Hari Ini, Setahun yang Lalu

Hari ini, setahun yang lalu
Dua botol infus menemani setia
Berharap gelombang cinta segera tiba
Tanda bahwa kita akan segera bersua

Hari ini, setahun yang lalu
Gelombang cinta yang dinanti akhirnya tiba
Meski harus dihadapi dengan rintih dan peluh
Harapan kian membuncah, waktu kian dekat

Hari ini, setahun yang lalu
Peluh bercucuran mengundang iba
Sosok mungil itu mulai terasa
Perjumpaan hampir di depan mata

Hari ini, setahun yang lalu
Tangismu dan tangisku bersatu
Mengabarkan dengan lantang pada dunia
Aku bahagia!

Hari ini, setelah setahun berlalu
Sosok mungil itu kini di sampingku
Tumbuh sehat dan ceria
Bersiap menatap masa depan

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Umar Faiz Abdullah
251113 – 251114
👶😘💖💋

by Ina Ummu Umar

Terima Kasih, Cinta

Membesarkan seorang bayi ternyata tidak melulu seasik yang dulu saya bayangkan. Dulu saat hamil imajinasi saya membayangkan bahwa mengurus bayi itu pasti menyenangkan. Senyumnya, tawanya, celotehannya, bahkan tangisannya akan jadi satu hal yang menggemaskan.

Ternyata itu semua tidak sepenuhnya benar, meskipun tidak juga sepenuhnya salah. Mengurus bayi itu ternyata juga melelahkan, fisik dan pikiran. Waktu tidur yang berkurang, badan pegal-pegal, bekas luka operasi yang kadang masih nyut-nyutan, rasanya komplit apalagi ditambah suara tangis bayi yang tak kunjung diam.

Dulu setelah melahirkan saya sempat merasa trauma mendengar tangisan bayi. Tangisan bayi ibarat alarm yang menandakan saya harus terjaga dan pasti akan merasa lelah. Belum lagi bayi saya bukan tipe bayi yang mudah ditenangkan, mudah mengamuk, tidurnya sebentar, menyusu pun selalu lama, bisa sampai 2 jam sekali menyusu (dan saya baru sadar kalau ini karena tongue tie, kapan-kapan insyaAllah akan saya ceritakan tentang tongue tie ini)

Bukan. Saya bukan hendak mengeluh. Saya hanya ingin introspeksi. Mencoba belajar melihat dari sudut pandang lain. Dari banyak hal yang menurut saya tidak enak itu, ada banyak hal yang bisa harus disyukuri. Alhamdulillah saya punya ibu yang begitu baik dan perhatian. Beliau selalu membantu saya mengurus Umar di 3 bulan pertama kehidupannya. Alhamdulillah juga saya punya suami yang rela mengambil alih sebagian pekerjaan rumah. Jaga mereka selalu, Ya Rabbi.

Terima kasih Umar sayang, telah hadir di hidup Ummi. Kamu adalah guru praktek terbaik dalam kehidupan Ummi. Praktek tentang kesabaran. Bahwa sabar seharusnya tak berbatas, terlebih kesabaran ibu kepada anaknya. Kamu juga yang memaksa mendidik Ummi untuk menjadi lebih dewasa, mengajarkan Ummi untuk bisa lebih mengontrol emosi (karena Ummi takut ASI Ummi jadi seret kalo moody-an). Saat semua Ummi lakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya, alhamdulillah semua jadi terasa ringan. Semoga Ummi bisa menjadi seorang ibu yang baik untukmu ya. :)

Posted from WordPress for Android by Ina Ummu Umar

An Unforgettable Journey

Kutuliskan kisah perjalanan ini untukmu, Anakku sayang. Semoga suatu hari nanti dapat kau baca. Semoga ada hikmah yang bisa kau petik darinya.

Kamis, 24 Januari 2013, adalah salah satu hari bersejarah di hidup Ummi. Hari itu, dengan penuh harap dan keyakinan, Abi mengucapkan sebuah kalimat yang begitu agung. Kalimat yang tidak hanya mengubah status Ummi, tapi seluruh kehidupan Ummi. Kami resmi menikah.

Tiga hari setelah walimatul ‘ursy, Ummi langsung dibawa ke Dumai, lokasi kerja Abimu saat itu. Sedih dan kesepian Ummi rasakan. Saat itu Ummi sudah resmi jadi pengangguran. Pekerjaan di rumah sakit tempat Ummi bekerja dulu sudah diserahkan ke orang lain. Akhirnya Ummi coba mengisi waktu dengan mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, browsing internet, baca buku, dan bersepeda keliling komplek. Lumayan untuk menghilangkan jenuh.

Kalau rasa rindu pada Kakek dan Nenekmu melanda, Ummi buka lagi foto-foto di laptop. Sesekali Ummi juga teleponan dengan mereka. Dalam rasa kesepian itu terbetik sebuah pikiran, mungkin saat sudah ada anak tidak akan kesepian lagi.

Alhamdulillah, Allah menjawab doa Ummi. Di bulan kedua pernikahan, Ummi terlambat haid. Ingin sekali segera memastikan apakah ini hamil atau bukan, tapi Ummi mengurungkannya. Ummi ingin memastikan dulu bahwa haid Ummi benar-benar terlambat (bahkan tidak datang :D). Akhirnya setelah seminggu haid Ummi tidak datang-datang juga, Ummi memberanikan diri untuk mengeceknya. Ummi meminta Abimu membelikan testpack. Abimu sampai membeli 5 buah testpack dengan merk berbeda supaya benar-benar yakin.

Pagi itu tanggal 23 Maret 2013, dengan hati berdebar Ummi coba tes pakai testpack. Dan hasilnya, ada 2 buah garis merah! Entah apa nama rasa yang Ummi rasakan saat itu. Yang jelas Ummi tidak bisa berhenti tersenyum. Ummi pun langsung memberi tahu Abimu begitu dia pulang dari masjid. Dia pun langsung mengucap syukur dan tersenyum, bahkan senyumnya lebih lebar dari senyum Ummi. :D

Rasa senang ini kemudian berganti cemas. Ummi baru ingat kalau besoknya Ummi akan ikut Abi dinas ke Jakarta naik pesawat, sekalian berkunjung ke tempat Kakek Nenekmu di Bekasi. Apa aman naik pesawat saat hamil muda? Usia kandungan pun Ummi belum tahu, karena belum sempat periksa. Bismillah, Ummi serahkan pada Allah saja. Dia lah sebaik-baik penjaga.

Alhamdulillah, ternyata kamu sudah hebat sejak dalam kandungan. Perjalanan Dumai-Bekasi tidak ada kendala sedikit pun walau kau masih janin berusia beberapa minggu. Ummi juga sempat jalan-jalan ke Depok, keliling-keliling UI, makan dan nonton bioskop di mall. Bisa dibilang nekat, karena sudah tahu hamil muda masih beraktifitas yang melelahkan. Belum periksa pula, soalnya Ummi berniat periksa kandungannya di dekat rumah Nenekmu saja.

Tiba di rumah Nenek, Ummi langsung cerita tentang kehadiranmu di rahim Ummi. Ummi kemudian diantar untuk periksa di bidan dekat rumah. Alhamdulillah, kata Bu bidan usiamu sekitar 5 minggu, dan kondisimu sehat wal’afiat. Bu bidan meresepkan vitamin dan obat anti mual untuk Ummi. Obatnya diminum kalau Ummi mual saja katanya. Tapi lagi-lagi kau memang luar biasa. Obat anti mual itu tidak satu pun Ummi minum, karena kehadiranmu begitu damai di rahim Ummi. Tidak ada pusing, mual atau muntah sama sekali. Yang ada napsu makan Ummi meningkat. Kendala yang Ummi alami hanya Ummi jadi tidak begitu suka makan nasi. Tapi masih banyak makanan penggantinya.

Dua minggu berselang dari perjalanan dinas ke Jakarta, Abimu dapat dinas lagi ke Pekanbaru. Ummi ikut lagi, soalnya Abimu khawatir kalau meninggalkan Ummi sendirian. Dan kamu tidak pernah ‘rewel’ selama di perjalanan. Anak hebat. :)

Perjalanan Dumai – Pekanbaru waktu itu memakan waktu 6 jam naik mobil. Jalanannya berbelok-belok dan agak bergelombang karena rusak. Usia 7 minggu dalam kandungan kamu sudah diajak off road, Nak! Di Pekanbaru Ummi dan Abi memutuskan untuk memeriksakanmu di rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. Di sanalah pertama kalinya Ummi melihat ‘wujud’mu, gumpalan mungil di rahim Ummi. Sebuah gumpalan kehidupan yang mampu mengubah hidup Ummi jadi lebih berwarna. :)

Sejak mengetahui Ummi hamil, Abimu jadi tambah perhatian. Ummi tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah yang terlalu berat. Kalau nyapu, Abi yang ngepel. Kalau nyuci, Abi yang jemur. Kalau Ummi pengen makan sesuatu pasti langsung dibelikan. Ummi nggak minta pun malah Abi yang menawarkan. Senangnya Ummi mengandung dirimu. :)

Tidak lama kemudian Abimu dapat dinas lagi ke Jakarta. Abimu memang sering dapat dinas. Medan, Pekanbaru, Jakarta. Ummi selalu ikut, soalnya Abimu takut meninggalkan Ummi sendirian, apalagi Ummi sedang hamil. Sampai usia kandungan di penghujung 7 bulan entah sudah berapa kali Ummi bolak-balik ikut dinas. Mungkin saat sudah besar nanti kamu akan jadi penjelajah. :D

Keadaan fisik Ummi selama mengandungmu memang baik-baik saja. Tapi emosi Ummi jadi agak fluktuatif. Ummi jadi gampang sekali ngambek dan menangis. Yang kena getahnya ya siapa lagi kalau bukan Abimu. Pulang kerja terlambat sedikit saja pasti wajah Ummi sudah berubah nggak karuan. Alhamdulillah, untungnya Abimu orangnya sabar. (Maafin Ummi ya, Bi. ^^)

Awalnya Ummi berencana melahirkanmu di Dumai saja. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya Ummi melahirkanmu di Bekasi. Ummi ‘mengungsi’ di rumah Nenekmu di Bekasi sejak usia kandungan menginjak 8 bulan. Sejak saat itu Ummi dan Abi berjauhan (Long Distance Relationship). Abi datang ke Bekasi tiap dua minggu sekali.

Berjauhan dengah Abi kadang bikin Ummi galau. Ummi suka berpikir, bagaimana kalau nanti melahirkan pas Abi sedang tidak di Bekasi. Ini kan kehamilan pertama, Ummi sangat ingin ditemani Abi saat melahirkan nanti. Tapi kapan kamu siap lahir hanya kamu dan Allah yang tahu kan? Jadinya Ummi cuma bisa berdoa dan ‘membujuk’mu supaya lahir saat Abi di Bekasi.

Dan lagi-lagi, kamu memang luar biasa. Kamu lahir di saat Abi di Bekasi. Proses kelahiranmu Ummi ceritakan di tulisan lain ya, Nak. Semoga kamu sehat selalu, jadi anak pintar, sholeh, dan bermanfaat untuk sesama. Ummi Abi love you, Umar Faiz Abdullah. ❤

(Bukan) Galih dan Ratna

Dua sejoli menjalin cinta
Cinta bersemi di Januari
Gama dan Rina mengikat janji
Janji setia, setia abadi
Oh Gama, oh Rina, cintamu abadi
Wahai Gama, duhai Rina
Semoga bahagia hingga ke Jannah-Nya

*lirik Galih dan Ratna, dg banyak perubahan :D

Posted from WordPress for Android

Ya Rabb, Terima Kasih

Ya Rabb, terima kasih Engkau telah memilihnya untukku. Seseorang yang Engkau takdirkan untuk mendampingiku. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang yang berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang tuanya kalau pilihannya insyaAllah yang terbaik. Seseorang yang begitu senang ketika bisa mengkhitbahku. Seseorang yang pantang menyerah menyamakan persepsi orang tuanya dengan orang tuaku. Seseorang yang begitu senang memiliki mertua seperti orang tuaku. Seseorang yang tidak pernah malu mengakui kesalahannya. Seseorang yang tidak pernah segan meminta maaf saat melakukan kesalahan. Seseorang yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Seseorang yang tidak mau melihatku sedih. Seseorang yang akan merasa senang saat aku senang. Seseorang yang akan mendoakan di kala aku sakit. Seseorang yang akan mendengarkan di kala aku punya masalah. Seseorang yang akan cemburu ketika aku berinteraksi dengan lelaki lain. Seseorang yang begitu takut kehilanganku hanya karena giginya patah. Seseorang yang berani mempertanggungjawabkan cintanya padaku dengan ikatan yang Engkau ridhoi. Seseorang yang membuatku merasa begitu dicintai. Seseorang yang insyaAllah akan menuntunku untuk selalu mencintaiMu.

Ya Rabb, ridhoilah ikatan ini. Berkahilah rasa cinta diantara kami. Satukanlah kami, tidak hanya di dunia ini, tapi juga di surga nanti. Aamiin.

Posted from WordPress for Android

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.

Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person,
and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

— Unknown