Nikmatnya Berqurban, Nikmatnya Berbagi

Masih di hari tasyrik, jadi sepertinya masih belum terlambat untuk sedikit mengulas tantang qurban. Di sini ina nggak akan membahas yang berat-berat, hanya ingin berbagi pengalaman. Tentang berqurban, tentang berbagi.

Tahun ini ina sekeluarga alhamdulillah masih diberi rezeki untuk bisa berqurban. Mulai dari beberapa tahun yang lalu, Ummi dan saudara-saudaranya berencana qurban di kampung. Satu sapi, pas dengan jumlah keluarga yang ada. Awalnya berencana setiap tahun qurban di sana, tapi karena Abi selalu jadi panitia qurban di Bekasi, dan juga pertimbangan lainnya, akhirnya diputuskan berqurban di kampung setiap dua tahun sekali.

Nah, tahun ini giliran qurban di kampung. H-1 ina sekeluarga berangkat ke kampung. Alhamdulillah udah dapet satu sapi yang lumayan montok, hehe. Di hari H, dipotonglah si sapi. Ina nggak tega lihatnya, jadi nunggu tersaji di meja makan aja.

Pas proses pemotongan, banyak saudara yang datang. Bawa anak-anaknya, menantunya, sepupunya, cucu-cucunya, rame lah pokoknya. Tetangga juga banyak yang datang untuk membantu proses pembagian daging. Rumah Nini jadi semarak oleh orang-orang yang kebanyakan nggak ina kenal.

Ina jadi berpikir, di kampung, qurban satu sapi aja bisa membuat banyak orang senang. Terlihat dari wajah ceria mereka saat pembagian daging, walaupun jatah daging yang dibagi hanya sedikit karena begitu banyak warga yang akan dibagi. Bahkan banyak yang meminta qurban seperti ini dilakukan setiap tahun.

Bagi kita, mungkin makan daging sehari-hari sudah biasa. Tapi bagi mereka, mungkin kesempatan makan daging hanya setahun sekali. Mudah-mudahan Allah memberi kecukupan rizki dan kecukupan umur supaya dua tahun yang akan datang bisa berqurban di kampung lagi. Dan juga, semoga makin banyak orang yang tidak lupa dengan kampung halamannya saat berqurban. Aamiin..

[FF] Dalam Diam

“Jadi, kapan berencana nikah, Neng?” ucap bibi sambil tersenyum. Seorang gadis, ibunya, serta bibinya sedang berbincang santai sambil melepas rindu setelah cukup lama tidak bersua.

Gadis yang sedang mematut diri di depan cermin itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan merapikan rambutnya sambil tersenyum. Belum ada kata terucap dari bibir mungilnya.

“Kalau kamu sudah siap, nanti ibu minta carikan ke teman ngaji. Atau mungkin kamu sudah punya calon sendiri? Siapa tahu sudah ada yang kamu suka.” ucap ibunya seraya ikut menggoda putri sulungnya.

“Kalau misalnya, Neng suka tapi nggak tahu dia suka apa nggak, bagaimana, Bu?” sang gadis mencoba mengeluarkan sedikit perasaannya. Hanya sedikit.

“Perempuan kan boleh menawarkan diri. Itu syar’i kok. Atau mungkin bisa minta diperantarai oleh teman,” Ibu tersenyum mengerti.

Gadis ikut tersenyum. Ya, mungkin dia memang bisa menempuh cara itu. Tapi gadis itu terlalu pemalu. Biarlah hanya Allah dan dirinya yang tahu rasa itu. Walau diam, tak pernah putus doa terucap.