Kepadamu. Terima Kasih.

Kepadamu. Terima kasih

telah menjadi tokoh utama sepenggal kisah hidupku

Menyadarkanku bahwa akhir cerita tak selalu indah

Kadang sedih, bahkan tragedi

Kepadamu. Terima kasih

telah menjadi teman dalam pengembaraan singkatku

Menyadarkanku bahwa perjalanan hidup tak selalu menyenangkan

Kadang berliku bahkan curam terjal

Kepadamu. Terima kasih

telah menjadi pangeran sesaat di singgasana hatiku

Menyadarkanku bahwa kekuasaan tak selamanya berjaya

Bisa jatuh dan hancur di tangan musuh

Kepadamu. Terima kasih

telah menjadi objek dalam kalimat munajatku padaNya

Menyadarkanku bahwa jawaban sebuah doa tidak hanya “Ya”

Namun bisa “Nanti” atau bahkan “Yang Lain”

Kepadamu. Terima kasih

telah membuatku mengerti

Ketika harap tak sejalan dengan realita

Di sanalah ikhlas menemukan makna.

Tiba-Tiba Saja

Tiba-tiba saja
Aku merasa dia berharga
Kenapa?
Aku bertanya pada angin yg menyapa
lewat hembusannya yg sejuk
Juga pada deru ombak

Tiba-tiba saja
Aku merindukannya
Padahal tidak kemarin
juga kemarinnya lagi

Tiba-tiba saja
Aku berpikir tentangnya
Tentang setiap kata yg dia ucapkan
dan berlalu..

Tiba-tiba saja
Aku ingin selalu melihatnya
Juga tak ingin melihatnya
Karena ia selalu berkata
“jaga hatimu”

Tiba-tiba saja
Aku ingin mendapat jawaban darimu
Ada apa denganku???

(husniyah_dudung.net)

Sunyi*

Bila kau tanya, seperti apa wajah sunyi itu? Akan kujawab, wajahnya tampan seperti wajahmu. Karena pada sunyi selalu kulukis wajahmu, sehingga sunyi yang kumiliki hanya sepertimu.

Bila kau tanya, seperti apa sifat sunyi itu? Maka akan kujawab, sifatnya menenangkan seperti dirimu. Melenakan, membuat seseorang merasa tenang meskipun harus tenggelam dalam pusarannya.

Bila kau tanya, apa kebaikan sunyi itu? Maka akan kujawab, dia tak pernah lelah mendengar keluh kesahku. Sepertimu, yang tak lelah menampung emosiku. Siap memberikan sandaran saat yang lain tak mendengarkan.

Bila kau tanya, apa keburukan sunyi itu? Maka akan kujawab, dia akan selalu diam, meski aku telah lelah berteriak. Sangat mirip denganmu, yang hanya diam ketika aku beranjak pergi. Tak mencoba untuk menahan.

Dan bila kau tanya, mengapa sunyi itu ada? Maka, dengan tatapan terluka aku pun akan menjawab, karena mungkin dia yang akan selalu menemaniku. Karena kau ditakdirkan-Nya untuk tak di sampingku.

*Episode Galau