Panggilan Sayang

Menikah dengan seseorang yang sudah kita kenal sebelumnya pasti ada plus dan minusnya. Plusnya, kita sudah kenal, tinggal lebih mengakrabkan diri setelah menikah. Minusnya, karena sudah kenal dan akrab, kadang ya terasa benar-benar seperti teman saja, nggak ada romantis-romantisnya. Apalagi kalo dua-duanya orang yang cuek dan bukan tipe romantis.

Begitu juga masalah panggilan sayang. Pas awal-awal pernikahan, belum ada perubahan panggilan antara saya dan suami. Kami sama-sama merasa nyaman dengan panggilan kami saat itu (dia panggil langsung nama saya, saya panggil dia ‘kak’). Agak aneh juga sih memanggil dia ‘kak’ karena di kota tempat saya tinggal saat ini panggilan ‘kak’ itu untuk perempuan yang lebih tua. Laki-laki yang lebih tua panggilannya Abang. Tapi saya masih cuek, belum ada niatan untuk mengganti.

Sampai tiba suatu saat, ada kejadian yang membuat kami berdua sepakat membuat panggilan sayang. Waktu itu lebaran pertama setelah menikah. Kami berlebaran di rumah orang tua suami. Beberapa saudara pun datang ke rumah. Saat sedang asik mengobrol, suami minta tolong diambilkan sesuatu. “Na, tolong itu dong.”. Langsung ada Bibi (adiknya mama mertua) yang menyela, “Ih, kok manggil istrinya pakai nama langsung sih? Bibi mah dari awal nikah nggak pernah dipanggil nama langsung sama suami. Dulu dipanggilnya ‘neng’, sekarang ‘ibu’. Jangan manggil nama gitu ah, nggak bagus.”

Dan ternyata, Rasulullahu shalallahu’alaihi wasallam pun memanggil istri beliau dengan panggilan sayang yang disukai istrinya. Akhirnya kami putuskan untuk mengganti panggilan. Agak canggung awalnya, tapi lama-lama terbiasa. Malah sekarang sudah jago berimprovisasi.

Hasilnya ternyata luar biasa loh. Saat suami memanggil saya dengan panggilan sayang itu, rasanya jadi senang gimanaa gitu. Karena saya jadi merasa spesial. Nggak masalah walaupun misalnya panggilan sayang itu pasaran dan digunakan oleh orang banyak, rasanya akan tetap spesial karena yang memanggil adalah orang spesial.

by Ina Ummu Umar

Kehilangan

Setiap kita pasti akan kehilangan. Kita mungkin akan kehilangan teman, sahabat, adik, kakak, dan juga orang tua. Mereka mungkin hanya mampir sesaat dalam kehidupan kita. Ketika mereka pergi, kita pun akan merasa kehilangan. Dari sana kita dapat pelajaran: berbuat baik pada orang yg kita temui sekarang adalah lebih baik dibandingkan kita terus merindukannya ketika dia sudah pergi.

Lalu, akan datang orang2 baru yg akan memberi warna di kehidupan kita. Mereka datang dan pergi. Kita pasti berharap mereka akan pergi dg perasaan yg bahagia dan mungkin mereka akan terus merindukan kita. Dan ketika mereka pergi, kita juga harus berdoa supaya kita dan mereka bisa kembali berkumpul bersama di surga yg abadi; sebuah tempat yg tidak ada datang dan pergi..

by: HM

View on Path