Tteokbokki Ala Om Chef 😎

Bikinnya udah dari kapan tau, tapi baru sempet ditulis resepnya. Maaf ya buat teman-teman yang udah minta resep. Baru sempat mood nulis lagi nih. 😂

Tteokbokki ini yang bikin Omnya Umar sih sebenernya, tapi sumber resepnya dari saya. Jadi bisa dibilang hasil karya 50-50 lah. 😎 😆

Resep aslinya saya dapet dari blog seseorang, nemu di gugel pas lagi iseng cari-cari resep. Tapi pas dicoba agak kurang pas sama selera, jadi dimodif lumayan banyak. Kalo dirasa resep saya ini kurang pas juga sama selera teman-teman, silakan disesuaikan aja ya. :)

Resep Tteokbokki Ala Om Chef

Resep Tteok (kue beras)
Bahan:
– 200 gr tepung beras biasa (bukan beras ketan)
– 500ml air (ini bukan takaran baku ya karena yang dipakai nanti secukupnya aja, saya nggak ngitung tepatnya berapa)
– 2 sdm minyak wijen (kalo nggak ada bisa diganti
minyak sayur biasa)

Cara buat:
1. Siapkan tepung beras di wadah yang cukup besar.
2. Panaskan air hingga mendidih.
3. Campurkan air mendidih sedikit demi sedikit dengan tepung beras di wadah yang sudah disiapkan, aduk hingga tercampur rata. Hentikan pemberian air saat dirasa adonan sudah hampir kalis.
4. Tambahkan minyak wijen, uleni adonan hingga kalis.
5. Bentuk adonan bulat memanjang. Kalau masih terlihat kurang licin bisa oleskan lagi minyak wijen sambil terus dibentuk bulat memanjang.
6. Kukus tteok hingga matang.

Resep Tteokbokki (Kue Beras Pedas)
Bahan:
– Tteokk yang sudah dipotong-potong sesuai selera (kalau saya sekitar 3 cm)
– Air secukupnya (dikira-kira aja sesuai banyaknya tteok yang mau dimasak)
– 2 lembar nori (rumput laut) ukuran kecil
– 1 siung bawang bombay, cincang halus
– 2 siung bawang putih, cincang halus
– 3 siung bawang merah, cincang halus
– 2 batang daun bawang, iris serong
– saus tomat sesuai selera (karena saya nggak punya gochujang atau pasta cabe ala korea, saya pake saus tomat buat dapetin warna merahnya)
– saus cabe atau bubuk cabe secukupnya (buat rasa pedasnya, sesuaikan dengan selera masing-masing)
– gula, garam, merica, kaldu bubuk secukupnya

Pelengkap (sesuai selera):
Telur rebus
Mie (bisa pakai mie telor)
Kue ikan (kalau di sini otak-otak ikan kali ya)
Keju parut
Biji wijen

Cara buat:
1. Tumis trio bawang sebentar aja, sisihkan.
2. Rebus air sampai mendidih.
3. Masukkan nori, rebus sampai aroma rumput lautnya keluar semua tapi jangan sampai rumput lautnya hancur di rebusannya, terus buang rumput lautnya.
4. Tambahkan saus tomat, saus cabe, dan bubuk cabe
5. Masukkan trio bawang yang sudah ditumis.
6. Tambahkan garam, gula, kaldu bubuk, merica. Cicipi hingga dapat rasa yang diinginkan.
7. Masukkan tteok, aduk rata.
8. Masukkan daun bawang, aduk sebentar, matikan api.
9. Sajikan tteok dengan pelengkapnya (kalau mau ditambah mie, jangan masukkan mie langsung ke tempat tteokbokki, tapi mienya ditaruh di mangkok dulu baru disiram tteokbokki)

Taraaaa, ini hasil akhirnya.

image

Mirip kayak yang asli kan?? 😜
Selamat mencoba ya. ^^

by Ina Ummu Umar

Suatu hari, Umar lagi uring-uringan sendiri sambil pegang tas yang lagi dipakai untuk mainan.

Ummi: Umar kenapa?
Umar: Ba ba ba baa.. (nada kesal)
Ummi: Umar lagi kesal ya? Kesal kenapa?
Umar: Ba ba ba buu.. Ba ba waa ba baa.. De de deee! A ta ta, a ta ta! (makin kesal sambil narik-narik tasnya)
Ummi: Coba sini Ummi bantuin.
Umar: Ta ta tee.. (malah menjauh dan pegang tas lebih erat)
😄😄😄

Seandainya ada subtitle-nya, Ummi jadi bisa ngerti kamu kenapa, Sayang. 😂😂😂

View on Path

MENCELA HUJAN = MENCELA DZAT YANG MEMBERI HUJAN

Protes seorang hamba ketika Allah menetapkan taqdir, sejatinya dia protes kepada Allah. Dalam hadis qudsi, Allah ta’ala melarang kita mencela keadaan yang Dia ciptakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman,
“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Akulah pemilik masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000, dan yang lainnya).

Dalil di atas berbicara tentang hukum mencela waktu. Kasus mencela hujan, tidak berbeda dengan mencela waktu. Para ulama memberikan rincian hukum untuk kasus mencela waktu, hujan atau semacamnya:
1. Hanya sebatas memberitakan. Misalnya, seseorang mengatakan: ‘Sepatu saya rusak karena kehujanan.’ ‘Motor saya macet karena kehujanan.’
2. Mencela hujan dengan maksud mencela ketetapan dan takdir Allah. Misalnya mengatakan, ‘Ini hujan, ngapain turun. Bikin tambah macet aja.’ ‘Sebel, hujan terus. Pagi-pagi sudah hujan.’

Celaan semacam ini termasuk perbuatan dosa, karena hakekatnya, dia mencela Allah.

🌐 konsultasisyariah.com

*Jadi, lebih baik berdoa aja yuk saat hujan. Allahumma shayyiban nafi’an, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Bisa juga ditambah doa yang lain sesuai kebutuhan kita, karena saat hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Wallahu a’lam.

View on Path