Makanan Bergizi Tidak Selalu Aman

Even the best food can make your children sick
“Makanan paling bergizi pun, pada anak tertentu, apabila dipaksakan dapat mengganggu tumbuh-kembang, perilaku dan perjalanan penyakit alergi dikemudian hari”
– dr. widodo judarwanto-

Seminggu yang lalu saya bereksperimen dengan mpasi Umar. Dalil yang mendasari saya melakukan itu adalah panduan mpasi dari WHO. Katanya setelah usia 6 bulan sebaiknya anak langsung dikenalkan makanan dengan gizi lengkap; ada karbohidrat, protein, lemak, serat. Kalau mau pakai masa transisi dulu, bisa dicobakan menu tunggal selama 2 minggu pertama, tapi paling lambat minggu ketiga anak harus sudah dikenalkan menu lengkap itu. Kenapa? Karena anak butuh banyak energi dan zat gizi, yg baru bisa terpenuhi kalau menu mpasinya lengkap. Saya juga membaca artikel tulisan seorang dokter anak. Beliau bilang sudah mencoba panduan mpasi WHO ini ke anaknya, dan hasilnya berat badannya jadi bagus.

Akhirnya tergodalah saya untuk ikut mencoba. Dua minggu pertama umar baru dikenalkan menu tunggal karbo, protein, buah, dan sayur. Awal minggu ketiga saya akan coba protein. Bismillah, saya coba kuning telur rebus. Telur ayam biasa, karena susah mencari ayam kampung di sini. Dan hasilnya, sehari kemudian pipi dan jidat Umar merah-merah! Ya Allah, kasian liat dia garuk-garuk pipinya karena gatal. Langsung saya stop dulu telur rebusnya. Alhamdulillah, merahnya nggak menyebar dan besoknya langsung sembuh.

Dua hari kemudian saya coba kasih Umar protein lagi di mpasinya. Kali ini protein nabati, karena saya pikir Umar belum kuat makan protein hewani. Terpilihlah tempe untuk jadi campuran mpasi bubur jagungnya. Makan pagi, alhamdulillah habis. Tidak lama setelah makan Umar baru saya mandikan. Ada beberapa bentol di paha dan badannya, tapi saya belum curiga sama mpasinya. Saya kira digigit nyamuk karena beberapa hari yang lalu juga begitu.

Siangnya saya beri menu yang sama karena saya bikin mpasi Umar sekali untuk 3 kali makan. Habis lagi, cuma memang agak lama. Umar lebih sering menolak saat mau disuapi, mungkin karena menu baru pikir saya. Saat mandi sore. Bentol merah di pahanya semakin melebar. Saya mulai curiga ini karena tempe. Akhirnya makan malam Umar saya beri menu lain. Tapi ternyata terlambat, bentol merahnya sudah menyebar kemana-mana; tangan, muka, badan, kaki, bahkan kepala! :(

Nggak tega saya lihat Umar nggak bisa tidur malam itu karena gatal. Sebentar-sebentar nangis. Saya pun ikut begadang karena Umar baru bisa tidur kalau digendong. Ya Rabbi, kasihan Umar. Maafin Ummi ya, Sayang. :'(

Besoknya Umar langsung saya bawa ke dokter. Ternyata benar, Umar alergi. Dikasih obat minum dan oles. Alhamdulillah, 3 hari kemudian Umar sudah ceria lagi. Terima kasih, Ya Allah.

Sekarang saya harus hati-hati sekali memilih makanan untuk Umar. Mungkin bereksperimen dengan protein nanti saja saat Umar 8 bulan. Semoga saat itu pencernaannya sudah kuat jadi tidak alergi lagi.

by Ina Ummu Umar