Celoteh Ummi: Kehilanganmu

Hari itu akhirnya kuputuskan untuk ke rumah sakit. Aku ingin berkonsultasi tentang peradangan di rahimku, supaya aku bisa segera melanjutkan promil. Sebetulnya aku terpaksa berobat di RS ini, karena banyak yg bilang pelayanannya buruk. Tapi ini RS jaringan perusahaan di kota tempat tinggalku, kalau mau gratis ya harus periksa di sini. Ya sudahlah, aku coba saja.

Sistem alur pasien di sini agak aneh menurutku. Kalau mau periksa ke dokter spesialis kandungan harus diperiksa oleh dokter umum dulu. Aku katakan maksud kedatanganku ke dokter umum. Kemudian beliau bertanya, sedang haid atau tidak. Pas sekali hari itu jadwalnya aku haid menurut prediksi kebiasaanku. Tapi aku belum haid sampai siang itu. Akhirnya dokter bilang tunggu saja sampai haid dulu, kalau sudah bersih baru datang lagi. Kalaupun tidak haid dan ternyata hamil, memang itu kan yang diinginkan?

Sorenya tiba-tiba aku demam hingga 39,2°C. Badan ngilu sulit digerakkan. Begitu terus sampai tiga hari berikutnya. Akhirnya aku ke RS lagi. Dokter mendiagnosa aku terkena tifus. Tifus ketiga kalinya dalam hidupku. Aku pun dirawat inap. Anakku kutitipkan ke tetangga karena tak ada saudara di kota ini.

Demamku makin tinggi hingga mencapai 40,2°C. Semua rasanya tidak jelas, mengawang-awang. Aku bahkan tidak ingat dengan keterlambatan haidku. Hari kedua akhirnya aku ingat dan langsung minta cek urin. Ternyata hasilnya positif hamil. Pemberian antibiotik pun dihentikan. Aku khawatir, semoga janinku baik-baik saja.

Besok paginya saat buang air kecil aku melihat darah. Perasaanku tidak enak. Aku kabarkan itu ke perawat, aku pun diminta untuk bedrest. Katanya hari ini aku akan dijadwalkan untuk periksa ke dokter kandungan. Kutunggu sampai sore tapi tak ada kejelasan tentang rencana periksa itu. Saat kutanya perawat selalu saja dijawab ‘tunggu ya, Bu. Sekarang bedrest saja dulu’.

Malamnya aku rasakan darah yang keluar makin banyak. Andai sebelumnya tidak periksa urin pasti aku akan menyangka kalau ini haid biasa. Aku makin khawatir, takut sekali untuk bergerak karena kalau bergerak terasa darah keluar. Semua aku lakukan sambil berbaring, bak & bab pun sambil berbaring. Malam pun hanya bisa tidur 2 jam. Begitu banyak hal berkecamuk di kepalaku.

Besoknya aku dikabarkan kalau aku juga terkena demam berdarah. Trombositku terus turun sejak hari pertama dirawat. Aku makin tidak tenang. Aku mendesak perawat untuk segera membuatkan janji pertemuan dengan dokter kandungan, karena dokter jaga pun sudah bilang bahwa aku harus periksa ke dokter kandungan. Akhirnya siangnya aku dibawa ke ruangan dokter kandungan. Alhamdulillah, ternyata dokter kandungannya baik sekali. Tapi hasil USG tak sebaik sang dokter. Janinku sudah tidak ada!

Aku tidak menangis. Aku malah bercanda dengan perawat saat mengantarku kembali ke kamar rawat. Tapi di kamar sepi itu mataku mulai berembun. Tak bisa kupungkiri bahwa aku merasa kehilangan. Bermacam pengandaian muncul di kepalaku. Setan mulai berbisik, andai aku periksa kandungan lebih cepat, andai aku tidak berobat di RS ini, andai aku tidak terlalu lelah, dan banyak andai lainnya. Namun sebagian pikiranku yang masih waras yakin bahwa ini adalah takdir Allah. Memang begini caranya, begini jalannya.

Maaf ya, Nak, Ummi tidak bisa merawatmu dengan baik. Terima kasih sudah mampir di rahim Ummi. Sungguh, walaupun baru berbentuk janin usia 4 minggu, tapi aku benar-benar merasa kehilangan. Kejadian ini mengajarkan aku untuk selalu menjaga baik-baik titipanNya, sebelum diambil kembali oleh pemiliknya. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan yang lain.

Thanks for your reply.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s