Wanita, antara Cita-cita dan Keluarga

Hari masih pagi. Poliklinik di sebuah rumah sakit pemerintah di Indonesia pun sudah mulai ramai. Bertemu dua orang yang baru saling mengenal namun kemudian menjadi akrab. Cerita pun akhirnya mengalir dengan lancar.

Gadis A: Aku berencana ambil profesi nih, tapi nggak mau di Indonesia.
Gadis B: Kenapa nggak mau di Indonesia?
Gadis A: Aku mau mencari yang lebih baik kualitasnya.
Gadis B: Maunya di mana?
Gadis A: Di Ausie aja yang paling dekat dari Indonesia.
Gadis B: Suami dan anak ikut donk?
Gadis A: Nggak usah lah. Aku bareng teman-teman aja.
Gadis B: Lho, tapi kan nggak boleh safar tanpa mahrom. Lagipula bagaimana nanti dengan anakmu? Kasian kan masih balita udah pisah sama ibunya.
Gadis A: Aku udah diizinin suami kok. Mertua juga udah setuju. Lagian kan aku di sana cuma 2 tahun, terus bisa pulang tiap 6 bulan.
Gadis B: Kasian anakmu nanti.
Gadis A: Anakku udah biasa aku tinggal kerja kok. Mertua aku juga mendukung, nggak keberatan mengurus cucunya.
Gadis B: (Menghela napas, tiba-tiba teringat hadits Nabi shallahu’alaihiwasallam. Ingin menasihati lebih jauh namun lidah menjadi kelu. Maafkan hambaMu yang lemah ini, Ya Rabb.)

Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber:

http://rumaysho.com/belajar-islam/akhlak/2687-ibu-ayah-aku-ingin-meraih-surga-.html

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/larangan-wanita-pergi-tanpa-mahram/

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s