Simple Recipe: Pizza Teflon

Sekarang zamannya produk KW ya. Sampai pizza pun ada KWnya. 😅
Abisnya apa daya, mau pesen PH eh sayangnya di Dumai belum ada cabang PH. Jadi KW pun oke lah. 😆

Pizza Teflon

Bahan-bahan:
10 sdm tepung terigu protein tinggi (tapi kalau tidak ada pakai protein sedang juga bisa)
Sejumput garam
1 sdt Ragi Instan
80 ml susu cair hangat (air hangat saja juga bisa)
1 sdm minyak sayur

Topping:
Sesuai selera atau sesuai isi kulkas seperti saya. 😁
1/2 siung bawang bombay, cincang.
Jamur tiram secukupnya, potong suwir-suwir, tumis sebentar dengan bawang bombay cincang.
1 buah tomat, cincang kasar
Saus bolognese secukupnya
Keju mozzarella atau quick melt (kalau saya pakai cream cheese KW abal-abal 😅)
Oregano bubuk secukupnya
Saus cabai atau tomat untuk cocolan (optional)

Cara Membuat:
1. Siapkan wadah, campurkan ragi dengan susu cair hangat. Tunggu kira-kira 10 menit sampai ragi berbusa.
2. Tambahkan terigu dan garam, uleni hingga tercampur rata.
3. Masukkan minyak sayur, uleni adonan hingga kalis.
4. Tutup adonan dengan plastik & diamkan sekitar setengah jam.
5. Setelah mengembang, ratakan adonan di teflon. Tusuk-tusuk permukaan dengan garpu.
6. Olesi adonan dengan saus bolognese.
7. Taburi tumisan jamur & tomat.
8. Taburi keju atau cream cheese.
9. Taburi oregano bubuk
10. Tutup teflon, masak dengan api sangat kecil sekitar 15-20 menit.

Pizza siap dinikmati. 😋

image

Selamat mencoba. ;)

by Ina Ummu Umar

Dulu pas masih bayi, mandi mah mandi aja.. Gak pake tarik ulur, gak pake drama..
Gedean dikit gak mau kalo disuruh mandi.. Dibilang mau main air baru mau.. 😁
Eh sekarang dibilang main air pun udah gak mempan.. Dibilang mau ganti baju bagus baru mau.. 😅
Sekarang udah mikirin penampilan ya, Nak? 😂😂

*’Umar udah mandi, trus pake baju ‘bagus’ (padahal ini baju yg biasa dipake sehari2) 😆
#latepost

View on Path

S3 ASI – Tips Menyapih

Alhamdulillah, ‘Umar sudah lulus S3 ASI 2 tahun. Berhenti menyusui ternyata bukan hal yang instan. Butuh proses dan perjuangan yang tak kalah hebat dibanding saat memulainya dulu.

image

‘Umar disapih tanggal 14 November 2015. Belum 2 tahun kalau dihitung dengan kalender masehi. Tapi saya dan suami sudah sepakat, usia ‘Umar akan kami hitung dengan kalender hijriah. Kalau berdasarkan kalender hijriah, ‘Umar sudah 2 tahun lebih 11 hari saat disapih. Jadi sudah genap masa menyusuinya ya, Nak. :)

Metode yang saya pakai dalam menyapih masih metode konvensional, bukan wwl (weaning with love). Terserah orang mau komentar apa, tapi saya dan suami punya pertimbangan tersendiri ketika memakai metode konvensional.

Sekitar 3 bulan sebelum waktu target menyapih, saya dan suami sudah sounding ke ‘Umar, kalau nanti saat dia 2 tahun sudah nggak boleh nen karena ‘Umar sudah besar. Saya pun mulai memperkenalkan susu tambahan kepada ‘Umar. Hari H pun tiba, usia ‘Umar genap 2 tahun. Saat itu saya bilang kalau ‘Umar sudah besar, berhenti ya nen-nya. Tapi ‘Umar tidak mau berhenti, malah makin sering minta nen. Sudah diiming-imingi sepeda baru tetap tidak mempan. Akhirnya saya putuskan untuk pakai cara konvensional.

Saya sengaja pilih hari sabtu, hari dimana Abu ‘Umar full di rumah, jadi ada yang bantu kalau seandainya ‘Umar tantrum. Yang namanya kebiasaan, pasti sulit diubah dalam waktu singkat. Begitu juga menyusui, anak terbiasa dengan rasa nyaman & aman saat menyusui. Apalagi ‘Umar kalau mau tidur pasti harus nen. Saya juga khawatir awalnya, bagaimana cara ngelonin ‘Umar kalo udah disapih nanti. Tapi bismillah, bukannya Ummi tidak sayang, Nak. Tapi ini salah satu proses pendewasaanmu juga. 😘

Hari itu sengaja saya ajak ‘Umar jalan-jalan dari pagi supaya dia nggak minta nen. Kalau pergi ‘Umar sudah terbiasa tidak minta nen. Kami pergi sampai menjelang sore. Saat sampai rumah, ‘Umar langsung minta nen. Wajahnya juga sudah terlihat mengantuk. Saya bilang saja kalau nen-nya sakit (emang beneran sakit). Agak ngamuk sedikit, tapi setelah digendong sebentar langsung tidur. Alhamdulillah, rintangan pertama berhasil dilalui. 😅

Rintangan selanjutnya, saat mau tidur malam. ‘Umar sudah gelisah. Tiap minta nen selalu saya alihkan perhatiannya. Akhirnya ngamuk juga. Saya kasih tau lagi kalau nen-nya sakit, nggak enak ASInya. ‘Umar tetep maksa. Ya sudah, senjata pamungkas pun dipakai. Pas ‘Umar minta nen lagi, saya oles dulu nen-nya pakai pare. Dan berhasil! ‘Umar nggak mau nen walau masih ngamuk.

Hari kedua makin parah. Malamnya ‘Umar seperti orang sakaw, nangis jejeritan sambil nyari nen. Tangan saya dipegang kencang sekali sama dia. Ya Allah, ini sih antara tega nggak tega. ‘Umarnya ngamuk, sayanya juga nangis kasian liat dia. Tapi kalau saya kasih lagi berarti sapihnya gagal, dan harus ngulang dari awal. Maafin ummi ya, Nak. Malam itu kamu akhirnya tidur setelah kecapekan nangis. 😭

Hari ketiga dan seterusnya alhamdulillah lumayan berkurang ngamuknya. Mungkin ‘Umar sudah mulai terbiasa. Sekarang gantian ibunya yang meriang. Support dari pasangan berarti banget di masa-masa ini. Nggak enak badan, anak ngamuk, butuh banget uluran tangan suami. Alhamdulillah, masa-masa ini akhirnya bisa dilalui dengan nyaman.

Sekarang ‘Umar sudah 3 minggu 4 hari berhenti nen. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai kemudahan. Ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran dari pengalaman saya:
1. Kuatkan tekad ibu sebelum menyapih. Kalau ibunya nggak tega, akan sulit disapih anaknya. Mungkin nggak masalah untuk ortu yang mau menyusui lebih dari 2 tahun. Tapi saya & suami mencukupkan 2 tahun saja.
2. Komunikasi dengan suami, minta support & bantuannya saat proses sapih nanti.
3. Lakukan di saat suami sedang ada di rumah. Waktu terbaik menurut saya adalah wiken, karena hari pertama & kedua itu yang saya rasakan sangat berat untuk dilalui sendirian.
4. Lakukan kegiatan yang tenang & nyaman di malam hari suapaya anak bisa cepat mengantuk. Di pekan pertama proses sapih, saya sengaja memindahkan jadwal mandi sore ‘Umar jadi habis maghrib. Mandi pakai air hangat, biar rileks badannya. Habis isya biasanya ‘Umar sudah ngantuk. Jadi gampang ngeloninnya.

Hmm, apa lagi ya? Segini dulu deh. Kalau ada yang teringat lagi in syaa Allah saya update tulisannya. :)

by Ina Ummu Umar