selalu, Allah akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha dan berdoa. Selalu bersukur dan percaya bahwa Allah-lah raja dari segala raja accounting! Ok??

Sumber