Here I Am: Dumai

Here I am. Dumai, sebuah kota yang baru saya dengar namanya beberapa bulan yang lalu. Sebuah kota kecil di pulau yang berbeda dengan pulau kelahiran saya. Kota yang begitu sepi, jauh dari keramaian, apalagi kemacetan. Satu-satunya kemacetan yang pernah saya temui di sini adalah “macet” saat kendaraan hendak mengisi bensin di SPBU yang hanya ada satu. Sangat jauh berbeda dari kota kelahiran saya, dimana macet adalah makanan sehari-hari. Dan di kota kecil ini saya akan tinggal beberapa tahun ke depan, bersama suami dan (insyaAllah) anak-anak saya kelak.

Kaget? Jelas. Tinggal di sini memberikan shock terapi buat saya. Dulu tempat tinggal saya sangat mudah akses transportasinya, warung di mana-mana, mau beli apa saja tersedia tidak jauh dari rumah. Di sini, saya harus bersepeda belasan menit hanya untuk mendapatkan sayuran dan bumbu dapur lainnya. Jangan tanya tentang mall dan sejenisnya. Di sini cuma ada swalayan cukup besar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.

Tapi kalau direnungkan, keadaan kota ini sangat kondusif untuk pasangan muda seperti saya. Waktu tempuh rumah dan kantor suami saya cuma 20 menit dengan motor. Coba kalau di Jakarta, perjalanan pulang-pergi kantor-rumah bisa 4 jam sendiri karena macet. Di kantor 8 jam, habis lah 12 jam di luar rumah. Waktu yang tersisa di rumah cuma 12 jam, itu pun terpotong 6-7 jam waktu tidur. Waktu bercengkrama dengan suami jadi makin sedikit. Kalau di sini berangkat jam 7 pagi, jam 5 sore sudah sampai rumah lagi. Terus karena tidak ada mall dan sejenisnya, hasrat belanja dan hura-hura juga bisa ditekan. Jadi uangnya bisa ditabung untuk hal yang lebih penting. Ditambah lagi ada tunjangan untuk pegawai yang ditempatkan di daerah. Alhamdulillah.

Rumah yang jauh dari mana-mana juga membuat saya “terpaksa” untuk bergerak. Saya jadi rajin bersepeda, lumayan buat olahraga. Selain itu, karena dumai masih sepi dari gedung-grdung pencakar langit dan kerlap-kerlip lampu kota metropolitan, langit malam di sini sangat indah. Bulan terlihat lebih besar, bintang juga terlihat lebih banyak berserakan di atas kepala. Romantis banget lah pokoknya, apalagi kalau dinikmati bareng suami. :D

Ya, semoga saya bisa betah tinggal di sini. Dumai, please be nice to me, ya.. ^^

Posted from WordPress for Android

Nikah Muda

Beberapa percakapan di beberapa kesempatan. Kisah Anak-Ayah-yang-Masih-Jomblo (AAyMJ) menghadapi pertanyaan dari beberapa oknum.

Di sebuah dauroh
Oknum 1: Eh, tadi ketemu mba-mba gendong anak. Pas ngobrol ternyata umurnya sepantar kamu. Enak ya kalo nikah pas masih muda.
Oknum2: Kamu kapan? *kompor*
AAyMJ: Kapan ya? Hehe. *nyengir*
Continue reading

Sepatu, oh Sepatu

Suatu sore, di perjalanan pulang bekerja. Mampir sejenak ke tukang sepatu di atas jembatan penyembrangan yang selalu dilewati saat pulang.

Ina: “Bang, sepatu pesanan saya udah ada belum?”
Abang: “Kemarin pesan yg mana ya, Mba?”
Ina: “Yang ini, Bang (sambil menyebutkan merk dan model sepatunya) nomor 5.”
Abang: “Wah, kalo nomor 5 susah, Mba. Apalagi untuk model itu. Saya nyerah deh, Mba, kalo disuruh cariin. Udah muter-muter nyari ga ketemu yg nomor 5. Dibatalin pesanannya ga papa deh, Mba. Cari di tempat lain aja.
Ina: “Yah, Abang…” (kecewa)

*Nasip punya kaki ukuran nomor 5. Terlalu besar untuk ukuran anak-anak, tapi terlalu kecil untuk ukuran dewasa. Sampe tukang sepatu aja nyerah.

Nikmatnya Berqurban, Nikmatnya Berbagi

Masih di hari tasyrik, jadi sepertinya masih belum terlambat untuk sedikit mengulas tantang qurban. Di sini ina nggak akan membahas yang berat-berat, hanya ingin berbagi pengalaman. Tentang berqurban, tentang berbagi.

Tahun ini ina sekeluarga alhamdulillah masih diberi rezeki untuk bisa berqurban. Mulai dari beberapa tahun yang lalu, Ummi dan saudara-saudaranya berencana qurban di kampung. Satu sapi, pas dengan jumlah keluarga yang ada. Awalnya berencana setiap tahun qurban di sana, tapi karena Abi selalu jadi panitia qurban di Bekasi, dan juga pertimbangan lainnya, akhirnya diputuskan berqurban di kampung setiap dua tahun sekali.

Nah, tahun ini giliran qurban di kampung. H-1 ina sekeluarga berangkat ke kampung. Alhamdulillah udah dapet satu sapi yang lumayan montok, hehe. Di hari H, dipotonglah si sapi. Ina nggak tega lihatnya, jadi nunggu tersaji di meja makan aja.

Pas proses pemotongan, banyak saudara yang datang. Bawa anak-anaknya, menantunya, sepupunya, cucu-cucunya, rame lah pokoknya. Tetangga juga banyak yang datang untuk membantu proses pembagian daging. Rumah Nini jadi semarak oleh orang-orang yang kebanyakan nggak ina kenal.

Ina jadi berpikir, di kampung, qurban satu sapi aja bisa membuat banyak orang senang. Terlihat dari wajah ceria mereka saat pembagian daging, walaupun jatah daging yang dibagi hanya sedikit karena begitu banyak warga yang akan dibagi. Bahkan banyak yang meminta qurban seperti ini dilakukan setiap tahun.

Bagi kita, mungkin makan daging sehari-hari sudah biasa. Tapi bagi mereka, mungkin kesempatan makan daging hanya setahun sekali. Mudah-mudahan Allah memberi kecukupan rizki dan kecukupan umur supaya dua tahun yang akan datang bisa berqurban di kampung lagi. Dan juga, semoga makin banyak orang yang tidak lupa dengan kampung halamannya saat berqurban. Aamiin..

Idealisme VS Realita

Bismillah.

Hari ini ina pergi ke sebuah instansi di Jakarta. Biasa, mencoba mengadu nasib, siapa tahu berjodoh di sana. Hehe. Di sms pemberitahuannya, agenda hari ini adalah mengambil nomor tes dan penjelasan mengenai tata cara lamaran (mulai dari berkas, waktu tes, dan segala macamnya). Dengan ditemani laki-laki paling hebat sedunia (baca: Abi), ina sampai di tempat itu sekitar jam 10. Ternyata antrian sudah panjang. Ina dapet nomor tes 212, kayak kapaknya Wiro Sableng ya. Hehe.

Sambil menunggu antrian untuk daftar dan mengambil formulir, ina melihat sekeliling. Banyak juga yang datang melamar. Saat sedang melihat-lihat, tatapan ina terhenti pada sosok berjilbab yang tidak asing. Seperti pernah lihat di mana gitu. Dan ternyata benar. Setelah diingat-ingat, ina pernah ketemu dia di salah satu acara kampus. Waktu itu ina jadi panitia dan dia jadi peserta, tapi sekarang keadaannya berbalik, dia panitia tes penerimaan karyawan baru dan ina peserta.

Tapi ada yang berubah darinya. Seingat ina, dulu dia berjilbab panjang, berbaju panjang dan rok panjang yang lebar. Sekarang jilbabnya masih masih cukup panjang, baju atasannya pun panjang, tapi roknya berganti jadi celana panjang. Kenapa bisa berubah ya? Apa kerja di sini tidak boleh pake rok? Terus kalo tetap bersikeras memakai rok apa tidak akan diterima? Bermacam pertanyaan mulai muncul di pikiran ina.

Realita memang tidak selalu sejalan dengan idealisme yang kita anut. Dan saat itulah kita harus memilih, akan tetap teguh dengan idealisme kita atau pasrah dengan realita yang ada. Memang banyak instansi yang melarang karyawannya mengenakan rok panjang, bahkan melarang mengenakan kerudung. Tapi kita bisa memilih kan? Selama idealisme yang kita anut berlandaskan perintah-Nya, hal itu sangat layak untuk kita perjuangkan. Tidak perlu takut nggak dapet kerja karena kita kekeuh pada prinsip kita. Toh Dia yang Maha Pemberi Rezeki. Selama cara kita baik dan sesuai jalur, insyaAllah tidak akan disia-siakan oleh-Nya. Semoga Allah selalu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.

Nilai Pernikahan

Bismillah.

Seneng banget, hari ini ina dapet satu kabar baik. Teman ina mau nikah, dengan kakak angkatan di kampus. Satu fakultas, beda peminatan. Waw, magic. Beneran nggak nyangka mereka berdua bakal menikah. Surprise banget lah pokoknya..

Jadi inget, dulu ina pernah baca tulisan seseorang. Isinya tentang nilai pernikahan. Nilainya dari A sampe E. Kurang lebih isinya seperti ini: “Kata para mahasiswa, kalau nikah dengan beda kampus dan beda fakultas itu nilainya A. Kalau nikah dengan satu kampus, tapi beda fakultas nilainya B. Kalau nikah dengan satu kampus, satu fakultas, tapi beda angkatan nilainya C. Kalau satu kampus, satu fakultas dan satu angkatan nilainya D. Yang terakhir, kalau nikah dengan satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, dan satu jurusan, nilainya E.”

Berarti nilai pernikahan temen ina itu C donk?? Hehe, ada-ada aja deh. Masa pernikahan dinilai dengan penilaian seperti itu. Kalo memang sudah jodoh ya nggak bakal kemana, pasti ketemu. Mau itu jauh (beda kampus misalnya), atau ternyata teman sepermainan di kampus. Tapi itu semua rahasia Allah, sampai Dia memutuskan untuk membuka tabirNya.

Buat temanku tersayang, Barokallah ya.. Semoga bisa menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah, trus segera melahirkan jundi-jundi penerus estafet perjuangan dakwah (haduh, ini apa sih bahasanya?! ). Dan untuk teman-temanku para jomblo’ers (sebetulnya ini ditujukan khusus untuk diri sendiri, hehe ), sabar ya menunggu saatnya tiba. Isi dengan kegiatan yang baik-baik, biar diri ini tambah baik. Karena saat diri ini baik, akan hadir dia yang juga baik.

Desperate Job-seeker

Hahaha, judulnya melas banget ya. Pengen ngalahin serial tipi Desperate Housewives gitu ceritanya. Tapi memang seperti itulah yang ina dan beberapa teman senasib rasakan beberapa waktu ini. Nggak ada kerjaan di rumah, bingung mau ngapain. Sebenernya dulu pas kuliah juga nggak sibuk-sibuk amat sih. Tapi rasanya lebih tersiksa jadi job-seeker yang belum juga menemukan job idamannya. Ujung-ujungnya makan tidur ngenet, makan lagi tidur lagi ngenet lagi. Sampe-sampe sering banget disapa di dunia maya dengan kalimat “Ina ngenet melulu ya”, “Liat ina mulu deh kalo ngenet”, dll dsb.


Ujung-ujungnya, sebagai pelarian, para desperate job-seeker ini jadi hobi mendatangi job fair, career expo, dan event sejenisnya. Dan saking desperate-nya, bahkan ada yang melamar untuk any position, dengan background pendidikan any discipline. Hahaha, agak miris juga sih, tapi itulah kenyataannya. Sepertinya pekerjaan bukan cuma menjadi kebutuhan untuk mencari materi, tapi juga prestise. Nggak masalah kerja di mana, kerja jadi apa, yang penting kerja. Orang akan lebih menghormati orang lain yang punya pekerjaan daripada orang yang menganggur. Apapun alasannya.

Untuk teman-temanku para job-seeker, baik yang sudah desperate maupun yang belum, tenang saja. Kalau belum dapat pekerjaan sampai saat ini, atau belum satu kali pun menerima panggilan dari jutaan lamaran yang dikirim (agak dibikin lebay), berarti mungkin memang di antara pekerjaan itu belum ada yang terbaik buat kita. Atau mungkin Allah ingin melihat seberapa pantang-menyerahnya kita sebelum akhirnya Dia memberikan rezeki-Nya lewat pekerjaan yang terbaik menurut-Nya. Yang penting kita harus tetap berprasangka baik kepada Allah, karena Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya kan?

Tetap semangat ya, kawan-kawan. Walaupun sekarang tergabung dalam kelompok Simatupang (Siang Malam Tunggu Panggilan), jadilah anggota kelompok yang ceria dan selalu semangat.

***


Suatu hari di dunia maya.

Oknum: “Gimana, udah dapet job belum?”

Anggota Simatupang: “Udah.”

Oknum: “Apa?”

Anggota Simatupang: “Jo(m)b(lo).. Hahahaha…”

#Kalo ini selain desperate job-seeker juga desperate couple-seeker..

*Tulisan yang (sebenarnya) dibuat untuk menyemangati diri sendiri.