[FF] Gadis dan Bapak Tua

Suatu sore, di depan sebuah universitas terkemuka di ibukota. Seorang gadis sedang menunggu bis untuk pulang ke rumahnya. Tangan kanannya memegang payung, sedangkan yang kiri memeluk tas laptopnya. Di bahu kanannya tersampir tas selempang yang menambah beban bawaannya.

Hujan deras sudah turun dari tadi dan belum ada tanda akan berhenti. Sepatu dan rok gadis itu mulai kuyup. Beruntung bis yang ditunggu akhirnya tiba. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya., berdesakan dengan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama.

Hap! Gadis berhasil naik ke dalam bis. Kerepotan dia menutup payungnya. Namun tak lama, ada seorang bapak tua yang menggeser posisi duduknya supaya si gadis bisa duduk di sebelahnya. Tidak hanya itu, bapak tua itu juga membantu melipat payungnya.

Akrablah si gadis dengan bapak tua itu. Sepanjang perjalanan bapak tua itu banyak berkisah: tentang masa mudanya, tentang keluarganya, tentang pelajaran hidup. Bahwa hidup itu harus diperjuangkan, bahwa hidup tidak pantas untuk dikeluhkan, bahwa nikmatNya jauh lebih banyak dari yang kita sadari.

Seperti biasa, si gadis selalu menjadi pendengar yang baik, sesekali mengangguk, menanggapi, dan tersenyum. Tapi dengan begitu dia jadi dapat banyak pelajaran dan renungan. Betapa selama ini dia sangat kurang bersyukur, betapa selama ini dia terlalu sering mengeluh, betapa selama ini dia terlalu mudah menyerah. Gadis pun bertekad akan menjalani hidup dengan lebih baik.

Allah memberikan hikmah dan pelajaran lewat setiap peristiwa. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami dan menjadikannya semangat untuk selalu memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan.

[FF] Ruang Rasa (repost)

Menemukan tulisan ini di MP Mba Vika. Langsung jatuh hati pada pandangan pertama, hehe. Jadi ina re-post deh. Apalagi pas banget sama keadaan sekarang, dimana banyak “undangan” bertebaran. Silakan dinikmati.

========================================================================

Terngiang kalimat-kalimat yang meluncur dari laki-laki itu satu persatu. Ia mendesah lama. Benar-benar kata-kata yang sungguh ia kenal. Kata-kata lelaki itu.

* * *

Sejak semula ia tahu, di antara ia dan lelaki itu ada rasa yang lebih dari sekedar teman bercerita. Tapi tetap ia tidak berani mengucapkan sepatah kata. Tentu saja, perempuan itu tersenyum, aku begitu terbelenggu dengan norma, sehingga kutelan saja semua asa. Ia memutuskan menjadi perempuan biasa, yang melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Menunggu.

Dan menunggu sungguh membuat waktu begitu jemu. Tetap, perempuan itu masih melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

Hingga tiba suatu masa, ketika menunggu menjadi sesuatu yang lama, tapi tak jua lelaki itu beranjak dari ruang ceritanya. Tidak juga ada kata berlebih atau sinyal berbeda. Semua masih sama.

Ia mulai lelah. Rasa itu kemudian menjadi lupa, terkikis oleh masa dan hilang menguap begitu saja.

Ia beranjak untuk melangkah. Dan memutuskan ruang ceritanya. Cerita lelaki itu dengan dia.

* * *

Perempuan itu terpekur. Kenapa baru datang saat ini?

Terngiang sekali lagi pertanyaan-pertanyaan yang seolah bertubi-tubi datang padanya.

Tidakkah kau rindu padaku?

Hatinya mencelos. Aku perempuan, haruskah begitu jelas memperlihatkan perasaanku?

Hanya Tuhan yang tahu berapa malam dia tergugu semenjak ia meninggalkan laki-laki itu di bandara.

Tidakkah kau merasa kehilangan aku selama ini?


Ia menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Mencoba mengumpulkan kekuatan.

Perempuan itu memandang meja kayu di seberang tempat tidurnya. Beratus-ratus undangan berwarna merah muda dengan namanya tercetak dengan jelas. Siap untuk diedarkan.

Kau bertanya padaku arti kehilangan. Ia berbisik dalam hati “Bagaimana bisa aku merasa kehilangan jika sesungguhnya aku tidak pernah memiliki?”

sumber

[FF] Dalam Diam

“Jadi, kapan berencana nikah, Neng?” ucap bibi sambil tersenyum. Seorang gadis, ibunya, serta bibinya sedang berbincang santai sambil melepas rindu setelah cukup lama tidak bersua.

Gadis yang sedang mematut diri di depan cermin itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan merapikan rambutnya sambil tersenyum. Belum ada kata terucap dari bibir mungilnya.

“Kalau kamu sudah siap, nanti ibu minta carikan ke teman ngaji. Atau mungkin kamu sudah punya calon sendiri? Siapa tahu sudah ada yang kamu suka.” ucap ibunya seraya ikut menggoda putri sulungnya.

“Kalau misalnya, Neng suka tapi nggak tahu dia suka apa nggak, bagaimana, Bu?” sang gadis mencoba mengeluarkan sedikit perasaannya. Hanya sedikit.

“Perempuan kan boleh menawarkan diri. Itu syar’i kok. Atau mungkin bisa minta diperantarai oleh teman,” Ibu tersenyum mengerti.

Gadis ikut tersenyum. Ya, mungkin dia memang bisa menempuh cara itu. Tapi gadis itu terlalu pemalu. Biarlah hanya Allah dan dirinya yang tahu rasa itu. Walau diam, tak pernah putus doa terucap.

[FF] Mangga dan Dia

Gadis itu asik mengupas mangga yang baru dibelinya tadi siang. Di sampingnya ada laki-laki terbaiknya, sedang memakan sebagian mangga yang sudah dikupasnya. Suasana hening pada awalnya, hingga lelaki paruh baya itu mengangkat suara.

“Neng, sepertinya kamu sudah cukup umur untuk menikah. Mau abah carikan?”

Gerak pisau di tangan gadis itu mendadak berhenti. Potongan mangga yg dikunyahnya hampir membuatnya tersedak. Sekilas bayangan seseorang berkelebat di pikirannya, membuat pipi putih bersihnya sedikit merona. Dia harap lampu ruangan yang agak redup menyamarkan rona itu dari penglihatan ayahnya.

Sang ayah masih menunggu jawaban putrinya. Tapi putrinya hanya tersenyum. Senyum yang bisa menjadi penyemangat hidupnya selama ini. Kuharap engkau bisa selalu tersenyum seperti ini, nak, batin sang ayah.