Kematian

Manusia tidak akan pernah tahu kapan, di bumi mana, dan dalam keadaan bagaimana dia diwafatkan. Manusia juga tidak akan pernah tahu seperti apa dirinya akan dikenang oleh orang-orang.

(Status seorang teman)

Mati. Suatu misteri, tapi pasti terjadi. Bagaimana kalau aku mati besok? Siapkah? Apa bekal yang akan aku bawa? Bagaimana mempertanggungjawabkan semua nikmat yang telah diberikan?

Digunakan untuk apa mata ini? Seringkah menangisi dosa, atau jelalatan melihat yang seharusnya tak dilihat? Lalu telinga? Mulut? Tangan? Kaki?

Kalau aku mati besok, adakah orang yang merasa kehilanganku? Menangisi kepergianku, atau malah mensyukurinya? Mendoakan kebaikan untukku, atau bersorak karena terbebas dari gangguanku?

(Imam Muslim berkata), Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Dinar, (dia – Ibrahim bin Dinar berkata), telah mengabarkan kepada kami Abu Qathon Amr bin Al-Haitsam Al-Qutho’iy, dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah Al-Majisyuni, dari Qudamah bin Musa dari Abu Sholih as-Sammaani dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam pernah bersabda:
Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku, dan perbaikilah duniaku untukku, yang ia menjadi tempat
hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang ia menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai kebebasan bagiku dari segala kejahatan.”
(HR. Muslim no. 2720 (71) Derajat Hadits Shohih )

Posted from WordPress for Android