Belajar Memahami Takdir

Ada yang bilang aku salah mengambil pilihan dalam hidup. Salahkah? Kurasa tidak. Kuharap tidak. Karena saat memilih aku tidak melupakan Rabbku. Aku pun tidak lupa melakukan istikhoroh sesuai ajaran RasulNya. Lagipula segala sesuatu telah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum manusia diciptakan. Jadi pilihan yang kuambil ini pasti yang terbaik menurut-Nya, insyaAllah.

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR. Muslim no. 2653)

“Tapi kamu tahu dari mana pilihan yang telah kamu pilih saat ini adalah yang terbaik? Kamu tidak tahu kan apa yang akan terjadi kalau kamu memilih pilihan yang kamu tinggalkan? Siapa tahu hasilnya lebih baik dari apa yang kamu dapat sekarang,” ucapnya tidak mau kalah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya : “Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas dia berkata,”Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau berkata,” Wahai anak, sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu : jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya dihadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.dan apabila engkau mohon pertolongan maka mohonlah pertolngan kepada Allah. Ketahuilah seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering” (H.R Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih)

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-
nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-
nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

“Seandainya kamu pilih itu, mungkin hidup kamu akan jadi begini dan begitu,” ucapnya mencoba meyakinkanku.

“Tapi mungkin tidak akan membuatku jadi seperti sekarang ini. Aku suka dengan hidupku yang sekarang,” ucapku yakin.

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada semuanya terdapat kebaikan. Hendaklah engkau bersemangat terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah
engkau lemah. Jika ada sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan ”Seandainya aku melakukan, niscaya terjadi ini dan itu”. Tetapi
katakanlah ”Ini adalah takdir Alloh, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan”. Sesungguhnya kata ”seandainya” akan membuka perbuatan syetan. [HR. Muslim, no: 2664; Ibnu Majah; dan Ahmad; dari Abu Huroiroh]

Dan saat telah memilih, tugas kita adalah konsekuen dengan hal yang terjadi akibat pilihan-pilihan kita. Kalau ada yang membahagiakan bersyukurlah, kalau ada yang menyedihkan hati bersabarlah. Dan segalanya akan menjadi baik.

Imam Muslim meriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak dijumpai kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu adalah baik untuknya. Dan apabila dia mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu pun baik untuknya.” (HR. Muslim [2999])

Wallahu’alam bishshowab

Maraji’:
– muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-dengan-benar.html

– muslimah.or.id/aqidah/iman-kepada-takdir-baik-dan-takdir-buruk.html

– asysyariah.com/usaha-doa-sebab-dan-takdir.html

http://ustadzmuslim.com/seandainya/

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/kaya-tanpa-iman.html

Posted from WordPress for Android

Semua Telah Tertulis

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yakni: gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

(QS. al-Hadid: 22-23).

Posted from WordPress for Android

Tak Ada yang Tahu Hari Esok

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(Luqman: 34)

Posted from WordPress for Android

Sungguh, Kau Lebih Indah dari Bidadari

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita- wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan
tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)

sumber hadits

Posted from WordPress for Android

Formasi 9-1 dan 7-2

Saya penasaran sekali apa di dunia nyata ada yang seperti Severus Snape atau seperti Pak Wayan? Tau kan gimana kisah keduanya. Berpuluh tahun ga bisa move on dari cintanya. Dududuw… Nah, konon katanya ya.. mekanisme laki-laki mengelola perasaannya emang beda sama wanita. Ada seorang pria yang pernah bilang ke saya,

“kalo dinilai dalam angka, perempuan kalo udah cinta sama laki-laki itu bisa sampai angka 9 dari skala 10, tapi begitu dia sampai dititik harus move on, perempuan bisa menekan rasa cintanya sampai angka 1 atau bahkan 0 atau bahkan minus. Beda sama laki-laki, mereka maksimal akan mencintai pada angka 7, tapi hanya bisa menekan rasa cintanya pada angka 2.”

Nah, dengan teori di atas, bisa jadi orang seperti Snape dan Pak Wayan itu sebenarnya memang ada. Laki-laki ga pernah bisa benar-benar mengusir nama seseorang dari hatinya. Serem aja ngebayanginnya ya.. mungkin karena sebab inilah, muncul kata-kata bijak,

“lebih baik bagi seorang wanita menikah dengan laki-laki yang mencintainya bukan dengan lelaki yang dicintainya. Sebaliknya, bagi laki-laki lebih baik baginya menikah dengan wanita yang dicintainya.”

Saya jadi teringat kata-kata Salim. A. Fillah

“menikahi orang yang kita cintai itu kebetulan, tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban.”

Saya pernah baca tapi lupa dimana, kalo ada yang ingat tolong kasih tau saya ya.

Pada diri setiap wanita, terdapat satu nama yang tak pernah ia ucapkan. Dan pada diri seorang pria, terdapat satu nama yang tak pernah bisa ia miliki.

Oleh sebab itulah selalu berusaha meng-nol-kan hati itu penting. #ntms ^,^

sumber

Posted from WordPress for Android

[Celoteh Malam] Antara Cinta, Roja’ dan Khouf

Sungguh, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan, pasti ada pelajar yang bisa dipetik. Andai saja kita mau merenungkannya. Seperti aktifitas malam ini. Sederhana, hanya menggoreng kerupuk untuk teman makan malam. Saat kompor baru dinyalakan, minyak belum panas, kerupuk tidak akan mengembang, sebagus apapun kualitas kerupuk yang kita goreng. Begitu pula saat api terlalu besar, minyak sudah terlalu panas, kerupuk akan menjadi gosong. Di situ lah seninya menggoreng kerupuk.

Lalu apa pelajarannya? Entah kenapa di pikiran saya tiba-tiba terlintas dua kata itu: roja’ dan khouf. Roja’ artinya harapan, sedangkan khouf artinya rasa takut. Dua rasa ini, ditambah dengan rasa cinta, penting dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dan kadar keduanya harus diatur sedemikian rupa, tidak boleh terlalu sedikit juga tidak boleh berlebihan. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Ketahuilah, roja’ yang terpuji hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja’ tanpa disertai amalan adalah roja’ yang palsu, angan-angan belaka dan tercela.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58) Syaikhul Islam berkata: “Khouf yang terpuji adalah yang dapat menghalangi dirimu dari hal-hal yang diharamkan Allah. “Sebagian ulama salaf mengatakan: “Tidaklah seseorang terhitung dalam jajaran orang yang takut (kepada Allah) sementara dirinya tidak dapat meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan.” (Al Mufradaat fii Ghariibul Qur’an hal. 162 dinukil dari Hushuulul Ma’muul, hal. 79)

Pembahasan lebih lengkap tentang roja’ dan khouf  bisa teman-teman baca di sini ya..

Antara Roja’ dan Khouf (1)

Antara Roja’ dan Khouf (2)

Semoga bermanfaat. ^^

Jumat, Waktunya Baca Al Kahfi

Ayo, siapa yang sudah baca surat Al Kahfi hari Jumat ini? Pada nggak lupa baca kan? Yang belum masih ada kesempatan sampai hari Jumat berakhir kok, berarti sampe sebelum maghrib. Yuk kita menghidupkan sunnah.. :)

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

*sampaikan walau cuma satu ayat, amalkan walau cuma satu hadits.. :)