Ramadhan Pertamaku

Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan pertama saya dengan status sebagai istri dan calon ibu. Pun Ramadhan pertama yang saya jalani jauh dari orang tua, terpisah pulau beratus kilo jaraknya. Teringat kesibukan Ummi di Ramadhan setiap tahunnya. Beliau adalah orang pertama yang bangun saat sahur. Kala penghuni rumah lainnya masih terlelap dalam mimpinya, beliau sudah bergelut dengan peralatan masak demi memenuhi kebutuhan sahur orang-orang yang disayanginya. Setelah masakan matang belum selesai tugasnya. Beliau masih harus membangunkan seluruh anggota rumah. Mending kalau sekali dua kali dipanggil langsung bangun, ini perlu berkali-kali baru pada bangun (maaf ya, Mi). :D

Siang hari pun tidak jauh berbeda dengan bulan lainnya. Tugas rumah tangga tetap dilakukan Ummi dalam keadaan berpuasa. Tidak ada aktifitas yang dikurangi, malah bertambah dengan jadwal ibadah yang sengaja beliau perbanyak. Di sore hari, saat di mana orang yang berpuasa biasanya sedang lemas-lemasnya, Ummi dengan semangat membuat makanan untuk berbuka. Seakan tenaga beliau tidak berkurang setelah seharian beraktifitas. Walaupun makanan yang beliau sediakan tidak mewah, tapi lebih dari cukup untuk memenuhi gizi dan rasa kelaparan anak-anaknya setelah berpuasa seharian. Semua ini beliau lakukan sebulan penuh, sedangkan kami anak-anaknya hanya membantu sesekali saja. Walau letih kerap menghiasi wajahnya, tak pernah ada keluh yang terucap.

Kini setelah berumah tangga saya pun mengalami apa yang selama ini dilakukan oleh Ummi. Terbayang berat dan letihnya tugas ini apabila telah memiliki beberapa anak nanti.  Tapi tidak akan menjadi berat kalo membayangkan berapa banyak pahala yang akan diperoleh dari itu semua. Memberi makan orang yang berpuasa kan berpahala sama seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasa orang tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)1)

Apalagi ditambah kedudukan tinggi yang akan didapat Ummi di surga nanti karena kesabarannya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).2)

Dan yang paling luar biasa lagi, pahala-pahala itu akan dilipatgandakan karena ini bulan mulia.3)

Bismillah. Semoga saya juga bisa melaksanakan tugas-tugas saya sebagai istri dan (calon) ibu dengan baik seperti Ummi. Mumpung baru seminggu di bulan Ramadhan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki niat. Niatkan semua kegiatan yang dilakukan setiap harinya untuk meraih pahala-Nya. Juga mumpung masih berdua saja sama suami, jadi bisa latihan dulu sebelum kedatangan anggota keluarga baru.

___________

1) http://muslim.or.id/ramadhan/pahala-melimpah-di-balik-memberi-makan-berbuka.html
2) http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hakikat-sabar-1.html
3) http://abangdani.wordpress.com/2010/08/16/berlipatnya-pahala-amalan-di-bulan-ramadhan/

Keutamaan Bulan Ramadhan

1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Continue reading

Ramadhanku Dulu Tak Begini

Ramadhan selalu memiliki kenangan tersendiri buat ina. Dulu waktu kecil, setiap Ramadhan, ina, Abi, dan Aa selalu menghias rumah dengan lampu-lampu kecil. Dibentuk huruf-huruf, atau hanya dipasang mengelilingi atap. Setiap malam libur juga kami boleh main kembang api. Ditambah lagi mudik yang selalu ditunggu-tunggu di setiap akhir Ramadhan.

Ramadhan juga selalu menjadi bulan yang terbaik menurut ina. Bulan dimana banyak manusia berubah menjadi lebih baik. Lebih banyak yang saling memberi, saling menghormati. Mesjid menjadi penuh, kotak amal semakin berat, juga banyak ceramah dan kajian. Wanita-wanita lebih banyak yang menutup aurat (walau hanya dengan selendang), juga tidak ada perokok berkeliaran.

Namun itu semua yang ina rasakan beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa, tahun ini Ramadhan terasa berbeda. Tidak ada lagi mesjid yang penuh, yang dulu sampai harus nge-take duluan kalau ingin dapet shof di dalam mesjid. Pendapatan kotak amal semakin sedikit, karena jama’ah mesjid juga berkurang. Shof ikhwan tinggal 3, padahal belum setengah Ramadhan.

Tidak ada lagi saling menghormati antara yang berpuasa dan yang tidak. Merujuk status seorang teman “hormatilah orang yang (tidak) berpuasa”. Ya, kita memang tidak boleh cengeng, melihat orang makan langsung tergoda. Tapi rasanya beda aja. Kalau dulu di siang hari rumah makan ditutup dengan tirai, sekarang walaupun masih ditutup dengan tirai, terlihat lebih banyak kaki-kaki dari bawah tirai. Bahkan di angkutan umum pun banyak orang yang cuek saja makan di siang hari. Tapi harus tetap semangat, Kawan. InsyaAllah pahala berbanding lurus dengan godaan yang ada.

Ya Rabbi, tidak terasa hampir dua per tiga RamadhanMu tahun ini telah berlalu. Rasanya belum maksimal diri ini memanfaatkannya. Ina berharap, semoga Ramadhan yang akan datang bisa kembali menyenangkan seperti dulu. Dan juga, semoga ina serta ummat Muslim lainnya bisa mendapatkan rahmat dan ampunanMu di bulan yang mulia ini, serta berkesempatan untuk bersua kembali dengan RamadhanMu selanjutnya. Aamiin..