Suatu hari, Ummi & Umar lihat gambar seorang ibu sedang mencium bayinya.

Umar: Bayi lagi dicium siapa?
Ummi: Bayi lagi dicium ibunya.
Umar: Umar gak punya ibu.
Ummi: Oh ya? Trus Umar punyanya siapa?
Umar: Umar punyanya Ummi.
Ummi: Umar mau punya ibu gak?
Umar: Gak mau, mau punya Ummi aja.
Ummi: 😍😍😍

View on Path

Percakapan suatu sore sama Umar.

Umar (U): Kereta lagi berhenti di stasiun.
Ummi (M): Kenapa berhenti?
U: Lagi ngangkut penumpang. Penumpang beli tiket dulu.
M: Tiket untuk apa?
U: Untuk naik kereta.
M: Kalau ga punya tiket bisa naik kereta ga?
U: Bisa.
M: Nanti kalau ditanya petugas gimana? Kenapa ga punya tiket?
U: Tiketnya hilang. *sambil nyengir*

**Haduh, ini siapa yg ngajarin sih, Nak? 😂

View on Path

Menakut-nakuti anak, kata sebuah artikel parenting yang saya baca, tidak baik untuk psikologisnya. Oleh karena itu, saya tidak membiasakan menakut-nakuti Umar, baik takut gelap, takut setan, atapun takut pada profesi tertentu (misal polisi atau dokter). Hasilnya memang Umar jadi anak yang pemberani. Dia tidak takut saat saya suruh mengambil sesuatu di tempat yang agak gelap. Bahkan saat uji coba tidur sendiri pun dia tidak menangis saat bangun di tengah malam yang gelap. Dia berani pindah dari kamarnya ke kamar orang tuanya, melewati dapur dan ruang tengah yang gelap, lalu mengetuk kamar orang tuanya.

Tidak takut akan banyak hal ini memang hal yang baik. Tapi pernah juga membuat saya gemas sendiri. Pasalnya, hari itu Umar lama sekali mengemut makanan. Biasanya dia memang suka lama kalau makan, tapi hari itu jauh lebih lama dari biasanya. Saya sampai stres menyuruhnya mengunyah & menelan. Dia selalu bilang mulutnya sakit. Akhirnya saya coba periksa rongga mulutnya, tidak apa-apa. Akhirnya saya coba keluarkan ‘ancaman’ biar Umar cepat makannya: “telan makanannya, kalau nggak kita ke dokter!” Eh, mendengar saya bilang itu Umar malah kegirangan. Dengan wajah sumringah & melompat-lompat senang dia terus-terusan bilang, “Umar mau ke dokter!” Ampun, saya jadi tambah bingung. 😂