Wanita, antara Cita-cita dan Keluarga

Hari masih pagi. Poliklinik di sebuah rumah sakit pemerintah di Indonesia pun sudah mulai ramai. Bertemu dua orang yang baru saling mengenal namun kemudian menjadi akrab. Cerita pun akhirnya mengalir dengan lancar.

Gadis A: Aku berencana ambil profesi nih, tapi nggak mau di Indonesia.
Gadis B: Kenapa nggak mau di Indonesia? Continue reading

Aku (Harus) Memilih

Aku pemilih? Mungkin.
Karena aku ingin yang terbaik.
Terbaik versi-Nya tentu saja. Bukan versiku, versi orang tuaku, atau versi orang kebanyakan.
Karena yang “kebanyakan” itu belum tentu benar. Yang benar pun belum tentu dianggap benar oleh yang “kebanyakan”.

Aku pemilih? Memang.
Karena aku tak ingin hidupku sia-sia. Mengejar sesuatu yang bahkan Rabb-ku pun tidak menyukainya. Menggadaikan agamaku hanya untuk pemuasan diri semata. Mengejar prestise, supaya dianggap orang berhasil. Padahal mungkin tidak bernilai di mata-Nya.

Aku pemilih? Tentu.
Karena aku tidak ingin menyesal. Tidak di dunia, apalagi di akhirat. Walau tak jarang, komitmenku diuji. Keteguhhan prinsipku ditantang, dengan banyaknya godaan yang datang. Kalau tidak ingat pada-Mu, Ya Rabb, mungkin aku sudah jatuh tergugu. Menangisi semua peluang yang kutolak, demi diri-Mu.

Aku pemilih? Pasti.
Karena Dia pun memilih. Karena hanya yang terpilih yang akan berkesempatan bertemu dengan-Nya nanti. Dan aku ingin menjadi salah satunya.

Satu yang aku yakini, pasti ada yang terbaik itu. Terbaik untukku dan agamaku. Serahkan saja pada-Nya. Karena di tangan-Nya, semua akan baik-baik saja.