Games? Oh NO!

Tadi saya abis baca status seseorang tentang games di gadget (laptop atau hp) yang dimainkan oleh pasangannya. Saya jadi teringat masa-masa awal pernikahan. Suami saya adalah orang yang suka banget nge-games waktu itu. Sebetulnya saya nggak terlalu mempermasalahkan kalau dia mau main games. Tapi yang bikin saya agak keki, dia kalo nge-games suka lupa waktu (dan lupa saya 😭). Kan saya jadi syedih, apalagi saya orangnya nggak tahan banget kalo dicuekin. Aku tuh nggak bisa diginiin. 😂

Awalnya saya coba untuk menerima kebiasaan suami saya. Biarin deh, cuma wiken aja kok main games-nya. Lah, tapi kan waktu senggangnya dia emang cuma wiken, wikdey kan kerja. Trus waktu buat saya kapan dong?? (Mulai posesif)

Akhirnya, dengan banyak sedikit drama dan air mata, saya beranikan untuk ‘curhat’ tentang ketidaksukaan saya itu. Jangan tanya cara ‘curhat’nya seperti apa ya, lebay lah pokoknya. Tapi intinya, suami saya yang baik hati itu mau mencoba untuk berubah. Makin lama makin sedikit waktu yang dia habiskan untuk nge-games. Malah saat ini, setelah 2 tahun 4 bulan menikah, dia udah jarang banget nge-games. Sebulan bisa dihitung jari (sebelah tangan). Sekarang suami lebih suka main sama Umar daripada sama laptop atau hpnya.

Mungkin ini ya yang namanya the power of love. Kita merubah diri dengan sukarela menjadi lebih baik untuk pasangan. Alhamdulillah, jadi makin cinta. 😍

by Ina Ummu Umar

Renungan Pagi
semoga bermanfaat

Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya.

Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur dan anaknya terus bercerita sambil mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air. Sampai airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan ‘Air Panas Mendidih’ itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.

Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua, ia masukkan TELUR, dan di gelas ketiga, ia masukkan KOPI.

Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:
โ€ข WORTEL yang KERAS menjadi LUNAK,
โ€ข TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS
โ€ข dan KOPI menghasilkan aroma yang HARUM.

Lalu sang ibu menjelaskan :
โ€œNak….. MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH.
Namun, sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya.

Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau harum seperti Kopi.

Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu, sementara KOPI malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.

โ€Setiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan ุงู„ู„ู‡ seolah tidak kunjung datang?

Ada 3 reaksi orang saat masalah datang :
โ€ข Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri.
โ€ข Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya.
โ€ข Ada juga yang justru semakin harum (seperti kopi), menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA.

Ada kalanya ุงู„ู„ู‡ sengaja menunda pertolonganNYA.
Apa tujuannya?
Agar kita belajar percaya dan setia!
Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa ุงู„ู„ู‡selesaikan..

Selamat menikmati Secangkir Kopi. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

View on Path

MERENUNG SEJENAK

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ุฅููŠู’ู…ูŽุงู†ู‹ุง ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูู‡ูู…ู’ ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ูˆูŽุฎููŠูŽุงุฑููƒูู…ู’ ุฎููŠูŽุงุฑููƒูู…ู’ ู„ูู†ูุณูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ ุฎูู„ูู‚ู‹ุง

โ€œMukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinyaโ€. (HR. Tirmidzi)

Catatan:

“Seringkali kita berharap agar pendamping hidup bisa seperti Khodijah, namun kita lupa bahwa disisi Khodijah ada pribadi Agung yang menjahit baju dan kasutnya sendiri. Dialah Rasulullah.”

ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

_______________
Madinah 11-07-1436 H
ACT El-Gharantaly

View on Path

“Orang tua mah dengar suara anak2nya aja udah senang,” my mom said.
Kalau baru bisa menyenangkan ortu dg hal kecil begini, kenapa masih enggan? Toh ga sampai harus berpeluh keringat atau mempertaruhkan nyawa seperti mereka.
#ntms #repathRia – with ria and Gama Ufiz

View on Path

Umar: Renang Pertamaku

Sabtu kemarin perdana ngajak Umar berenang. Sebetulnya ada kolam renang di komplek, biaya langganan per bulannya juga murah. Tapi karena renang bukan olahraga favorit saya, jadi saya pun malas bawa Umar berenang. Sebetulnya saya suka renang dan pengen banget sering renang, soalnya renang kan salah satu olahraga yang direkomendasikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Tapi karena susah nyari kolam renang yang ada jadwal khusus untuk wanita, kalaupun ada tetep dijaga sama mas-mas di sekeliling kolam, jadi tambah malas deh.

Tapi sabtu kemarin akhirnya saya membulatkan tekad, Umar harus diajak renang. Toh yang nemenin Umar berenang Abinya, saya seksi dokumentasi aja. Dan bener aja, Umar nangis pas dicelupin ke kolam, padahal baru kakinya yang nyentuh air. 😂

image

Ban lucu & imut pun nggak dilirik sama Umar. Pokoknya nggak mau nyentuh air, nempel aja sama Abinya.

Umar kaget kali ya, pertama kali diajak ke tempat yang banyak banget airnya. Trus mungkin dia juga bingung karena saya cuma ngeliatin dari pinggir kolam, nggak ikut nyebur. Kata mama, mungkin kalo saya ikut nyebur Umar jadi nggak terlalu takut. Hmm, yowis, yuk kita cari baju renang muslimah yang nggak ngepres badan (emang ada??). 😭

Wiken depan Umar mau saya ajak berenang lagi, mudah-mudahan nanti Umar jadi terbiasa dan nggak takut air lagi. Saya juga udah nemu baju renang muslimah yang (katanya) nggak ngepres badan di olshop. Tunggu ulasannya ya. 😁

by Ina Ummu Umar