Baby Walker, Benarkah Berbahaya?

Kemarin saya dapat broadcast berita tentang anak yang jatuh dari baby walker kemudian demam dan akhirnya masuk rumah sakit. Beberapa jam kemudian saya dapat update berita lagi kalau ternyata hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa penyakit si anak tidak ada kaitannya dengan jatuhnya dia dari baby walker. Dalam hati saya membatin, tuh kan, baby walker lagi yang disalahkan.

Saya termasuk salah satu orang tua yang membeli baby walker untuk anak saya. Saya sudah baca banyak artikel sebelumnya tentang bahaya baby walker, kecelakaan akibat penggunaan baby walker, dll. Tapi saya tetap nekat membelinya. Kenapa? Karena setelah saya baca artikelnya, saya merasa kurang adil jika harus ‘menyalahkan’ baby walker secara sepihak.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa bayi yang menggunakan baby walker banyak yang mengalami kecelakaan seperti terjatuh dari tangga, terguling karena baby walker melindas benda-benda yang berserakan di lantai, terkena benda tajam atau air panas yang ditaruh di tempat yang lebih tinggi, bahkan katanya diduga anak akan mengalami kelainan cara berjalan diakibatkan oleh baby walker.

Saya kemudian berpikir, kecelakan itu sepertinya bukan murni ‘kesalahan’ baby walker. Bayi jatuh dari tangga saat sedang pakai baby walker, terjungkal, terkena benda tajam dan air panas, berarti orang tuanya yang kurang hati-hati dong. Sudah tahu baby walker itu membuat anak bisa ‘bebas’ bergerak, kenapa area sekeliling anak tidak ‘diamankan’ terlebih dahulu?

Saya pribadi menggunakan baby walker untuk menjaga anak saya tetap ‘aman’ selama saya beraktifitas di rumah. Karena saya pikir kalau meninggalkan anak begitu saja tanpa baby walker malah lebih berbahaya. Anak saya sudah bisa berdiri sambil pegangan waktu saya beli baby walker, sudah tidak bisa diam. Pernah saya tinggal sebentar tanpa baby walker jadinya malah terjungkal di lantai, benjol. Alhamdulillah selama pakai baby walker malah tidak apa-apa.

Anak saya juga alhamdulillah sudah lancar berjalan di usia satu tahun. Karena niat saya pakai baby walker memang bukan untuk melatih anak berjalan, hanya untuk menjaga saat saya melakukan pekerjaan rumah. Setelah itu saya lepas dari baby walker. Tidak pernah sampai seharian pakai baby walker, soalnya anak saya juga gampang bosan.

Jadi menurut saya, sebagaimana segala sesuatu punya sisi positif dan negatif, baby walker pun demikian. Bagi saya yang tinggal di perantauan (hanya bertiga dengan suami dan anak, tetangga berjauhan bahkan tetangga terdekat sangat tidak ramah, dan tidak ada yang membantu mengawasi anak saat suami kerja), baby walker sangat membantu saya. Pekerjaan rumah bisa beres, anak pun bisa bermain dengan nyaman. Tentang kemampuan berjalan anak, ya memang lebih baik dilatih tanpa bantuan alat. Ditatih atau merembet dinding, bukannya seharian ditaruh di baby walker.

So, semua memang harus sesuai porsinya. Saya pakai baby walker, tapi saya tidak ‘tergantung’ dengan baby walker. Ambil positifnya, minimalkan negatifnya. Hasilnya ibu tenang, bayi aman, pekerjaan rumah beres. Khawatir baby walker cuma terpakai sebentar? Cuci, bungkus, simpan di tempat aman, insyaAllah bisa dipakai adik-adiknya nanti. Atau bisa dipinjamkan ke orang yang membutuhkan.

Tapi ini semua terserah masing-masing orang tua sih. Kalau tidak suka baby walker ya tidak apa-apa. Saya hanya berbagi pengalaman. Kasian aja, baby walker sering disalahkan, padahal saya merasakan manfaatnya.

by Ina Ummu Umar