If I Could

Lagi iseng ngubek-ngubek buku karena ga ada kerjaan, trus nemu puisi dari buku Aisyah Putri.. Bagus, ina tulis ulang ya..

_If I Could_

If I could
I would always tell the truth
I will always love you
from the heart

If I could
I would take you in my arms
Take you inside
into my heart

If I could
I would be the place you turn
When you’re feeling lonely
or afraid
I would shine
Like a lantern in the dark

Take you inside
into my heart
When you feel as if
you don’t know know who you are
I’ll remind you with my love

If I could
I would always keep you safe
Take you inside
into my heart
When you feel as if
you simply couldn’t go on
I’ll remind you that you’re strong

If I could
I would love you as you are
Take you inside
into my heart
into my arms
into.. my life…

(Asma Nadia)

Tentang Bala Hasad

Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya:

– Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah.

– Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, berupaya agar orang lain membencinya, merendahkan martabatnya dll. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada.
Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati.

– Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Nabi bersabda, “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)
Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati.

– Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.

– Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

– Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut.

– Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya, meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll.

– Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka.
Ringkasnya, dengki adalah akhlak yang tercela, meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. Orang yang punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orang-orang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak.

***

Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin
Penerjemah: Ustadz Aris Munandar
Artikel http://www.muslim.or.id

Kapan Nikah??? [A Gado-Gado-Tale-Story]

Dulu pernah repost tulisan ini karena lucu. Tapi sekarang rasanya tulisan ini jauh lebih “lucu” lagi. Entahlah, mungkin karena faktor usia, hehe. Tulisan asli bisa dilihat di sini.

Alkisah Anaknya-Ayah-yang-Belum-Menikah-Trus-So-What-Gitu-Loh! (AABMTSWGL) ,,,,,

Di sebuah Mall,,

Temen Kuliah : Ya ampun,, kok kamu kurusan sih,, *bolak-balikin badannya AABMTSWGL*

AABMTSWGL : mungkin banyak pikiran kali ya *padahal merasa gemuk* oyah, udah tau kan Mba Selvi udah 3 bulan?

Temen kuliah : waah Alhamdulillah, bakal nambah ponakan kita. trus kamu kapan nikahnya??

AABMTSWGL : -_-“

Di sebuah kamar,,

AABMTSWGL : Emak, inih undangan dari Dina *undangan ke sekian di tahun ini yang diterima si Emak*

Emak : *buka undangan sambil gregetan* Ck! Trus kamu kapan donk nikahnya????

AABMTSWGL : -_-“”

Di sebuah acara walimah,,

AABMTSWGL : ikhwan sebelah sana Ust pintunya,,

Ustadz : Ya ampun, ente lagi panitia nya,,

AABMTSWGL : iya Ust, kan temen ane yg nikah

Ustadz : LHA trus kamu kapan walimahannya??

AABMTSWGL : -_-“””

Di sebuah ruang tamu,,

Emak : ini anak perempuan saya yg paling gede Bu,,

Tante : ya ampun,, udah gede ya Bu si Anak Ayah,,

AABMTSWGL : *senyumsenyum*

Emak : bla bla bla kya kya kyaa ^o^

Tante : bla bla bla kya kya kyaa ^o^

AABMTSWGL : *diem*

Tante : jadi kapan rencana mau nikahnya Nak?

AABMTSWGL : -_-“”””

Di sebuah SMS,,,

Temen Kuliah : Assalamu’alaikum,, Pkbr Nak? Udah lama ga kdgran kbr? Bla bla bla,,,,,, *ujung-ujungnya* kpn nih kmu nyusul?

AABMTSWGL : -_-“””””” *ketiduran*

Di sebuah telepon,,

AABMTSWGL : besok aku pulang Da, panitiaan walimahnya si Anu

Oknum : aku juga dateng kok Nak. Btw jadi panitianya mulu, kamu nya kapan?

AABMTSWGL : -_-“”””””””

Di sebuah jejaring sosial,,

Oknum 1 : kapan?

Di sebuah jalan,,,

Oknum 2 : kapan??

Di sebuah busway,,

Oknum 3 : kapan???

Di sebuah angkot,,

Oknum 4 : kapan????

Di suatu malam, gerimis,,,

Kodok : kwok kwoook kwokk kwook kwok kwoook kwok kwookkk kwopon kwok kwoponn nikwoh kwok kwopon nikwoh kwopon nikwoh kwopon nikwooh kwopoon nikwooooohh,,,,

AABMTSWGL : (_ _!) ergh,,

*cerita penting ga penting yang penting penting daripada ga dipentingin jadi dipentingin walo penting ga penting*

*lucu ya,, padahal mayoritas yang nanya juga pada belum nikah*

Izinkan Kuhapus Namamu di Hatiku

Sayangku… Tahukah kamu…

Ada perahu rindu yang lelah tertatih mencari dermaga hatimu..

Hanya bayang manismu yg jadi pelangi dalam kosongnya hari

Hingga malam lenyap membawa lari asa dan harap yg tak berbalas

Menyisakan elegi rindu yg tertahan..

Sayangku…

Bila semilir mengisahkan cerita duka tentang kita yg tak mungkin bersua

Biarkan jiwaku mengembara menuju batas fana, tanpa sesal dan tak ada kecewa

Karena kuyakin senyum resahmu tau ada cinta untukmu dariku…

Dari jiwa yg tak pernah kau tau…

Sayangku…

Izinkan dambaku mengalah pergi menjemput nyata yg getir terasa

Agar jiwa ini bisa lagi bercahaya, tak keruh karena nelangsa duka

Ada cinta lain yg kan memelukmu sampai akhir bahagiamu

Hingga suatu waktu tak ada lagi kisahku di hatimu…

Jadi biarkan saat ini kubisikkan senyumku padamu

Allah tau aku mencintaimu…

Dari lirih doaku,

di sepertiga malam sujudku…

Dalam hening kupinta padaNya menghapus namamu dari hatiku

Hilang bersama bulir air mata yg mengalir sejenak

Karena rapuh hatiku tak mampu menampung dua rindu…

Sumber

Mereka Dido’akan Oleh Para Malaikat

Sumber: Buku Man Tushalli ‘alaihin al-Malaaikatu wa Man Tal’anuhun

Penulis: Dr. Fadhil Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Penerbit: Idaarah Turjumaan al-Islaami, Pakistan

Ada beberapa golongan orang yang termasuk kategori kelompok orang yang dido’akan oleh para malaikat. Allah dan RasulNya telah memberi tahu hal tersebut, diantara mereka adalah:

  1. Orang yang tidur dalam keadaan suci (telah berwudhu dan tidak batal);
  2. Orang yang duduk menunggu waktu sholat;
  3. Orang yang berada di shaff pertama ketika sholat;
  4. Orang yang berada di shaff sebelah kanan ketika sholat;
  5. Orang yang menyambung shaff;
  6. Orang yang berada dalam sholat jama’ah pada saat para malaikat mengaminkan bacaan imam pada surat Al Fatihah;
  7. Orang yang tetap duduk di tempat sholat setelah melakukan sholat;
  8. Orang yang melaksanakan sholat Shubuh dan Ashar dengan berjama’ah;
  9. Orang bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam;
  10. Orang yang dido’akan oleh saudaranya dari kejauhan (tanpa sepengetahuannya);
  11. Orang yang mendo’akan saudaranya dari kejauhan (tanpa sepengetahuan orang yang dido’akan);
  12. Orang yang berinfak di jalan kebaikan;
  13. Orang yang makan sahur;
  14. Orang yang makanannya dimakan orang lain sedangkan ia berpuasa;
  15. Orang yang menjenguk orang sakit;
  16. Orang yang mengucapkan kata-kata baik di sisi orang yang sakit dan orang yang sekarat;
  17. Orang yang mengajarkan kebaikan;
  18. Orang yang (tetap) beriman, bertaubat, dan mengikuti jalan Allah Subhanahu Wata’ala, begitu pula berbuat kebaikan kepada orang tuanya, istri-istrinya, dan keturunannya;
  19. Imam para Nabi dan pemimpin para Rasul, yaitu Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Apakah kita salah satunya???

*Rujukan dari poin-poin di atas ada di dalam kitab yang telah disebutkan. InsyaAllah semuanya shohih.

Keutamaan Shalat Isyraq

Shalat isyraq adalah shalat dua raka’at yang dilaksanakan setelah melaksanakan shalat shubuh; lalu ia duduk ditempat ia shalat menunggu waktu syuruq; kemudian shalat isyraq ketika memasuki waktu tersebut. waktu syuruq kira-kira 90 menit setelah adzan shubuh. Silahkan lihat disini jadwal syuruq disini.

Waktu isyraq merupakan AWAL WAKTU DHUHA; sehingga orang yang melaksanakan shalat isyraq berarti ia telah melaksanakan shalat dhuha.

Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat Dhuha. Dia bercerita, lalu aku membawanya menemui Ummu Hani’ dan kukatakan :

“Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan kepdaku”.

Lalu Ummu Hani berkata :

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan kota Mekkah, lalu beliau minta dibawakan air, lalu beliau menuangkan ke dalam mangkuk besar, lalu minta dibawakan selembar kain, kemudian beliau memasangnya sebagai tabir antara diriku dan beliau. Selanjutnya, beliau mandi dan setelah itu beliau menyiramkan ke sudut rumah. Baru kemudian beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, yang saat itu adalah waktu Dhuha, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya adalah sama, yang saling berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya”.

Kemudian Ibnu Abbas keluar seraya berkata :

“Aku pernah membaca di antara dua papan, aku tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang…

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

“Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi” [Shaad : 18]

Dan aku pernah bertanya :

“Mana shalat Isyraq ?”

Dan setelah itu dia berkata :

“Itulah shalat Isyraq”

[Hasan Lighairihi; Diriwayatkan oleh Ath-Thabari di dalam Tafsirnya dan Al-Hakim]

Jabir bin Samurah rådhiyallåhu ‘anhu menyifati petunjuk nabi shållallåhu ‘alayhi wa sallam, ia mengatakan:

كان لا يقوم من مصلاه الذي يصلي فيه الصبح أو الغداة حتى تطلع الشمس فىإ ذا طلعت الشمس قام

“Beliau tidak berdiri dari tempat shalatnya -dimana beliau melakukan shalat shubuh- hingga matahari terbit. Jika matahari telah terbit, (maka) beliau berdiri (untuk shalat sunnah isyraq).”

[Shahiih Muslim (I/463) no. 670]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna.”

(HR. At-Tirmidziy no.591 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy no.480, Al-Misykat no.971 dan Shahih At-Targhiib no.468, lihat juga Shahih Kitab Al-Adzkaar 1/213 karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy)

‘Aisyah radhiyallåhu ‘anha berkata:

‎حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّاعَةُ الَّتِي تُكْرَهُ فِيهَا الصَّلَاةُ قَامُوا يُصَلُّونَ

“…(Mereka duduk) hingga waktu yang dilarang untuk shalat telah berlalu, (kemudian) mereka mendirikan shalat”

(AR. Bukhåriy no. 1522; dinukil dari applikasi hadits 9 imam, lidwa pusaka)

Untuk menunggu waktu tersebut, dapat kita gunakan untuk BERDZIKIR PAGI PETANG dan MEMBACA serta MEMPELAJARI al Qur-aan (beserta tafsirnya; spti: tafsir ibn katsir) untuk mendulang lebih banyak keutamaan.

Sumber